Morning Dew

Morning Dew
148


__ADS_3

"Pangeran" ucap Yuki terkejut ketika mendengar sumpah Pangeran Sera. 


Pangeran Sera meskipun bertampang lembut, Dia adalah ksatria tangguh dalam pertempuran. Sumpah seorang ksatria yang mengatas namakan dewa dewi adalah hal yang sakral dan akan berakibat fatal jika Dia melanggar.


Dan ksatria sejati tidak akan melanggar sumpah yang di ucapkan sendiri.


"Dan wanita itu adalah Yuki" ucap Pangeran Sera dengan nada jauh lebih lembut. Namun tetap tegas dan tidak tergoyahkan. "Dia adalah satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku. Satu-satunya wanita yang akan mendampingiku seumur hidup, Dia adalah calon ratuku kelak jika Aku meneruskan pemerintahan selanjutnya. Ini adalah sumpahku, sumpah seorang ksatria Argueda"


Pangeran Sera menggigit ibu jarinya sehingga mengeluarkan darah. Dan langsung mengoleskan ke dahi Yuki. "Ini adalah tanda janjiku padamu. Darahku"


"Pangeran..." Yuki tidak tahu harus mengatakan apa. Dia tidak menduga Pangeran Sera akan senekat ini padanya. 


"Semuanya pergi. Aku ingin menemani calon ratuku berendam di kolam tanpa gangguan"


Semua orang beringsut pergi tanpa Pangeran Sera harus mengatakan lagi. Wajah Mereka pucat pasi mendengar sumpah yang di lontarkan Pangeran Sera. 


Tidak butuh waktu lama. Akhirnya Yuki dan Pangeran Sera hanya berdua. 


"Kenapa Pangeran melakukan semua ini" protes Yuki ketika Dia merasa tidak ada orang yang akan mendengar perdebatan Mereka. "Sumpah kesatria adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh di lakukan sembarangan" 


"Karena sakral, Aku tidak ragu untuk melakukannya. Dengarkan Aku Yuki, Asal Kau bersamaku. Aku rela meninggalkan segalanya yang kumiliki. Sekarang apa Kau sudah bisa melihat keseriusanku Yuki ?" Tanya Pangeran Sera balik dengan wajah tenang. 


Yuki diam. Menatap mata Pangeran Sera dalam. Di dalam tatapan mata Pangeran Sera, Yuki menemukan cinta yang cukup besar.


Yuki tahu Dia akan bahagia jika bersama dengan Pangeran Sera. Dia sama sekali tidak memiliki keraguan mengenai masalah itu. Tapi sesuatu yang tidak Dia mengerti seolah mencegahnya. Membuat Yuki urung menerima hati Pangeran Sera. Yuki tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Padahal kebahagiaan jelas di depan matanya, tapi Yuki tidak memiliki keberanian untuk menyambutnya.


Pangeran Sera kembali menarik Yuki. Dia mencium Yuki kuat dan dalam sampai Yuki kehilangan konsentrasi.


 


Bayangan hitam berdiri di persembunyian. Diam tidak bergerak. Tatapannya tajam melihat kedua anak manusia yang masih berada di dalam kolam. Dia sudah memperhatikan Mereka sembari tadi, bahkan jauh sebelum Yuki di dorong oleh Putri Nadira. Tangannya mengepal. Kebencian terasa di dalam dadanya.

__ADS_1


Perasaan emosi menghantuinya. 


Tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya. Dia harus bersabar. Jika Dia bertindak gegabah rencananya bisa gagal.


 


"Putri" Rena meletakan selimut tebal ke bahu Yuki yang menggigil kedinginan. Pangeran Sera baru saja menurunkannya dari gendongan. Pangeran Sera menggendong Yuki semenjak keluar kolam sampai Mereka tiba di dalam kamar.


"Apa Putri baik-baik saja ?. Maafkan Aku yang telah lalai menjaga Putri" ujar Rena penuh dengan penyesalan. 


"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir seperti itu" Yuki tersenyum menenangkan. 


"Bawa Putri Yuki untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Siapkan juga sup hangat untuknya" perintah Pangeran Sera yang berdiri di samping Yuki.


"Baik Pangeran, Putri Yuki mari Aku akan membantu Putri membersihkan diri" Rena menuntun Yuki untuk masuk ke kamar mandi. 


Sementara itu Pangeran Sera bajunya masih basah kuyup. Dia berjalan keluar kamar dan dengan tenang menunggu dua orang jendral menghampirinya.


 


Pangeran Sera jelas tidak berniat untuk menarik sumpahnya.


Yuki sangat cemas. Karena menurut Rena, Jika Pangeran Sera berani menandatangani sumpahnya dengan darahnya sendiri. Artinya Dia sedang mempertaruhkan harga diri dan nyawanya jika Pangeran Sera berani melanggar.


Mengetahui hal ini semakin membuat Yuki merasa pusing. Dia tidak menyangka Pangeran Sera akan bertindak senekat itu.


 


Sore hari yang cerah. Putri Magitha muncul setelah sekian lama Dia tidak terlihat di istana Pangeran Sera. Dia mengajak Yuki untuk bermain catur di taman. Sembari menikmati suasana sore yang cerah.


Rena dengan setia menemani Yuki. Semenjak kejadian di kolam, Dia sudah tidak berani lagi meninggalkan Yuki di taman seorang diri.

__ADS_1


Taman di istana lebih ramai daripada biasanya. Beberapa Putri duduk berkelompok tersebar di taman. Putri Magitha sangat pengertian, Dia memilih mengajak Yuki duduk di bawah pohon yang rindang. Sedikit menjauh dari kerumunan. Mereka duduk berhadapan dengan papan catur di tengah Mereka.


"Bukankah Aku sudah mengatakan sebelumnya. Kakak selalu melewati batas jika berhubungan dengan Putri. Sumpah kesatria yang di lakukan Kakak adalah salah satunya" ujar Putri Magitha tenang. Dia mengambil satu bidak catur putih milik Yuki dan mengantinya dengan bidak hitam miliknya. "Sekarang kerajaan tidak punya pilihan lain untuk memaksa Putri menikah dengan Kakak. Jika tidak, posisi Kakak sebagai Perwaris tahtah akan tergeser. Sementara Arana belum cukup umur untuk mengantikan Kakak. Jika Kalian tidak cepat menikah dan memiliki keturunan, Aku khawatir pemberontakan kerajaan akan terjadi untuk memperebutkan kekuasaan"


Yuki terdiam mendengar ucapan Putri Magitha. Berbeda dengan Yuki, Putri Magitha tampak jauh lebih santai menanggapi masalah sumpah kesatria yang di lakukan Pangeran Sera. Seolah hal itu bukan menjadi masalah besar baginya.


Putri Magitha mengambil sebutir kacang kenari dan memakannya. Sembari menunggu Yuki melangkahkan bidaknya.


"Apa yang Pangeran lakukan bisa membahayakan dirinya dan juga Kalian. Tapi kenapa Kau terlihat tenang" tanya Yuki dengan wajah heran.


Yuki mengambil kuda Putri Magitha dan menggantinya dengan menteri. Putri Magitha menatap dengan alis berkerut. Dia tidak memperhitungkan langkah kaki yang di ambil Yuki. 


"Karena Aku percaya pada Kakak. Dia yang terbaik" ucap Putri Magitha dengan penuh percaya diri saat mengatakannya.


"Hubungan Kalian sangat dekat. Aku jadi iri. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk merasakan bagaimana mempunyai seorang Kakak atau adik"


"Benarkah ?" Putri Magitha kembali mengambil kenari di piring. "Tapi Aku juga iri pada Putri. Putri bisa mendapatkan orang sesempurna Kakak tanpa harus bersusah payah. Apa Putri tahu kenapa Putri Nadira sangat membenci Putri ?. Karena sebenarnya Dia juga menyukai Kakak dan berharap dapat menikah dengan Kakak"


"Tapi Mereka bersaudara" bantah Yuki cepat. 


"Untuk alasan menjaga kemurnian keluarga kerajaan, Pangeran boleh menikah dengan saudara tirinya atau yang masih memiliki darah keluarga dari Raja"


Yuki tidak menyangka Argueda melegalkan perkawinan sedarah.


"Apa Dia bisa menikahi Putri ?" Tanya Yuki berhati-hati. 


Putri Magitha nenggelengkan kepala cepat. "Tidak. Jika Kami melakukannya, Kami bisa di hukum mati tanpa melewati pengadilan kerajaan"


"Kenapa ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


"Pernikahan untuk menjaga kemurnian keturunan raja hanya bisa di lakukan dari rahim yang berbeda. Jika pernikahan itu di lakukan oleh anak dari rahim yang sama, akan di anggap tabu. Jika tetap memaksa melakukannya di percaya akan menimbulkan kemarahan dewi dan membawa bencana bagi negeri"

__ADS_1


 


__ADS_2