Morning Dew

Morning Dew
66


__ADS_3

"Berani sekali Kau masuk ke ruanganku !" Geram marah suara Bangsawan Doldores membuat Yuki kebingungan.


Dia tidak mengerti bagaimana Dia sekarang berada di ruangan Bangsawan Doldores. Tapi, Yuki kembali tenang ketika Dia menyadari Bangsawan Doldores tidak sedang berbicara dengannya. Suara Bangsawan Doldores berasal dari ruang sebelah. Yuki melihat pintu di depannya dan mencoba mengintip untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


Bangsawan Doldores berdiri dengan wajah penuh kemarahan. Lemak di wajahnya berkerut tajam. Dia bersandar di tembok dengan nafas tersenggal. Piyamanya bersimba darah segar. Berasal dari lengannya yang terluka. Di kakinya ada seorang gadis setengah telanjang, terbaring dengan posisi aneh. Tidak bergerak.


Sekali melihat, Yuki mengetahui gadis itu sudah tidak bernyawa.


Yuki merasa mual. Perutnya seperti di aduk. Bangsawan Doldores memegang pedang di tangannya. Berusaha bersikap tegar. Sementara seseorang yang mengenakan tudung hitam di depannya berdiri dengan sikap mendominasi. Dia membisikkan sesuatu kepada Bangsawan Doldores. Wajah Bangsawan Doldores memerah karena marah.


"Jadi itu Kau !!" Katanya tajam, mengenali siapa orang di depannya.


Orang berjubah hitam memegang pedang di tangannya. Dalam sekejap Dia mengayunkan pedang di tangannya ke tubuh Bangsawan Doldores secara membabi buta. Mencacah tubuh Bangsawan Doldores tanpa ampun. Serpihan daging dan darah memenuhi ruangan. Jerit kesakitan Bangsawan Doldores melengking di udara, membuat sesak siapapun yang mendengar.


Yuki terbangun dari tidurnya, tepat ketika pintu kamar di buka dengan nyaring. Bangsawan Voldermon masuk ke dalan kamar tanpa rasa bersalah. Hanya Dia orang yang berani seenaknya kepada Riana tanpa tersentuh hukum.


Yuki terduduk dan memandangi sekeliling. Dia masih ketakutan. Keringat mengalir di keningnya. Ketika Dia menyadari apa yang di lihatnya adalah mimpi, Yuki baru bisa bernafas lega.


Namun meskipun itu semua adalah mimpi, Yuki merasa tidak senang mengetahuinya, meskipun yang Dia lihat adalah orang yang Yuki benci. Semenjak berada di dunia ini, Dia mengalami mimpi-mimpi yang cukup menakutkan.


Pangeran Riana bergerak di samping Yuki. Dia melirik ke arah pintu yang terbuka, dan berpindah ke jendela kamar yang menampakan suasana di luar, gelap dan sunyi. Menandakan pagi belum menjelang.


"Aku senang melihat hubungan kalian sudah sejauh ini" dendang Bangsawan Voldermont nyaring. Yuki tersadar Dia masih berada di atas tempat tidur bersama Pangeran Riana. Cukup dekat sampai kulit Mereka bersentuhan. Refleks Yuki langsung meloncat turun dari tempat tidur.


"Ini tidak seperti yang Kau pikirkan" sergah Yuki mencoba menjaga keseimbangannya. Kakinya masih gemetar akibat mimpi yang baru saja di alami.


"Ada apa denganmu ?, Tampaknya Aku telah menganggu kesenangan Kalian" ujar Bangsawan Voldermont tersenyum jahil ketika melihat keringat di kening Yuki. Jelas Dia salah paham dan mengira Yuki yang tampak gugup dan berkeringat, menandakan sesuatu yang intim sedang terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran Riana mengacuhkan pertanyaan Bangsawan Voldermont.


"Para penjaga melaporkan ada Tiga Putri di culik dari tempat yang berbeda, salah satunya adalah Norah" jawab Bangsawan Voldermont serius.


"Apa katamu ?"


"Aku sudah bertanya kepada para pelayan dan penjaga yang bertugas, lewat tengah malam dengan alasan tidak bisa tidur. Norah meminta pelayan untuk menyiapkan pemandian agar bisa menyegarkan diri. Ketika dua orang pelayan yang menemaninya meninggalkannya seorang diri di dalam bak mandi untuk mempersiapkan Pakaian Norah di bilik sebelah. Terdengar teriakan Norah, Mereka segera kembali begitu juga dengan Para Penjaga. Tapi Norah sudah tidak ada di sana. Dia menghilang dalan sekejap padahal Para Pelayan hanya meninggalkannya tidak sampai tiga menit lamanya"


"Selain itu siapa lagi ?" Tanya Pangeran Riana pelan.


"Putri Zaneta dan Putri Fahrani"


"Kenapa tujuan Pemberontak ini membunuh orang-orang dari golongan Bangsawan yang masih di bawah umur ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


"Ini baru awal sayang. Bagi Pelaku, Pembunuhan terhadap para Putri dan Bangsawan bukanlah tujuan yang sebenarnya. Mereka hanya di jadikan selingan sementara sampai tujuan akhirnya terpenuhi. Ada hal lain yang jauh lebih besar bersembunyi di belakangnya" kata Bangsawan Voldermont tenang. Dia bercerita tanpa merasa terbebani dengan keadaan yang terjadi.


"Justru dengan terbunuhnya Para Putri dan Bangsawan, Kerajaan akan lebih memfokuskan untuk perlindungan dan penyelidikan terhadap kasus Mereka, sehingga Pelaku dapat lebih mudah bergerak untuk bereaksi. Untuk menghentikannya, Kita harus mengetahui dulu apa yang diinginkan pelaku dari semua teror ini. Apa tujuan utama Dia yang sebenarnya" 


Terdengar suara Gulf. Bangsawan Voldermon meraba sakunya dan akhirnya Dia menemukan apa yang di cari. Terlihat Bayangan wajah Bangsawan Asry di sana.


"Ada apa ?" Tanya Bangsawaan Voldermont begitu Dia terhubung dengan Bangsawan Asry.


"Vold, terjadi penyerangan di rumah keluarga Doldores"


Yuki merasa detak jantungnya berdebar cukup kencang. Mimpi itu bahkan masih terasa nyata sampai sekarang. Tanpa sadar Yuki maju dan merebut Gulf dari tangan Bangsawan Voldermont.


"Selain...selain Bangsawan Doldores, apa ada wanita berambut hitam berpakaian setengah telanjang di sana ?" Tanya Yuki dengan suara tercekat kepada Bangsawan Asry "Dia terluka di bagian kepala dan punggung. Aku tidak tahu apakah Dia masih hidup atau sudah mati"

__ADS_1


"Iya Putri, Kami menemukan korban lain di sana sesuai dengan apa yang Putri katakan, tapi.."


Yuki menelan ludah. Dia merasa sangat takut saat mengatakannya. "Bangsawan...Bangsawan Doldores, Dia..Dia terbunuh dengan pedang, tubuhnya di cacah sampai dagingnya berhamburan"


"Putri ?!" Bangsawan Asry tampak keheranan. "Bagaimana Putri mengetahui semuanya dengan tepat ?"


Nafas Yuki langsung memburu. Tangannya bergetar hebat. Dia nyaris saja ambruk jika Bangsawan Voldermont tidak sigap menyangganya dan mendudukannya di tepi tempat tidur.


Pangeran Riana langsung merebut Gulf dari tangan Yuki. "Kita bicara nanti" ujar Pangeran Riana. Dia langsung menutup Gulf dan memberikannya kembali kepada Bangsawan Voldermont.


Yuki menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Nampak frustasi.


Semuanya terasa jelas sekarang. Mimpi-mimpi yang di alaminya bukanlah bunga tidur. Dia berada di sana. Saat Mereka semua dibunuh dengan kejam.


"Apa Kau baik-baik saja ?" Tanya Bangsawan Voldermont mengguncangkan bahu Yuki. "Apa perlu kupanggilkan tabib istana untuk memeriksamu ?" 


Yuki menggelengkan kepala. Air mata mengalir di wajahnya. Dia sangat tertekan dan frustasi memikirkan semuanya.


"Aku melihat Mereka dibunuh dalam mimpiku. Ayah, Sei, juga Bangsawan Doldores. Aku berada di sana, menyaksikan Mereka terbunuh di depanku. Tapi, meski Aku berteriak untuk menghentikannya, Mereka tidak bisa mendengarku. Aku bahkan tidak bisa menyentuh Mereka. Aku...Aku hanya bisa menyaksikan Mereka tanpa bisa menolong Mereka" ujar Yuki tidak berdaya.


"Sejak kapan Kau mengalami mimpi-mimpi itu ?" Tanya Pangeran Riana serius.


"Aku tidak tahu, tapi ketika Mama meninggal dunia, Aku melihat kejadian itu di dalam mimpi. Tapi Aku dulu berpikir itu hanya bunga tidur. Atau, karena ikatan Kami sebagai ibu dan anak sehingga Aku bisa merasakan jika terjadi sesuatu dengan Mama. Tapi di sini...di sini mimpi-mimpi seperti itu justru sering terjadi dan Aku tidak tahu kenapa"


Pangeran Riana memeluk Yuki yang histeris. Mencoba menenangkannya. Yuki menyusupkan wajahnya ke dada Pangeran Riana, berharap bisa melupakan semua mimpi yang Dia alami.


 

__ADS_1


__ADS_2