Morning Dew

Morning Dew
2


__ADS_3

Terdengar cicit burung bersahutan, angin berhembus ringan kearahku membawa aroma menenangkan ke syaraf. Seseorang menempelkan handuk hangat kekeningku, rasanya hangat dan nyaman.


Kesadaranku terombang ambing sebelum akhirnya Aku benar-benar membuka mata. Hal yang pertama kali kulihat adalah atap tempat tidur yang terbuat dari kain sutera berwarna ungu lembut.


Dimana aku ?


Tenagaku seolah habis. Aku merasa lemas. Kepalaku berdenyut dan tenggorokanku gatal. Aku ingin mengucapkan sesuatu, tapi suaraku seolah tertahan. Mataku menelusuri ruangan, terkejut mengetahui betapa mewahnya kamar ini. Di sisi timur terdapat empat cendela besar yang langsung mengarah ke balkon. Tirainya terbuat dari sutera dengan warna yang senada dengan perabotan didalamnya, melambai lambai tertiup angin dari cendela yang dibiarkan terbuka. Di tengah ruangan terdapat perapian yang menyala. Ada meja dengan dua kursi didepannya. Diatas meja seseorang telah meninggalkan aroma terapi yang baunya memenuhi kamar ini. Disisi barat ada dua pintu yang tertutup. Di sisi utara ada pintu besar. Aku mendengar ada orang yang bercakap-cakap diluar sana. Secara keseluruhan kamar ini bukan kamar yang bisa di miliki orang biasa. Perabotan dan ***** bengeknya mewah dan terlihat mahal.


Ketika Aku bersusah payah untuk bangun, melawan rasa pusing dikepala, pintu terbuka. terdengar langkah kaki mendekat.


"Kau sudah bangun" Aku mendongak. Seorang pria separuh baya menghampiriku. Aku merasa tidak asing dengannya.


"Jangan takut" katanya membuatku terkesiap. Aku menyadari suaranya adalah suara yang muncul di mimpiku waktu itu. Tapi bukan hanya itu saja, Aku memperhatikan dia dengan seksama. Rambutnya walau sudah ditutupi uban, Aku masih bisa melihat warna rambut aslinya yang berwarna cokelat tanah. Sama seperti rambutku. Kulitnya berwarna kecoklatan terbakar matahari. Cara dia bergerak dan kekikukannya mengingatkanku pada diriku sendiri. Ada Aku dalam dirinya, atau sebaliknya ada Dia dalam diriku.


"Minumlah...ini akan menghilangkan pusing dan sakit ditenggorokanmu" pria itu menyodorkan gelas terbuat dari tembaga berisi air bening. Aku menatap pria itu ragu. "Aku tidak akan menyakitimu Yuki" ucapnya lagi. Kali ini lebih tegas. Dia mengenaliku. Aku menatapnya sejenak. Kuulurkan tanganku mengambil gelas dan mendekatkan ke hidungku. Hanya air putih biasa, tidak berbau dan tidak berwarna


Apa yang terjadi jika aku meminumnya ?.


Perlahan Aku mendekatkan bibir gelas kemulutku. Sontak rasa manis menyebar begitu aku meminumnya. Perlahan rasa pusing dikepalaku berangsur angsur menghilang.


"Bagaimana keadaanmu sekarang ?" Tanya pria itu yang ternyata terus memperhatikanku.


Aku mengangguk malu. "Terimakasih, Aku sudah merasa jauh lebih sehat dari sebelumnya. Minuman apa ini ?"


"Itu adalah ramuan khusus yang dibuat oleh Pendeta Serfa" pria itu membantuku duduk. Dia menyandarkanku di tumpukan bantal dibelakangku.


Aku melihat kesekeliling masih tidak mengerti kenapa Aku bisa ada disini. Perlahan ingatanku kembali. Pemuda itu membawaku kemari. Klo begitu, ini adalah dunia asal mama yang di ceritakan Bibi Sheira.


"Dimana Aku" kataku akhirnya.


Pria itu menarik kursi dan duduk didekatku.


"Kau berada di rumahmu, dan ini..." pria itu menunjukan kamar ini dengan tangannya. "Ini adalah kamarmu, bagaimana apa Kau suka"


Aku menatap pria itu lama. Bibirku terasa kelu saat ingin mengatakannya. Pria itu menungguku. Tangannya kini mengengam lembut kedua tanganku.


"Tanyakan Yuki" pintanya.


"Apa....apakah kau...Ayahku ?"


Pria itu langsung memelukku erat. Tubuhnya bergetar hebat menahan haru. "Putriku, putri kecilku" bisiknya.


Air mataku mengalir. Aku merasa terharu dan bahagia secara bersamaan. Aku tidak menyangka pada akhirnya Aku bisa bertemu dengan Ayahku. Dulu Aku sering berhayal para bintang film di televisi sebagai sosok Ayahku. Kini, diluar dugaan Aku bisa bertemu dengannya. Ayahku tidak mati. Dia hidup.


Kami saling melepas rindu beberapa saat. Ayah mengusap air mata dipipiku. Aku menatap lebih jelas sosoknya. Walau sudah tua tapi Aku masih melihat raut ketampanan di wajahnya. Badannya masih segar berbalik dengan kulitnya yang sudah mulai berkeriput. ada banyak penderitaan dan beban yang Dia tanggung dipundaknya, Aku bisa merasakan itu.Sekarang Aku mengerti kenapa Mama begitu mencintai pria ini.


"Ayah, apakah Aku akan tinggal disini" tanyaku berhati hati. Ayah menatapku tidak mengerti.


"Tentu saja" ujarnya. Aku menunduk binggung.


"Apakah...apakah Aku tidak bisa kembali ke duniaku sana"


Ayah terdiam.


"Kau tidak mau tinggal bersama dengan Ayah"


"Aku sangat senang bertemu dengan Ayah, tapi Ayah terlepas dari asal usulku, Aku sudah punya kehidupan sendiri di duniaku sana. Memang kehidupan yang biasa. Tapi itu hidupku. Izinkan Aku kembali menjalaninya"


"Dulu Aku membiarkan kau dan ibumu pergi, Aku sangat menyesali itu. Sekarang...tidak. Kau akan tinggal disini bersama dengan Ayah"


"Tapi Ayah.."


"Cukup Yuki !!, suka tidak suka Kau adalah orang dari dunia ini.hidupmu sekarang berada disini seperti yang seharusnya. Kau akan tinggal disini bersama Ayah. tidak ada lagi perdebatan" ucap Ayah tegas. Ayah bangun dari duduknya dan berjalan pergi menuju pintu keluar.


"Ayah...Aku mohon...Ayah" Aku berusaha bangun dari tempat tidur untuk mengejar Ayah tapi pintu keburu ditutup. Aku sendirian. Aku duduk dengan lemas di kursi.


Semuanya ini begitu cepat terjadi.


Aku menangis didalam kamar. Merenungi nasibku yang berubah dalam waktu sehari. Entah berapa lama Aku duduk melamun, Sampai terdengar suara pintu terbuka. Seorang gadis berkulit hitam manis masuk. Rambutnya dikepang kebelakang. Umurnya kira-kira sebaya denganku, atau bahkan lebih tua.Ada lesung pipit dikedua pipinya ketika Dia tersenyum.


"Saya Rena Alresa,memberi hormat kepada Putri Yuki" ujarnya sembari bersujud dengan sikap takjim, membuatku jengah. Aku berdiri dari dudukku dan langsung menghampirinya.


"Aduh...tidak usah begitu" pintaku.


"Anda adalah putri dikeluarga ini, sudah sepantasnya hamba memberi penghormatan"


"Aku bukan seorang putri untuk apa Kau bersujud seperti itu" Gerutuku kesal.


Rena tersenyum. "Mulai hari Saya ditugaskan untuk menjadi pelayan pribadi Putri. Saya akan membantu putri mempersiapkan segala keperluan putri. Sebentar lagi jam makan malam. Ada baiknya putri mandi dan berganti pakaian"


Aku menatap penampilanku. Rambutku berantakan dengan masih mengenakan pakaian sekolah. Rena benar Aku perlu mandi.


"Baiklah, tapi jangan bersikap terlalu sopan seperti itu. Membuatku tidak nyaman" pintaku.


Mandi ternyata bukan perkara mudah yang Aku hadapi selanjutnya. Rena bersikeras untuk membantuku membersihkan badan. Aku tidak biasa dilayani seperti ini. Apalagi telanjang di depan orang lain. Aku merendam badanku di bak mandi yang cukup untuk lima orang sekalipun, sementara Rena menaburkan kelopak bunga mawar didalamnya. Kemudian dia memijit punggungku.


Sambil membantuku mandi, Rena bercerita mengenai dunia ini.

__ADS_1


Dunia ini berbeda dimensi dengan duniaku sana, disini Naga dan sihir adalah nyata. Ada banyak negera seperti duniaku sana namun, Hanya empat negara terbesar didunia ini, yaitu Negeri Argueda, Garduete, Romawa dan Rasyamsyah. keempat negeri ini masing masing berada di timur, barat, selatan dan utara. Sayangnya, walau empat negara ini cukup besar mereka saling bermusuhan satu sama lain. Namun diantara keempat negara ini, hanya Argueda dan Garduete yang paling kuat.


Negeri yang Aku tinggalin sekarang adalah


negeri Garduete. Negeri Garduete di jaga oleh Dewa Aiswara atau Dewa keadilan. Raja negeri ini adalah Raja Bardana. Walau sudah berumur lima puluh tahun, tapi Raja Bardana memiliki sembilan orang selir, dua belas kekasih dan tiga puluh dayang-dayang. Akan tetapi, walaupun negeri Garduete adalah salah satu dari negeri terbesar dan juga salah satu negeri terkuat didunia, negeri ini sebenarnya diambang ancaman kehancuran. Ada peraturan di negeri ini bahwa calon penerus tahtah hanyalah Pangeran yang lahir dari Ratu yang dipilih oleh dewa. Sedangkan Ratu Almira, Istri dari Raja Bardana telah meninggal sesaat setelah melahirkan putra mahkota-Pangeran Riana. Sehingga otomatis negeri ini hanya memiliki satu putra mahkota yang jika Dia sampai meninggal sebelum memiliki Ratu dan keturunan, dapat dipastikan negeri ini akan hancur dengan sendirinya.


Namun masalahnya calon Ratu yang baru sampai saat ini belum ditemukan. Padahal pertanda bahwa Dewa telah memilih seorang wanita sebagai calon Ratu Pangeran Riana jelas sekali ada.


"Hmmm...rumit sekali ya peraturan dunia ini."


"Akan ada banyak lagi aturan aturan yang perlu Putri ketahui nanti. Sebisa mungkin Saya akan membantu Putri." ujar Rena sambil mengambilkan handuk untukku. Aku menerimanya dan langsung bangun dari dalam bak untuk berganti baju.


Aku sempat berdebat dengan Rena ketika Dia benar-benar mendandaniku dengan banyak perhiasan. Aku mengenakan gelang kaki yang bergemrincing, rasanya seperti seekor sapi. Belum lagi gelang,kalung, anting anting dan hiasan rambut lainnya. Membuatku tidak nyaman saat mengenakannya.


"Tidak bisakah Aku mengenakan pakaian seperti yang kau kenakan" pintaku ketika Aku selesai berdandan.


"Bagaimana Bisa, Saya pasti akan dimarahi Perdana Menteri karena membiarkan anda mengenakan pakaian pelayan"


"Aku lebih nyaman mengenakan pakaian itu" ujarku memelas. "Apa kau yakin Aku harus mengenakan semua ini, bukankah ini hanya makan malam biasa"


"Semua ini adalah pakaian yang biasa dikenakan putri dinegeri ini. Nanti Putri akan terbiasa"


Terbiasa ? benarkah ?


Rena mengantarkanku menemui Ayah yang sudah menunggu diruang kerjanya. makanan sudah disajikan. Aku diam. Ayah terlihat sedih. Pasti itu karena masalah tadi siang. Rena bercerita bahwa untuk membawa keluarganya kembali Perdana Menteri terus berjuang tanpa menyerah 16 tahun ini. Banyak yang menyarankannya untuk melupakan Mama dan menikah dengan putri lain. Tapi Perdana Menteri menolak. Dia tidak pernah memiliki Istri lain atau kekasih. Bahkan seorang dayangpun dia tidak punya. Aku merasa bangga terhadapnya. Kesetiaannya pada Mama begitu besar.


"Ayah" bisikku pelan ketika kami hanya tinggal berdua di ruangan ini. " Maafkan Aku,Aku tidak tahu betapa besar perjuangan Ayah selama ini hanya untuk membawa kami kembali. Aku sungguh sungguh minta maaf Ayah" Aku mencondongkan badanku untuk memeluk Ayah. "Mulai sekarang Aku akan menjaga Ayah, Ayah jangan bersedih lagi"


Ayah memelukku senang.


Malam itu untuk pertama kalinya Aku merasakan keluarga yang utuh. Kami saling bercerita tentang kehidupan masing masing ketika kami berpisah, aneh, tapi Aku merasa Mama ada disini bersama kami.


Sudah seminggu Aku berada disini. Walau tidak ada televisi atau barang khas anak muda diduniaku sana, tapi Aku merasa tidak bosan. Disini udaranya sangat segar. Sedikit dingin malah. Jika malam hari Kau tidak mengenakan alas kaki, Kau bisa menginggil ketika berjalan dilantai batunya. Setiap hari Aku dan Rena mencoba masakan yang ada di dunia ini. Aku merasa berat badanku naik beberapa kilo.


"Yuki apa Kau yakin tidak Ayah temani?" tanya Ayah lagi memastikan ketika mengantarkanku ke kereta kuda yang menunggu. Aku mengangguk mantap. hari ini adalah hari pertama Aku bersekolah. Ayah mendaftarkanku ke sekolah khusus Bangsawan dan Putri dipinggir kota. Dari info yang kudapat, muridnya juga banyak yang berasal dari negara lain. Ada empat tingkatan pendidikan dalam dunia ini. yaitu tingkat Gala yaitu tingkat pertama yang bisa diupamakan seperti saat kita masih TK sampai menginjak SD kelas lima. Lalu tingkat Arsa, tingkat setaraf anak SD kelas enam sampai SMP kelas 3. Tingkat Kuldhi atau setaraf smu dan tingkat terakhir tingkat Basmana.


Di sekolah ini berisikan 534 orang murid. Jadi jika Aku tidak mendapatkan satu saja tempat diantara mereka, Aku tidak tahu Aku akan jadi apa.


"Tenang Ayah, Aku akan baik baik saja"


Aku tahu Ayah sedang banyak pekerjaan, jadi Aku tidak ingin merepotkannya. Jika menghadapi banyak orang sebagai murid pindahan, Aku dulu pernah melakukannya. Aku tidak tahu bagaimana situasi sekolah ini mengingat hampir 90 persen adalah anak dari keluarga Bangsawan dan kerajaan. Sebenarnya Aku tidak begitu nyaman dengan sekolah ini, tapi Ayah bersikeras Aku harus mendapatkan pendidikan yang baik dan sekolah ini adalah yang terbaik dinegeri ini.


"Baiklah, jika terjadi sesuatu Kau tau apa yang harus Kau lakukan?" Aku menunjukkan gulf. sejenis alat komunikasi berbentuk seperti tempak bedak, bisa melihat sosok yang memanggil kita seperti jika kita melakukan v-call dengan menggunakan handphone.


"Aku berangkat Ayah" Aku mencium pipi Ayah. Sei, kusir kereta yang ditugaskan untuk mengantarkanku sudah menunggu.


"Selamat pagi putri, sudah siap masuk penjara" seloroh Sei.


Aku nyengir. Kereta mulai berjalan. Aku membuka cendela lebar, melambaikan tangan ke Ayah yang masih menatapku khawatir.


Kereta melaju melewati kota yang mulai ramai dengan aktifitasnya, kemudian berbelok di jembatan menuju sebuah bangunan diatas bukit yang tinggi. Dikelilingi oleh hutan yang rindang. Bangunan itu dikelilingi tembok yang tinggi. Kami masuk melalui gerbangnya. Sei mengajakku berputar putar terlebih dahulu sebelum membawaku ke kantor kepala sekolah. "Masih ada banyak waktu daripada Tuan Putri menunggu cukup lama" ujar Sei yang kusetujui dengan antusias.


Aku terkejut mendapati bangunan yang ada disini. Tempat ini sangat luas dari kelihatannya. Ada danau dan lapangan berkuda. Asrama putri dan asrama putranya yang letaknya berlawanan arah. Gedung sekolah dan bahkan tamannya semuanya mengagumkan. Aku curiga berapa banyak yang dikeluarkan Ayah agar Aku bisa sekolah disini. Satu hal yang kusyukuri adalah Aku langsung bisa memahami bahasa mereka, akan sangat menakutkan jika tidak bisa berkomunikasi dengan baik seperti sekarang. bahkan Aku bisa membaca tulisannya yang begitu rumit. "Dewa Aiswara telah memberikan anugerah untukmu dengan dapat mengerti bahasa dunia ini. Kita harus bersyukur mengenainya" ujar Ayah tempo hari ketika tahu Aku bisa memahami bahasa mereka dengan baik.


Akhirnya Sei memberhentikan keretanya tepat di halaman sebuah bangunan yang menjadi bangunan utama. Tempat dimana hampir seluruh kegiatan murid berbagai tingkat berada disini. "Putri apa benar tidak ingin ditemani" tanya Sei masih duduk di bangkunya. Aku membuka pintu dan meloncat keluar kereta. Satu hal yang kusukai dari Sei adalah dia masih membiarkanku menjadi manusia biasa, tidak seperti Rena yang terus-terusan melayaniku seperti anak kecil yang tidak bisa apa-apa.


"Jangan cemas, Aku akan baik baik saja"


"Putrikan sangat imut, Aku hanya khawatir seseorang akan terpikat dan membawa Putri pergi" Aku memutar bola mata mendengar seloroh Sei. Di halaman ini kereta kuda silih berganti berdatangan untuk mengantar murid murid yang bersekolah disini. Beberapa pasang mata menatapku penasaran. Aku menutup pintu kereta. Bel berbunyi nyaring. "Nanti Aku akan menjemput putri disini. Hubungi saja jika Putri sudah akan pulang"


"Oke"


Aku berjalan masuk kedalam gedung. Semua murid sudah tidak terlihat batang hidungnya.


Apa tadi bel masuk.


Atap gedung ini dibuat sedemikian rupa. Diatasnya berbentuk kubah dengan lukisan awan dengan langit biru yang indah. Tanaman menjalar ditata dengan apiknya, Menjulang sampai keatas atap.


Baiklah, apa yang harus kulakukan sekarang.


Tidak ada siapapun disini. Bagaimana Aku bisa menemukan arah kantor kepala sekolah.


Sial


Aku terus berjalan lurus, sampai disuatu belokan tidak sengaja Aku bertabrakan dengan seorang pemuda.


"Aduh"


Aku menutupi hidungku yang terbentur dadanya. Pemuda didepanku memiliki wajah yang manis. Mungkin dia seumuran denganku. Tubuhnya tinggi, namun agak sedikit kurus untuk ukuran anak cowok seusianya. Rambutnya tertata rapi, berwarna cokelat susu.Ada bekas lebam yang mulai memudar diwajahnya.


Apa dia senang berkelahi ?. Tapi tidak terlihat dari penampilannya.


"Maaf Aku tidak sengaja" Kataku akhirnya.


Pemuda itu tersenyum.


"Tidak apa-apa"

__ADS_1


Dia lalu hendak berjalan pergi, Aku secara refleks menarik tangannya. "Maaf apa kau tahu dimana letak ruang kepala sekolah"


"Kepala sekolah" tanya pemuda itu curiga.


"Aku murid baru disini, ah..perkenalkan namaku Yuki Orrie Olwrendho. Aku Putri dari Perdana Menteri Olwrendho." kataku mengulurkan tangan. Pemuda itu menatapku makin tidak percaya. Karena uluran tanganku diabaikan Aku menariknya kembali.


"Perdana Menteri Olwrendo tidak mempunyai wanita lain selain istrinya,Putri Ransah"


"Aku adalah benar putrinya. Aku baru saja kembali dari dunia tempat ibuku.." Aku terdiam. tidak mungkin Aku mengatakan dibuang.


Terasa gulf bergetar dikantungku. Ternyata dari Ayah. "Yuki bagaimana, apa kau berada dalam kesulitan ? apakah Ayah harus menyusulmu?"


"Ayah, tenanglah Aku baik baik saja." kataku meyakinkan. "Aku sebentar lagi akan bertemu kepala sekolah. Ayah tidak perlu khawatir"


"Apa salahnya khawatir dengan putri sendiri"


Aku tertawa.


"Aku harus pergi Ayah, nanti Aku akan menghubungimu kembali"


"Ayah tunggu"


Aku menutup gulf. Pemuda disampingku terperangah.


"Jadi Kau benar benar putri yang dibuang itu"


Aku meringis mendengar selorohnya.


"Ya, secara spesifik seperti itu"


"Aku benar-benar tidak percaya.Bagaimana bisa ?"


"Ayah berhasil membuktikan Mama tidak bersalah dan kerajaan memutuskan untuk membawaku kembali"


"Kalau begitu apa Putri Ransah juga kembali. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Dia adalah putri tercantik dijamannya"


Aku terdiam. "Mamaku...dia sudah meninggal enam bulan lalu karena kecelakaan"


"Maaf" ujar pemuda itu menyesal.


"Tidak apa apa" jawabku lagi.


"Kau mau kuantar ke ruang kepala sekolah"


"Apa tidak merepotkan ?"


"Tidak, ayo" Aku mengangguk mengikuti pemuda itu. Sambil berjalan, pemuda itu menunjukan beberapa ruangan penting yang harus Aku ketahui.


Akhirnya kami sampai di depan kantor kepala sekolah.


"Terimakasih atas bantuannya" ucapku senang.


"Aku pergi dulu" pamit pemuda itu.


"Tunggu"


Pemuda itu berbalik. "Siapa namamu ?" saking asyiknya mengobrol Aku lupa menanyakan namanya. Pemuda itu tersenyum sedih. Perubahan dratis ini membuatku binggung. Dia kembali menjaga jarak. "Kau tidak perlu tau"


"Kenapa?" tanyaku tidak mengerti.


"Setelah Kau tau Aku, Aku yakin kau bersyukur tidak mengenalku"


Pemuda itu langsung pergi tanpa berbalik lagi. Aku hendak mengejarnya, tapi pintu ruangan terbuka. Sosok seorang wanita muncul, memandangku dengan tatapan menyelidik.


"Jadi siapa ini" tanyanya.


Setelah bertemu dengan kepala sekolah, Aku diantar menuju ruang pembukuan untuk mendapat buku-buku dan perlengkapan lain yang kuperlukan.


Di dunia ini perbedaan gender dalam pendidikan begitu nyata. Para kaum wanita hanya boleh mendapatkan pengetahuan umum, sisanya mereka belajar etika dan kesopanan dalam pergaulan dan persiapan dalam menjalankan rumah tangga. Selain itu mereka lebih banyak diajarkan ketrampilan seperti menjahit baju, memasak, menari, merangkai bunga, merajut dan sebagainya. Pendidikan bela diri tidak begitu diprioritaskan. Berbeda dengan para bangsawan, mereka belajar ilmu hukum, ilmu kesehatan, ilmu perang, taktik politik, bahasa, bisnis, ekonomi, perdagangan, pertanian, pelayaran, perternakan dan sebagainya. ketrampilan berkuda, berperang, bela diri, memanah dan berpedang sangat ditekankan untuk dikuasai.


karena Aku bisa menguasai bahasa, Nona Hazel memasukkanku ke tingkat Kuldhi. Aku memilih mata pelajaran umum yang Aku inginkan. Bahasa menjadi pilihan utamaku. setelah mengisi semua berkas, Aku diantarkan menuju lemariku. Ternyata di sekolah ini juga disiapkan ruangan khusus untuk menyimpan barang yang dipisah menurut gender dan tingkatan. Ruangan ini sangat luas dengan lemari yang ditata rapi. Aku membuka lemari dua pintu milikku. Menata semua barang yang kudapat. Aku mengantung pakaian seragam, memasukkan buku dalam susunan yang sama. Menempelkan salinan jadwal belajar di balik pintu. Sepatu untuk keperluan sekolah juga sudah Aku masukkan. Akhirnya semua beres. Aku merapikan penampilanku di cermin yang ada dibalik pintu. Menyisir rambutku dengan jari, menambah ulang bedak dan lipstik agar terlihat lebih segar. Setelah semua dirasa oke, Aku menutup pintu, menguncinya dan menyimpannya dalam tas yang kubawa. Bel berdering menandakan pelajaran baru dimulai. Seorang pesuruh kelas sudah menungguku diluar. Aku dibawa kedalam kelas berhitung. Didalam kelas hanya ada dua puluh murid. Tuan Handison- guru mengajar dikelas ini, memperkenalkanku sebentar lalu memintaku duduk dimeja paling depan. Dekat seorang gadis berkulit eksotis dan sexy. Dia memperkenalkan diri sebagai Putri Elber, putri dari negeri Yamaera.


"Setelah ini kau akan kemana" tanya Elber ketika pelajaran telah usai. Aku mengecek kertas jadwalku.


"Pelajaran etika dan kesopanan dengan Nyonya Debby"


"Berarti kita sama, Ayo kita harus buru buru. Nyonya Debby tidak akan suka jika ada muridnya yang terlambat. Dan Aku yakin, kau juga tidak ingin berdiri di lorong kelas sepanjang pelajaran di hari pertamamu"


Aku menganggukkan kepala. mengikuti langkah Elber. Kami menyusuri lorong yang ramai. Murid-murid berjalan untuk menuju kelasnya. Saat akan menaiki tangga, Aku mendengar suara jatuh yang cukup keras.


"Gubrraakkk"


Aku berbalik dan mendapati bangsawan yang menolongku tadi pagi tersungkur di lantai. Disampingnya sekumpulan murid berdiri dan menertawakannya. Aku bersumpah, melihat bangsawan gendut dengan wajah penuh bintik dihidungnya itulah pelakunya. Dia sengaja menjegal kakinya sehingga terjatuh.


"Idiot" katanya terkekeh. Sedangkan bangsawan yang terjatuh itu hanya diam dan bangkit. Wajahnya tanpa ekpresi, tidak melawan tapi tidak juga menerima. Aku hendak membantunya, tapi Elber menarik tanganku. Menghentikan langkahku.


"Kau mau kemana, kita bisa terlambat"

__ADS_1


Dia menyentak tanganku mengikutinya. Kami berlari menaiki tangga.


__ADS_2