
Bangsawan Dalto meletakan obor di dekat Yuki. Kemudian Dia berjalan menerobos semak-semak di dekatnya.
Yuki duduk berlutut sembari memandangi sosok Bangsawan Dalto yang kemudian menghilang di kegelapan malam.
Hanya tinggal Yuki seorang diri. Dia menyadarkan punggungnya di akar pohon besar di belakangnya. Menatap ke sekeliling dengan perasaan takut.
Adegan-adegan horor dari film yang pernah di tontonnya, justru muncul dalam pikirannya. Membuatnya bergidik ketakutan. Bulu kuduknya langsung berdiri.
Suasana sangat sunyi dan mencekam. Bayangan pohon menjulang tinggi, bagaikan monster dengan cakar yang tajam. Ada sesuatu dalam kepala Yuki yang berusaha memperingatkannya, menyuruhnya untuk berlari dari tempat ini. Menyelamatkan diri.
Aura di sekitar kuil sangat menakutkan, seperti menerobos sampai ke dalam relung hati Yuki.
Yuki menahan keinginannya untuk menyusul Bangsawan Dalto. Membawanya pergi dan melapor ke istana. Sudah terlambat untuk semua itu. Yuki tampak cemas. Ketakutan merayapinya begitu dalam.
Sudah satu jam berlalu. Tapi Bangsawan Dalto belum kembali. Yuki mulai merasa panik sekarang. Dia mengetuk-etuk batang pohon dengan jarinya. Mencoba untuk berpikir jernih.
Malam semakin larut. Pergi mencarinya bukanlah solusi. Yuki tidak tahu daerah ini sama sekali. Bangsawan Dalto juga sudah memperingatkannya supaya tidak pergi dan menunggunya di persembunyian.
Bagaimana jika Bangsawan Dalto kembali ketika Yuki pergi mencarinya ?.
Selain itu jika Yuki nekat pergi, Yuki bisa tersesat dan kemungkinan terburuknya adalah di tangkap pasukan pemberontak istana.
Hal itu tidak boleh terjadi. Yuki tidak boleh jatuh ke tangan Mereka. Pendeta Serfa sudah memperingatkan Yuki dengan tegas apa yang akan terjadi jika Dia sampai berhasil di tangkap oleh Pasukan Pemberontak Istana. Darahnya akan membangkitkan iblis dengan kekuatan yang cukup besar. Menyebabkan kehancuran bagi dunia dan seluruh mahkluk di dalamnya.
Memikirkan hal itu membuat Yuki urung untuk pergi. Yuki percaya Bangsawan Dalto akan segera kembali. Bangsawan Dalto tidak mungkin meninggalkan Yuki seorang diri di dalam hutan seperti ini.
Yuki mencoba mengalihkan pikirannya. Dia memikirkan istana Pangeran Riana. Pasti Pangeran Riana sudah mengetahui Yuki menghilang sekarang. Yuki tidak tahu hukuman apa yang menantinya nanti. Tapi yang pasti Pangeran Riana pasti sangat marah sekarang. Yuki merasa bersalah dengan para pelayan dan Prajurit Penjaga istana. Mereka pasti sudah di marahi habis-habisan oleh Pangeran Riana.
__ADS_1
Yuki berharap Pangeran Riana tidak menghukum Mereka.
Tenggorokan Yuki terasa kering. Dia sangat haus. Yuki mengambil tas milik Bangsawan Dalto yang di letakkan di sampingnya. Dia ingat Bangsawan Dalto memasukan botol minum ke dalamnya, setelah mengisinya kembali ketika Mereka sampai di mata air dalam perjalanan kemari.
Tas ini sangat penuh dengan berbagai barang. Yuki kesulitan menemukannya meskipun di bantu cahaya dari obor. Akhirnya Dia memutuskan untuk mengeluarkan semua barang dan merapikannya. Bangsawan Dalto menjejalkan begitu saja semua isinya ke dalam tas tanpa merapikannya. Membuat tas jauh lebih penuh daripada isi yang sebenarnya.
Yuki menarik kain hitam yang di lipat dalam dasar tas keluar. Sebuah cincin berdenting jatuh karena tersangkut di dalam kain yang di tarik Yuki.
Yuki memungut cincin itu. Jantungnya berdebar ketika mengenalinya.
Cincin itu adalah milik Perdana Menteri Olwrendho. Yuki tidak mungkin salah, Dia sering sekali melihat Perdana Menteri Olwrendho mengenakannya. Itu adalah cincin yang di hadiahkan Raja Bardana ketika Beliau di angkat menjadi Perdana Menteri kerajaan.
Cincin itu bahkan di lihat Yuki dalam mimpinya, di pakai Perdana Menteri Olwrendho dalam pertempuran di malam Dia terbunuh.
Kenapa cincin Perdana Menteri Olwrendho ada di dalam tas Bangsawan Dalto.
Yuki ingat Dia melihat cincin ini dalam mimpi, tapi Dia tidak ingat melihat cincin itu di tumpukan barang yang di bawa Rena. Tidak ada satupun yang menyentuh jenasah Perdana Menteri Olwrendho sampai kerajaan memeriksa sendiri identitasnya. Apalagi Bangsawan Dalto, Dia tidak mungkin di biarkan menyentuh Jenasah Perdana Menteri Olwrendho meskipun semua orang tahu Yuki akrab dengannya.
Yuki bergetar ketika akhirnya Dia mmenyadari kebenarannya. Kilas adegan satu persatu muncul di benaknya.
Dia menatap kain hitam di dekatnya. Jarinya bergetar saat Dia menyentuhnya. Jauh di dalam lubuk hati Yuki, Dia masih berharap apa yang di pikirkannya salah. Yuki membentangkan kain hitam dengan kedua tangannya. Seketika air mata mengalir keluar saat Dia melihat satu lagi bukti yang tidak terbantahkan. Jubah hitam yang di lihat Yuki dikenakan oleh pembunuh dalam mimpi. Ada bercak darah di kainnya yang tersentuh Yuki.
Krak
Suara ranting di injak di belakang Yuki membuat Yuki berpaling. Tepat ketika sebuah pukulan keras menghantam tengkuknya.
Yuki langsung tersuruk ke tanah. Kepalanya membentur akar pohon yang mencuat di dekatnya.
__ADS_1
Bangsawan Dalto memegang pedang panjang yang masih di dalam sarungnya. Dia memukul Yuki kuat hingga Yuki tidak berdaya. Tidak ada sorot kehangatan dan persahabatan di dalam matanya yang selama ini di kenal Yuki.
Semua berganti menjadi sosok yang berbeda. Aura hitam terpancar dalam tubuh Bangsawan Dalto. Tatapan matanya berubah menjadi dingin dan keji.
Yuki memegangi kepalanya. Dia bersusah payah bangun. Dia harus segera pergi dari sini. Tapi kepalanya sangat pusing sekarang. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya menjadi kabur.
Detik berikutnya Yuki ambruk tidak sadarkan diri.
Bangsawan Voldermont turun dari kuda. Berlari kencang menuju sebuah bangunan tua yang masih terawat dengan baik. Jauh terpisah dari Bangunan utama di dalam istana Raja Bardana. Kakeknya, Raja terdahulu memutuskan tinggal di istana itu sampai akhir hayatnya begitu Dia menyerahkan tahtahnya kepada Raja Bardana. Dia bersama Ratunya tinggal di sana. Sekarang Kakeknya telah meninggal, tapi Neneknya masih hidup dan tinggal di paviliun itu, sembari membantu mengurus istana harem Raja Bardana dan menggantikan tugas Ratu sampai Ratu yang baru di angkat secara resmi.
Derap langkah Bangsawan Voldermont begitu kencang hingga membuat kegaduhan. Di dalam lingkup istana kecil itu, hanya tinggal para pelayan tua dan Ibu Suri. Jadi ketika ada anak muda datang membawa kegaduhan, otomatis terdengar jelas sampai membangunkan penghuninya.
Ibu Suri baru mengerjapkan mata terbangun oleh langkah kaki berat yang semakin mendekat. Ketika Pelayan Tua di depan pintu berteriak memanggil nama Bangsawan Voldermont. Pintu di buka secara paksa. Bangsawan Voldermont masuk dengan nafas terenggah-enggah.
"Nenek..."
"Kau mau membuat nenekmu jantungan. Untuk apa Kau membuat kegaduhan di..." Ibu Suri melirik ke cendela dan mendapati hari masih larut malam. Belum tengah malam malah. "Malam begini" kata Ibu Suri dengan nada tidak percaya.
"Aku tau Aku salah, Nenek bisa memarahiku nanti. Sekarang tolong pinjamkan cincin kawinmu"
"Untuk apa Kau membutuhkan cincin kawinku"
Ibu Suri tahu, Bangsawan Voldermont tidak akan menganggunya seperti sekarang jika bukan ada hal darurat. Sambil bertanya Dia melepaskan cincin kawinnya yang di hiasi batu Barqand berwarna merah hati.
__ADS_1