Morning Dew

Morning Dew
243


__ADS_3

"Aku tidak sudi jika kemunculannya merusak rencana pernikahanku" ujar Putri Marsha lagi dengan gusar. "Mana Riana ?"


"Ibu Suri memanggilnya"


"Untuk apa ?"


Bangsawan Xasfir menggelengkan kepala. Putri Marsha tidak mau menunggu jawaban. Wanita Tua itu kabarnya sudah bisa berjalan-jalan keluar. Dia akan pergi untuk memastikan sendiri. Lagipula Ibu Suri masih sangat mendukung Yuki. Jangan sampai Dia mempengaruhi Pangeran Riana untuk mencari keberadaan Yuki.


Tanpa permisi Dia langsung beranjak pergi.


"Vold menurut Mu bagaimana Riana menanggapi masalah ini ?" Tanya Bangsawan Xasfir ketika Putri Marsha telah pergi.


"Tidak tahu. Kenapa ?. Apakah Kau juga takut seperti Marsha, kalau Riana akan kembali mengejar Yuki ?" Tanya Bangsawan Voldermont balik.


"Marsha sudah berusaha untuk mendampingi Riana selama ini. Aku tahu Kau tidak pernah menyukainya. Tapi setidaknya hargailah usahanya" bela Bangsawan Xasfir tenang.


"Kenapa Kau tidak katakan soal ini pada Riana juga ?"


Bangsawan Xasfir terdiam. Semua orang tahu, meskipun Riana memutuskan untuk bertunangan dengan Putri Marsha, tapi bukan artinya Riana menerima hati Marsha. 


Tidak ada celah manapun yang dapat menembus dinding hati Riana yang dingin dan tidak berperasaan itu. 


Bangsawan Voldermont mengambil satu foto Yuki di atas meja. 


Yuki terlihat semakin cantik dan menawan. Jika dulu Dia seperti seekor kucing kecil. Sekarang Dia sudah berubah menjadi kucing betina yang menakjubkan, Dengan menatap wajahnya saja siapapun akan tergoda untuk menyentuhnya. 


"Sebenarnya apa yang terjadi Yuki ?. Di mana Kau ?" Bisik Bangsawan Voldermont lirih.


 


Pangeran Riana membantu Ibu Suri dengan sabar melangkah. Mereka berada di kamar Ibu Suri ketika Ibu Suri ingin duduk di dekat jendela besar, untuk menikmati angin segar.


Ibu Jaena menghidangkan teh kepada Pangeran Riana dan Ibu Suri. 


"Aku senang melihat Nenek jauh lebih baik sekarang"


"Tapi tidak semua orang senang melihat Nenekmu hidup"


"Apakah ada sesuatu ?" Tanya Pangeran Riana akhirnya.

__ADS_1


"Di istana wanita ada tiga tragedi yang selalu terjadi dari masa ke masa. Kau tahu apa itu Riana ?"


Pangeran Riana menundukan kepala sopan. "Cucu meminta petunjuk mu"


"Pertama, perebutan kekuasaan di istana wanita. Yang ke dua persaingan untuk mendapatkan cinta. Dan yang ketiga...kematian dengan menggunakan racun. Aku sudah cukup tua. Hanya ingin menikmati masa tuaku dan bukan waktuku lagi terlibat dengan itu semua" kata Ibu Suri penuh arti.


"Jangan khawatir. Serahkan semua padaku. Nenek cukup beristirahatlah agar kembali pulih" ujar Pangeran Riana tenang.


Ibu Suri mengaduk tehnya dengan menggunakan sendok. Dia menatap Pangeran Riana dalam seolah sedang berusaha menembus hatinya. Terdiam beberapa saat sebelum kembali bertanya dengan tenang. "Kau sudah tahu berita soal Yuki hari ini ?"


Pangeran Riana menatap Ibu Suri sejenak. Dia kemudian membungkuk untuk mengambil teh nya dan meminumnya perlahan.


"Apa Aku bisa menyimpulkan, jika Nenek sudah bertemu dengannya. Dia yang datang menemui Nenek ?"


"Gadis itu sudah cukup menderita. Jangan membuat susah"


"Apa Dia yang mengatakan semua pada Nenek ?" Tanya Pangeran Riana acuh. 


Ibu Suri menghela nafas perlahan. "Dia tidak mengatakan apapun padaku. Tapi Aku tahu gadis itu kembali semata karena Panggilan Pendeta Suci. Aku dengar semalam sera mencarinya di seluruh Ibukota. Entah apa yang terjadi dengan pernikahannya,namun Dia bukan orang yang tidak bertanggungjawab dan meninggalkan pasangannya jika tidak memiliki alasan yang kuat"


Terdengar keributan di luar pintu kamar Ibu Suri. Seorang pelayan masuk dan berbisik pada Ibu Jaena. Ibu jaena menganggukan kepala pelan.


"Tahan Dia di sana" kata Ibu Suri tidak suka.


Tapi Putri Marsha sudah lebih dulu menyeruak masuk. Ibu Suri semakin kesal di buatnya. Dia sampai sekarang tidak tahu kenapa Riana justru memilih wanita itu menjadi tunangannya.


Ada banyak wanita di luar. Meskipun Riana tidak bisa menemukan yang seperti Yuki. Setidaknya Dia bisa memilih seorang wanita yang jauh lebih baik daripada Marsha.


"Bagaimana bisa Kau masuk tanpa mendapatkan izin terlebih dahulu" kata Pangeran Riana dingin pada Putri Marsha. Putri Marsha melirik ke arah pembakaran dupa. Ruangan Ibu Suri di penuhi aroma lavender dan mint yang menenangkan dari aroma therapi yang di bakar. 


"Maafkan Aku, Aku dengar Ibu Suri sudah sehat. Jadi Aku bergegas datang untuk menjenguk" ujar Putri Marsha beralasan.


"Siapkan teh untuk Putri Marsha" kata Ibu Suri pada Ibu Jaena. Putri Marsha duduk di dekat Pangeran Riana dengan tenang.


"Apakah dupa yang Kami kirim telah habis. Jika Iya, Aku akan meminta pelayan untuk mengirimkan dupa lagi agar bisa membantu Ibu Suri beristirahat" ujar Putri Marsha membuka obrolan dengan suara lembut dan sikap penuh perhatian.


"Terimakasih atas perhatianmu Putri. Baru-baru ini Putri Yuki mengirimkan aromatherapy untuk Ku. Rasanya lebih menyenangkan bisa sedikit bergerak daripada harus terus berbaring di atas tempat tidur"


"Bagaimana bisa Ibu Suri menerima pemberian dari orang lain tanpa di selidiki terlebih dahulu" protes Putri Marsha tidak suka. "Bagaimana jika Dia bermaksud jahat pada Ibu Suri. Gadis itu sangat licik seperti ular. Dia pasti merencanakan sesuatu yang jahat yang bisa mencelakakan Kita semua seperti lima tahun lalu"

__ADS_1


"Untuk apa ?" Tanya Ibu Suri tenang. 


"Ibu Suri, Aku hanya tidak ingin keluarga ini kembali celaka karena ulahnya. Harap Ibu Suri bisa mengerti kecemasanku ini" ujar Putri Marsha menahan amarah. Dia sudah tahu pasti Ibu Suri akan membela Yuki. 


Selalu wanita tua ini menjadi duri dalam setiap langkahnya. selama lima tahun ini bahkan Dia tidak mengizinkan Putri Marsha memanggilnya Nenek.


"Yuki tidak memiliki kepentingan apapun untuk menyerangku. Jika Dia butuh kekuasaan baik itu kekuasaan di istana kerajaan atau istana wanita, Dia tidak perlu repot-repot meracuniku dan membuatku seolah-olah sakit keras agar Aku bisa mati perlahan, karena terlalu banyak meminum obat. Dia sudah memiliki itu semua dari suaminya"


Putri Marsha ingin membantah. Tapi Pangeran Riana langsung menahannya dengan cepat.


"Aku ingin beristirahat sekarang" ujar Ibu Suri kembali pada Pangeran Riana.


Pangeran Riana menganggukan kepala mengerti. Dia segera berdiri dan memberikan penghormatan. Menarik Putri Marsha untuk ikut berdiri mengikutinya.


"Kami pergi Nek" ujar Pangeran Riana.


Setelah memberi hormat. Pangeran Riana langsung membawa Putri Marsha pergi meninggalkan kamar Ibu Suri sebelum Dia kembali mengacau.


 


"Kau harus memperingatkan Sera supaya istrinya tidak lagi menggangu...huuksss" Putri Marsha meronta dengan cepat saat Pangeran Riana mencekiknya dengan satu tangan dan mengangkatnya sehingga Dia nyaris tidak menyentuh tanah. Putri Marsha menggapai-gapai berusaha memberontak.


"Aku peringatkan Kau untuk tidak menyentuh Ibu Suri" ujar Pangeran Riana dingin.


Mereka hanya berdua di taman kerajaan. Pangeran Riana menangkap jelas maksud perkataan Ibu Suri. Ada seseorang yang berusaha mencelakakan Ibu Suri. Tujuannya satu untuk mendapatkan kekuasaan penuh di istana Harem. Karena selama ini seluruh istana wanita baik itu milik Raja Bardhana maupun Pangeran Riana masih di bawah pengaturan Ibu Suri.


"Aku...mana....berani..." Ucap Putri Marsha kepayahan.


Pangeran Riana melepaskan cekikannya. Putri Marsha jatuh terduduk di tanah. Terbatuk-batuk.


"Benarkah ?" Tanya Pangeran Riana tidak percaya.


"Aku sudah cukup membuktikan diriku selama ini. Bagaimana bisa Kau tidak mempercayaiku" ujar Putri Marsha sedih dengan mata berkaca-kaca. "Ada banyak wanita di istana harem. Siapa tau Mereka adalah pelakunya. Aku akan menyelidiki jika Kau membutuhkannya"


"Tidak perlu" jawab Pangeran Riana cepat. 


"Kau mempercayaiku ?" Putri Marsha memasang wajah sayu. Menunduk di balik bulu matanya yang lentik. 


Pangeran Riana hanya berdiri diam memandang Putri Marsha. Dia bukan mempercayai Putri Marsha. Justru Dia akan menyelidiki sendiri tanpa melibatkan Putri Marsha di dalamnya. Ibu Suri sudah memberinya peringatan keras mengenai bahaya di dekat Mereka. Dan Riana tidak akan membiarkan seorangpun mencelakakan Ibu Suri. 

__ADS_1


 


__ADS_2