
Bagaimana Yuki akhirnya mengetahui kebenarannya.
Kemudian, bagaimana akhirnya Yuki melakukan perjanjian pernikahan dengan Pangeran Sera, ketika Pangeran Sera berhasil menemukan Yuki dan Pangeran Riana di tengah hutan. Kondisi Pangeran Riana yang sekarat di manfaatkan Pangeran Sera untuk menekan Yuki.
Selama persidangan Yuki hanya diam.
Dia tidak membantah ataupun membenarkan perkataan dari Putri Marsha. Hanya diam mendengarkan Putri Marsha bercerita.
Pangeran Riana mengatupkan rahang mendengar cerita Putri Marsha. Menahan amarah. Semua adegan yang terjadi lima tahun lalu, muncul di kepalanya. Dia mulai mengerti. Semua potongan yang selama ini menjadi tanda tanya akhirnya menyatu di kepalanya.
Tidak ada yang tahu bahwa Riana harus menahan penderitaan sendiri ketika melihat Yuki kembali bersama dengan Sera. Rasanya Dia ingin membunuh Sera setiap Dia melihat bagaimana Sera menyentuh Yuki di depan matanya. Beruntung Riana bisa menahan diri dari amarah, Dia tidak mau menggagalkan semua rencananya.
Sekarang tujuannya telah tercapai. Yuki telah hamil anaknya. Kerajaan mau tidak mau akan membantunya untuk mempertahankan
"Apa tidak ada sesuatu yang ingin Kau katakan pada Kami ?" Tanya Raja Bardhana pada Yuki.
Yuki mendongak. Menatap Raja Bardhana kosong sesaat. Kemudian Dia menundukkan pandangannya dengan lelah. "Cerita ini sudah lama berlalu" kata Yuki akhirnya. "Apapun yang terjadi sekarang, tidak akan mengubah kenyataan bahwa Kami telah menikah. Ini adalah hal yang tidak bisa di pungkiri"
"Bagaimana bisa Kau berbicara seperti itu. Putri Yuki, Apa Kau tidak mempertimbangkan apa yang telah di lakukannya pada anakmu ?" Tanya Raja Bardhana memandang Yuki tidak percaya.
"Maafkan Hamba Yang Mulia, tapi jika saat itu Kalian mempercayaiku, jika saat itu Kalian tidak dengan mudah termakan oleh gosip yang beredar. Maka rencana Pangeran Sera tidak akan berhasil. Kalian juga turut andil dalam kematian anakku. Lalu untuk apa sekarang Kalian meributkan dosa-dosanya, sementara Kalian juga berada di kolam yang sama dalam peristiwa ini"
Yuki menatap lurus Raja Bardhana. Mengucapkan semua tuduhannya dengan lantang.
Raja Bardhana terdiam.
Ada kelegaan sendiri di dalam hati Yuki saat mengucapkannya. Pangeran Sera salah. Tapi Pangeran Riana juga sama bersalahnya. Dia tidak mempercayai Yuki dan memilih membunuh anak dalam kandungan Yuki.
Jika saja saat itu Dia mempercayai Yuki. Semua tidak akan seperti sekarang.
"Apa Putri ingin mengorbankan anak yang sekarang Putri Kandung untuk bersama kembali dengan Pangeran Sera ?" Tanya Pendeta Serfa tenang.
Yuki terkejut dan langsung menatap Pendeta Serfa waspada.
__ADS_1
"Ini anakku. Aku tidak akan membiarkan Kalian melukainya" kata Yuki dengan nada mengancam sambil memegangi perutnya.
"Jika begitu keadaannya, maka Putri tidak bisa kembali kepada Pangeran Sera" jawab Pendeta Serfa. "Jika Putri memilih anak dalam perut Putri, suka tidak suka Putri harus meninggalkan Pangeran Sera untuk kembali bersama dengan Pangeran kami. Karena dengan mengandung anak itu, yang sudah jelas Dia akan menjadi penerus tahtah Garduete selanjutnya. Kedudukan Putri sebagai calon ratu yang di tunjuk dewa untuk Negeri Garduete otomatis kembali ke tangan Putri, dan hanya kematian anak itu, sebelum Dia di lahirkan yang bisa membatalkannya"
Yuki terperangah saat mendengar penjelasan Pendeta Serfa. Seketika kakinya terasa lemas. Yuki merasa ingin pingsan.
"Bagaimana mungkin" bisik Yuki putus asa. Dia mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Hatinya sangat pedih dan terluka. Dia sangat terpuruk dengan ketidakberdayaan yang tengah di hadapinya.
"Putri harus menentukan sebelum anak itu lahir, apakah Putri akan memilih tetap bersama dengan Pangeran Sera dengan membunuh anak dalam kandungan Putri atau bersama Pangeran Kami dan membiarkan anak tetap hidup"
Yuki menunduk. Butiran air mata jatuh membasahi pipinya. Hal yang mustahil. Bagaimana bisa Yuki memilih antara suami dan anak dalam kandungannya.
Jelas keduanya adalah orang yang sangat penting untuk Yuki. Dia tidak bisa memilih. Yuki menangis terisak. Rasanya sesak.
Kepalanya terasa berat.
Semua orang tampak panik saat tiba-tiba kepala Yuki terkulai kebelakang. Tubuhnya merosot jatuh dari duduknya.
Yuki pingsan.
"Bawa Dia ke kamar, Serfa periksa Putri Yuki. Panggil tabib Yandha untuk berjaga" kata Raja Bardhana tegas.
Yuki segera di larikan ke dalam kamar.
Yuki pingsan karena tekanan yang di hadapinya dan rasa lelah dari seluruh kejadian yang terjadi hari ini. Tabib Yandha sudah tentu mendengar permasalahan yang terjadi. Dia tidak akan heran jika Putri Yuki sampai pingsan. Meski hanya beberapa kali bertemu dengan Putri Yuki, tapi Tabib Yandha tahu, Putri Yuki bukan orang yang senang menggoda lelaki lain ketika Dia sudah menjadi istri orang lain. Tapi demi keamanan kepalanya, Dia hanya diam dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Setelah Yuki siuman dan di nyatakan tidak ada masalah yang berarti. Pangeran Riana langsung bersikeras untuk membawa Yuki pergi meninggalkan istana kerajaan Garduete.
Dia bahkan tetap memborgol sebelah tangan Yuki dan menghubungkan dengan tangannya sendiri agar Mereka tidak terpisahkan. Pangeran Riana tampak sungkan, menggendong Yuki menuju kereta kuda yang telah menunggu di halaman istana.
__ADS_1
Di sepanjang jalan, Yuki melihat tatapan orang-orang yang di tujukan pada Mereka. Tatapan mencela dan mempertanyakan bagaimana bisa seorang wanita yang telah memiliki suami, justru mengandung dari pria lain yang juga telah memiliki tunangan.
Yuki menundukan kepala. Berusaha mengindari pandangan yang menghakimi dari sekitarnya. Sementara Pangeran Riana berjalan tenang, Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan penilaian orang.
Yuki terkejut ketika kereta kuda menyusuri jalan yang membawa Mereka menuju istana Pangeran Riana. Lebih terkejut lagi ketika Pangeran Riana menarik Yuki. Memaksa Yuki untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar Pangeran Riana.
Borgol di tangan Yuki kembali di lepas.
Enam orang pelayan wanita masuk ke dalam dan langsung memberi hormat.
Pangeran Riana tidak mengatakan apapun. Dia berlalu pergi untuk mengikuti persidangan selanjutnya. Pintu di tutup. Terdengar suara Pangeran Riana dari luar kamar. Memerintahkan prajurit penjaga untuk siap siaga di seluruh istananya.
"Silahkan Putri, Kami akan membantu Putri untuk berdandan dan berganti pakaian" kata pelayan yang memimpin dengan sikap hormat.
Yuki mendesah. Dia tahu Dia tidak bisa melawan Mereka seorang diri.
Setelah selesai berganti pakaian dan berdandan. Beberapa pelayan masuk dengan membawa berbagai makanan ke atas meja. Yuki duduk dengan malas. Dia mulai mengambil makanan di piringnya. Jika tidak ingat sedang mengandung, Yuki tidak akan menyentuh makanan yang di sajikan untuknya. Dia sangat lemas dan butuh makan untuk mengisi tenaganya.
Selesai makan, Yuki di tinggalkan seorang diri di dalam kamar. Dia duduk tercenung sembari melihat ke sekeliling kamar. Suasana kamar Pangeran Riana tidak berubah meski sudah lima tahun berlalu. Sama seperti ketika Yuki terakhir kali memasuki kamar ini.
Semua furniture masih sama dan tidak berpindah tempat. Membuat Yuki merasa, Dia seperti tidak pernah meninggalkan kamar ini selama lima tahun lamanya.
Beberapa barang yang pernah Yuki letakkan di kamar Pangeran Riana masih tetap ada di posisinya. Seolah lima tahun yang terjadi tidak pernah ada.
Bagaimana bisa Putri Marsha membiarkan kamar Pangeran Riana tetap sama dan tidak merubahnya sama sekali ?.
__ADS_1