Morning Dew

Morning Dew
48


__ADS_3

Pangeran Sera langsung menahan Yuki untuk tetap duduk di tempatnya. Dia bahkan menarik kaki Yuki ke pangkuannya. Yuki semakin canggung dan serba salah. 


Pangeran melihat luka Yuki. Dia kemudian perlahan mulai membersihkan luka itu menggunakan air hangat dan menaburkan ramuan yang di buatnya ke atas luka. 


"Diam" hardik Pangeran Sera lagi kepada Yuki ketika Yuki kembali berusaha menarik kakinya.


Jantung Yuki berdebar cukup kencang saat jari jemari Pangeran Sera di lututnya. Wajahnya panas. Pipinya semerah tomat masak.


Dia akhirnya dapat bernafas lega ketika Pangeran Sera mengikat simpul yang membalut lukanya.


"Sudah selesai" 


Yuki segera menarik kakinya turun dari Pangkuan Pangeran Sera. Pangeran Sera berdiri, Dia membersihkan wadah yang digunakannya. Mengembalikan semua ke tempatnya dengan rapi.


"Lukanya akan segera kering dan tidak menimbulkan bekas"


"Maaf sudah merepotkan Pangeran"


Pangeran Sera mengelap tangannya yang basah dengan sapu tangan. "Kalau begitu Ayo Kita pergi dari sini"


Yuki menganggukan kepala patuh. Meskipun Pangeran Sera bersikap lembut, tapi Yuki selalu tidak bisa menolak perkataannya. Dia seperti terhipnotis setiap bersama Pangeran Sera.


Pangeran Sera baru saja membuka pintu, tapi Dia segera menutup pintu kembali dengan cepat. Yuki yang berdiri di belakang Pangeran Sera menatap kebingungan. Pangeran Sera berbalik dan meletakkan jarinya di mulutnya. Menyuruh Yuki untuk diam.


Yuki ditarik masuk semakin dalam ke ruangan. Dia mengikuti Pangeran Sera masih kebingungan. Bahkan saat Pangeran mendorongnya masuk ke balik rak yang berdiri tepat di depan cendela. 


Rak ini terletak sedikit tertutup dari pandangan. Yuki dan Pangeran Sera berdiri berhadapan dengan rapat. Pangeran Sera memunggungi cendela kaca yang terbuka, tanpa tirai. 


Dari posisinya Yuki dapat mendengar detak jantung Pangeran Sera yang berirama. Ketika Yuki mendongak, Hembusan nafas Pangeran Sera terasa di pipinya. Mengeluarkan aroma manis yang memabukkan.


Yuki segera menundukan kembali kepalanya. Dia menjadi salah tingkah.


Brraakkk !!!


Suara pintu di buka dengan kasar. Pangeran Riana masuk ke dalam ruangan diikuti Bangsawan Voldermon. Di belakangnya, para Prajurit dengan setia mengikuti. 

__ADS_1


Pangeran Riana segera kemari setelah mendengar kabar Yuki di bopong di sepanjang lorong sekolah oleh Sera. 


Bangsawan Voldermon memeriksa sekeliling dengan seksama. Dia berbalik memandang Riana yang saat ini memperhatikan susunan wadah di depannya. Dia menyentuh wadah itu, lembab.


Seharusnya, Yuki dan Sera baru saja pergi dari tempat ini.


"Tidak ada orang di sini" ujar Bangsawan Voldermon berusaha menyembunyikan kelegaannya. 


Dia tidak habis pikir kenapa kucing kecil tidak mengambil pelajaran dari kejadian yang sudah-sudah. Yuki justru terus menggoda Riana dengan berita kedekatannya dengan Pria lain.


Sementara itu Riana sendiri tanpa di sadari, akan bereaksi berlebihan jika berhubungan dengan Yuki. Seperti sekarang. Jika biasanya Dia akan duduk menunggu para Prajurit membawa wanita miliknya yang bermasalah ke depannya. Sekarang, Justru Dia sendiri yang turun untuk mencari.


Bahkan dari ibunya, Dia mendengar Riana menahan Yuki untuk tinggal di kamarnya. 


Sesuatu yang tidak pernah akan Riana lakukan sebelumnya. Dia tidak mengizinkan wanita-wanita di istana Harem untuk menginjakkan kaki di istananya. Apalagi memasuki kamarnya. 


Riana telah banyak berubah menjadi lebih manusiawi berkat kucing kecil.


Di persembunyiannya, Yuki menggigil ketakutan. Tubuhnya seolah membeku tidak dapat bergerak. Pangeran Riana pasti sudah mengetahui kejadian tadi saat Pangeran Sera membopongnya ke dalam gedung sekolah.


Meski Dia menjelaskan bahwa ini hanya salah paham, Pangeran Riana pasti akan tetap menghukumnya.


Pangeran Sera mengetahui kekhawatiran Yuki. Dia memeluk Yuki hangat untuk meyakinkan gadis itu semua akan baik-baik saja. Dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun. 


"Cari Dia sampai ketemu !!" Perintah Pangeran Riana kepada para Prajurit. Mendengar hal itu, Pangeran Sera semakin menarik Yuki masuk ke dalam persembunyiannya.


Yuki berdoa dalam hati semoga Mereka tidak menemukannya dan Pangeran Sera.


Kakinya terasa lemas. Tapi berkat pelukan Pangeran Sera, Dia justru merasa terlindungi dan aman.


"Daripada susah payah mencari, bukankah lebih baik Kau menghubungi Gulf nya untuk menanyakan keberadaannya ?" Ujar Bangsawan Voldermon memberi saran.


"Dia tidak mempunyai Gulf" ujar Pangeran Riana cepat.


"Seingatku Dia punya" bantah Bangsawan Voldermon tidak mau kalah. Dia memiliki kode Gulf Yuki, yang di dapatnya dari menyuap pelayan di kediaman keluarga Olwrendho. Meskipun tidak pernah menghubungi gadis itu, tapi Bangsawan Voldermon menyimpannya di kontak daruratnya.

__ADS_1


"Aku merusaknya" jelas Pangeran Riana acuh. Bangsawan Voldermon menaikkan alisnya mendengar pernyataan Riana.


"Bagus, sekarang lebih baik Kita mencarinya sebelum Kau membuat kerusuhan di penginapan yang di sewa Sera"


Pangeran Riana tidak membantah. Dia menatap ke luar jendela dengan sorot dingin. 


"Tenangkan dirimu dan jangan gegabah. Kau tidak bisa menyalahkan gadis itu, Banyak saksi yang mengatakan Yuki sudah berusaha menolak bantuan Sera, tapi Sera yang bersikeras mengendong Yuki. Kau jangan terlalu keras padanya"


"Kau selalu membelanya Vold" tegur Pangeran Riana tidak suka.


"Aku hanya memperingatkan Mu agar tidak salah langkah. Aku tahu jelas bagaimana watakmu. Dengan Kau mengurung dan mengengkangnya untuk menerimamu, Kau malah membuatnya semakin menjauh"  ujar Bangsawan Voldermon santai. Dia menyandarkan punggungnya di sebuah Rak sembari memandangi Riana yang masih membungkuk di depan cendela. "Yuki itu seperti seekor burung, Dia lebih senang jika Kau memberinya kebebasan, bukan mengurungnya di dalam sangkar emas" 


Yuki langsung menyukai Bangsawan Voldermon ketika mendengarnya. Meski Dia brengsek tapi hatinya tidak sepenuhnya Brengsek. 


"Vold, jika Dia punya sayap sekalipun...Aku dengan senang hati akan mematahkan sayapnya dengan tanganku sendiri agar Dia tetap bersamaku"


Seketika Yuki merasa bulu kuduknya berdiri. Pangeran Riana tidak pernah main-main dengan ucapannya. 


Sementara itu Pangeran Sera tanpa sadar memeluk Yuki semakin erat. Yuki tidak bisa memprotes perbuatan Pangeran Sera, Dia tidak ingin menimbulkan kegaduhan yang membuat Mereka ketahuan nanti. Jadi Dia hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan antara Bangsawan Voldermon dan Pangeran Riana.


Bangsawan Voldermon melihat saudaranya, Dia tertawa lirih sembari menepuk ringan punggung Riana. "Jangan membohongi dirimu lagi, Akuilah Kau sudah jatuh cinta pada gadis itu"


"Apa maksudmu ?" Tanya Pangeran Riana dingin. Jika orang biasa, Mereka akan langsung mundur ketakutan mendengar nada bicara Pangeran Riana yang sekarang. 


"Kita sudah bersama cukup lama, Aku sudah mengenalmu sepanjang hidupku, Kau mungkin bisa membohongi dirimu tapi Kau tidak bisa menipuku" Bangsawan Voldermon menatap Riana penuh sayang. "Alih-alih membuatnya tertarik padamu justru Kau lah yang lebih dulu tertarik padanya. Aku salut dengan Yuki. Dia memang gadis yang menarik"


"Hentikan omong kosong mu itu" ujar Pangeran Riana memperingatkan.


"Teruskan saja membohongi dirimu sendiri, Kau beruntung Dia sangat cantik. Jika bukan karena Kau saudaraku, Aku akan serius mengejarnya meskipun Dia memiliki kekasih"


Pangeran Riana memincingkan matanya menatap ke halaman. Dia seperti binatang buas yang diam di persembunyiannya. Menunggu mangsanya lengah dengan sabar.


"Sampai sekarang, Aku belum mengerti kenapa harus gadis itu"


"Apa yang Kau pikirkan tentangnya ?" Tanya Bangsawan Voldermon serius.

__ADS_1


"Awalnya Aku berpikir Dia sama seperti gadis kebanyakan. Jika Aku memberikan status dan kekayaan berlimpah, Dia akan tunduk patuh padaku. Tapi, gadis itu jelas menolakku. Dia tidak menginginkanku dan semua yang kuberikan padanya sama sekali. Ini membuatku marah"


"Dia gadis yang tepat untukmu" ujar Bangsawan Voldermon akhirnya. 


__ADS_2