Morning Dew

Morning Dew
32


__ADS_3

Kedua Pangeran tersebut saling tarik menarik. Keributan ini semakin menarik perhatian orang di sekitar.


Yuki meringis saat tubuhnya terguncang kuat ke kanan dan ke kiri. "Sakit lepaskan Aku" pinta Yuki memohon kepada kedua Pangeran yang mencengkram tangannya begitu kuat.


"Lepaskan Dia" ancam Pangeran Riana dengan wajah dingin.


"Tidak akan !!" Tolak Pangeran Sera juga tidak kalah mengintimidasi.


"Aku bilang lepas" Pangeran Riana menarik Yuki kuat hingga Yuki terlepas dari pegangan Pangeran Sera. Tubuh Yuki menghantam tembok. Pangeran Riana maju dan langsung melayangkan tinjunya ke wajah Pangeran Sera.


Pangeran Sera terjengkang ke lantai. Yuki berteriak menyaksikan adegan itu. Dia bangkit dan ingin menolong Pangeran Sera, tapi Pangeran Riana sudah mencekal tangannya dan mendorongnya ke belakang punggung.


"Ada apa ini ?" Sebuah suara menghentikan kericuhan.


Raja Bardana sedang berkeliling bersama rombongan ketika Dia melewati tempat ini dan melihat sendiri keributan yang terjadi.


Dia terkejut ketika melihat anaknya yang biasa tenang tanpa perasaan, menunjukan emosinya bahkan membuat keributan hanya karena seorang wanita.


Setidaknya, Anaknya masih bisa diselamatkan. 


Meskipun Pangeran Riana lahir dari rahim ratu yang sah, tapi saudara-saudaranya yang lain berulangkali merencanakan untuk menggulingkannya, bahkan berusaha membunuhnya.


Raja Bardhana tahu bagaimana keras anaknya untuk bertahan hidup. Dia tidak bisa membunuh anak-anaknya yang lahir dari wanita selain Ratu, Raja Bardhana masih mempunyai hati seorang Ayah. Setidaknya Dia akan memberi kesempatan untuk introspeksi diri dan menghukum Mereka yang berniat merebut kekuasaan. Jika tidak bisa Dia terpaksa harus menghilangkan Mereka meski hatinya sakit.


Riana tidak pernah menunjukan kelemahannya sebelum ini, Dia sangat terlatih dalam mengendalikan diri, Namun sekarang semua orang bisa melihat satu-satunya cara untuk mengacaukannya adalah mengusik Yuki.


Pendeta Naru bersama rombongan Raja Bardana. Dia maju dengan emosi yang meluap ketika melihat Pangeran Sera duduk di lantai dengan sudut bibir mengeluarkan darah.


"Apa yang terjadi hari ini merupakan penghinaan untuk negeri Kami" seru Pendeta Naru keras.

__ADS_1


Pangeran Sera mengusap darah di bibirnya, berdiri menatap Pangeran Riana dengan tatapan bermusuhan.


"Sudahlah Naru, tidak perlu membesar-besarkan masalah" ujar Pangeran Sera kembali memasang wajah tenang.


Kedua Pangeran ini terlatih menyembunyikan perasaan, mampu menguasai situasi dengan cepat.


Raja Bardana melirik ke arah Yuki, penampilannya sangat kacau. Wajahnya sembab penuh bekas  air mata, pakaiannya berantakan dan lehernya terlihat jelas warna kemerahan bekas ciuman Pangeran Riana. Pandangannya beralih kepada dua Pangeran di depannya yang berdiri berhadapan. Meskipun terlihat tenang namun keduanya siap menyerang satu sama lain.


"Tenanglah Pendeta Naru, Permasalahan ini akan Aku selesaikan dengan baik" kata Raja Bardana memecah situasi. Dia melirik ke kepala penjaga yang mendampinginya. "Bawa Putri Yuki kembali ke kediamannya"


"Tidak, bawa Dia ke istanaku dan kurung Dia di kamar sampai Aku kembali" potong Pangeran Riana tegas. Yuki nyaris histeris saat mendengar perintah Pangeran Riana. "Ingat, Jangan biarkan Dia keluar selangkah pun dari kamar atau kupenggal kalian" lanjut Pangeran Riana.


"Riana" tegur Raja tidak suka. 


"Maafkan Saya Yang Mulia, tapi Yuki adalah masalahku, Kami akan menyelesaikan soal ini berdua, Saya mohon baginda tidak terlalu ikut campur dengan hubungan Kami" tolak Pangeran Riana.


Raja Bardana menyembunyikan senyumnya. Bahkan demi gadis ini, Pangeran Riana terang-terangan menentangnya di depan umum. Dia seperti melihat dirinya sendiri di masa muda.


Setelah diperintahkan dengan keras, Para Pengawal langsung menjalankan perintah. Yuki diapit, Berjalan meninggalkan keributan.


Yuki sempat bertatapan dengan Pangeran Sera, Dia meminta maaf tanpa bersuara. Hanya sorot matanya yang menyampaikan penyesalan karena telah membawa Pangeran Sera dalam masalah.


"Riana, Aku harus berbicara denganmu setelah ini" ujar Raja yang masih terdengar di telinga Yuki.


"Bosan" Yuki membuang buku di tangannya secara sembarang ke lantai di dekatnya. Seluruh tubuhnya terasa pegal karena meringkuk di sofa. 


"Putri, bersikap manis lah dengan begitu Pangeran Riana mungkin akan berubah pikiran dan memulangkan Putri" tegur Rena yang sembari tadi setia menemani Yuki.


"Apa Kau tidak melihat Dia sudah mempersiapkan penjara ini untukku dengan baik" Sungut Yuki sembari memutar mata.

__ADS_1


Ketika pertama kali tiba di Istana Pangeran Riana, Yuki terkejut karena Istana ini begitu sunyi nyaris seperti bangunan tidak berpenghuni. Istana Pangeran Riana tidak sebesar Istana kerajaan, tapi juga jauh lebih besar daripada kediaman keluarga Olwrendho. 


Hal ini menguatkan rumor yang beredar bahwa Pangeran Riana hanya mengizinkan orang-orang yang disukainya untuk tinggal di istananya.


Alih-alih tinggal di istana harem, Pangeran Riana justru memerintahkan Yuki untuk tinggal di kamar yang berseberangan dengan kamarnya. Hanya dibatasi oleh taman kecil yang lebarnya tak lebih dari lima meter. Yuki tidak diizinkan keluar kamar semenjak Dia memasuki kamar ini. 


Sudah satu minggu berlalu semenjak kejadian itu, Yuki seperti seorang narapidana yang semua pergerakannya di awasi. Dia juga dilarang menerima kunjungan dari siapapun, tapi Yuki masih cukup beruntung Rena diizinkan tinggal di istananya untuk melayani Yuki.


Yuki jauh lebih terkejut saat mendapati kamar tersebut memiliki lemari berpakaian yang semua barang-barang di dalamnya, cocok untuk ukuran tubuhnya. Ini menegaskan bahwa Pangeran memang mempersiapkan kamar ini untuk mengurung Yuki.


"Aku ingin pulang" Rengek Yuki sembari menekan wajahnya di lutut. Dia kembali meringkuk di atas sofa tempatnya menghabiskan sebagian waktunya di kamar ini. Rena menghela nafas, Dia tidak tahu harus bagaimana menghibur tuan putrinya. Sebenarnya semua masalah ini tidak harus terjadi jika Yuki menerima keputusan kerajaan dan menjadi kekasih Pangeran Riana dengan lapang dada.


Pangeran Riana meski dingin dan jarang mau dekat dengan orang lain, tapi Dia termasuk Pria idaman. Memiliki status yang bagus, dari keluarga yang terpandang dan tidak memiliki kekurangan fisik apapun. Dia sosok yang sempurna, bahkan bisa di katakan Dia tidak kalah dengan Pangeran Sera dari negeri Argueda.


Dan sepertinya Pangeran Sera tertarik pada Yuki.


Diperebutkan oleh dua Pangeran perwaris tahtah dari negara besar, tapi Putri Yuki yang dilayaninya malah sibuk meradang untuk satu bangsawan yang keluarganya menyandang status penjahat. Bukan main !!.


Rena merasa Dia harus banyak berdoa dan beramal agar kesialan tidak menghantui keluarga Olwrendho.


"Apa ayah belum kembali ?" Tanya Yuki lagi. Kamar yang ditempatinya sekarang jauh lebih mewah dan luas daripada kamarnya, tapi Yuki tidak tertarik tinggal di kamar ini. Dia merindukan kamarnya sendiri, lebih tepatnya kamarnya di dunia yang dulu.


Perdana Menteri Olwrendho sudah mendapatkan titah resmi dari kerajaan mengenai pengangkatan Yuki menjadi kekasih Pangeran Riana. Tapi Dia belum bisa kembali karena masih menjalankan tugas negara. 


Yuki sempat berkomunikasi dengan Perdana Menteri Olwrendho melalui Gulf milik Rena. Perdana Menteri Olwrendho berjanji akan segera kembali jika pekerjaannya sudah selesai. 


"Perdana Menteri sedang mengurus perjanjian kerjasama dua negara, Karena pengangkatan Putri menjadi kekasih Pangeran Riana adalah kabar yang menggembirakan, Perdana Menteri tidak punya alasan untuk mengajukan kepulangan lebih awal" ujar Rena mengingatkan. "Putri harap bersabar dan bersikap baik di depan Pangeran agar Pangeran berubah pikiran" bujuk Rena lagi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2