Morning Dew

Morning Dew
72


__ADS_3

"Tentu saja, Dia teman pertamaku di dunia ini" jawab Yuki acuh.


Bangsawan Voldermont tertawa mengejek. "Teman ?" Katanya geli "Tidak ada yang namanya teman dalam hubungan Pria dan wanita. Katakan padaku apa pernah terjadi sesuatu di antara kalian ?"


"Terjadi sesuatu seperti apa ?" Tanya Yuki dengan raut kebingungan. Dia tidak mengerti arah pembicaraan Bangsawan Voldermont.


"Apa Kalian pernah berciuman ?" Tanya Bangsawan Voldermont tenang, namun sebenarnya Dia sedang menilai kebenaran jawaban Yuki.


"Tidak pernah" jawab Yuki langsung tanpa keraguan. Dia mendelik marah pada Bangsawan Voldermont. "Sudah kubilang Kami hanya bersahabat, tidak ada hal-hal seperti yang Kau maksud tadi"


"Entah kenapa sekarang Aku merasakan kasihan pada Dalto" guman Bangsawan Voldermont pelan, namun masih bisa di dengar Yuki. "Riana, Aku memahamimu sekarang" 


Bangsawan Voldermont mencondongkan tubuhnya mendekati Yuki, menatapnya dengan gaya simpati yang dibuat-buat. "Kau ini kejam Putri, lebih tepatnya Kau seperti anak kecil"


"Apa maksudmu ?" Tanya Yuki ketus.


Bangsawan Voldermont berdiri sebelum Yuki sempat melemparkan buku ke arahnya. "Aku lapar, Apa ada yang bisa di makan sebelum ke pemakaman"


"Para pelayan sebentar lagi datang membawa makan siang" jawab Yuki tidak beranjak dari duduknya. Dia memilih membereskan berkas di meja dan menumpuknya kembali dengan rapi.


"Kau sudah jadi nyonya rumah di sini rupanya" 


"Tutup mulutmu jika Kau ingin selamat" ancam Yuki kesal. "Ngomong-ngomong pemakaman siapa yang akan Kau datangi ?"


"Norah" 


 


Yuki berdiri di bukit, tempat Dia pernah berada saat upaca pemakaman Perdana Menteri Olwrendho di lakukan. Namun bedanya, kali ini Dia datang sebagai penziarah. Duka begitu terasa. Wajah-wajah muram menghiasi setiap orang yang ada. 


Saat jenazah Putri Norah di angkat ke tempat pembakaran, serentak semua orang berdiri untuk melakukan penghormatan terakhir.


Tubuh Putri Norah di ketemukan bersama tumpukan jenasah yang di buang di Kuil. Karena kondisinya yang mengenaskan dan sudah tidak utuh lagi, untuk menghormati Almarhum dan keluarga yang di tinggalkan, tubuhnya di masukkan ke dalam peti.


Yuki berada dalam barisan bersama Pangeran Riana dan Bangsawan Voldermon. Kedua kaki dan tangan Putri Norah belum di ketemukan. Ke empat anggota geraknya di perkirakan di tarik lepas dari tubuhnya di waktu yang berbeda. Saat semua itu terjadi Putri Norah masih hidup. 

__ADS_1


Yuki tidak menyukai Putri Norah, tapi Dia tidak pernah mengharapkan Putri Norah akan mengalami hal sesadis ini. Setelah ke empat anggota tubuhnya di lepas, Putri Norah di bunuh dengan cara menghunuskan batang besi yang panas ke dalam mulutnya. Menembus ke bagian belakang kepalanya.


Sangat sadis dan tidak berperikemanusiaan. Siapapun pembunuhnya jelas adalah orang gila yang tidak punya hati nurani.


Yuki bersyukur tidak memimpikan Putri Norah di detik terakhirnya. Dia sudah tidak sanggup lagi melihat pembunuhan yang terjadi tanpa sanggup melakukan apa-apa.


Isak tangis terdengar dari seorang ibu yang di tinggalkan Putrinya. Raja Bardana berdiri tegar di samping Ibu kandung Putri Norah. Bagaimanapun jeleknya kelakuan Norah, Dia tetap putrinya. Raja Bardana sangat berduka dan marah kepada pelaku pembunuhan yang terjadi.


Yuki menatap simpati pada wanita yang menangisi Norah, Dia pernah berada di posisi itu. Dia sangat paham, bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga yang sangat di sayangi.


Pembakaran jenazah menyisakan cerita pilu bagi yang di tinggalkan. Di sekelilingnya, Yuki melihat sisa-sisa pembakaran dari korban sebelumnya. Sampai kapan semua ini berakhir ?.


"Kau diam saja ?" Tanya Bangsawan Voldermont ketika melihat Yuki merenung di sepanjang jalan menuju kereta kuda yang akan membawa Mereka kembali.


Yuki tidak menjawab, Dia terus melanjutkan berjalan di antara kerumunan orang yang menuju pintu keluar. 


"Hey ada apa ?" Tanya Bangsawan Voldermon sambil mencekal bahu Yuki. Menahannya untuk melangkah lebih lanjut.


"Tidak apa-apa" Kata Yuki dengan nada tidak bersemangat. Dia melepaskan pegangan tangan Bangsawan Voldermont di bahunya. 


"Wajahmu pucat sekali" kata Bangsawan Voldermont lagi.


"Jangan-jangan Kau melihat saat Norah terbunuh ?" Tebak Bangsawan Voldermont dengan sikap serius.


Yuki menghela nafas, kemudian menggelengkan kepala pelan.


"Lalu ?" Tanya Bangsawan Voldermont merasa tak puas.


"Bukan Norah" jawab Yuki akhirnya dengan wajah sedih.


"Kenapa Kau tidak menceritakan sebelumnya ?" Tuntut Bangsawan Voldermont tampak cemas.


"Aku tidak ingin membuat Kalian cemas, sudah terlalu banyak masalah. Aku tidak ingin menambah beban pikiran kalian"


"Justru itu tidak akan membantu, Kau harus jujur pada Kami" desak Bangsawan Voldermont kesal.

__ADS_1


"Maafkan Aku" kata Yuki merasa bersalah. 


Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi, tiba-tiba Dia merasakan sepasang mata seolah sedang menatapnya dari belakang punggungnya. Ketika Dia baru saja berbalik, sesuatu yang kasat mata berlari kencang ke arahnya. 


Menghantam Yuki cukup keras sehingga membuat Yuki terpental jauh ke tanah. Beruntung Yuki tidak mengalami luka yang fatal. Tapi karena benturan keras di kepalanya, sekarang telinganya berdenging. Bangsawan Voldermont berteriak memanggil nama Yuki sembari berlari mendekat. Tapi pada akhirnya, Dia juga terpental sampai punggungnya menabrak batang pohon besar dengan keras. Darah keluar dari bibir Bangsawan Voldermont.


Kepanikan terjadi. Para penziarah menyadari ada yang menggunakaan ilmu hitam untuk menyerang. Mereka berlari menyelamatkan diri.


Yuki berteriak kesakitan, ketika rambutnya di tarik sehingga tubuhnya terseret kencang. Kulitnya tergores dahan dan bebatuan di sekitar. Kepalanya terasa sakit. Dia memberontak sembari memegangi rambutnya. Beberapa akar rambutnya terasa tertarik lepas dari kepalanya.


Sebuah pedang di ayunkan di dekat Yuki. Memotong dengan cepat Rambut Yuki sehingga menghentikan serangan. Nafas Yuki terenggah-enggah. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Dia masih terbaring di tanah, tidak berdaya.


Yuki mendongak dengan sisa tenaganya. Melihat sisa rambutnya tertarik masuk ke dalam hutan. Terdengar geraman mengerikan di sertai angin yang cukup kencang. Orang yang memegang pedang di dekat Yuki, dengan sigap berlutut dan memeluk Yuki sebelum keduanya terpental beberapa meter dari tempatnya semula.


Dahi Yuki berdarah, tapi lukanya akan lebih serius jika tidak ada yang melindunginya.


"Sial.." bisik orang yang melindungi Yuki. Tanpa perlu melihat, Yuki langsung mengenali orang itu.


Bangsawan Dalto mendorong Yuki menjauhinya ketika sebuah hantaman dasyat kembali menyerangnya. Dia terlempar lagi beberapa meter dari tanah. Darah menyembur keluar dari mulut dan hidungnya saat tubuhnya menghantam ke tanah dengan keras.


"Bangsawan Dalto" panggil Yuki panik.


Sebuah serangan kembali datang, Yuki terdiam di tempatnya. Kali ini tidak ada yang melindunginya. Dia memejamkan mata, bersiap menjemput kematiannya.


Tepat saat serangan itu nyaris menyentuh Yuki, Pendeta Agung Serfa telah selesai merampalkan mantera pelindung, mengarahkannya kepada Yuki. Melawan serangan yang berusaha mencelakainya.


Dua kekuatan saling berrtabrakan dengan kencang. Ledakannya bahkan membuat beberapa pohon menekuk dan akhirnya patah.


Serangan berhenti. 


Semuanya menunggu tapi tidak ada lagi perlawanan.


Bangsawan Xasfir mendekati Yuki dengan cepat dan menariknya untuk berdiri. "Apa Putri baik-baik saja ?" Tanyanya sembari memeriksa Yuki dengan seksama.


Yuki melepaskan tangan Bangsawan Xasfir. Mengabaikan lukanya, Dia mendekati Bangsawan Dalto yang masih berusaha berdiri dengan susah payah.

__ADS_1


"Bangsawan Dalto apa Kau baik-baik saja ?" Tanya Yuki sembari mengulurkan tangan untuk membantu. 


 


__ADS_2