Morning Dew

Morning Dew
70


__ADS_3

Punggung dan bahu Yuki memerah akibat darah yang keluar di tubuhnya. 


"Panggil Serfa" perintah Pangeran Riana kepada pengawal yang masih berjaga.


Sementara itu di luar sana terdengar suara-suara dari para prajurit yang mengejar sosok berjubah yang telah memanah Yuki.


Raja Bardana sangat marah tapi Dia menyembunyikan kemarahannya. Putri dari  sahabatnya nyaris celaka di depan matanya, sementara orang yang mencelakainya melakukan semua itu di istana, bahkan ketika para tamu kerajaan berkumpul. Jelas Dia merasa di lecehkan.


Pendeta Serfa datang dengan cepat ketika menerima laporan dari Pengawal Kerajaan. Untungnya, Dia mengikuti Pangeran Riana ke istana Raja Bardana meskipun Dia tidak masuk ke dalam aula. Serfa sedang mencari berkas laporan mengenai ilmu hitam yang pernah di tulis Pendeta Agung Hiro ketika Pengawal datang dan mengabarkan penyerangan yang terjadi.


Saat Dia datang, Putri Yuki berada di dalam pelukan Pangeran Riana. Wajah Pangeran Riana kusam. Tangan Pangeran memeluk punggung Putri Yuki yang mengeluarkan darah. 


Pendeta Serfa segera mendekati Yuki untuk memeriksa. Membawa  Yuki menyingkir ke sudut ruangan yang jauh dari kerumunan. Sementara itu Pangeran Riana terus berdiri di dekatnya. Dia tidak meninggalkan Yuki sama sekali.


"Orang yang ku lihat tadi, adalah orang yang sama di dalam mimpiku. Dia yang membunuh Mereka semua" bisik Yuki kepada Pendeta Serfa dengan suara bergetar.


Pendeta Serfa memberikan Yuki segelas air yang telah di beri ramuan. Yuki langsung meminumnya. Perasaannya jauh lebih rileks. Rasa nyeri di bahu dan punggungnya berkurang, tidak berdenyut seperti tadi.


"Hanya panah biasa, Tidak ada racun di tubuh Putri Yuki. Setelah di obati, Putri akan baik-baik saja" ujar Pendeta Serfa melaporkan hasil pemeriksaan kepada Pangeran Riana.


Pangeran Riana mengambil ramuan di tangan Serfa, dua orang pelayan membentangkan kain menutupi pandangan orang di sekitar Mereka saat Pangeran menurunkan pakaian Yuki. Pendeta Serfa berdiri di luar berjaga jika ada yang mendekat.


Setelah luka Yuki di bersihkan dan di obati, Pangeran Riana membantu membalut perban dan merapikan lagi pakaian Yuki. Dia meletakan jubahnya ke atas bahu Yuki untuk menghangatkan Yuki.


Bangsawan Xasfir masuk kembali ke.Aula pertemuan dengan membawa panah dan busur di tangan. Yuki dan Pangeran Riana kembali ke tengah aula mendekati Raja Bardana.


"Aku hanya menemukan ini di balkon istana. Orang itu langsung pergi meninggalkannya ketika keberadaanya di ketahui, sementara para prajurit masih melakukan pengejaran dan menyisir di seluruh istana" ujarnya sembari menunjukkan busur dan anak panah di tangannya.

__ADS_1


"Tambahkan pasukan untuk.melakukan.pencarian, Aku ingin Dia di bawa ke hadapanku hidup atau mati" ujar Pangeran Riana tegas.


"Pangeran, Aku sudah mempersiapkan pasukan. Kita bisa kembali ke istana sekarang !" Ujar Bangsawan Asry yang muncul dari balik punggung Bangsawan Xasfir. Semuanya tampak tegang. Kemarahan ada di setiap wajah Mereka.


"Yang Mulia, Maafkan Kami, Kami meminta izin untuk pergi lebih awal, kembali ke istana" pinta Pangeran Riana kepada Raja Bardana. 


Raja Bardana menganggukan kepala memahami situasi. 


"Perketat pengawalan, siapapun orang itu, Dia sudah cukup berani melakukan penyerangan di istana Raja bahkan di dekat Kita semua" ujar Raja menasehati.


"Terimakasih untuk pengertiannya Yang Mulia. Kami pamit undur diri" ujar Pangeran Riana sembari memberi hormat di susul yang lain di belakangnya.


Yuki masih membungkuk untuk memberi hormat kepada Raja Bardana, ketika Pangeran Riana berbalik dan langsung membopong tubuhnya.


"Aku bisa jalan sendiri" tolak Yuki berusaha mencegah tindakan Pangeran Riana.


Tapi Pangeran Riana seolah tidak mendengar. Dia membawa Yuki dengan mudah, berjalan meninggalkan aula istana. Melihat wajah Pangeran yang tidak ingin di bantah, Yuki mengurungkan niat memprotes. Dia akhirnya diam saja dan tidak melawan.


Mereka sampai di halaman depan tempat kereta kuda sudah menunggu.


Pendeta Serfa ikut naik ke atas kereta kuda. Dia berjaga jika terjadi serangan yang menggunakan sihir hitam. Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Voldermont mengawal dari samping dengan menunggangi kuda diikuti para prajurit. Bangsawan Asry duduk bersama kusir kereta untuk mengawasi pergerakan di jalanan.


Yuki berbaring tengkurap di atas sebuah sofa panjang tanpa sandaran, sementara Rena sedang mengolesi obat ke atas punggungnya.


Pemandangan di luar sangat indah. Matahari bersinar cerah, cahaya menembus bilik tempat Yuki berada. Cuaca hari ini sangat kontras dengan apa yang telah terjadi semalam. 


Perjalanan kembali dari istana Raja terasa sangat panjang dan mencekam. Untungnya, Mereka tiba dengan selamat tanpa ada gangguan. Sesampainya di istana, Pangeran Riana langsung memasukkan Yuki ke dalam kamar dan menambah beberapa penjaga di sekeliling kamar. Dia juga meminta seluruh prajurit di istana Pangeran bersiaga. Patroli di laksanakan secara bergilir.

__ADS_1


"Semoga saja lukanya tidak.meninggalkan bekas" gerutu Rena pelan di belakang Yuki. 


Yuki diam. Tidak membalas ucapan Rena. Dia tidak ingin berdebat. Pikirannya di penuhi dengan kejadian semalam. Di mana Dia nyaris terbunuh. 


Sekarang sudah jelas, sasaran tembak yang di incar adalah Yuki. Darahnya mampu membangkitkan kekuatan yang begitu dasyat. Orang yang menguasainya dapat menguasai dunia dengan mudah. Siapa yang tidak tergiur ?.


Yuki tidak dapat membayangkan, berapa banyak lagi nyawa yang melayang karenanya.  Sampai kapan kegilaan ini masih akan terus berlanjut. Dan bagaimana akhirnya ?.


Yuki tenggelam dalam pikirannya. Mencoba mengurai benang rumit yang melilitnya tanpa terkendali.


"Aduhhh !!, Pelan-pelan Rena, kenapa tenagamu seperti kuli.." Yuki terpekik saat ikatan Perban di punggungnya di ikat dengan kuat. Ketika Dia berbalik, Dia mendapati Pangeran Riana duduk di sebelahnya. Rena berdiri dengan canggung di belakang Pangeran Riana. 


Yuki hanya mengenakan jubah mandi, rambutnya masih lembab. Dia tidak mengenakan apapun lagi selain jubah yang menutupi setengah tubuhnya. Bahkan saat Yuki berbalik, Jubahnya merosot turun nyaris ke siku Yuki. Bergegas Yuki bangun dan merapikan jubahnya dengan gugup. Dia tidak menyangka kedatangan Pangeran Riana di saat-saat begini.


Rena yang mengerti situasi, merapikan perlengkapan dan memasukkan ke dalam keranjang. Dengan sikap profesional, Dia membungkuk pergi kemudian meninggalkan Yuki dan Pangeran Riana berdua di dalam kamar.


Yuki duduk dengan salah tingkah, Dia tidak berani memikirkan berapa banyak yang telah di lihat Pangeran Riana barusan.


"Tumben Pangeran sepagi ini berada di istana" kata Yuki berusaha membuka obrolan. Dia secara tidak ketara menggeser duduknya agak menjauhi Pangeran Riana. Memberi jarak di antara keduanya.


"Bagaimana keadaanmu ?" Tanya Pangeran Riana tenang.


"Aku sudah baik-baik saja. Obat dari Pendeta Serfa sungguh mujarab" 


"Lukamu akan berbekas, tapi dengan obat dari Serfa bekasnya tidak akan terlalu jelas terlihat" Jelas Pangeran Riana lagi.


Yuki menganggukan kepala mengerti. "Aku sudah cukup beruntung masih bisa hidup sampai sekarang, bekas ini tidak terlalu mengangguku. Lagipula, sebagai manusia Kita tidak boleh serakah" 

__ADS_1


Pangeran Riana memandang Yuki takjub. "Jika Putri lain, Mereka akan berteriak kebingungan hanya karena satu titik bekas di tubuhnya"


"Bersyukurlah Pangeran, Aku bukan termasuk jenis yang seperti itu" seloroh Yuki asal.


__ADS_2