Morning Dew

Morning Dew
78


__ADS_3

"Siapa namamu ?" Tanya Pangeran Sera lagi.


"Namaku Bernades tuan" Ujar Bernades dengan sopan, Dia tidak tahu di depannya adalah seorang Pangeran dari kerajaan besar. Tapi dari cara bicaranya, Bernades dapat menebak Dia adalah golongan kaum terpelajar dan seorang Bangsawan. 


Dia tidak merasa curiga sama sekali dengan Pangeran Sera dan Yuki. Banyak Bangsawan senang menyamar pergi ke kota agar tidak terlihat mencolok. Bernades hanya berpikir Mereka berdua adalah salah satunya.


Pangeran Sera mengeluarkan lagi kantong dari saku bajunya dan memberikan seluruh isi kantong itu pada Bernades. Bernades menerima dengan kebingungan. "Berikan ini untuk anak dan istrimu. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan" 


"Tapi Tuan, Saya tidak bisa menerima semua ini" tolak Bernades cepat.


"Kenapa ?" Tanya Pangeran Sera tidak mengerti.


"Walaupun Saya adalah orang tidak punya, tapi Saya Pantang meminta-minta untuk menghidupi anak istri" 


Yuki salut mendengar ketegasan yang di berikan Bernades. Jarang ada orang yang memiliki prinsip seperti Dia.


Bernades membawa keluarganya ke tepi sungai hari ini untuk menghindari Retenir yang datang menagih hutang. Beberapa bulan lalu mertuanya sakit keras, Dia terpaksa meminjam ke seorang Retenir dengan bunga tinggi untuk mengobati Mertuanya. Tapi meskipun rumah mertua, yang menjadi warisan untuk istrinya terpaksa di jual untuk menutupi hutang. Dia masih punya sisa bunga yang harus di bayarkan.


Bernades hanya seorang pedagang kecil di pasar, Dia tidak bisa serta merta membayar semua bunga itu sekaligus.


Dia sudah tidak mempunyai harta berharga. Untuk makan hari ini pun, Dia hanya mampu membeli sebungkus nasi yang di makan bertiga dengan keluarganya.


Semua saudara istrinya tidak ada yang mau membantu orang tuanya, justru istrinya yang di buang keluarga karena menikahi Bernades lah yang menjadi pelindung ketika kedua orang tuanya sudah tua dan tidak mampu bahkan untuk sekedar bangun dari tidurnya, sampai keduanya meninggal dunia.


"Jangan salah, Kau tidak meminta apapun padaku. Aku memberikan padamu sebagai hadiah, Karena Kau telah memberi contoh yang baik kepadaku sebagai kepala keluarga" Kata Pangeran Sera sembari tersenyum. "Kelak Kau bisa membalas ini jika Kau mau"


Bernades menyerah. Dia memberikan hormat setelah menerima kantung uang Pangeran Sera. "Terimakasih banyak Tuan" katanya kemudian, setelah itu pergi kembali ke istrinya.


Istrinya terkejut saat Bernades menunjukan kantung pemberian Pangeran Sera. Sambil menggendong anaknya, Dia memberikan hormat dari kejauhan dengan rasa terimakasih.

__ADS_1


"Apa Mereka mengenali Kita ?" Tanya Yuki was-was.


Pangeran Sera memeluk pinggang Yuki, mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan. "Tidak, Tapi untuk berjaga-jaga lebih baik Kita segera pergi dari sini"


Yuki menganggukan kepala menyetujui. Mereka berjalan menyusuri sungai. "Apa Pangeran bisa membantu Bernandes sedikit lagi ?"


"Tidak masalah" jawab Pangeran Sera menyetujui.


"Apakah Pangeran tahu apa yang terjadi ?" Tanya Yuki terkejut.


"Aku rasa orang itu terlibat hutang dengan lintah darat. Aku akan memerintahkan seseorang untuk menyelidiki"


"Aku pikir, Pangeran bisa membaca pikiran orang" Kata Yuki terkagum.


 


Sementara itu Bernades nyaris pingsan ketika Dia membuka bungkusan di tangannya. Ada dua puluh keping uang emas. Apakah Bangsawan itu cukup waras memberikan semua ini pada orang yang tidak di kenal ?.


Dia memeluk istri dan anak-anaknya. Tidak percaya dengan anugerah yang di berikan kepadanya. 


"Apakah tidak apa-apa Pangeran melakukan hal ini ?" Tanya Yuki lagi dengan perasaan ragu. "Pangeran adalah Perwaris tahtah kerajaan, Apakah baik Jika Pangeran menculikku seperti ini ?" 


"Kenapa Kau menanyakan hal itu lagi ?, Apakah Aku membuatmu tidak nyaman ?"


Yuki menggelengkan kepala. "Aku hanya takut orang akan berbicara buruk mengenaimu" Kata Yuki tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya.


"Justru Kau yang harus mengkhawatirkan dirimu sendiri ?" Ujar Pangeran Sera sembari menghela nafas. Mereka memang tidak mengatakannya, Tapi Pangeran Sera tahu apa yang di hadapi Yuki jika Dia kembali ke istana. Memikirkannya membuat Pangeran Sera menjadi marah.


Yuki menundukkan kepala, menghindari mata biru yang sering membuatnya bagai terhipnotis.

__ADS_1


Setelah ini Yuki harus menghadapi Pangeran Riana. Dia pasti tahu Yuki telah menghilang. Mungkin Dia sudah mengerahkan pasukannya untuk mencari Yuki. Atau bahkan Pangeran Riana sendiri yang turun langsung dalam pencariannya. 


Yuki tidak bisa membayangkan kemarahan Pangeran Riana kali ini. Yuki sadar, Dia tidak selalu beruntung dapat lepas dari cengkraman Pangeran Riana.


"Aku bisa membawamu pergi jika Kau mau ?" Tawar Pangeran Sera ketika melihat ketakutan di wajah Yuki.


"Aku tidak bisa Pangeran" tolak Yuki berterus terang. "Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, Aku tidak akan pergi sebelum menuntaskan misteri kematian Ayah"


Yuki menundukkan kepala, kedua jari tangannya saling mengait di dada. Yuki mengerti jika Pangeran Sera sedang mengkhawatirkan dirinya. Dia tahu dengan jelas bahaya seperti apa yang mengancam nyawanya. Tapi Yuki sudah berjanji pada dirinya sendiri, Dia tidak akan melarikan diri. Melarikan diri bukanlah sebuah solusi, Dia harus menghadapi semuanya apapun resikonya.


"Apa tiga kali percobaan pembunuhan terhadapmu belum cukup membuatmu mundur ?" Tanya Pangeran Sera lagi mencoba mengingatkan Yuki. "Masih ada waktu Kita bisa pergi dari sini dengan selamat sebelum bulan biru" 


Yuki mendongak. Dia terkejut Pangeran Sera mengetahui masalah bulan biru.


Jelas sekali Pangeran Sera tahu jati diri Yuki yang sebenarnya sebagai seorang Ciel.


Pangeran Sera mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Yuki dengan lembut. "Sudah kukatakan, Hanya Kau yang belum mengenalku"


"Aku tidak bisa" Kata Yuki cepat sambil membalikan tubuhnya memunggungi Pangeran Sera. Menghindari tatapan Pangeran Sera yang menggoda. Dia nyaris saja rapuh pada pendiriannya dan tergoda mengikuti saran Pangeran Sera. "Maafkan aku Pangeran, tolong hormati keputusanku" Kata Yuki lagi dengan nada menyesal.


Pangeran Sera cukup bersabar untuk membuat Yuki mengerti. Gadis itu sangat keras kepala. 


"Ketahuilah Yuki, Kematian Perdana Menteri Olwrendho dan penyerangan di rumahmu itu bukan salahmu. Berhentilah menyiksa diri. Aku tidak ingin mendengar Kau mogok makan dan mogok tidur lagi sampai Kau sakit"


Yuki terdiam. Dia akhirnya mengerti alasan Pangeran Sera merencanakan penculikan hari ini. Pangeran Sera mengkhawatirkan kondisi Yuki, sehingga Dia memutuskan untuk menculik Yuki agar bisa bertemu dan berbicara secara langsung. Dia tidak perduli resiko yang dihadapi. Perhatian Pangeran Sera membuat dada Yuki panas. Dia tidak menyangka, Pangeran Sera begitu memperdulikannya. Tanpa syarat.


"Pangeran, apa Pangeran tidak berpikir mencari wanita lain untuk Pangeran ?" Tanya Yuki lirih. 


Pangeran Sera langsung menghentikan langkahnya. Memandang Yuki sedih. 

__ADS_1


"Yuki" Panggil Pangeran Sera tidak suka.


"Aku hanya gadis biasa. Tapi Pangeran banyak berkorban untukku. Aku merasa tidak pantas menerima itu semua" Ujar Yuki dengan nada bersalah. "Bersamaku akan terasa berat dan penuh resiko. Aku seperti membawa dewa kematian bersamaku. Terus terang, Aku tidak ingin membuat Pangeran terluka. Jika Pangeran menemukan gadis lain yang lebih baik darikku. Aku sangat....mppph"


__ADS_2