
Kepala Yuki sakit berdenyut. Dia sangat pusing dan mual. Seperti naik jet coaster dengan kecepatan tinggi. Berputar-putar tanpa henti.
Yuki memejamkan mata untuk mengurangi serangan agar Dia tidak muntah. Perutnya terasa di aduk dengan kencang.
Akhirnya Dia kembali pulang.
Meskipun itu adalah dunia asalnya, tapi Dia tidak mampu bertahan di sana. Semua kenangan itu perlahan akan terhapus oleh waktu.
Yuki merasa lega ketika memikirkannya. Dia membiarkan tubuhnya terseret arus.
Perlahan kesadaran Yuki menghilang. Tubuhnya terus melayang ,menembus dimensi yang tidak berujung.
Dia berjalan dengan tenang di kesunyian. Badai telah lama berlalu. Langkahnya ringan, nyaris tidak meninggalkan jejak ketika Dia melangkah. Tangannya terulur menyentuh kelopak mawar berwarna Merah terang di depannya. Sinar matahari menerpa rambut putih susunya, kulitnya yang putih pucat berkilau di bawah sinar matahari.
Dia bersenandung kecil sembari memejamkan mata. Menikmati moment yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Dia ada di sana, memperhatikan dari tempatnya ketika Yuki datang dan berbaring di atas tanah. Bahkan ketika Yuki meninggalkan pondok bersama dengan Sera. Dia ada di tempatnya, tersembunyi dari penglihatan.
Kesedihan yang di rasakan Yuki sangat familier. Tapi Dia tidak akan terlalu memikirkan masalah itu.
Tangannya yang lentik meraba kantung celananya. Dia menarik kotak rokok yang isinya tinggal beberapa batang lagi. Mengambil satu dan langsung menyalakan pematiknya.
Asap mengepul ke udara.
Salju sudah cukup tebal membungkus setiap inchi dari musim sebelumnya. Dia berdiri diam di tempatnya, menghabiskan batang rokoknya. Tercenung seorang diri. Tidak ada yang dapat menebak apa yang di pikirkannya.
Pemuda itu sangat tampan. Bagaikan ciptaan tuhan yang tidak bercela. Sempurna seperti peri. Mematikan seperti iblis. Tergantung dari sudut mana manusia akan menilainya.
Meskipun Dia tampak seperti manusia, Tapi Dia tidak sepenuhnya manusia. Dengan tenang seperti seekor predator yang mengintai mangsanya. Dia berjalan menuju pondok mawar.
Dengan sekali remas, gembok besi yang di pasang Pangeran Sera sebelum meninggalkan pondok, hancur di tangannya.
Dia membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Gadis itu melihatmu tadi" terdengar suara serak dari peri berwarna hijau, dengan mata besar seperti seekor tupai di belakangnya. Mahkluk itu memiliki telinga panjang sampai kaki, dengan tinggi tak lebih dari pinggang manusia dewasa.
Kedua tangannya menggengam sebuah apel besar berwarna merah merona. "Dia mengira Dia sedang berhalusinasi melihat kekasihnya yang baru saja mati"
Pemuda itu tersenyum simpul. Dia memandang sekeliling ruangan sembari mengetuk-etuk dinding. Seperti mencari sesuatu. Bekas perapian belum sepenuhnya padam.
"Dia masih harus banyak belajar. Bagaimana menurutmu Curly. Apa Kau menyukainya ?" Tanyanya pada mahkluk yang bernama Curly.
"Kau ingin membawanya sekarang Lekky ?" Tanya Curly dengan rasa penasaran sembari mengunyah apel di tangannya. Matanya melotot mendominasi nyaris separuh dari wajahnya.
__ADS_1
"Tidak sekarang. Aku masih sibuk untuk mengurusnya" jawab Lekky acuh.
Lekky memicingkan mata. Masih menghisap rokok di tangannya. Pandangannya jauh menebus hutan belantara.
Dia telah mengikuti Yuki selama tiga hari dan mendapatkan fakta menarik dari gadis itu. Jika bukan karena janjinya, Dia tidak akan repot-repot kemari untuk mencari keberadaan Yuki.
Tapi gadis itu sangat cantik. Dia seperti Lekky, bukan seratus persen manusia. Lebih dari yang di duga. Dia adalah Ciel.
Yuki memiliki kelebihan tersendiri. Dia bisa membawa dua negara besar berperang karena memperebutkannya. Tampaknya Dia memiliki cukup banyak penggemar.
Sangat berbahaya namun menarik.
Sayangnya, Dia belum dapat membawa Yuki bersamanya. Dia harus bersabar menunggu kesempatan datang.
Dia masih punya urusan yang harus di selesaikan.
Lekky membuang putung rokok ke bara api yang masih menyala. Berjongkok dan menarik lantai papan kayu yang terletak di dekat perapian. Sebuah buku saku berwarna hitam di sembunyikan di sana. Lekky mengambilnya.
Itu adalah buku sihir terlarang yang telah di buru banyak orang. Tidak akan ada yang menyangka jika buku itu di sembunyikan di pondok ini. Lekky mengambil buku itu tanpa memeriksa isinya. Dan langsung menyiramnya dengan minyak tanah yang ada di dekatnya. Kemudian membakarnya tanpa keraguan.
"Kau tidak ingin mempelajarinya ?" Tanya Culry tidak percaya dengan penglihatannya. Lekky tersenyum sinis.
"Apa gunanya" jawab Lekky sinis.
"Pasukan Garduete datang mencari gadis itu" ujar Curly menegakkan telinganya ke seluruh penjuru angin. "Sebentar lagi Mereka akan tiba di pondok. Apa yang harus kita lakukan ?"
"Jika Mereka menganggu Kau bunuh Mereka"
"Baiklah" jawab Curly serius dengan penuh semangat.
Lekky melirik Curly yang tampak bersiap. Dia menarik telinga Curly yang terkulai. Mengangkat makluk itu ke pundaknya. "Kita tidak punya waktu mengurus hal yang tidak berguna"
Terdengar langkah kaki mendekat.
Lekky menegakan punggungnya. Sepasang sayap hitam keluar dari punggungnya.
Tepat ketika sebuah tangan terulur meraih gagang pintu.
Gagang pintu yang rusak di dorong terbuka. Bangsawan Asry masuk bersama Bangsawan Voldermont. Ketika Mereka masuk, daun cendela bergerak seperti ada sesuatu yang telah lewat dari sana sebelumnya.
"Aku yakin tadi ada seseorang di sini" ujar Bangsawan Asry sembari melihat ke sekeliling. Ruangan kosong tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tapi Bangsawan Asry jelas melihat bayangan orang dari cendela ketika sedang menuju ke pondok mawar.
Matanya berputar mencari dengan lebih teliti.
__ADS_1
Tapi ruangan tetap saja kosong. Tapi di pembakaran Bangsawan Voldermont berjongkok dan menjulurkan tangan ke atas tumpukan abu, berupa buku yang sudah tidak dapat di baca isinya. Masih hangat.
Dia mencium samar aroma farfum yang di kenakan Yuki. Yuki baru saja berada di dalam pondok ini. Jika benar, Ini adalah pondok milik Bangsawan Dalto seperti yang di ceritakan Yuki sebelumnya.
Bangsawan Voldermont ingin mengatakan sesuatu kepada Bangsawan Asry. Tapi Gulf berbunyi menghentikan niatnya. Bangsawan Xasfir menghubunginya.
"Apa..Baiklah Kami akan segera kembali" ujar Bangsawan Voldermont singkat ketika Bangsawan Xasfir telah selesai memberikan penjelasan.
"Ada apa ?" Tanya Bangsawan Asry binggung.
"Yuki telah berhasil kembali ke dunianya yang dulu berkat bantuan Sera"
"Apa..Lalu apa yang di lakukan Riana ?"
Bangsawan Voldermont memasukkan gulf ke saku celananya. "Sekarang Mereka terlibat perkelahian. Lebih baik Kita kembali" ujar Bangsawan Voldermont. Tanpa membuang waktu Dia berjalan keluar pondok.
Bangsawan Asry tidak membantah. Dia segera menyusul Bangsawan Voldermont yang lebih dulu mencapai tepi sungai.
Sementara itu di atas langit, jika Mereka mau mendonggak. Lekky sedang terbang dengan sayapnya bersama Curly.
Morning Dew-tamat.
Season ke dua dari Morning Dew.
Yuki berhasil kembali ke dunia tempatnya tumbuh dan di lahirkan sebagai gadis biasa. Dalam usahanya memulihkan trauma dan perasaannya. Pangeran Riana berhasil membawanya kembali ke dunia aslinya.
Satu per satu rahasia masa lalu dari kedua orang tuanya mulai terbongkar.
Kehidupan kerajaan yang kejam nyaris membuat Yuki kembali kehilangan nyawanya.
Akankah Yuki mampu menghadapi semua atau menyerah pada keterpurukannya ?.
Ikuti kisahnya dalam "Wind Direction"
Di baca langsung ke episode selanjutnya ya.
__ADS_1