
Pangeran Riana tidur, tapi Dia terlihat tidak nyaman. Yuki menyadarinya dan bergegas menghampiri Pangeran Riana. Saat Yuki menyentuh dahinya Dia terkejut.
Panas sekali.
Yuki menyentuh pipi dan tangan Pangeran Riana untuk memastikan.
Pangeran Riana membuka mata dengan susah payah ketika menyadari seseorang sedang memeriksanya. Awalnya samar, namun kemudian Dia bisa melihat dengan jelas.
"Yuki" panggilnya lirih.
"Tidak apa-apa, Aku bisa menanganinya" kata Yuki lebih kepada diri sendiri. Keputusannya untuk nekat masuk ke kamar Pangeran Riana tepat. Jika Dia panas seperti ini dan tidak ada seorangpun disampingnya, akan berbahaya.
Yuki berdiri sambil menggulung rambutnya sedemikian rupa dan kemudian menjepitnya. Dia menemukan baskom perak, tanpa pikir panjang Dia langsung mengisinya dengan air untuk mengkompres Pangeran Riana.
"Ini minumlah, ini untuk meredakan demam mu" ujar Yuki menyodorkan obat yang berada di dalam keranjang.
Pangeran Riana mengambilnya, dan meminumnya. Tapi, tak lama Dia langsung memutahkan obat itu kembali.
Yuki melihat ke jendela yang terbuka, hari sudah larut malam. Dia tidak yakin ada orang di sekitar sini yang akan membantunya. Yuki menguatkan diri agar tidak panik. Dia harus tenang dan mengingat semua ajaran Phil untuk penanganan pasien.
Dan lagi, Pangeran Riana melarang Para Pelayan masuk mungkin agar tidak ada yang melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Bagaimanapun Pangeran Riana harus meminum obatnya jika tidak demamnya tidak akan turun. Yuki tidak tahu bagaimana Dia mendapatkan keberaniannya, Dia mengambil obat lagi, memasukkannya ke mulutnya bersama seteguk air. Kemudian mendekatkan wajahnya pada Pangeran Riana, Dengan kedua tangannya Dia membuka mulut Pangeran Riana.
Yuki memasukkan obat ke mulut Pangeran Riana dengan menggunakan mulutnya. Yuki tidak menjauh sampai Dia yakin Pangeran Riana telah meminum semua obatnya. Ketika Dia sudah yakin, Yuki segera menjauhkan dirinya.
Dia memeras kain di dalam baskom, dengan cekatan membantu membuka Pakaian Pangeran Riana. Mengelap wajah dan tubuhnya agar demamnya cepat turun. Sisa malam digunakan Yuki untuk berjaga, mengawasi Pangeran Riana. Dia khawatir jika Pangeran Riana kembali demam.
Yuki baru bernafas lega ketika suhu tubuh Pangeran Riana kembali normal. Hari sudah hampir pagi saat itu. Sinar kemerahan menghiasi langit. Yuki menguap lebar, Sebentar lagi pelayan pasti akan datang. Dia bisa tidur sampai Mereka datang.
__ADS_1
Yuki berjalan ke sofa panjang yang ada di tengah ruangan dan langsung merebahkan tubuhnya. Tidak butuh waktu lama, Dia langsung tertidur pulas.
Pangeran Riana terbangun ketika terdengar ketukan di pintu. Dia melirik sofa di sampingnya, Yuki tidak ada di sana. Gadis itu sudah pergi.
Pangeran berdiri, Dia merasa kecewa karena mengira Yuki akan menemaninya sampai Dia bangun. Setidaknya Dia bisa memberikan sedikit perhatian seperti yang selama ini ditujukan pada orang lain. Bukankah Mereka berdua akan hidup bersama selamanya ?.
Sudut mata Pangeran Riana menangkap gerakan di sofa. Dia menemukan gadis itu.
Pangeran Riana mematung sesaat tidak mempercayai penglihatannya. Dia melangkah menghampiri gadis itu perlahan agar tidak membangunkannya.
Pangeran Riana merasa Voldermont benar ketika menyamakan Yuki dengan seekor kucing. Gadis itu meringkuk dengan nyamannya di sofa.
Pangeran Riana berjongkok di depan Yuki. Menyibakkan rambut yang menutupi wajah Yuki. Wajah cantik di depannya tidur dengan wajah polos dengan senyum tipis di bibir.
Dia sangat cantik.
Tapi Pangeran Riana tidak akan mau mengakuinya pada siapapun, bahkan termasuk kepada sepupunya, Bangsawan Voldermont. Saat Bangsawan Voldermont bertanya bagaimana penampilan Yuki setelah didandani pelayan istana ketika akan menemaninya ke jamuan sekolah baru-baru ini, Dia menjawab tidak ada yang berubah, sama seperti biasa.
Yuki mengkerut kan alis sedikit ketika sentuhan tangan Pangeran Riana di pipinya. Pangeran sontak langsung menghentikan gerakannya. Dia tidak ingin membangunkan Yuki.
Terdengar ketukan pintu lagi.
Setelah mendapat izin dari Pangeran Riana, para pelayan membuka pintu dan masuk ke dalam. Mereka terkejut ketika melihat Pangeran Riana berjongkok di depan Yuki yang sedang tidur.
Mereka sudah melayani Pangeran Riana cukup lama, bahkan pelayan tua yang saat ini memimpin rombongan adalah pelayan yang ditugaskan ibu suri untuk melayani Pangeran Riana saat Pangeran Riana berusia tujuh tahun. Jelas, Mereka mengenal watak Pangeran Riana dengan baik.
Pemandangan kali ini bukanlah hal biasa. Kepala pelayan sudah terlatih, Dia segera menyembunyikan keterkejutannya dengan baik.
"Kami datang untuk melayani Pangeran" jelas kepala pelayan itu dengan hormat. Pangeran Riana tidak menjawab. Dia justru berdiri dan membungkuk ke depan. Dalam sekejap Yuki sudah berpindah dalam gendongannya.
__ADS_1
Dengan cepat kepala pelayan memasang wajah ganas kepada gadis-gadis pelayan yang mengikutinya agar bersikap sopan dan tidak membuat keributan. Para pelayan muda menundukkan kepala. Mereka ingin segera menyelesaikan tugas dan bebas bergosip mengenai apa yang dilihat.
Pangeran Riana meletakkan Yuki dengan hati-hati ke atas tempat tidurnya kemudian menyelimutinya.
"Jangan bangunkan Dia" perintah Pangeran Riana tegas sebelum Dia melangkah menuju ruang mandi. Kepala Pelayan menundukkan kepala membalas perintah Pangeran Riana dengan sopan.
Ibu Suri memerintahkannya untuk melihat hubungan Pangeran Riana dengan Putri Yuki karena mengkhawatirkan Mereka berdua. Tapi ketika melihat kejadian barusan, sepertinya Ibu Suri dapat bernafas lega. Pangeran Riana memperlakukan Putri Yuki dengan baik.
Yuki terbangun, Dia mendengar suara orang bercakap dari kejauhan, Yuki mengenali salah satunya sebagai suara Pangeran Riana.
Apa Dia sudah bangun ? Jam berapa ini ?
Dengan malas, Dia meregangkan badannya dan berguling ke samping. Yuki langsung membuka mata, merasa ada yang aneh. Seharusnya Dia terjatuh dengan gerakan yang dilakukannya, lagipula Sofa yang ditidurinya terlalu nyaman untuk ukuran sofa. Dia melihat ke sekeliling, Dia masih di kamar Pangeran Riana, tapi sudah tidak lagi tidur di sofa. Yuki terkejut mendapati dirinya berada di atas ranjang Pangeran Riana, sontak Dia duduk dan mengecek pakaiannya.
Tidak terjadi apa-apa. Pakaiannya masih rapi. Yuki bernafas lega. Dia tidak seharusnya berburuk sangka pada Pangeran Riana, bukankah Dia sedang terluka dan Yuki merawatnya. Pangeran Riana tidak mungkin membalas kebaikannya dengan menyerangnya sewaktu tidur.
Dia tertidur sangat lelap sampai tidak sadar telah dipindahkan ke atas ranjang.
Matahari sudah beranjak tinggi.
Yuki turun dari ranjang, tidak ada seorangpun di dalam kamar. Suara Pangeran Riana berasal dari ruang kerjanya. Dia merapikan tempat tidur. Setelah itu berjalan menuju ruang kerja Pangeran Riana. Yuki mengurungkan niatnya untuk mencuci muka dan menggunakan kamar mandi di ruangan Pangeran Riana. Dia lebih baik kembali saja ke kamar "penjaranya" jika ingin menggunakan kamar mandi.
Yuki membuka pintu dan segera menemukan alasan untuk menyesali keputusannya untuk memilih tidak menggunakan Kamar mandi di kamar Pangeran Riana dan malah kembali ke kamarnya.
Pangeran tidak bersama dengan Teman-teman Bangsawannya seperti yang di sangka Yuki. Dia sedang berbicara dengan dua orang Menteri yang cukup berumur. Dari caranya berbicara jelas Pangeran Riana sangat menghormati Mereka.
Dua orang Menteri itu memandang Yuki dari atas ke bawah dengan tatapan aneh.
Tentu saja, seorang gadis keluar dari Kamar Pangeran Riana dengan pakaian tidur dan rambut acak-acakan, akan menimbulkan dugaan yang tidak baik.
__ADS_1
Yuki mengerjap kebingungan. Dia ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri, tapi mulutnya terasa kaku. Jadi Dia hanya berdiri mematung di tempatnya.