Morning Dew

Morning Dew
52


__ADS_3

Raja Bardana sangat marah dengan perkembangan kasus yang terjadi belakangan ini. Dia memanggil Bangsawan Voldermont dan Pendeta Serfa ke ruang kerjanya. Tidak ada satupun orang yang berani mendekati tempat itu. 


"Sihir hitam, kenapa Kalian baru melaporkannya sekarang !!!" Ujar Raja Bardana geram. 


Dia sudah sering menghadapi intrik dari musuh yang berusaha menggulingkan kekuasaannya. Meskipun sekarang Dia hanya memiliki satu orang Putra yang sah sebagai penerus tahtah kerajaan. Tapi, masih banyak musuh yang berusaha menggulingkan kekuasaan dan mencegah Riana menaiki tahtah.


Raja Bardana sudah pernah menghadapi persaingan perebutan kekuasaan saat Dia masih menjadi Pangeran. Banyak nyawa yang melayang sia-sia dalam persaingan itu. Entah sebagai korban atau sebagai pelaku. Dia bahkan pernah harus membunuh saudaranya sendiri untuk mempertahankan posisinya.


Sampai sekarang, musuh yang paling mengerikan justru keluarganya sendiri. Belajar dari pengalaman itu, Dia sengaja menjaga diri agar tidak melahirkan banyak keturunan. 


Toh, Riana sudah bekerja cukup keras untuk membentuk dirinya. Raja Bardana tidak pernah mengatakannya, tapi, Dia sudah cukup puas dengan pencapaian putranya.


Apalagi sekarang Dia mendapatkan calon ratu yang baik. 


Dia tidak butuh Putra lain yang mengacaukan segalanya.


"Kami belum melaporkan karena awalnya Kami belum yakin akan masalah ini" ujar Pendeta Serfa menundukkan kepala dalam.


Beberapa Prajurit kerajaan yang menyerang istana Pangeran Riana berhasil di lumpuhkan. Namun, Serfa terkejut ketika mengetahui Mereka semua tidak dalam kondisi sadar. Mereka dipengaruhi sihir hitam yang di kendalikan orang dari jarak jauh. 


Pikiran Mereka di kunci, dan setiap pergerakan Mereka di atur oleh pengendalinya.


Ini adalah jenis sihir tingkat tinggi. Tidak sembarang orang bisa mengetahuinya. Bahkan sihir ini sudah hilang sepuluh tahun lalu, ketika terjadi kebakaran kuil yang menewaskan orang-orang di dalamnya.


"Aku sudah mengintrogasi para prajurit itu, Mereka tidak ingat apa yang telah Mereka lakukan. Saat Serfa menyadarkan Mereka, bahkan Mereka tidak tahu bagaimana Mereka berada di sana" jelas Bangsawan Voldermont cepat. 


Raja Bardana hanya diam sambil berpikir. 


Bangsawan Voldermont kembali berkata "Mereka hanya ingat, Mereka sedang berlatih pedang ketika seseorang tidak dikenal mengenakan tudung hitam datang sembari membawa dupa yang di bakar. Setelah itu, Mereka tidak sadarkan diri. Mereka tidak ingat apa yang Mereka lakukan"


"Sihir kuno ini sudah dilarang semenjak terakhir kali muncul. Pendeta Hiro atas perintah dari Raja terdahulu telah menangkap dan menghukum mati pengikutnya tanpa tersisa. Mereka juga memusnahkan seluruh kitab dan apapun yang berhubungan dengan sihir ini. Tapi ada kemungkinan seseorang menyembunyikan kitab terlarang ke tempat rahasia sebelum kerajaan bertindak"

__ADS_1


"Kalian bawa pasukan dan susul Riana" perintah Raja Bardana kemudian. 


Bangsawan Voldermont dan Pendeta Serfa langsung undur diri untuk melaksanakan perintah.


Raja Bardana segera memanggil Pelayan kepala yang telah melayaninya semenjak Dia masih muda begitu kedua orang itu pergi.


"Jabriel, perintahkan prajurit untuk memanggil Pendeta Hiro ke istana, Aku ingin berbicara secara pribadi dengannya"


"Pendeta Hiro sudah melepaskan diri dari urusan duniawi" ujar Kepala pelayan Jabriel mengingatkan. "Dia tidak akan bersedia membantu masalah yang terjadi sekarang ini"


"Dia tidak bisa lepas tangan untuk perintah yang tidak di selesaikan nya" 


Wajah Raja Bardana Muram. Pengalaman melayani Raja Bardana bertahun-tahun membuatnya Kepala Pelayan mengerti jika masalah ini jauh lebih pelik daripada yang terlihat. Jadi Dia mundur untuk menjalankan perintah. Jika Pendeta Hiro menolak Dia terpaksa harus menggunakan cara-cara tertentu untuk memaksanya turun gunung


Jalan yang di lewati rombongan Pangeran Riana harus memasuki hutan yang sangat panjang. Tidak ada satupun desa di dalam sana. 


Kuda-kuda berlari kencang menerobos kegelapan malam. Sesekali terdengar suara binatang malam dari kejauhan.


Dugaan bahwa Prajurit yang menyerang Perdana Menteri Olwrendho adalah Prajurit istana sudah di buktikan. Raja Bardana memerintahkan Pangeran Riana kembali ke istana karena Dia mencium pemberontakan terhadap kerajaan menggunakan sihir kuno yang telah lama di larang.


Sementara itu, Pasukan Bangsawan Voldermont dan Pendeta Agung Serfa sedang bergerak menyusul rombongan Pangeran Riana atas perintah Raja Bardana.


Yuki tahu situasinya sangat genting dan berbahaya. Para pemberontak bisa muncul dan menyerang kapanpun juga.


Bulan bersinar diatas langit, cahayanya menimbulkan suasana aneh yang membuat bulu kuduk berdiri. Sayup di antara deru angin, Yuki merasa seperti ada seseorang yang memanggilnya.


Kecemasan menghantuinya. Dia tidak bisa tenang. Seperti ada orang yang terus mengikutinya.


Pangeran Riana merasakan kekhawatiran Yuki. Dia menyentuh kepala gadis itu dan mengusapnya. Yuki menguap, seperti terbius. Dia langsung merasa mengantuk dan tertidur begitu menyandarkan kepala di dada Pangeran Riana.


Anak tangga terbuat dari batu hitam berlumut dan lembab. Di kanan kiri tangga seluas satu meter itu, dipenuhi oleh tumbuhan pakis liar yang menutupi pandangan. 

__ADS_1


Tangga itu berada di sisi terpencil dari sebuah kuil tua yang terbuat dari batu hitam, tidak terawat dan kusam. Tapi Yuki menemukan tanda-tanda yang menyatakan kuil ini berpenghuni.


Dia melihat ke sekeliling, Dia berada di tengah hutan yang lebat.


Siapa yang tinggal di tempat seperti ini ?.


Terdengar suara samar di bawah tangga. Yuki melangkahkan kaki. Mengabaikan rasa takut di hatinya. Menuruni anak tangga di depannya.


Tangga itu membawanya ke ruang bawah tanah, ada lorong panjang di dalamnya dengan ruangan berjeruji besi. Dia menemukan berbagai senjata tajam dan bahkan alat-alat yang digunakan untuk menyiksa tahanan kelas berat.


Kepala Yuki dipenuhi pertanyaan. Dia terus berjalan mengabaikan bau tidak sedap yang memenuhi udara. 


Bau amis bercampur bau lembab oleh karena jamur. 


Yuki melangkah dengan sangat berhati-hati. Lantainya banyak yang sudah rusak. Penyangga bangunannya sudah tidak lagi utuh. Dia tidak ingin menghancurkan tempat ini karena tidak sengaja menyenggol sesuatu seperti adegan di film-film petualang yang sering dilihatnya dulu.


Akhirnya, Dia menemukan sebuah pintu terbuat dari kayu yang cukup tebal. Ketika Yuki membukanya, jeritan nyaring seorang pria yang kesakitan menyambutnya.


Yuki membeku. Dia mengenali suara itu.


Yuki berjalan lebih cepat, mengabaikan ketakutannya. Mencari sumber suara yang di dengarnya. Akhirnya Dia menemukannya.


Di sebuah ruangan yang temaram, cahaya obor yang di letakan di dinding membentuk bayangan hitam bergelombang. Sei di ikat dalam posisi berdiri. Kedua pergelangan tangannya di rentangkan ke atas oleh belenggu besi. Tubuhnya penuh luka dan berdarah.


"Seiii...Apa yang terjadi..Seiii" teriak Yuki memanggil panik. 


Tapi seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya, tidak ada yang menyadari kehadiran Yuki. Sama seperti ketika Yuki memimpikan Ayahnya bertarung di hutan.


Yuki mencengkram jeruji besi yang menghalanginya masuk ke dalam. Menggoyangkan jeruji itu sekuat tenaga sampai menyembunyikan suara berisik yang memekakkan telinga. Tapi tidak ada satu orangpun yang merespon.


"Seiii..Aku disini..Seiii !!!!"

__ADS_1


Muncul sosok orang berjubah hitam di hadapan Sei. Dia mendekati Sei dan berbisik di telinganya.


__ADS_2