
"Halo.." Sapa Rafael senang kepada Bangsawan Voldermont. Dia kembali menarik rambut Yuki, memaksa Yuki memperlihatkan wajahnya.
"Yukii" panggil Bangsawan Voldermont lagi tidak percaya.
Melihat Bangsawan Voldermont, Yuki merasa malu. Dia terlalu bodoh sehingga berhasil masuk dalam jebakan Rafael. Dan sekarang, bahkan Rafael menghubungi Bangsawan Voldermont untuk mengabarkan penangkapannya.
Yuki memberontak sekuat tenaga. Rafael tanpa belas kasihan langsung membenturkan kepala Yuki ke dinding di dekatnya sampai dahinya lecet.
"Apa yang Kau mau. Siapa Kau ?" Tanya Bangsawan Voldermont dingin.
"Aku adalah Rafael. Raja Negeri Rasyamsah yang baru"
"Raja Negeri Rasyamsah" terdengar suara di belakang Bangsawan Voldermont. Putri Marsha rupanya hendak maju untuk merampas gulf milik Bangsawan Voldermont dan memutuskan komunikasi Mereka. Dia khawatir, Mereka akan kembali mendekati Yuki. Tapi Bangsawan Asry dan Bangsawan Xasfir langsung mencegahnya. Dia tidak bisa berkutik di depan Pangeran Riana, apalagi ketika melihat kedatangan Ibu Jaena. Jadi Putri Marsha hanya diam dengan raut wajah kesal. "Bagaimana dengan Trandem ?"
"Orang tua yang bodoh itu sudah mati. Sekarang, Rasyamsah berada di bawah kendaliku"
"Lalu, apa yang Kau mau dariku ?"
"Darimu ?. Tidak. Aku ingin Kau mewakili negerimu untuk mengabarkan masalah ini. Calon ratu kalian berada di tanganku. Kalian pasti mengerti akibatnya jika Negeri Kalian kehilangan calon ratunya"
"Aku sudah bukan.."
Plak !!
Rafael langsung menampar Yuki hingga Yuki ambruk ke lantai. Darah menetes keluar dari sudut bibir.
"Diam, sekali lagi Kau bicara. Aku akan pecahkan kepalamu"
"Rafael, jika Kau berani menyentuhnya lagi meski seujung rambut. Aku akan membunuhmu" ancam Bangsawan Voldermont marah.
"Apa Kalian ada hubungan khusus ?. Aneh sekali, di dalam Gulf miliknya tidak ada nama Riana. Hanya namamu dan Sera"
"Itu bukan urusanmu" jawab Bangsawan Voldermont tidak mau berbasa-basi.
"Bukan urusanku ?. Tentu saja ini urusanku" Rafael menarik Yuki untuk mendekatinya. Menempelkan pipinya ke pipi Yuki dengan sikap penuh kemenangan. "Gadis ini akan menjadi wanitaku. Dia akan menjadi calon ratuku, Ratu negeri Rasyamsah yang baru"
"Tidak akan. Aku tidak sudi" tolak Yuki kembali memalingkan wajahnya menolak dengan keras.
Bangsawan Voldermont menatap Rafael dengan pandangan siap untuk membunuh. "Kau ingin berurusan denganku ?. Baik, Ayo kita lakukan"
__ADS_1
Rafael tertawa mengejek. Sikapnya sangat menyebalkan. Kemudian Dia langsung memutuskan pembicaraan.
"Apa Kau yakin Kalian tidak punya hubungan khusus ?" Dendang Rafael senang. "Sekarang mari Kita lihat reaksi dari Sera Madza"
Pangeran Sera lebih tenang daripada Bangsawan Voldermont dalam menghadapi Rafael. Namun dari kata-kata Pangeran Sera jelas tersirat fakta bahwa Pangeran Sera siap bertempur sampai titik penghabisan untuk membawa Yuki kembali.
Bangsawan Voldermont menutup Gulfnya. Tanpa menoleh kepada teman-temannya Dia berjalan pergi dengan cepat. Meninggalkan semua orang di belakangnya.
"Bodoh sekali. Untuk apa Dia repot-repot menyelamatkan Putri Yuki. Dia sudah bukan calon lagi" ujar Putri Marsha berusaha memprovokasi yang lain agar tidak ikut terpengaruh Bangsawan Voldermont.
Pangeran Riana diam. Kemudian Dia memandang Bangsawan Xasfir yang berdiri menunggu. "Xasfir siapkan keberangkatan. Asry Kau disini bersama Serfa untuk menangani urusanku selama Kami pergi"
"Riana, sadarlah Yuki bukan lagi calon ratumu" ujar Putri Marsha terkejut.
Pangeran Riana berpaling pada Ibu Jaena. Mengacuhkan ucapan Putri Marsha. "Ibu Jaena, katakan pada Ayah dan Nenek. Kami akan pergi ke Rasyamsah untuk menyelamatkan Calon Ratuku"
"Meski dewa mengabulkan doanya, Tapi...wanita yang berhak menjadi Ratuku hanya Yuki"
Pangeran Riana menyentakan tangan Putri Marsha dengan dingin, dan berjalan mengikuti arah perginya Bangsawan Voldermont. Bangsawan Xasfir mengikuti dari belakang.
Putri Marsha menatap marah. Dia mengepalkan tangannya kuat.
"Apa bagusnya wanita ****** itu. Bukankah ada Aku di sini yang jauh lebih baik" kata Putri Marsha tanpa sadar.
Ibu Jaena yang mendengar hanya diam. Dalam hati Dia berkata
Putri Yuki tidak pernah menganggap dirinya lebih baik dari yang lain dan merendahkan orang. Beruntung Pangeran Riana cepat sadar dalam memilih wanita.
"Layanin Dia dengan baik. Dia akan menjadi Calon Ratu Kalian selanjutnya" ujar Rafael sambil mendorong Yuki kearah para pelayan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Rafael berdiri dengan puas karena berhasil berbicara langsung dengan Negeri Garduete dan Argueda. Yuki sama sekali tidak mengerti, sudah dua bulan lebih semenjak Dia membatalkan dirinya sebagai calon ratu negeri Garduete. Tapi sampai sekarang, kabar tersebut di simpan rapat dan tidak di sebarkan oleh pihak kerajaan Garduete.
"Aku tidak sudi menjadi Ratumu" tolak Yuki kencang kepada Rafael yang berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
Pintu di tutup.
Dua orang pelayan langsung menghampiri Yuki sembari melepaskan ikatan tali yang membelenggu pergelangan tangan Yuki. "Putri, Mari Kita mandi dan berganti pakaian. Saya akan membantu mengobati luka-luka Putri agar nanti tidak berbekas"
"Pergi Kalian. Aku tidak butuh mandi atau berganti pakaian"
"Putri Kami mohon, Jika Tuan Rafael kembali dan menemukan Putri belum berganti pakaian. Kami akan di hukum" ujar Pelayan dengan wajah memelas. Ada sorot ketakutan terpancar di mata Mereka semua.
"Kami mohon Putri, bantulah Kami"
Yuki menghela nafas. Akhirnya Dia mengalah dan mengikuti permintaan para pelayan untuk mandi dan berganti pakaian. Membiarkan Mereka mengobati luka Yuki. Yuki mengernyitkan dahi ketika melihat penampilannya. Para pelayan bersikeras, bahwa pakaian yang di kenakan Yuki adalah pakaian yang disukai oleh Rafael.
"Berikan Aku pakaian yang tertutup" kata Yuki memandang pantulan dirinya di dalam cermin tidak suka. Pakaian yang di kenakannya memiliki potongan yang cukup rendah di bagian dada, dan belahan paha yang cukup tinggi di kedua sisinya.
"Tapi Tuan Rafael..."
"Aku sudah cukup berbaik hati mengikuti permintaan Kalian. Tapi semua itu ada batasnya. Masa bodoh dengan apa yang di sukai Rafael atau tidak. Aku tidak punya kewajiban apapun untuk menyenangkannya. Sekarang Kalian akan memberiku pakaian yang lebih tertutup atau tidak ?!"
Para pelayan tampak saling berpandangan dengan raut wajah kebingungan. Sikap Mereka menunjukan Mereka enggan melakukan perintah Yuki.
Yuki bisa bertoleransi pada Mereka, tapi bukan artinya Dia mau mengikuti semua permintaan Mereka.
"Jawab sekarang ?!" Kata Yuki lagi lebih tegas ketika melihat Mereka tidak bergeming.
"Baik Putri, akan Kami carikan pakaian sesuai permintaan Putri" ujar Para pelayan mengalah.
Yuki mendapatkan pakaian sesuai yang di inginkan. Pakaian yang jauh lebih tertutup dan sopan. Terbuat dari kain biasa. Yuki tidak memerluhkan pakaian dari kain sutra atau perhiasan mewah. Dia tidak berminat menjadi seorang Putri di negeri Rasyamsah apalagi menjadi calon ratu jika yang memerintah adalah orang seperti Rafael atau Raja Trandem.
Dari para pelayan pula Yuki akhirnya mengetahui kisah yang sebenarnya mengenai wanita yang suami dan bayinya di bunuh di depan matanya, dan kemudian bunuh diri sambil mengutuk Raja Trandem.
Wanita itu bukan untuk Raja Trandem tapi untuk Rafael. Rafael lah yang menginginkan wanita itu sebagai hadiahnya. Karena Rafael tidak pernah meminta wanita secara khusus sebelumnya, Raja Trandem berniat memberikannya karena Dia berhasil memenangkan pertempuran besar. Dengan kejam Raja Trandem membunuh suami dan bayi wanita itu, membuat wanita itu depresi dan bunuh diri.
Sebenarnya, wanita itu adalah seorang gadis yatim piatu yang di besarkan oleh Ratu Cilia sebagai pelayan di istana kecil di pinggiran perbatasan. Dia memiliki bentuk fisik dan postur tubuh yang mirip dengan Yuki.
Yuki kembali teringat sorot mata Ratu Cilia yang terkejut ketika melihat Yuki. Sorot itu berubah menjadi ketakutan. Seolah menyuruh Yuki segera pergi karena Dia melihat Rafael. Rafael di dekat Yuki.
__ADS_1