Morning Dew

Morning Dew
41


__ADS_3

"Begitukah ?, Sayang sekali" kata Nyonya Hazel tampak kecewa.


Yuki menundukkan kepala memberi penghormatan kepada Baginda Raja Bardhana dan Pangeran Riana serta para penonton. Dia tidak berani menatap mata Pangeran Riana. Rasanya dengan memandang tatapannya, Dia bisa terbunuh di tempat.


Tidak ingin semakin lama membuat Pangeran Riana marah, Yuki segera kabur setelahnya meninggalkan panggung.


Di kegelapan Aula tempatnya menyembunyikan diri dari pandangan, Dia diam bagaikan seekor binatang buas mengincar mangsa. Matanya tertuju satu persatu pada targetnya. Kepalanya memikirkan rencana sembari menilai Mereka. Senyum jahat tersungging di bibirnya. 


Dia telah menyempurnakan ilmunya dibantu kemenakannya. Membunuh sepuluh perawan yang baru saja mendapatkan haid pertama Mereka.


Ternyata sangat mudah membunuh orang. 


Dia tidak perlu cemas lagi. Ada banyak darah yang harus di tumpahkan. 


Matanya mengikuti gadis yang berdiri di atas panggung. Berjalan kikuk dengan membungkus tubuhnya. 


Berkat sedikit darah dari Yuki, Dia bahkan lebih mudah menaikkan ilmunya. Ayah memerintahkannya untuk mendapatkan lebih banyak agar kekuatannya menjadi tidak terkalahkan. Dengan begitu tujuannya membersihkan dunia ini lebih mudah. 


Dia tidak memiliki masalah pribadi dengan Yuki. Tapi darahnya sangat berharga. 


Jika diperlukan Dia akan mengikuti saran Ayahnya. Tapi untuk sekarang, Dia akan mencari kesenangan dengan menebar teror. Menikmati bagaimana dirinya bisa membunuh satu persatu musuhnya tanpa tersisa.


Yuki berjalan gotai diampit empat orang pengawal kerajaan. Begitu turun panggung Mereka sudah menunggu Yuki. Yuki agak lega karena bukan Pangeran Riana yang menjemputnya. Dia ada urusan mendadak yang sangat penting.


Yuki terus memikirkan Bangsawan Dalto. Perubahan sikapnya sangat jelas. Yuki hampir tidak mengenalinya lagi. Dia begitu membenci Yuki.


Yuki menyusuri lorong yang menuju ruang ganti pakaian dengan tertunduk lesu. Ketika berbelok di ujung lorong yang sepi, Dia menabrak seseorang di depannya.


Ketika Dia mendongak, Dia terkejut melihat Pangeran Sera di depannya.


"Pangeran Sera" Yuki spontan melepaskan pelukan Pangeran Sera. Dia mundur dengan canggung, memberi hormat kepada Pangeran Sera, sementara itu para Prajurit tampak berjaga.


Pangeran Sera diam. Dia terus menatap Yuki dengan sorot aneh. Yuki menunggu Pangeran Sera mengatakan sesuatu atau pergi. Tapi Pangeran hanya diam. Akhirnya Yuki membuka percakapan agar suasana tidak tegang.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Pangeran ?" Hanya itu yang dipikirkan Yuki untuk berbasa-basi. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. "Maksudku luka Pangeran ?. Aku minta maaf waktu itu telah membuat keributan" 


"Bisakah Kau berjanji padaku ?" Tanya Pangeran Sera tiba-tiba dengan suara yang manis. Yuki mendongak menatap Pangeran Sera dengan wajah kebingungan.


"Jangan pernah lagi menari di depan umum. Apakah Kau bisa melakukannya untukku ?"


Yuki menghela nafas dan menjadi tidak percaya diri. Apakah tariannya jelek sehingga Pangeran Sera tidak menyukainya. Sepanjang pertandingan wajahnya muram. Dia tidak menikmati pertunjukannya seperti yang lainnya.


"Tarianmu tidak jelek" ujar Pangeran Sera lagi seolah bisa membaca pikiran Yuki. "Tapi Aku tidak senang saat mengetahui apa yang dipikirkan orang ketika Mereka melihatmu menari. Aku juga laki-laki. Aku tahu apa yang Mereka pikirkan. Jadi...Apa Kau bisa melakukannya ?" 


Ini bukan permintaan melainkan perintah.


Yuki menganggukan kepala pelan. Pangeran Sera tersenyum. "Gadis pintar" katanya sembari tersenyum hangat.


"Pangeran mohon maaf, Kami harus segera pergi" potong kepala penjaga di dekat Yuki. Pangeran Sera menyingkir dari jalan. Yuki kembali memberi hormat sebelum pergi.


"Yuki" panggil Pangeran Sera lagi tiba-tiba. Yuki berbalik tidak mengerti. Pangeran menghampiri Yuki dan menyerahkan bungkusan kecil kepada Yuki. Yuki menerimanya kebingungan.


"Selamat Ulang Tahun" ucapnya lembut.


Yuki menunduk, melihat kotak kado di depannya binggung. 


Ulang tahun ?. 


Dia menghitung dalam hati, menyesuaikan kalender dunia ini dengan dunianya. Kemudian Dia mendongak terkejut.


Jika hitungannya tidak salah, Dia memang berulang tahun hari ini. "Tanggal berapa sekarang ?" Tanya Yuki kepada kepala penjaga untuk memastikan kembali Dia tidak salah. Perdana Menteri Olwrendho pernah memberi tahu Yuki tanggal ulang tahun miliknya di dunia ini.


Penjaga itu menjawab. Yuki terperangah. Benar...hari ini hari ulang tahunnya. Dia genap enam belas tahun hari ini.


Yuki kembali menatap bungkusan di tangannya. Pikirannya kacau. Perlahan Dia membuka tutup bungkusan dan semakin terkejut saat melihatnya.


Sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu, terbuat dari kumpulan batu berwarna-warni yang berpendar ringan. Sayapnya dapat digerakkan jika digoyangkan atau tertiup angin.

__ADS_1


Barang yang Yuki inginkan semenjak dulu. Tapi yang sekarang dipegangnya jauh lebih indah dari yang dibayangkan.


Yuki berbalik, tapi sosok Pangeran Sera sudah tidak terlihat lagi.


Di ruang ganti, Yuki berdiri di depan cermin seorang diri. Dia terus memikirkannya. Tidak ada yang mengetahui hari ulang tahunnya di dunia ini kecuali ayahnya. Tidak ada juga yang mengetahui apa yang diinginkan Yuki sebelumnya. 


Tapi Pangeran Sera, Yuki sering merasa Pangeran Sera lebih mengenal Yuki melebihi dirinya sendiri. 


Awalnya Dia hanya berpikir itu sebagai prasangka. Namun sekarang Dia menjadi tidak yakin lagi. 


Bagaimana Pangeran Sera mengetahui ulang tahunnya ?. Bagaimana juga Dia mengetahui hadiah yang diinginkan Yuki. Siapa Pangeran Sera sebenarnya ?.


Yuki menghela nafas. Dia memperhatikan dirinya di cermin. Para penjaga lagi-lagi sengaja mengobrol dengan kencang di luar pintu, agar keberadaan Mereka tidak dilupakan. Seolah memberi tahu Yuki bahwa Dia sedang ditunggu Pangeran Riana untuk menjalani hukuman.


Yuki menyisir rambutnya. Dia mengepang rambutnya dengan kepangan longgar. Dan menyelipkan jepit rambut pemberian Pangeran Sera. Jepit rambut itu mengepak saat Yuki bergerak. Cantik sekali. Yuki sedikit terhibur melihatnya, setidaknya hari ini tidak semua berakhir buruk.


Sudah satu setengah jam Yuki bersembunyi di dalam ruang berganti pakaian. Dia sadar sudah tidak bisa lagi mengulur-ulur waktu. Jadi Dia menutup lemari pakaiannya dan menguncinya. Kemudian melangkah keluar seperti seorang pesakitan. 


Para pengawal yang sudah menunggu sembari tadi dengan perasaan tegang, lega saat akhirnya Yuki keluar ruangan. Pangeran Riana selain memerintahkan untuk mengawasi Putri Yuki, Juga memerintahkan dengan jelas untuk melindunginya. Karena sedang ada kasus pembunuhan gadis-gadis perawan di negeri ini. Sampai sekarang kasusnya belum selesai.


Mereka kemudian berjalan di lorong dengan pikiran masing-masing.


"Kau menari dengan sangat bagus" puji Bangsawan Asry saat Yuki dan Dia hanya duduk berdua. Wajah Yuki memerah karena malu. Dia menjadi salah tingkah.


Yuki sangat beruntung Pangeran Riana tidak menghukumnya. Dia sangat sibuk dengan persiapan Festival dan tugas-tugas kenegaraannya. Yuki hanya diminta mengikutinya kemanapun Pangeran Riana pergi.


Jika Yuki dalam situasi tidak bisa ikut, Pangeran akan menyuruh salah satu teman Bangsawannya untuk menemani. Seperti sekarang, Yuki duduk bersama Bangsawan Asry sambil menunggu Bangsawan Xasfir yang sedang membangun gerbang festival negaranya.


"Terimakasih" Yuki tersenyum lebar. Suasana hatinya sedang bagus.


Bangsawan Asry melihat jepit rambut yang dipakai Yuki. Dia menyentuh jepit rambut itu dengan kekaguman yang tidak bisa di sembunyikan. "Hiasan rambut yang cantik"


"Benarkah ?" Yuki ganti menyentuh jepit rambutnya. "Aku juga berpikir demikian"

__ADS_1


"Harganya pasti sangat mahal, semua batunya terbuat dari berlian dengan kualitas tinggi"


__ADS_2