
Yuki menghela nafas. Sadar dirinya sudah terlalu lama berdiri di depan cermin. Yuki menyisir rambutnya setelah memakai pakaian tidur yang di sediakan pelayan. Sepertinya malam ini Mereka akan menginap di istana ini.
Tidak terdengar suara pelayan di luar pintu. Yuki menyadari itu beberapa saat kemudian. Dia akhirnya memutuskan keluar untuk beristirahat sambil memikirkan langkah apa yang akan di lakukannya kemudian. Karena pasti cepat atau lambat Dia akan berhadapan dengan Pangeran Riana.
Ketika Yuki melangkah keluar dari kamar mandi, Dia terkejut ketika justru menemukan Pangeran Riana sudah berada di dalam kamar.
Tidak ada lagi pelayan. Hanya Mereka berdua.
Pangeran Riana berdiri dengan tenang memunggungi Yuki. Ada gelas anggur di tangannya yang setengah kosong isinya. Diam sembari memandang pemandangan dari jendela di depannya. Terdengar suara deburan ombak yang memecah karang. Istana kecil tempat Mereka menginap sekarang ini memang berada di atas tebing yang tinggi.
Tatapan mata Pangeran Riana lurus ke depan. Tampak Pangeran Riana sedang memikirkan sesuatu.
Yuki menutup pintu. Suaranya membuat Pangeran Riana berpaling. Dia sudah menyadari kehadiran Yuki.
Yuki berjalan mengacuhkan Pangeran Riana. Dengan cepat, Pangeran Riana menghampiri Yuki dan langsung mencekal lengan Yuki kuat. Memaksa Yuki untuk melihat ke arah Pangeran Riana.
Yuki langsung memberontak, berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan Aku !" Kata Yuki kesal ketika Pangeran Riana menolak melepaskan Yuki dan malah semakin mempererat pegangannya.
"Aku ingin berbicara denganmu" Pangeran Riana memaksa Yuki untuk mengikutinya. Dia mendudukan Yuki di sebuah sofa yang terletak di depan perapian yang sedang menyala. Menghiraukan segala penolakan Yuki.
"Aku tidak punya masalah yang harus di bicarakan denganmu"
"Benarkah ?" Tanya Pangeran Riana sinis. Dia berdiri di dekat Yuki. Seolah mengintimidasi Yuki. Membuat Yuki tidak nyaman dengan situasinya.
Yuki sadar, Dia harus berhati-hati memilih kata dan tindakan, atau akibatnya akan fatal.
"Sayangnya, Aku tidak merasa begitu" lanjut Pangeran Riana lagi dengan nada dingin.
Pangeran Riana berjongkok di depan Yuki. Aroma nafasnya terasa di pipi. Yuki memalingkan wajah, tidak ingin tergoda oleh Pangeran Riana.
"Lihat Aku" Pangeran Riana mencekal pipi Yuki dan memalingkan wajah Yuki untuk melihatnya dengan kasar.
Yuki terkejut dengan tindakan Pangeran Riana. Dia kembali berusaha melepaskan cekalan Pangeran Riana di kedua pipinya.
"Sakit, lepaskan Aku"
"Katakan padaku Yuki, apa tujuanmu kembali ke dunia ini hanya untuk bertemu dengan Sera ?"
__ADS_1
"Lepaskan Aku"
"Jawab Aku Yuki" bentak Pangeran Riana kasar. Yuki membalas tatapan Pangeran Riana dengan penuh amarah. Tangan Pangeran Riana masih berada di pipi Yuki, menekan kuat. Seolah ingin mencekik Yuki. "Kenapa begitu Kau kembali ke dunia ini, Kau langsung menuju Argueda. Katakan padaku"
"Itu bukan urusanmu" kata Yuki akhirnya.
Pangeran Riana tertawa sinis. Dia melepaskan cekalan di wajah Yuki cukup kasar. "Bukan urusanku ?" Tanyanya dengan nada sarkastis.
"Hubungan Kita hanya di landasi oleh kenyataan bahwa Aku adalah calon ratu yang di tunjuk dewa. Selain itu, Kita tidak mempunyai ikatan apapun. Aku harap Pangeran mengerti"
Pangeran Riana kembali mencekal bahu Yuki. Menatap Yuki dengan marah, membuat Yuki merasa takut.
"Ada apa denganmu Yuki ?. Kenapa Kau menjadi seperti ini ?"
Aku begini karena melihatmu berciuman dengan gadis lain. Aku sangat marah dan merasa tidak nyaman di buatnya.
Tapi Yuki memilih diam dan tidak menyuarakan isi hatinya. Pangeran Riana semakin marah melihat Yuki bungkam.
"Apa karena Sera ?. Dugaanku benar, Kau kembali ke dunia ini hanya untuk Dia".
Yuki tetap diam. Menutup mulutnya rapat-rapat.
"Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Yuki kaget.
"Kau bilang, Kita tidak ada hubungan bukan ?. Mungkin Kau perlu di ingatkan kembali seperti apa hubungan Kita yang sebenarnya"
Yuki langsung membeku ketika mendengarnya. Sontak, ketika kesadarannya pulih Dia langsung berdiri. Tapi terlambat. Pangeran Riana sudah lebih dulu mencekalnya dan mendorongnya hingga terjerembab di atas sofa.
Kedua tangan Yuki di cekal kuat ke atas. Satu lutut Pangeran Riana berada di sisi paha Yuki. Dia membungkuk sedemikian rupa sehingga posisinya berada di atas Yuki tepat.
Yuki menelan ludah. Sadar telah memancing emosi Pangeran Riana terlalu jauh.
Pangeran Riana mendekatkan wajahnya. Yuki langsung berpaling. Menggeliat berusaha melepaskan cekalan Pangeran Riana di tangannya. Tapi tenaganya kalah jauh ketimbang Pangeran Riana. Yuki tidak bisa melepaskan diri.
"Lepaskan Aku, Aku tidak mau" pinta Yuki dengan sekuat tenaga berusaha menjauhkan Pangeran Riana dari dirinya.
Menolak saat Pangeran Riana ingin mencium Yuki.
Pangeran Riana terus mencekal Yuki, menahannya untuk tetap di posisinya yang sekarang.
__ADS_1
"Kenapa Yuki, apa Kau sudah melupakan kebersamaan Kita. Atau Kau lebih ingin Sera yang menyentuhmu seperti ini"
"Pangeran Sera tidak pernah melakukan hal seperti ini padaku. Dia lebih menghargaiku sebagai seorang wanita" bantah Yuki keras.
"Menghargai ?" Pangeran Riana meremas tangan Yuki. Membuat Yuki meringis kesakitan.
"Siapa yang menghargai siapa ?" Kata Pangeran Riana lagi dengan rahang terkatup rapat, jangan pernah lagi menyebut namanya di depanku. Aku tidak ingin mendengar namanya dari mulutmu"
"Lepaskan Aku" Yuki terus memberontak.
Pangeran Riana mencengkram kuat kerah pakaian Yuki. Dan langsung merobeknya dengan kasar, memperlihatkan leher jenjang dan putih bersih milik Yuki dengan leluasa.
Yuki berteriak, mencoba meminta pertolongan. Tapi sekuat apapun Yuki memohon, tidak ada yang datang untuk menyelamatkannya.
Pintu tertutup rapat.
Pangeran Riana telah mengoyak seluruh pakaian yang di kenakan Yuki hingga berupa serpihan, yang tidak bisa menutupi Yuki dari keterlanjangan. Yuki menangis. Pangeran Riana seolah tidak mendengar tangisan Yuki, Dia membuka pakaiannya sembari menatap Yuki dingin.
Yuki memalingkan wajah ketika Pangeran Riana kembali mendekatinya. Rasa sakit menghantam Yuki bertubi-tubi. Jerit kesakitan dan tangisan Yuki memenuhi seluruh ruangan.
Tanpa memperdulikan perasaan Yuki, Pangeran Riana dengan seenaknya sendiri menyentuh Yuki. Pangeran Riana bahkan tidak perduli apakah Yuki menyukai atau tidak. Badan Yuki sakit semua.
Air mata Yuki mengalir. Bathin Yuki berteriak. Kenapa Pangeran Riana terus saja menyiksanya.
Pangeran Riana mendesah panjang, setelah memuntahkan seluruh cairannya dalam tubuh Yuki. Dia duduk di samping Yuki. Mengakhiri penderitaan Yuki untuk sementara. Tubuh Mereka penuh dengan keringat. Yuki terbaring tanpa daya di atas sofa. Kepalanya terkulai lemas di sandaran sofa.
Begitu rombongan kerajaan sampai di ibukota Garduete, Mereka langsung menuju istana Pangeran Riana. Sesampainya di istana, Pangeran Riana langsung mengurung Yuki di kamarnya.
Dengan tegas Dia memerintahkan kepada penjaga kamar untuk tidak menerima tamu dan mengizinkan siapapun membawa Yuki meninggalkan kamarnya, tanpa izin dari Pangeran Riana. Bahkan Ibu Suri dilarang keras untuk membawa Yuki pergi tanpa izin dari Pangeran Riana.
Setiap hari, dari kamarnya Yuki melihat Putri yang pernah dilihatnya bersama dengan Pangeran Riana berada di istana.
Dari para pelayan, akhirnya Yuki mengetahui siapa Putri tersebut.
Dia adalah Putri Marsha. Kekasih Pangeran Riana, ketika Pangeran Riana berusia tujuh belas tahun.
__ADS_1