
"Dia sudah pergi, Mawar-mawar ini akan mati....mereka semua akan pergi" Isakku sembari memeluk pot mawar di dada ku. Tidak ada lagi kenangan yang tersisa jika semua mati. Semua akan memudar bagaikan salju yang mencair seiring waktunya. Pangeran Sera menatapku dengan pandangan sendu. Dia melepaskan jubahnya dan membungkusku sedemikian rupa. Butiran salju semakin memenuhi pandangan, Sebentar lagi warna warni musim ini akan berganti dengan warna putih yang mendominasi.
"Tidak akan mati jika Kita bergegas meletakkan di dalam" Ujarnya membuatku mendongak. "Duduklah dan tenangkan pikiranmu terlebih dahulu, Jika Kau sudah siap, bantu Aku membereskan semuanya" Pangeran menuntunku untuk duduk di teras gubuk. Dia kemudian menyisingkan bajunya. Dengan telaten Dia mengangkuti satu persatu mawar, setelah semua mawar terangkut Dia memasang jaring panjang di bagian kebun yang lain. Mengikat tali dan memasang patok di tanah satu persatu. Dia tidak bertanya apapun melihat kondisiku. Dia cukup baik untuk berpura-pura tidak tahu apa yang ku alami. Suasana ini cukup aneh mengingat Dia adalah tunanganku.
Aku bangun ketika perasaanku sudah jauh lebih tenang, menghampirinya dan membantu mengamankan bunga mawar yang tersisa. Hampir satu jam lamanya kami berkutat di kebun mawar. Pangeran Sera tampak sama terampilnya dengan Bangsawan Dalto ketika mengurus bunga, Berbeda denganku yang gegabah.
Kami duduk di dalam gubuk, memandangi salju semakin turun dengan cepat. Semua mawar sudah berada di tempat yang aman.Kami selesai tepat pada waktunya, Angin kencang terdengar mengoyangkan ranting pohon diluar, menimbulkan suara gemerisik yang cukup keras.Badai belum datang, namun sayangnya Kami tidak bisa kembali begitu saja ke dalam sekolah dengan cuaca yang seperti ini. Aku khawatir akan terjadi badai yang cukup besar jika Kami nekat berjalan pulang. Salah-salah Kami malah bisa tersesat atau mati membeku dalam hutan.
"Aku sudah menyuruh orang untuk mengurus jenazahnya dan memberikan pemakaman yang layak untuknya" Ujar Pangeran Sera sambil menuangkan air hangat yang baru saja di rebusnya dalam sebuah tungku. Membuyarkan lamunanku. Kami duduk disekitar tungku untuk mencari kehangatan.
"Terimakasih..." Kataku lirih. Aku terlalu larut dalam kesedihanku sehingga tidak memikirkan mengenai pemakamannya. Dia sudah tidak mempunyai keluarga sama sekali, Bibinya justru mengkhianatinya. Aku yakin tidak ada yang mau repot-repot untuk mengurus jenazahnya. Aku merasa malu karena Pangeran Sera sudah memikirkan semuanya, jika dipikir Dia tidak punya kewajiban untuk membantu pemakamannya. Tapi Dia melakukannya, bahkan Dia mau mendengarkan ceritaku mengenai Bangsawan Dalto tanpa merasa bosan. Aku sedikit lega telah mengeluarkan unek-unekku. Bebanku sedikit berkurang.
Pangeran menyodorkan segelas teh jahe kepadaku. "Minumlah selagi hangat"
Aku menerima anjuran Pangeran Sera. Kakiku rasanya sudah membeku. Aku menyeruput sedikit, merasakan kehangatan menyebar di tenggorokanku. Pangeran duduk di dekatku, sibuk mempertahankan api agar tetap menyala agar ruangan tetap hangat.
Kaca cendela seperti diketuk dari luar oleh angin. Pangeran Berdiri dan memasang kunci cendela, menahan agar Angin tidak masuk ke dalam.
"Apa yang ingin Kau lakukan sekarang ?" tanya Pangeran Sera lembut.
Aku terdiam
Di luar terdengar Angin menderu, menandakan badai telah tiba. Pemandangan dari cendela tempatku berada sudah tak nampak indah. Warna putih tersebar disepanjang mata memandang. Menumpuk membungkus apapun yang ada.
"Aku ingin kembali ke duniaku yang lama" Bisikku akhirnya. Aku menunduk tidak berani untuk melihatnya. Keinginanku ini, Tidak mungkin akan Dia berikan. Seperti Pangeran Riana bukankah Dia berniat untuk menikahiku. Jadi mengembalikanku ke duniaku bukanlah tujuannya.
Pangeran diam. "Beri Aku satu Alasan kenapa Aku harus membantumu kembali ke dunia itu lagi ?" katanya setelah berpikir cukup lama.
Aku menatap pangeran terkejut. "Apa pangeran dapat melakukannya ?"
Pangeran Sera diam tidak menjawab. Dia mengorek bara api dengan sebuah kayu kering. Memasukkan umbi ke atasnya. Sorot matanya mengatakan dengan jelas bahwa Dia bisa melakukannya. Kedua rahangnya terkatup rapat.
Aku menghela nafas. Menatap cangkir teh di pangkuanku seolah itu adalah benda yang paling menarik saat ini. "Aku butuh waktu untuk sendiri". Rasanya terkesan konyol. Tapi itulah yang sangat ku perlukan. Aku mempermainkan sendok di cangkir, masih menunduk tidak berani menatap Pangeran Sera.
Aku ingin sendiri. Itulah yang kurasakan. Memulihkan semua perasaanku yang sekarang hancur lebur. Aku perlu menyusun kembali kepingan diriku satu persatu agar utuh yang Aku sendiripun belum bisa menemukan caranya. Semua orang tampak seperti mengerti keadaanku, Tapi mereka sebenarnya tidak mengerti. Aku tidak ingin Mereka melihatku menangis dan kemudian memandangku iba. Aku tidak menginginkan hal seperti itu. Tidak akan berguna untukku, Yang ada, Aku malah merasa menjadi orang yang sangat menyedihkan. Saat ini yang dapat menyelamatkanku dari kehancuran ini adalah diriku sendiri, bukan orang lain.
Rasanya sakit saat mengetahui orang yang Ku cintai harus mati dengan cara seperti itu, dan lebih menyakitkan kenyataan bahwa Aku tidak punya kuasa apa-apa untuk menolongnya. Jika Dia membunuh orang yang menyiksanya mungkin Aku bisa paham kenapa Dia melakukannya, Namun Bangsawan Dalto telah membunuh banyak orang yang tak bersalah. Bahkan sebagian besar orang yang tidak punya andil akan penderitannya. Dia harus menerima hukuman demi keadilan para korbannya yang tak bersalah.
Aku sudah berusaha untuk memperbaiki hatinya, Aku pikir Aku bisa, namun nyatanya Aku tidak bisa. Aku gagal menyelamatkannya. Hatinya terlalu hancur akan kematian kedua orang tuanya yang kemudian diperparah dengan bullyian dari sekitarnya. Dia terlalu lama menyimpan duka dan dendam. Iblis mengetahui kelemahannya dan memanfaatkan kerapuhannya untuk mencapai tujuan. Bangsawan Dalto terlalu lemah hatinya sehingga Iblis tersebut dapat dengan mudah memperoleh hatinya. Namun, Di saat terakhirnya Dia masih menyelamatkanku...jika Dia tidak mengagalkan Iblis saat itu, Aku akan mati dan dunia akan berada di ambang kehancuran yang sangat parah.
Aku tahu Bangsawan Dalto sangat mencintai kedua orang tuanya, terutama ibunya. Mawar ini adalah bunga kesayangan ibunya. Satu-satunya kenangannya adalah bersama ibunya di kebun merawat koleksi mawar kesayangan ibunya. Sekarang Aku membayangkan Dia bersama ibunya, tidak ada rasa sakit, tidak ada kesepian, yang ada hanya ketentraman. Mereka berdua bersama di kebun mawar. Tertawa sebagai keluarga.
"Setelah badai ini berakhir, Aku akan mengembalikanmu pulang" Aku menatap pangeran terkejut. Tidak yakin akan pendengaranku. Apakah Dia serius ?. "Aku berjanji padamu" Katanya meyakinkan kembali. Seperti memahami keraguan di dalam diriku.
Mata kami bertatapan cukup lama.
"Terima kasih" hanya itu kata yang dapat kupikirkan.
"Sekarang makanlah, Kau harus punya banyak tenaga untuk perjalananmu nanti"
Aku menerima ubi bakar yang dibuat Pangeran. Pangeran telah membuka kulitnya, membuatku tidak terlalu kesulitan untuk memakannya. Ubi ini membuat perutku lebih hangat dari sebelumnya. Perutku memang terasa kembung, Aku tidak memakan Apapun dari semalam. Sekarang Aku merasa sangat lapar dan merasa mampu menghabiskan semuanya sendirian. Kami memakannya dalam diam. Dalam waktu singkat Aku sudah menghabiskan makanaku.
Satu jam kemudian badai sudah mulai mereda. Pangeran membungkus tubuhku dengan mantelnya. Setelah memastikan kembali pondok terkunci dengan benar dan semua mawar aman kami berjalan beriringan meninggalkan gubuk itu.
Aku melangkahkan kakiku dengan berhati-hati. Jika gegabah, Aku bisa jatuh terpeleset masuk ke dalam sungai. Aku tidak bisa membayangkan dinginnya air itu. Pangeran memegangi tanganku, sesekali membantu melangkah.
__ADS_1
Aku sempat berbalik ketika Kami berada di hulu sungai. Memandang ke arah gubuk seolah ini adalah terakhir kali Aku akan bisa melihatnya. Aku lagi-lagi harus menahan air mataku agar tidak tumpah. Rasanya Aku bisa melihat semua moment ketika Kami tertawa, menangis dan bertengkar di sana. Gubuk itu kini terlihat hampa tanpa pemiliknya. Mungkin perasaanku saja, Aku seperti melihat seseorang di sana. Bersembunyi di balik bunga mawar, memandang kami dari kejauhan. Seolah mengantarkan kepergian kami dan mengharapkan Kami akan datang lagi nantinya.
Segera kutepis pikiranku.
Itu hanya imaginasiku. Tidak mungkin ada Bangsawan Dalto di sana. Dia sudah pergi.
"Ada apa Yuki ?" Tanya Pangeran Sera menepuk bahuku dari samping, Aku kembali tersadar dari lamunanku. Kembali memperhatikan gubuk yang memang kosong. Mencari keberadaan orang yang ku pikir Aku melihatnya. Namun Aku tidak menemukan apapun. Ternyata benar,Aku hanya berimaginasi. Tidak ada seorangpun di sana. Aku hanya salah lihat.
"Tidak apa-apa"
"Apa Kau baik-baik saja ?" Pangeran menatapku menyelidik seolah ada yang aneh dengan sikapku.
"Ya..." Aku berbalik melanjutkan langkahku. Salju menghapus jejak langkah kami. Aku memegang dadaku erat.
Selamat tinggal...Aku tidak akan melupakanmu...
Aku menutup rapat buku yang bercerita soal Kami. Menyimpannya rapat dalam ruangan khusus tersendiri di hatiku. Ini bukan pertama kalinya Aku mengalami patah hati. Hariku masih panjang. Banyak hal yang harus kulakukan, hal yang akan ku lakukan. Tapi satu yang pasti...dimanapun Aku berada. Jika Aku melihat bunga mawar Aku akan teringat dengannya.
Pangeran Sera membawaku ke sebuah ruangan kosong di gedung sekolah. Sekolah sudah mulai normal. Murid-murid yang sebelumnya menolak bersekolah karena khawatir menjadi korban kembali melakukan aktifitasnya. Saat Kami tiba di sekolah, Pelajaran sedang dimulai. Terdengar suara guru di sepanjang koridor kelas yang Kami lewati. Seolah tidak pernah ada masalah sebelumnya, semua kembali menjadi normal. Kami menyelinap dengan mudahnya, Aku menutup rambutku dengan mantel milik Pangeran Sera sehingga tidak ada orang yang mengenaliku.
Aku duduk menunggu, bersembunyi dari Pangeran Riana yang mencari keberadaanku.
"Aku akan mempersiapkan semuanya, Apapun yang terjadi jangan pergi dari sini, Apa Kau bisa melakukannya ?" Aku menganggukan kepala mengerti. Pangeran Sera keluar ruangan. Meninggalkanku seorang diri.
Aku melepaskan mantel milik Pangeran Sera. Melipat rapi dan meletakkannya di meja. Tetesan salju yang mencair membasahi sepatuku. Udara disini cukup dingin tanpa penghangat ruangan.
Aku duduk di pojokan, sebisa mungkin menghindari cendela. Nafasku sampai mengeluarkan kepulan asap saking dinginnya udara di sini. Aku tidak berani menyalakan pendingin, Takut seseorang akan menemukan keberadaanku disini.
Aku akan pulang. Kembali ke duniaku. Aku berterimakasih Pangeran Sera mau membantuku.
Dari tempatku, Aku bisa melihat Pasukan kerjaan sibuk ke sana kemari. Sepertinya mereka sedang mencariku. Mereka menuju hutan di belakang sekolah. Aku menatap mereka terpekur. Akankah mereka akan menemukan pondok mawar milik Bangsawan Dalto ?.Aku berharap jika mereka menemukannya, Mereka tidak menghancurkan mawar-mawar itu.
Pangeran Sera kembali tidak lama kemudian. Dia membawa Pendeta Naru untuk masuk ke dalam ruangan. Wajah Pendeta Naru masam, sepertinya Dia tidak setuju Aku kembali ke duniaku lagi. Tapi Dia tidak dapat melawan perintah Pangeran Sera.
"Saya akan mempersiapkan semuanya" Ujar Pendeta Naru datar. Dia membawa kotak besar di tangannya. Mengeluarkan satu persatu, dan meletakkan diatas meja. Aku berdiri dan memperhatikan semuanya dari sudut ruangan.
Pangeran membantu Pendeta Naru untuk mengeser meja dan kursi ke pinggir ruangan. Menyisakan ruangan kosong yang cukup luas.
Pendeta Naru mengambil semacam kapur. Mulai mengukir simbol aneh di lantai. Dia cukup telaten melakukannya. Pangeran Sera menaburkan abu diatas ukiran kapur, Dia menaburkan sampai simbol terbentuk sempurna. Setelahnya Naru mengangkat meja di depannya dan kemudian menyusun benda-benda dalam kotak sedemikian rupa.
"Sudah selesai" Katanya kepada kami berdua. Pangeran bangkit dari duduknya dan menghampiriku. "Ayo Yuki" Katanya sembari mengulurkan tangannya lembut. Aku menerimanya ragu. Apakah benar sekarang Aku bisa kembali ?. Pertanyaan itu terus memenuhi pikiranku. Tapi Pangeran Sera tidak mungkin berbohong.
Pangeran menuntunku untuk berjalan melewati simbol. "Jangan sampai ada yang terhapus, Perhatikan langkahmu" Perintah Pangeran tegas. Aku menunduk untuk melihat setiap langkahku. Aku dituntun untuk berada di pusat simbol.
"Mohon maaf Pangeran Saya harap Pangeran segera mundur, Saya akan segera memulai" perintah Pendeta Naru gusar. "Jika tidak, Pangeran bisa ikut terbawa ke dunia lain. Saya tidak bisa mengembalikannya sewaktu-waktu. Saya harap Pangeran mengerti"
"Apapun yang terjadi, Jangan bergerak dari sini sebelum diperintahkan. Jika tidak, Kau bisa terbawa ke dunia lain, Dunia yang bukan jadi tujuanmu" Bisik Pangeran "Naru tidak akan bisa mengembalikanmu secepatnya jika sampai terjadi kesalahan". Dia menggengam tanganku kuat, Seolah tidak rela Aku pergi. Sorot matanya tampak sedih. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku harus pergi dari sini. Aku harus menyelamatkan diriku dari kehancuran didalam diriku yang mengerogoti pikiran. Aku tidak tahu sampai kapan Aku bisa mempertahankan kewarasan ini jika terus berada disini.
"Baiklah, Aku paham" Kataku akhirnya.
"Pangeran, Saya akan segera memulainya atau kita tidak akan bisa melakukannya sama sekali. Saya mohon Pangeran segera menyingkir" Pinta Pendeta Naru lagi kali ini dengan nada mendesak.
Aku mendongak, Berjinjit untuk mencium pipi Pangeran Sera. "Terimakasih" Bisikku lagi dengan tulus. Pangeran menunduk menerima ciumanku.
Tanpanya Aku tidak mungkin akan bertahan sampai sekarang. Bisa jadi, Jika Dia tidak menemukanku di pondok mawar, Aku sudah gila dan malah mati membeku disana dalam usahaku menyelamatkan mawar-mawar milik Bangsawan Dalto. Kebaikan hatinya ini, Tidak akan kulupakan untuk seumur hidup. Aku tahu Aku terlalu egois sekarang ini. Aku hanya mementingkan perasaanku tanpa peduli dengan sekitarku. Pasti tidak menyenangkan bagi Pangeran Sera mengembalikanku, Mengingat Aku adalah tunangannya. Dia seharusnya kecewa melihatku yang sekarang, Meratapi nasib karena pria lain. Mengacuhkan cintanya hanya untuk dapat kembali ke dunianya. Untuk memulihkan diri dari pria lain. Aku tidak tahu dari mana hatinya itu dibuat. Dia bisa sangat sabar menghadapiku. Seolah apa yang Ku lakukan ini adalah hal yang wajar. Dia tidak mempermasalahkan bahwa Pangeran Riana telah meniduriku. Dia tidak mempermasalahkan jika sekarang hatiku bukan padanya. Jika bukan Pangeran Sera, Pasti, semenjak awal Dia tahu hubunganku dengan Pangeran Riana, Dia sudah akan membuangku,jangankan melihat wajahku dia bahkan tidak akan mau lagi mengenalku.
__ADS_1
Apakah mama sudah mengetahui hal ini akan terjadi dari awal, sehingga Dia menyetujui pertunangan ini ?. Aku menemukan banyak kebaikan dari dalam dirinya. Cintanya tidak main-main. Dia seperti oase di padang pasir. Selalu memberiku kedamaian disaat yang tepat, membuatku selalu merasa berarti ketika Aku merasa diriku tidak berguna. Dia tidak berpaling meskipun Aku tidak memandangnya. Mampu meredam segala kesedihan dan emosi negatif yang berada di dalam hatiku. Andaikan Aku lebih dulu bertemu dengannya, Aku pasti akan jatuh cinta padanya.
"Pergilah dan damaikan hatimu, jika sudah saatnya tiba Aku akan membawamu kembali."
Pangeran menutup bibirku yang akan memprotesnya. "Kau adalah tunanganku, Suka tidak suka Kau harus kembali kemari untukku. Tolong mengertilah Yuki"
Aku mengatupkan bibirku rapat. Tidak berani membantah ataupun memberikan janji-janji padanya. Aku tidak ingin kembali. Tidak sekarang atau waktu nanti. Aku hanya ingin hidup kembali menjadi gadis normal yang selama 15 tahun ini sudah kujalani. Melupakan semua hal yang terjadi dan menganggapnya hanya sebagai bunga mimpi di tidurku. Tapi lebih baik Aku tidak membantahnya sekarang atau Dia akan berubah pikiran dan tidak akan membantuku kembali ke duniaku lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana jika Dia sampai berubah pikiran. Aku tidak bisa membayangkannya.
"Pangeran, Harap segera menyingkir dari simbol itu" Pendeta Naru kembali memperingatkan dengan nada yang lebih tegas. Kekhawatiran tampak jelas dari raut wajahnya. Dia tampak tegang. Pangeran Sera melepaskan tanganku perlahan. Berbalik dan secara berhati-hati melewati simbol.
Setelah sampai di luar simbol, Dia terus berdiri menatapku dengan pandangan yang sama. Ada kesedihan dalam matanya yang dicoba disembunyikan. Apakah Dia tahu Aku tidak berniat kembali ?. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalaku. Pendeta Naru memulai ritualnya. Dia menggumankan mantera-mantera dengan cepat. Suaranya terdengar bagaikan dengungan lebah yang mengelilingi sarangnya. Matanya terpejam tenang dengan kedua tangan dikatupkan rapat setinggi dada. Jantungku berdebar dengan kencang menyaksikan semuanya. Hatiku mengatakan untuk lari tapi otakku melarangnya. Pangeran sudah memperingatkanku untuk tidak bergerak sembarangan dan merusak simbol. Akan fatal akibatnya. Aku bisa terdampar di dimensi lain dan mereka tidak akan bisa membawaku secepat ini. Aku terus menguatkan hati agar tidak kabur dan mengacaukan segalanya yang telah diperjuangan Pangeran Sera untukku. Jika Kerajaan Garduete mengetahui hal ini, Dia akan berada dalam posisi yang sulit.
Naru membuka matanya tiba-tiba setelah meneriakkan manteranya kencang. Dia kemudian menyabut kendi dari emas. Menuangkan air didalamnya ke bubuk yang telah disebarkan Pangeran Sera diatas simbol. Secara ajaib, Api muncul dan langsung membakar membentuk simbol.
"Tetap tenang dan fokus Yuki" Kata Pangeran Sera dari tempatnya ketika menyadari kepanikanku. Aku teringat pengalaman buruk ketika berada di kuil iblis tersebut. Bayangan saat kejadianya membuat akal sehatku nyaris hilang. Aku yakin jika Pangeran tidak meneriakiku Aku pasti sudah berlari pergi.
"Tidak apa-apa, Kau akan baik-baik saja"
Pangeran benar. Tak berapa lama, Api tersebut menjilat membentuk simbol dan kemudian secara mengejutkan berubah menjadi pecahan cahaya keemasan. Mirip kunang kunang yang terbang di sekitarku.
Saat Aku terbengong menyaksikan perubahan ini, Pintu dibuka dengan keras. Suara nya membuatku terperanjat. Pangeran Riana masuk dengan wajah yang sukar kulukiskan. Dia sangat marah. Prajurit Pangeran Sera berkumpul berusaha menahan Dia.
"Yuki...kembali" Perintahnya kencang. "Keluar dari simbol itu sekarang juga" Katanya lagi ketika melihatku tidak beranjak dari tempatku sedikitpun. Aku hanya memandanginya dengan penuh ketakutan.
Pangeran Riana terus memberontak berusaha melepaskan cengkraman lima orang prajurit yang menahannya. Sementara itu kunang kunang mulai berkumpul secara perlahan. membentuk sesuatu yang abstrak di depanku.
"Yukiii....Keluar sekarang juga.." Perintah Pangeran Riana garang membuat nyaliku ciut.
Aku mengepalkan kedua tanganku di dada. mencoba mengumpulkan kembali semua tekad dan keberanianku yang porak poranda.
Pangeran Riana terus berusaha memberontak sementara para Prajurit terus berusaha menahannya.
"Lepaskan Aku...Yukiiii"
Berbeda dengan Pangeran Riana, Pangeran Sera tampak tenang. Dia terus berdiri menatapku seolah Pangeran Riana tidak ada di sana. "Tetap fokus Yuki...Jangan terpengaruh oleh apapun" perintah Pangeran Sera tidak kalah tegas. Aku memandangi Pangeran Sera dan Pangeran Riana bergantian. Hatiku sedikit goyah. Aku mengkhawatirkan Pangeran Sera, Jika begini Dia akan mendapat masalah serius. "Yuki..." Panggil Pangeran Sera lembut membuatku tersentak. Dia menatapku lurus. Senyum lembut terukir di bibirnya. Aku seolah melihatnya bagai malaikat. Penuh cahaya.
"Tidak apa-apa, Semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas" Pangeran Sera tetap lurus menatapku. "Pergilah...tenangkan hatimu...".
Pintu dari cahaya kunang-kunang sudah terbentuk sempurna. kabut tebal berada di pintu itu. Aku tidak dapat melihat apapun dibaliknya. "Sudah waktunya, Putri cepat masuk Aku tidak dapat menahannya terlalu lama" Perintah Pendeta Naru dengan suara kencang..
"Yukii kembali..."
Pasukan Pangeran Riana bersama Bangsawan Xasfir muncul. "Putri Yuki..." Panggil Bangsawan Xasfir terkejut. Para prajurit Pangeran Riana menyerang Prajurit Pangeran Sera.
"Cepat Yuki..." Perintah Pangeran Sera.
Aku menatapnya untuk terakhir kali. Entah apa nanti Aku akan bisa melihatnya kembali atau tidak. Namun Aku tidak akan melupakan kebaikannya hari ini. Aku menganggukan kepala, memberi kode ucapan berterimakasih sekaligus berpamitan kepada Pangeran Sera. dengan langkah mantap Aku melangkahkan Kaki memasuki pintu kunang-kunang. Rasanya seperti menembus lapisan plastik yang direntangkan kuat ke segala sisi. Aku merasa kulitku tertarik kesana kemari.
"Yukiii " Aku masih sempat mendengar raungan marah Pangeran Riana sebelum akhirnya jatuh ke dalam lubang tak berdasar. Rasa pusing dan mual langsung menghantamku. Aku memejamkan mata, menahan rasa yang seolah mengaduk perutku.
Aku kembali pulang....
Melupakan semua yang kutinggalkan di sana. Memang, walau di sana duniaku namun Aku merasa bukan duniaku. Akan kusimpan rapat kenangan itu dalam ingatanku.
Aku terus melayang. Menembus dimensi yang tak berujung.
__ADS_1