Morning Dew

Morning Dew
190


__ADS_3

"Riana.." Putri Marsha muncul ketika Yuki dan Pangeran Riana sama-sama terdiam. "Aku sudah mempersiapkan makan malam untuk Kita"


"Kau sudah di tunggu" Yuki berusaha melepaskan cekalan Pangeran Riana. Namun Pangeran Riana menolak dan malah mempererat genggamannya.


"Pergilah Marsha. Aku sudah katakan, Aku tidak ikut makan malam dengan Kalian" Kata Pangeran Riana tegas sembari menarik Yuki mendekatinya. "Aku akan makan malam dengan Yuki"


Tanpa menunggu jawaban dari Putri Marsha, Pangeran Riana sudah menarik Yuki untuk mengikutinya kembali ke kamar.


 


Musim semi mulai terlihat. Salju perlahan mulai memudar. Warna kehidupan sedikit demi sedikit mulai menampakan diri. Menggantikan warna keperakan yang sekian lama menyelimuti bumi. Tapi meski begitu, hawa dingin masih sangat terasa hingga menusuk tulang.


Yuki bangun sangat pagi. Pangeran Riana masih tidur di sampingnya dengan tangan memeluk Yuki. Dengan berhati-hati Yuki memindahkan tangan Pangeran Riana dari atas tubuhnya. Beringsut perlahan turun dari tempat tidur. Yuki mengenakan alas kaki yang cukup hangat. Berjalan menuju laci tempat di mana Dia menyimpan kotak obat. 


Yuki mengambil alat tes kehamilan di dalamnya. Dia sudah terlambat lebih dari dua minggu.


Yuki melirik ke arah Pangeran Riana yang masih tertidur di atas ranjang. Berjalan sepelan mungkin, berusaha tidak menimbulkan suara. Agar Pangeran Riana tidak bangun dan mempertanyakan apa yang sedang di lakukan Yuki.


Yuki berharap Pangeran Riana tidak mengerti dan bisa membaca tulisan di alat test kehamilan yang di bawanya.


Dia pun masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menutup pintu dari dalam.


Yuki membuka bungkus alat test kehamilan. Membaca petunjuknya dengan seksama. Kemudian menampung air seninya di sebuah wadah kecil.


Jantung Yuki berdebar cukup kencang. Apa yang akan di lakukannya jika benar hamil. Usianya baru menginjak delapan belas tahun dan Dia belum menikah.


Perlahan, Yuki mencelupkan alat test ke wadah berisi air seni. Menghitung dalam hati.


Dia menatap garis merah samar pertama yang muncul perlahan, dan menjadi tegas. Kemudian dengan cepat garis kedua muncul. Membuat jantung Yuki seakan meloncat.


Dua garis merah.


Yuki jatuh terduduk sambil memegangi perutnya. 

__ADS_1


Hamil.


Yuki hamil. Anak dalam perutnya adalah anak Pangeran Riana. Apa yang harus Dia lakukan sekarang.


Terdengar suara ketikan pintu. Membuat Yuki terlonjak kaget. Dia segera membereskan alat test dan membuangnya di kotak sampah yang ada di dekatnya. Setelah memastikan tidak ada yang mencurigakan. Yuki bangun dan menuju pintu kamar mandi. "Sebentar" teriak Yuki ketika terdengar ketukan lagi dengan nada tidak sabar.


Begitu pintu terbuka. Pangeran Riana sudah berdiri di depan Yuki dengan tatapan menyelidik.


"Apa yang Kau lakukan di pagi buta begini ?" Tanya Pangeran Riana akhirnya.


"Aku..Aku hanya buang air" Kata Yuki tergagap.


"Selama ini ?" Tanya Pangeran Riana tidak yakin. Dia melirik ke dalam mencari sesuatu yang mencurigakan.


Yuki jadi bertanya dalam hati. Apakah Pangeran Riana tadi hanya berpura-pura tidur dan mengawasinya.


"Perutku terasa tidak enak" kata Yuki lagi beralasan.


Yuki keluar kamar mandi dan berjalan kembali ke tempat tidur. "Aku akan kembali tidur".


Pangeran Riana cukup lama di kamar mandi. Dia masih mencurigai gelagat aneh Yuki. Setelah beberapa saat Dia baru kembali dan tidur di samping Yuki.


Pagi hari, Yuki terbangun dan mendapati Pangeran Riana sudah rapi. Pangeran Riana duduk di tengah ruangan, dengan meminum teh yang di sediakan pelayan.


"Aku mau bertanya padamu ?' tanya Pangeran Riana ketika melihat Yuki turun dari tempat tidur.


"Ada apa ?"


"Apa ini ?" Pangeran Riana mengetuk meja di depannya. Ada alat test kehamilan Yuki di letakkan di atas nampan.  Yuki bersyukur, ternyata Pangeran Riana tidak mengetahui kegunaan alat itu.


"Aku sedang tidak enak badan. Di dunia sana, alat itu berfungsi untuk membantu melihat kondisi tubuh Kita" kata Yuki berbohong.


"Jika Kau tidak enak badan, Aku akan meminta tabib untuk memeriksamu"

__ADS_1


"Tidak perluh, Udara cukup dingin, Aku hanya tidak tahan cuacanya saja" tolak Yuki cepat. "Kenapa Pangeran masih berada di dalam kamar sepagi ini ?" Ujar Yuki lagi berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Biasanya Pangeran Riana sudah pergi meninggalkan kamar dan pulang malam hari. Yuki hanya melihat sosoknya dari jendela di dalam kamar. Selalu ada Putri Marsha yang mengikuti Pangeran Riana kemanapun Dia pergi.


"Sepertinya Kau jauh lebih bahagia jika tidak melihatku" sindir Pangeran Riana sinis.


Yuki diam, tidak ingin berdebat dengan Pangeran Riana. Pangeran Riana meletakan cangkir tehnya ke atas meja. "Bersiaplah, Kita akan makan bersama dengan yang lain di taman"


Setelah berkata seperti itu, Pangeran Riana pergi menuju meja kerjanya.


 


Makan pagi di mulai. Pangeran Riana mengajak Yuki makan bersama teman-temannya dan Putri Marsha. Duduk di sebuah meja melingkar. Pangeran Riana duduk di ampit oleh Yuki di sebelah kanannya dan Putri Marsha di sebelah kirinya. Sementara di sisi lain Yuki ada Bangsawan Voldermont.


Bagi Yuki rasanya sungguh menyiksa. Selain Dia harus menahan rasa mual akibat aroma masakan yang di ciumnya. Dia juga harus menahan perasaan karena melihat kedekatan Pangeran Riana dan Putri Marsha secara langsung dalam jarak dekat.


Tanpa sungkan Putri Marsha mengambilkan lauk untuk Pangeran Riana. Dia juga berani mengusap.ramhut Pangeran Riana dan menyelipkan ke telinganya. Putri Marsha tidak menganggap keberadaan Yuki dan bersikap Dia adalah nyonya rumah di istana Pangeran Riana.


Yuki memindahkan udang bakar yang masih mengepul asapnya, yang baru saja di letakan pelayan di depannya ke tempat Bangsawan Voldermont. Baunya membuat perut Yuki seolah di aduk dengan cepat.


"Bukankah Kau sangat suka makanan laut ?" Tanya Pangeran Riana. Yuki tidak sadar bahwa Pangeran Riana ternyata memperhatikannya. 


"Aku sedang tidak ingin memakannya" jawab Yuki pelan.


Pangeran Riana mengulurkan tangan untuk mengiris daging di depannya dan memberikan ke piring Yuki. "Apa Kau masih tidak enak badan ?"


"Udara dingin seperti sekarang selalu membuat kondisi tubuhku tidak begitu baik"


Yuki mengulurkan tangan, mengambil potongan buah mangga di depannya. Tadi pagi Dia sengaja meminta pelayan untuk menyajikan buah mangga yang masih belum begitu matang di atas meja. Tapi Yuki tidak menyangka Mereka menyajikan juga di meja makan. 


"Wajahmu pucat. Aku rasa Kau harus banyak beristirahat" ujar Bangsawan Voldermont menimpali. Dia ikut menusuk buah mangga dengan garpunya.


Yuki mendesah, Dia tidak habis pikir kenapa hari ini semua orang sangat memperhatikan kesehatannya. Yuki harus berhati-hati jangan sampai kehamilannya di ketahui orang. Yuki belum siap memberitahu Pangeran Riana. Apalagi ada Putri Marsha di sisinya.


Yuki tidak mau menjadi orang ketiga atau perusak hubungan orang lain.

__ADS_1


Dia sadar, keberadaannya di sisi Pangeran Riana tidak lebih karena Yuki hanya calon Ratu negeri Garduete saja.


__ADS_2