
"Elber, apakah Kau yakin Aku harus mengenakan pakaian ini ?" Ujar Yuki kembali untuk kesekian kalinya. Elber memutar bola matanya. Yuki mengigit bibirnya cemas. Dia tidak percaya diri dengan penampilannya. "Tidakkah Kau merasa pakaianku ini terlalu terbuka ?"
Yuki menyesal Dia tidak menyimpan pakaian Menari di sekolah.
"Memang Kau pikir Pakaian Menari itu seperti apa. Coba Kau lihat Norah, Dia lebih berani darimu" tegur Elber dengan tegas.
"Kau yakin tidak punya pakaian yang lebih tertutup ?" desak Yuki lagi tidak puas.
Nyonya Hazel selaku guru menari sudah memasuki panggung menyusul Putri Norah. Dia yang akan menjadi juri yang mengawasi jalannya pertandingan. Yuki sama sekali tidak menyangka pertaruhan kecil yang dia buat akan menjadi seperti ini.
Dia mengutuk Putri Norah dalam hati karena terlalu membesarkan masalah.
"Berhenti Merengek, Sekarang giliranmu tampil" Elber menarik paksa kain yang menutupi Yuki. Yuki mencoba untuk melawan tetapi Elber sudah lebih dulu menyentakan kain ditangannya kuat hingga lepas dari pegangan Yuki. "Hentikan bersikap seperti anak kecil. Keluarlah dengan berani seperti seorang ksatria"
Tanpa tendeng aling-aling Yuki didorong hingga keluar Area. Dia nyaris terjatuh jika tidak berpegangan pada tirai panggung.
"Elber !!" Protes Yuki setengah berbisik.
"Maaf-maaf" Elber meringis sembari mengatupkan kedua tangannya ke depan.
Sorak-sorai terdengar kencang sehingga membuat panggung seolah bergetar. Yuki berjalan dengan canggung mendekati Nyonya Hazel. Putri Norah memandang penampilan Yuki, jelas merendahkannya.
Yuki mengatupkan kedua tangan ke depan berusaha menutupi tubuhnya. Dia sangat tidak nyaman mengenakan ini.
"Aku sudah mempersiapkan seratus ekor kambing di lapangan tengah khusus untukmu. Apa Kau sudah siap mencium Mereka ?" ujar Putri Norah dengan gaya angkuh. Dia sangat percaya diri dalam memenangkan pertandingan yang akan Mereka lakukan.
"Bagaimana dengan dirimu ?. Apa Kau sudah siap kalah ?" Tanya Yuki balik.
"Kita lihat saja nanti siapa yang jadi pecundang"
Nyonya Hazel.membagikan sepasang kipas kepada Yuki dan Putri Norah.
Yuki melihat ke sekeliling, Dia mencari sosok Bangsawan Dalto di antara penonton yang hadir. Yuki sengaja menghindari bangku tempat Pangeran Riana duduk. Dia tidak mau mentalnya semakin ambruk karena melihat kemarahan Pangeran Riana.
Dia akan menghadapinya nanti.
Yuki kecewa saat tidak melihat Bangsawan Dalto. Dia masih sakit hati mendapat perlakuan yang dingin dari sahabatnya itu. Yuki sangat ingin Bangsawan Dalto tahu bahwa, meski sekarang ini Dia adalah wanita Pangeran Riana, Tapi Dia tetaplah Yuki yang sama. Tidak ada yang berubah. Yuki tetap temannya. Dan Yuki juga selalu peduli padanya.
__ADS_1
"Penilaian akan dihitung dari total nilai kalian baik dari penampilan, keluwesan dan cara kalian menjiwai tarian. Tetapi jika salah satu dari kalian menjatuhkan kipas, kalian akan otomatis kalah" jelas Nyonya Hazel pada keduanya.
Nyonya Hazel memandang Yuki dan Putri Norah bergantian.
"Apa kalian sudah siap ?"
Mereka menganggukan kepala.
Nyonya Hazel berjalan ke samping memberi keduanya ruang untuk bergerak. Sorak-sorak terdengar nyaring. Antusiasme penonton terasa sampai ke luar ruangan.
Mereka baru berhenti ketika Nyonya Hazel memberikan aba-aba pertandingan akan di mulai. Semuanya diam menunggu.
Tepat ketika musik dimainkan, pintu masuk terbuka. Yuki refleks berpaling dan pada akhirnya Dia menemukan apa yang di cari.
Bangsawan Dalto.memasuki ruangan, Dia langsung bersembunyi di tempat tergelap. Namun Yuki masih bisa merasakan tatapannya yang menuju ke arahnya.
Ketegangan menguar. Yuki merasa lega. Harapan untuk memperbaiki hubungan Mereka masih ada, setidaknya Bangsawan Dalto masih peduli padanya.
Sementara itu para penonton menyoraki Yuki yang hanya diam mematung di tengah panggung.
Bongkahan kayu itu mengenai siku Yuki. Membuat Yuki tersadar dari lamunannya. Dia refleks mengelus sikunya.
Putri Norah telah menari dengan luwes.
Tarian yang dipilih Putri Norah untuk bertanding sangat sulit. Tidak semua Putri bisa menarikannya. Kontrol yang tepat antara gerakan kaki, kesesuaian irama tubuh, lenggokkan badan dan putaran kipas sangat diperlukan. Butuh waktu yang sangat lama untuk mempelajarinya.
Putri Norah tersenyum lebar memperlihatkan kemenangannya.
Yuki menghela nafas...Dia mengangkat kipasnya, kemudian...
Mengembangkan kipasnya, menari mengimbangi gerakan Putri Norah.
Sorak penonton terdengar. Putri Norah terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Yuki menguasai tarian ini dengan baik. Gerakannya terarah dan kuat. Dia menari tanpa keraguan.
Yuki menguasai tarian ini semenjak Dia berusia sepuluh tahun.
Ibunya memang penari yang buruk. Putri Ransah menyadari itu. Tapi Bibi Sheira penari berbakat. Karenanya, Dia menugaskan secara khusus Bibi Sheira untuk melatih Yuki semenjak kecil. Yuki juga diwajibkan ikut sanggar tari dengan disiplin ketat.
__ADS_1
Yuki sekarang menyadari tujuan ibunya, demi hari ini. Jika ada yang mengejek Yuki karena ibunya penari yang buruk. Yuki mampu membuktikan bahwa keturunan Putri Ransah bisa menari dengan baik.
Putri Norah yang kehilangan fokus karena Yuki akhirnya menjatuhkan kipasnya. Dia otomatis kalah. Teriakan "Huuuu" terdengar dari bangku penonton membuat panas telinganya.
Ditambah, Yuki dengan sengaja mengambil kipas Putri Norah yang terjatuh di dekatnya sembari menari. Dia kini menari dengan tiga kipas di tangannya. Para penonton berdecak kagum. Tepuk tangan nyaring terdengar.
Yuki melenggak-lenggokkan tubuhnya dengan terampil. Memutar kipas di kedua tangan. Bagaikan merak Jantan yang menebarkan pesona kepada merak betina.
Bangsawan Voldermont sampai melongo saat melihat Yuki. Ketika tanpa sengaja keduanya bertatapan mata, Yuki dengan sengaja mengedipkan matanya dengan genit ke arahnya, membuat Bangsawan Voldermont terkekeh.
Bangsawaan Voldermont tidak menyangka kucing kecil yang galak itu, bisa begitu menawan di atas panggung.
Musik berakhir.
Tubuh Yuki sudah penuh keringat. Tepuk tangan membahana ketika Yuki mengakhiri tarian dengan baik. Elber berlari keluar dan langsung memeluk Yuki dengan senang. Tawanya pecah. "Kau hebat, Aku tidak menyangka Kau bisa menari sebagus itu"
"Sudah kubilang kan, percaya padaku" kata Yuki sembari mengedipkan mata. Elber membalas kedipan mata Yuki. Dia tampak puas dengan hasil akhirnya.
Namun senyum Yuki menghilang dengan cepat saat Dia menyadari, Bangsawan Dalto sudah tidak ada di tempat. Dia sudah menghilang.
Yuki menghela nafas. Pasrah. Dia harus berjuang untuk mengembalikan kepercayaan temannya itu.
Yuki mengambil kain di tangan Elber dan menggunakannya untuk membungkus tubuhnya. Kemudian Dia berbalik dan menghampiri Putri Norah yang melotot penuh amarah di tempatnya. Dia merasa sangat dipermalukan, kebencian pada Yuki semakin besar.
"Kau ingat janjimu ?" Tanya Yuki lembut. Namun itu malah membuat Putri Norah merasa Yuki sedang mengejeknya.
Jadi Dia tidak menjawab dan sengaja menyenggol Yuki dengan bahunya saat Dia berjalan menuruni panggung.
Ada Baginda Raja Bardhana dan Pangeran Riana. Dia tidak akan menang jika melawan Yuki sekarang. Tapi pasti Dia akan membalas apa yang dilakukan Yuki hari ini berkali lipat.
"Dia sudah kalah masih saja angkuh" maki Elber di dekat Yuki. Yuki tidak mau membalas perkataan Elber. Nyonya Hazel menghampiri Yuki. Yuki menundukan kepala memberi hormat.
"Pertunjukan yang sangat bagus Putri, dengan bakat yang Kau miliki, Aku heran kenapa Kau tidak pernah menunjukan sebelumnya ?" Tanya Nyonya Hazel tanpa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Aku tidak suka menari" jawab Yuki singkat. Dia sedang tidak ingin bertele-tele menjadi murid baik. Ada masalah besar menunggunya setelah ini, jadi Dia tidak mau menghabiskan energi yang tidak perlu pada yang lain.
__ADS_1