
"tapi.." kata Nenek Marple enggan. Dari sikapnya, Yuki sangat tahu bahwa cincin itu sangat berarti bagi Nenek Marple. Memang nilainya tidak seberapa, bukan barang mahal. Tapi memiliki arti yang sangat besar bagi Nenek Marple. Dia sampai rela datang jauh-jauh dari desa ke ibukota, hanya untuk dapat menyerahkan sendiri cincinnya kepada Putri Angkatnya. Tidak meminta imbalan atau pujian.
Dia hanya ingin memastikan sendiri Putri Angkatnya menikah dengan orang yang tepat dan dapat hidup dengan bahagia.
Yuki mengetahui semua itu dari Curly yang terus menggerutu menceritakan masalah Nenek Marple di telinga Yuki. Curly mampu membaca pikiran jauh lebih baik daripada Lekky. Dia juga tidak suka dengan keluarga yang tidak tahu diri. Mengingatkan pada keluarganya yang mencoba membunuhnya dulu.
"Nenek duduklah di sana, masalah cincinmu yang terjatuh di kolam. Serahkan saja padaku. Aku akan membantumu mencarikan" bujuk Yuki sambil menuntun Nenek Marple ke pinggir kolam.
"Udara sangat dingin, Kau bisa sakit nanti Nak. Tidak usah, biar Nenek saja" tolak Nenek Marple sungkan.
Tapi Yuki terus memaksa Nenek Marple ke pinggir kolam. "Aku masih muda, udara dingin seperti ini tidak berpengaruh denganku. Lagipula mataku masih awas. Jika Aku yang mencari, Aku yakin dapat menemukan dengan lebih cepat"
Yuki mendudukan Nenek Marple di pinggir kolam dan langsung menyelimutinya dengan mantel yang di letakan Yuki sebelumnya di sana, sebelum Dia masuk ke dalam kolam. Udara sangat dingin. Yuki menahan mati-matian perasaan kebas di kedua kakinya dan tetap tersenyum penuh semangat agar Nenek Marple tidak khawatir.
Dengan di bantu Curly, Yuki membungkuk di tengah kolam untuk mencari cincin kawin milik Nenek Marple. Beberapa kali Nenek Marple memanggilnya untuk kembali, tapi Yuki hanya membalas dengan senyuman hangat.
Sepuluh menit berlalu, ketika Yuki akhirnya menemukan apa yang di carinya. Yuki mengangkat tangannya yang memegang cincin, melambaikan ke udara dengan riang sambil menghampiri Nenek Marple.
"Lihat Nek, Aku menemukannya" kata Yuki dengan nada senang sambil berjalan cepat ke pinggir kolam. Mendekati Nenek Marple.
"Ini kan cincinmu ?"
Yuki memberikan cincin ke telapak tangan Nenek Marple. Nenek Marple menerima dengan perasaan senang. Dia tersenyum memandangi cincin di tangannya. Terlihat kembali genangan air mata di pelupuk matanya.
"Benar ini cincinku. Terimakasih...terimakasih banyak"
"Nenek Marple menggengam cincinnya. Menciumnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang.
"Jangan sampai hilang lagi ya Nek.."
"Terimakasih banyak atas bantuanmu Nak"
Yuki tersenyum menerima ucapan terimakasih yang tulus dari Nenek Marple.
"Setelah ini Nenek akan kemana ?"
__ADS_1
"Aku akan kembali ke desa, Aku sudah tidak punya urusan apapun di sini" ujar Nenek Marple tenang.
Yuki terdiam.
Rumah dan tanah milik Nenek Marple sudah di jual oleh Putri Angkatnya. Pulang ke desa pun Dia tidak memiliki tempat tinggal. Yuki bisa dengan mudah memberikan kembali tanah dan rumah itu tapi Nenek Marple sudah tua. Dia hidup sendirian dan tidak mempunyai sanak keluarga.
"Di sana Nenek sendirian ?"
"Ya.."
Saat mencari cincin itu, Curly sudah menceritakan banyak mengenai Nenek Marple dan Putri Angkatnya.
Setelah tanah dan rumahnya di jual tanpa izin. Dia hidup di sebuah gubuk kecil yang tidak terpakai. Letaknya di pinggir hutan jauh dari perkampungan. Dia menyambung hidup dengan menjual daun jati dan kayu bakar ke pasar. Jika dagangannya tidak laku, Dia sering harus makan dengan rebusan daun atau singkong yang di ambilnya di hutan.
Dia hidup sebatang kara. Tidak ada yang perduli dengannya.
Saat malam tiba, Nenek Marple hanya di temani lampu minyak, duduk sendirian di sudut ruangan. Menyelematkan diri dari angin malam yang menembus dinding rumah terbuah dari anyaman bambu yang sudah berlubang di beberapa bagian. Jika hujan, Dia tidak bisa berbaring karena hampir seluruh lantai dan tempat tidurnya basah terkena air yang merembes dari atas.
Namun meskipun begitu, Dia tetap menyayangi Putri angkatnya dan memaafkan semua kesalahan yang di lakukan anaknya itu dengan tulus.
"Yuki, astaga. Apa yang Kau lakukan di sana ?" Seru Bangsawan Voldermont membuat Yuki berpaling untuk melihatnya.
Bangsawan Voldermont maju dari rombongannya untuk mendekati Yuki. Ada Pangeran Riana dan Putri Marsha. Juga Kakak Putri Marsha, yaitu Panglima Perang Jaibra. Seorang gadis yang masih sangat muda umurnya, mungkin delapan belas tahun berjalan dengan tenang di samping Panglima perang Jaibra.
Beberapa prajurit berjalan dengan setia di belakang rombongan.
"Yuki...anda Putri Yuki..." Kata Nenek Marple terkejut saat menyadari identitas Yuki. Dengan kaki gemetar Dia mencoba berdiri dari duduknya untuk memberi hormat. Yuki langsung menahan Nenek Marple. Mencegahnya berdiri.
"Tidak perlu Nek.." kata Yuki lembut sambil menggengam kedua tangan Nenek Marple.
"Maafkan Hamba tidak mengenali Putri"
"Tidak apa-apa. Sudahlah Nek, tidak perlu terlalu sungkan padaku"
__ADS_1
Itu Dia... !!
Curly tiba-tiba berteriak di telinga Yuki. Membuat Yuki berjengit dan langsung menutup telinganya dengan tidak nyaman.
Jangan berteriak di telingaku Curly, katakan saja ada apa.
Gadis yang bersama Putri Marsha sekarang, Dia adalah Putri Angkat Nenek Marple.
Yuki mendongak dan pandangannya langsung bertemu dengan gadis yang menatap ke arahnya tidak senang. Dia cantik. Namun Yuki melihat sesuatu yang salah pada sikap gadis itu.
Tampaknya, Panglima Perang Jaibra, kakak Putri Marsha adalah calon suaminya. Jelas Curly lagi.
Panglima Perang Jaibra berusia lebih tua dari Pangeran Riana. Yuki menangkap kesan sombong dan angkuh dari diri Panglima Perang Jaibra. Dia adalah jenis manusia yang senang merendahkan orang lain dan bertindak semena-mena.
Gadis yang bernama Namura sangat kesal ketika melihat ibu angkatnya ternyata masih ada di lingkungan sekolah. Seharusnya Dia sudah pergi dari sini sembari tadi. Tapi rupanya Dia masih bertahan bahkan terlihat mengiba di depan orang lain.
Namura merasa tidak percaya, selama ini Dia hidup dan besar dari tangan wanita kumuh seperti Nenek Marple.
Nenek Marple menundukan kepala dengan tatapan bersalah saat melihat Namura memandangnya dengan sorot tidak senang. Yuki yang mengetahuinya langsung meremas lembut tangan Nenek Marple untuk menenangkannya.
"Bangsawan Voldermont apakah Kau bisa membantuku ?" Tanya Yuki pada Bangsawan Voldermont yang sudah berada di dekat Mereka.
"Tentu saja. Ada apa ?" Jawab Bangsawan Voldermont langsung.
"Bisakah Kau membantuku untuk mendapatkan kamar dan tabib agar Nenek ini bisa beristirahat"
"Putri...Anda tidak perlu melakukannya" tolak Nenek Marple buru-buru.
"Nenek sudah melalui perjalanan jauh untuk sampai kemari. Jadi jangan langsung pulang dan beristirahatlah dulu beberapa hari di sini" bujuk Yuki.
"Tapi..."
"Jangan pikirkan apapun Nek, sisanya serahkan saja padaku. Aku akan membantu Nenek mengurusnya" kata Yuki penuh makna sambil melirik Namura. Gadis itu langsung memalingkan wajah seolah tidak tahu apa-apa.
Bangsawan Voldermont memanggil dua orang prajurit dan langsung memerintahkan Mereka untuk membawa Nenek Marple ke kamar yang hangat di sekolah untuk beristirahat. Dia juga meminta agar Nenek Marple mendapat tabib untuk memeriksa kesehatannya dan juga pelayan untuk memastikan kebutuhan Nenek Marple terpenuhi.
__ADS_1