Morning Dew

Morning Dew
64


__ADS_3

"Aku sudah mengerti duduk perkaranya" kata Raja setelah mendengar penjelasan Yuki. "Putri Yuki, terimakasih Kau telah bersedia jujur padaku. Tapi, Kau juga harus mengerti. Meski Kedua orang tua Kalian telah mengikat perjanjian, Kerajaan Garduete yang lebih dulu mengangkatmu sebagai kekasih Pangeran Riana. Terus terang saja, Kami tidak akan pernah menyerahkanmu pada Negeri Argueda" 


Yuki diam. Dia tidak ingin berdebat. Karena Dia sendiri masih binggung dengan perkembangan situasi yang ada. Semuanya bagaikan mimpi bagi Yuki.


"Pengawal,  antar Putri Yuki pulang untuk beristirahat" kata Raja kemudian.


Para pengawal istana Pangeran Riana maju mengintari Putri Yuki. Putri Yuki menundukan kepala memberi hormat. Kemudian berjalan bersama iring-iringan pengawal menuju kereta kuda yang telah menunggu. 


Sesampainya di istana Pangeran Riana, Yuki langsung di bawa masuk ke dalam kamar Pangeran Riana. Yuki tidak bisa tidur. Rasa kantuk yang tadi di rasakan telah menguap entah kemana. Dia berjalan mondar-mandir di dalam kamar memikirkan apa yang akan terjadi nanti membuatnya gelisah.


Yuki memegang kalung pemberian Putri Ransah di tangannya. Dia memutari sekitar kamar. Mencari tempat yang aman untuk menyembunyikannya. Dia merasa beruntung karena Pangeran Riana tidak mengikutinya pulang, jadi Dia masih punya waktu untuk menyembunyikan kalung pemberian Pitri Ransah dan memikirkan semuanya dengan matang. Akhirnya, Yuki memutuskan menyimpan di celah kecil yang ada di balik tirai cendela. Yuki memanjat ke atas menggunakan kursi dan menyembunyikan kalungnya di sana. Motif sulaman pada tirai menyamarkan kalung itu. Yuki hanya berharap Pangeran Riana tidak menemukannya.


Pangeran Riana baru kembali ke istana saat matahari saja terbenam. Suasana hatinya sedang tidak bagus. Dia tampak dingin. Pancaran aura membunuh terasa sekali di sekitarnya. Hanya orang bodoh yang mau mencari masalah dengannya sekarang. 


"Semuanya keluar" perintah Pangeran Riana kepada Para Pengawal dan Pelayan begitu Dia memasuki kamar.


Tidak ada yang membantah. Setelah memberikan penghormatan semua orang pergi dengan tertib. Dalam waktu singkat kamar menjadi sunyi. Hanya ada Yuki yang berdiri di sudut ruangan seperti seekor mangsa yang terjepit dan Pangeran Riana bagaikan binatang buas berdarah dingin.


Pangeran Riana berjalan mengacuhkan Yuki yang menciut ketakutan di tempatnya berdiri. Dia menuju meja tempat pelayan meletakkan anggur. Pangeran Riana mengambil gelas dan menuangkan anggur ke dalamnya. Dia meminumnya untuk meredakan kemarahan. Tapi, percuma.


Dia melemparkan gelas ke dinding dengan keras sampai gelas itu penyok. Jatuh ke lantai dengan suara bergemelentang. Yuki terpekik nyaring.


"Tunangan Sera, jadi itu alasan Dia berlaku baik padamu ?" Tanya Pangeran Riana dingin.


"Aku juga baru tahu, kenapa Kau marah-marah begitu" ujar Yuki mencoba membela diri. 


Pangeran Riana memandang Yuki dengan bengis, membuat Yuki semakin ketakutan. Dia sadar, Dia tidak boleh salah ucap atau berakhir tragis.


"Kekasihku adalah tunangan Pria lain. Apa menurutmu Aku harus menerimanya dengan lapang dada ?" Tanya Pangeran Riana sembari mengeretakan giginya.

__ADS_1


"Kenapa Kau menyalahkanku ?. Kedua orang tua Kami yang membuat perjanjian dan menjodohkan Kami. Sebagai Anak, Aku tidak bisa berbuat apa-apa"


"Jadi Kau menginginkannya ?" Raung Pangeran Riana keras.


"Tidak..Bukan begitu maksudku" jawab Yuki tergagap.


Dia tidak menyukai situasi ini. 


Pangeran Riana menghampiri Yuki dengan cepat. Menahan Yuki di tempatnya dengan kasar ketika Yuki mencoba melarikan diri. "Berikan kalung itu !!" Perintah Pangeran Riana tegas.


Yuki menggelengkan kepala menolak permintaan Pangeran Riana. Penolakannya ini justru membuat Pangeran Riana semakin tersulut.


"Berikan kalung sialan itu sekarang !!" Tegas Pangeran Riana lagi.


"Aku tidak akan memberikannya padamu, itu adalah kalung pemberian ibuku" ujar Yuki mencoba memberi pengertian Pangeran Riana meskipun Dia tahu percuma.


Pangeran Riana mencengkram kerah baju Yuki. Yuki berusaha memberontak sekuat tenaga, ketika Pangeran Riana merobek pakaiannya sehingga menampangkan dadanya dengan jelas.


Yuki menarik tangan Pangeran Riana di lehernya, berusaha melepaskan diri. 


"Aku tidak akan memberitahumu...lepaskan Aku" pinta Yuki masih berusaha memberontak.


"Baik, Kita akan lihat sampai mana Kau bisa bertahan" 


Pangeran Riana menarik Yuki mendekat dan langsung mencium Yuki. Tangannya dengan cepat merobek pakaian Yuki. Mengoyaknya seperti seekor harimau yang kelaparan.


"Kau gilaa...Apa yang Kau lakukan, lepaskan Aku !!" Pinta Yuki memalingkan wajahnya, melepaskan ciuman Pangeran Riana di bibirnya. Pangeran Riana membalikkan Yuki agar memunggunginya. Dia mengikat tangan Yuki ke belakang dengan robekan pakaian Yuki. "Tidak mau...lepaskan Aku"


"Berikan kalung itu atau Aku akan menyentuhmu sampai Aku sendiri tidak bisa mengendalikan diriku" ancam Pangeran Riana di telinga Yuki. 

__ADS_1


Yuki menggelengkan kepala menolak. Dia tetap bertahan pada pendiriannya. Pangeran Riana semakin marah di buatnya. Dengan kejam Dia melepaskan setiap helai kain yang tersisa di tubuh Yuki. Yuki menangis histeris. Tapi Yuki tidak bisa nerbuat banuak karena kedua tangannya terikat ke belakang. Pangeran Riana tidak peduli. Kemarahan telah menguasainya. 


"Jangan..Lepaskan Aku.." pinta Yuki lagi ketika Pangeran Riana menciuminya dan mulai menjamah tubuh Yuki dari belakang. 


Terdengar suara Gulf milik Pangeran Riana. Menyelamatkan Yuki dari kehancuran. Pangeran Riana mengerang marah. Dia melepaskan Yuki dan merapikan pakaiannya. Sementara Yuki langsung meringkuk di sudut kamar ketakutan dan tidak berdaya. Wajahnya sudah penuh dengan air mata.


Tanpa melihat Yuki, Pangeran Riana membenahi pakaiannya dan berjalan keluar kamar.


"Apa..Apa Aku tidak boleh ada di sini ?" Tanya Pangeran Riana dingin pada seseorang di balik pintu. 


Pintu di titup dengan keras.


Yuki masih terbaring di tempatnya, menangis. Ketika seseorang melepaskan ikatan tangannya dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ketika menoleh, Dia melihat Rena memandanginya dengan raut wajah sedih.


"Putri.." panggil Rena pelan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur tuan putrinya. Dia sendiri tidak berdaya di posisinya.


Yuki langsung bangun dan menghambur ke pelukan Rena. Dia menangis tergugu. Meratapi nasibnya.


Tubuhnya gemetar. Dia masih ketakutan atas sikap Pangeran Riana. Sedikit lagi, jika tidak ada panggilan Gulf Pangeran Riana, kehormatannya pasti sudah direnggut Pangeran Riana.


 


Teror di sekolah membawa kengerian sendiri bagi penghuninya. Suasana mencekam sampai mempengaruhi seluruh ibukota. Pos-pos ronda di aktifkan secara serentak.


Keesokan harinya setelah Yuki cukup tenang. Rena mulai bercerita mengenai keadaan di ibukota dan kejadian setelah Pangeran Sera menculiknya ke Argueda.


Mayat yang di ketemukan sudah di kenali sebagai mayat para Putri dan Bangsawan yang bersekolah di sana. Salah satunya adalah Putri yang tugasnya digantikan oleh Yuki sebagai pengantin wanita di festival empat musim tempo hari. Pembunuhan yang di lakukan sangat kejam.


Mereka di siksa terlebih dahulu sampai mati pelan-pelan. Orang gila mana yang bisa melakukan hal seperti itu ?.

__ADS_1


Belum di ketahui apakah kejadian ini berkaitan dengan pemberontakan kerajaan. Karena korban tidak hanya berasal dari Garduete.


Namun, yang lebih mengerikan adalah kenyataan bahwa ke enam korban yang di ketemukan adalah awal dari rentetan teror yang terjadi setelahnya. Beberapa Bangsawan dan Putri menghilang secara misterius satu per satu. Beberapa yang menghilang sudah di ketemukan menjadi mayat. Di buang begitu saja seperti seonggok sampah yang tidak berguna.


__ADS_2