
Ratu...
Ratu Cilia. Ratu yang masih terus dan terus peduli dengan kondisi rakyatnya. Dialah satu-satunya pemimpin yang masih berusaha untuk menyelamatkan Negerinya seorang diri. Yuki melihat adanya guratan kesedihan di dalam mata Ratu Cilia. Sudah berapa lama Dia melewati setiap malam dengan air mata.
Kepedihan dan penyesalan yang harus di tanggungnya. Karena keputusan yang di ambilnya justru menyebabkan penderitaan bagi rakyatnya.
Ratu Cilia tidak bergeming dari posisinya. Dia terus saja berdoa.
Ketegaran yang tidak bisa di pelajari dalam waktu singkat.
Yuki terus memperhatikan Ratu Cilia, ketika tiba-tiba Ratu Cilia mendongak. Matanya terlihat sedih. Ketika Dia berpaling, Dia bertemu mata dengan Yuki.
Ratu Cilia tampak kaget. Raut wajahnya berubah menjadi sangat ketakutan. Memandang dengan penuh permohonan.
Yuki terus memerhatikannya dengan raut penasaran. Apa yang membuat Ratu Cilia begitu ketakutan.
Yuki ingin mengatakan sesuatu. Tapi Rafael yang berdiri di sampingnya sudah menyentakan tangan Yuki, untuk segera mengikutinya. "Kita sudah di tunggu" ujar Rafael tanpa menunggu jawaban, Dia langsung menarik Yuki pergi.
Di Aula istana kerajaan Rasyamsah, Yuki terkejut ketika Dia melihat Raja Trandem. Raja Trandem bertubuh sangat gendut, hingga lemak-lemak tubuhnya seolah terkulai keluar dari kulitnya. Kulitnya berwarna hitam kusam, seperti orang yang tidak pernah mandi. Mengenakan pakaian penuh sulaman benang emas, dengan cincin besar di kelima jarinya.
Yuki memiliki perasaan bahwa Raja Trandem bahkan tidak memiliki aura sebagai pemimpin. Dia tidak pantas sebagai seorang Raja, penampilannya sangat norak dan tidak memiliki wibawa sama sekali. Di samping kanan dan kirinya, tampak dua orang wanita cantik yang seusia Yuki, menemani Raja Trandem dengan raut wajah menderita.
Yuki menduga Mereka adalah wanita yang di jadikan pajak oleh desanya. Dia sangat kasihan pada kedua wanita itu. Masa depannya masjh panjang tapi sudah di rusak oleh Badut istana seperti Raja Trandem.
Selain Raja Trandem. Yuki juga menemukan ada lima orang menteri yang berada di aula. Mereka di temani oleh wanita muda yang di tugaskan Raja Trandem untuk menghibur Mereka. Meski hari masih siang, tapi semua orang di dalam aula sudah mabuk.
Berbeda dengan Ratu Cilia yang terus berdoa untuk rakyatnya, untuk memohon ampunan. Raja Trandem justru malah bersenang-senang di atas penderitaan rakyatnya.
"Jadi ini penghibur yang ingin bekerja di istanaku" ujar Raja Trandem sembari melihat Yuki dari atas ke bawah. Sorot matanya memandangi Yuki seolah sedang menelanjangi Yuki. Membuat Yuki merasa risih.
Mata Raja Trandem sudah merah karena mabuk. Yuki tidak tahu sudah berapa botol Dia habiskan siang ini. Membuat Yuki berpikir kenapa Raja Trandem tidak di beri sedikit penyakit supaya Dia sadar dari kesalahannya.
__ADS_1
"Terimalah Hormat Hamba Yang Mulia Raja" ujar Yuki membungkukkan badan untuk memberi penghormatan. Dia menahan keinginannya untuk menghambur ke depan dan memukul Raja Trandem sekuat tenaga.
"Siapa namamu ?"
"Nama hamba adalah Orrie" jawab Yuki sengaja memakai nama tengahnya. Dia tidak mau Raja Trandem mengenalinya dengan mudah seperti Rafael. Ketika menyebut nama depan Yuki.
"Orrie, Kau gadis yang sangat cantik. Namun sayangnya Kau masih terlalu muda. Jika Kau ingin bekerja di istana ini Aku bisa membantumu. Tapi pertama-tama Kau harus menunjukan dulu kemampuanmu untuk membuktikan Kau pantas mendapatkan bantuanku"
"Baik Yang Mulia"
Yuki sedikit mundur ke belakang. Berdiri di tengah aula. Sementara Rafael berdiri tidak jauh dari Yuki untuk mengawasi.
Yuki merasa sangat malu dan ingin berhenti. Tapi Dia tidak bisa. Yuki khawatir jika tiba-tiba Dia berhenti, maka Mereka akan curiga. Saat ini Pangeran Arana sedang menyelamatkan Ratu Warda dan Putri Magitha. Yuki harus sebisa mungkin mengulur waktu.
Yuki menganggukkan kepala kepada Rafael. Musik kemudian di mainkan.
Suara gemerincing perhiasan beradu. Yuki merentangkan tangan dan mulai menari. Sontak, komentar-komentar melecehkan keluar dari mulut Raja Trandem dan para menterinya. Membuat kuping Yuki terasa panas dan ingin menyumpal mulut Mereka dengan kotoran hewan.
"Cukup" ujar Raja Trandem menghentikan penderitaan Yuki.
"Kau memenuhi syarat Orrie, tapi ada satu permasalahan. Setiap wanita yang ingin bekerja di istana ini harus bersedia menghangatkan ranjangku"
Yuki berpaling dan menatap Rafael marah. Rafael tampak tenang, memberi Yuki kode agar mengikuti alur yang sedang berjalan. Tanpa membantah.
"Kau cukup cantik dan menggoda, sayang sekali jika Kau hanya sebagai penghibur. Bagaimana jika Kau jadi wanitaku saja. Kau akan hidup dalam kemewahan di setiap jengkal tubuhmu" tawar Raja Trandem sembari memandang Yuki dengan tatapan mesum.
"Ini merupakan penghormatan bagi Kami Yang Mulia" ujar Rafael. Membungkuk dengan sopan.
"Yang Mulia, apakah Saya bisa di izinkan untuk berbicara dengan rombongan Saya sebentar ?" Tanya Yuki sudah tidak tahan lagi.
Yuki langsung menarik tangan Rafael ke pojok ruangan, begitu Raja Trandem memberi izin. "Apa maksudmu ?" Tuntut Yuki kesal. "Kau ingin menjualku ?"
"Mereka tidak akan bertahan sebentar lagi. Kau hanya cukup bilang padanya bahwa semalam Kalian telah bersama. Aku yakin Dia akan percaya"
"Kau gila, Aku tidak mau"
"Percaya saja padaku. Aku tidak akan pernah membiarkan Dia menyentuhmu"
__ADS_1
Yuki mengernyitkan dahi. Menatap Rafael dalam. Sekarang Yuki seorang diri. Dia tidak punya pilihan selain mempercayai Rafael. Yuki kembali ke tengah aula dengan di dampingi oleh Rafael.
"Bagaimana ?" Tanya Raja Trandem tidak sabar.
"Kami setuju" jawab Rafael penuh percaya diri.
"Bagus, Kalian memang pintar" Kata Raja Trandem puas.
Raja Trandem tertawa puas dengan wajah kegirangan. Hingga anggur yang di pegangnya, tumpah di bajunya akibat gerakannya.
Tapi Raja Trandem tidak perduli. Dia beringsut bangun dari duduknya. Berdiri dengan sempoyongan. Yuki menahan perasaan ingin melarikan diri ketika Raja Trandem mendekatinya. Bau alkohol tercium kuat dari tubuhnya. Membuat Yuki merasa mual.
Dua orang penjaga datang membantu Raja Trandem.
"Bawa Kami ke kamarku" perintah Raja Trandem kepada pengawal yang membantunya.
Dua orang pengawal itu langsung memapah Raja Trandem. Terlihat jelas bahwa Raja Trandem sudah mabuk berat. Yuki mengikuti Mereka dari belakang. Sembari berharap agar Pangeran Arana cepat datang membantu.
Mereka masuk ke dalam sebuah kamar mewah, yang di penuhi barang berharga dengan kualitas terbaik. Suasana kamar seketika membuat Yuki mengingat Bangsawan Doldores. Bangsawan yang sering membully Bangsawan Dalto semasa hidupnya. Bangsawan yang kematiannya pernah muncul di dalam mimpi Yuki.
Raja Trandem di rebahkan di atas tempat tidur.
"Sini gadis cantik...Ayo bermain bersama Raja..." Ujar Raja Trandem mengigau di sela mabuknya.
Dua orang penjaga keluar kamar, setelah memastikan Raja Trandem aman di atas tempat tidurnya. Pintu di tutup rapat.
Sekarang apa yang harus ku lakukan ?
Yuki mondar-mandir di dalam kamar kebingungan. Dia tidak mungkin menunggu semalaman seperti ini. Bagaimana jika Raja Trandem bangun dari tidurnya kemudian menyerang Yuki.
Bulu kuduk Yuki nyaris berdiri saat membayangkannya. Dia tidak sudi di sentuh oleh badut istana seperti Trandem.
Terdengar suara para penjaga sedang bercakap di luar pintu kamar. Yuki tidak bisa keluar meninggalkan kamar. Mereka akan curiga dan bisa jadi menjebloskan Yuki ke dalam tahanan.
Di tengah kebingungan, Yuki seperti mendengar suara berdesir. Tidak berapa lama sebuah tangan menarik Yuki dari belakang.
__ADS_1