
"Putri Yuki, kenapa duduk sendirian di sana. Kemarilah dan ikut bergabung bersama" seru Putri Magitha dengan sikap antusias.
Sontak seluruh Putri yang bersama dengannya berbalik memandang Yuki sengit. Wajah Mereka memperlihatkan peringatan tanpa suara, agar Yuki tidak mendekat.
Yuki tersenyum. Membalas panggilan Putri Magitha. Dia mengabaikan tatapan permusuhan yang di tunjukan Para Putri padanya.
"Ayo kemarilah" ujar Putri Magitha lagi tak sabar sembari menepuk bangku di sebelahnya.
Yuki berdiri dari duduknya. Berjalan mendekati Putri Magitha yang telah menunggu.
"Loh..Wah...Aku baru sadar. Kenapa Putri tidak mengenakan hiasan rambut Putri" tanya Putri Magitha terperangah saat Yuki baru saja duduk di sebelahnya. Putri Magitha menunjukan ekpresi wajah terkejut dan heran.
Yuki sontak menyentuh rambutnya. Memandang Putri Magitha dengan pandangan kebingungan. "Perhiasan rambut mana yang Putri maksud ?" Tanya Yuki lirih.
"Untaian mutiara putih yang biasa Putri kenakan. Yang di berikan Kakak kepada Putri tempo hari" Ujar Putri Magitha gemas.
"Hari ini Aku ingin berganti suasana dengan mengganti gaya rambutku. Jadi Aku tidak memakainya karena tidak sesuai dengan gaya yang kuinginkan. Apakah itu bermasalah ?" Tanya Yuki kebingungan.
Putri Magitha menggelengkan kepala tidak percaya. "Tentu saja bermasalah" sambar Putri Magitha cepat. "Jika Kakak tahu Putri tidak memakainya, Kakak pasti akan marah. Apa Kakak tidak menjelaskan kepada Putri makna hiasan rambut itu ?"
Yuki menggelengkan kepala pelan. Wajahnya makin terlihat kebingungan.
"Hiasan rambut itu dulunya adalah milik Ibu, yang di buat khusus oleh Ayah ketika mengangkat Ibu sebagai wanitanya. Setelah itu Ibu menyimpannya dan kemudian memberikan kepada Kakak. Ibu mengatakan, Dia pernah bersumpah, Dia akan merestui siapapun wanita yang memakai hiasan rambut miliknya untuk menjadi istri Kakak dan Kakak tidak boleh menolaknya. Karena hal itu, Kakak menyimpan rapi hiasan rambut itu dan merahasiakannya agar hanya bisa di pakai oleh wanita yang diinginkan" Jelas Putri Magitha santai.
Para Putri tampak terkejut saat mendengarnya.
__ADS_1
"Siapapun yang memakainya, Kakak tidak boleh menolak dan harus menikahinya" tegas Putri Magitha lagi dengan tenang.
"Benarkah ?" kata Yuki terkejut. "Maafkan Aku Putri Magitha. Aku tidak memahami arti dari perhiasan itu. Tadinya Aku mengira itu hanya hiasan rambut biasa" Kata Yuki menyesal.
"Hati-hati Putri. Jika Putri kehilangan hiasan rambut itu, Putri tidak bisa menikah dengan Kakak" gurau Putri Magitha. Mengabaikan ekpresi wajah dari Para Putri di sekitarnya.
Yuki hanya tersenyum saat mendengar gurauan Putri Magitha dan tidak mengatakan apapun.
"Sebelumnya Kakak dan Ibu memintaku merahasiakan masalah hiasan rambut milik Putri untuk menghindari kegaduhan. Tapi karena sekarang Kakak sudah bersumpah tidak akan menikah dengan orang lain selain Putri, Aku rasa masalah ini sudah tidak perluh di rahasiakan lagi" lanjut Putri Magitha termanggu.
"Terimakasih karena telah memberitahuku masalah hiasan rambut itu" ujar Yuki bersungguh-sungguh. "Selama ini karena tidak mengerti arti hiasan rambut itu, Aku hanya menyimpannya begitu saja di laci meja rias yang ada di kamar. Jika dari awal Aku tahu hiasan itu sangat berharga. Aku akan menyimpannya dengan baik"
"Untung Aku yang melihat Putri hari ini. Jika Kakak yang terlebih dulu melihat, Kakak pasti akan kecewa. Ngomong-ngomong kenapa hari ini istana Kakak begitu sepi. Kakak juga malah tidak ada ketika Aku mengadakan jamuan untuknya" ujar Putri Magitha kecewa.
"Hari ini Pangeran pergi ke pinggiran ibukota. Mungkin akan kembali menjelang malam. Putri maafkan jika Aku tidak sopan, Aku ingat ada janji bertemu dengan keluarga Pelayanku Rena, untuk menyerahkan abunya sekaligus memberi uang duka. Kebetulan Pelayan baru saja memberitahukanku bahwa Mereka sudah menunggu di aula kecil. Aku akan menemui Mereka sebentar dan segera kembali jika urusanku sudah selesai"
Ketika Yuki telah jauh dari Aula, Dia segera berbelok ke ujung lorong, memilih jalan memutar, menuju kamarnya.
Apa yang di lakukan Yuki dengan Putri Magitha di dalam aula adalah salah satu bagian dari Rencana Mereka untuk menjebak Putri Alena. Berdasarkan sifatnya, Yuki yakin Putri Alena akan datang dan mencari hiasan rambut yang di maksud Yuki dan Putri Magitha.
Meskipun agak keterlaluan karena telah berbohong mengenai "Ratu yang mengizinkan siapapun wanita yang memiliki perhiasannya untuk menikah dengan Pangeran Sera". Tapi Yuki terpaksa melakukannya. Hanya dengan cara ini Mereka bisa memancing Putri Alena untuk keluar dan membuktikan kecurigaan Mereka.
Yuki sempat terkejut ketika melihat betapa naturalnya akting yang di mainkan Putri Magitha. Tidak di sangka, Putri Magitha mempunyai bakat bermain peran dengan begitu baik.
__ADS_1
Yuki tidak kembali ke dalam kamar. Dia memilih untuk menunggu di sebuah kamar yang tidak jauh letaknya dari Kamar utama. Bersembunyi di sana untuk menunggu adanya pergerakan. Yuki telah meminta Para penjaga pintu untuk bersembunyi, mengawasi dari suatu tempat. Mereka akan segera melaporkan kepada Yuki jika ada sesuatu yang mencurigakan.
Waktu terasa panjang dan mencekam. Yuki duduk dengan gelisah di dalam kamar. Sementara itu para pelayan dan penjaga berdiri tenang dengan sikap siap menerima perintah. Terdengar gelak tawa para putri dari kejauhan.
Yuki meremas kedua tangannya. Jantungnya berdebar kencang. Semakin lama waktu berlalu, keyakinannya semakin memudar. Bagaimana jika Yuki salah ?. Bagaimana jika semua ini justru berkembang ke arah yang berbahaya. Yuki tidak ingin melibatkan Putri Magitha lebih jauh lagi. Putri Magitha sudah terlalu banyak membantunya.
Sebelum Yuki menceritakan kecurigaannya kepada Putri Magitha, Yuki sudah lebih dulu menyelidiki mengenai Putri Alena.
Sebagian besar yang di katakan Putri Magitha mengenai Putri Alena adalah benar. Putri Alena adalah Putri Bangsawan yang tidak pernah memiliki masalah serius. Seorang Putri baik-baik dari keluarga Bangsawan Terkemuka. Dia memiliki pergaulan sosial yang baik, tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan lawan jenis.
Putri Alena sudah jatuh cinta dengan Pangeran Sera ketika Mereka pertama kali bertemu sewaktu kecil. Saat itu Putri Alena baru berumur enam tahun sedangkan Pangeran Sera sudah berusia empat belas tahun. Semenjak itu, mimpi-mimpi Putri Alena adalah Pangeran Sera.
Sudah banyak laki-laki yang meminangnya. Tapi Putri Alena bersikeras tidak mau menikah selain dengan Pangeran Sera. Bahkan terakhir kali, Putri Alena pernah nyaris mati karena dikurung oleh keluarganya tanpa makanan, karena menentang perjodohan yang di berikan oleh Mereka. Dia lebih memilih mati daripada harus menikah dengan orang lain.
Yang lebih mengejutkan adalah, Putri Alena masih keponakan dari Perdana Menteri Borindo.
Sepupu dari Laiden.
Perdana Menteri Borindo sebenarnya telah mengajukan usulan pernikahan antara Pangeran Sera dan Putri Alena. Tapi Pangeran Sera dengan tegas menolak.
Jika kecurigaan Yuki benar. Perdana Menteri Borindo telah memanfaatkan keponakannya sendiri untuk memperoleh keinginannya.
Yuki jadi bertanya, apakah Perdana Menteri Borindo tidak mempunyai hati sebagai seorang manusia. Apakah Dia terlalu percaya diri dengan berpikir jika kejahatannya terbongkar, istana tidak akan menghukumnya dengan mudah.
__ADS_1