Morning Dew

Morning Dew
184


__ADS_3

Yuki di baringkan ke atas sofa. Nafas Yuki sudah tersenggal. Akibat dari ciuman dan juga efek dari tubuh Yuki yang berusaha melawan pengaruh dari obat perangsang.


Yuki sadar, Dia harus segera menghentikan semuanya sebelum terlambat. Tapi tubuhnya menolak dengan keras pikiran Yuki untuk melawan. Tubuhnya justru merespon setiap sentuhan yang di berikan Pangeran Sera di tubuh Yuki.


Pangeran Sera di depan Yuki. Menatap Yuki. Menilai gadis itu. Jankunnya naik turun, sebagai seorang laki-laki normal, melihat Yuki yang sekarang tentu hasratnya timbul tidak terkendali.


Yuki sangat menggoda. Wajahnya merona merah dengan pandangan sayu yang mengundang. Tubuhnya basah, membuat pakaian tipis yang di kenakan Yuki mencetak jelas tubuh Yuki.


Perlahan tatapan Pangeran Sera memancarkan kebutuhan yang sangat intim dari seorang laki-laki. Kebutuhan terhadap wanita untuk menghangatkan ranjangnya.


Pangeran Sera mencekal kedua tangan Yuki ke atas. 


"Pangeran...Aku mohon pergilah..." Bisik Yuki akhirnya. Tubuhnya menggeliat berusaha melepaskan diri.  Yuki menggesekkan kedua kakinya, Dia sudah sangat siap untuk di masuki. 


Kau harus melawannya Yuki.


Perintah Yuki berkali-kali dalam pikirannya.


Yuki sangat tersiksa. Namun sekuat tenaga Dia melawan keinginan untuk memohon pada Pangeran Sera agar melanjutkan cumbuan Mereka ke tingkat yang lebih jauh.


Pangeran Sera menyentuh pipi Yuki lembut dengan tangannya yang bebas. Memercikan api yang jauh lebih besar dari dalam tubuh Yuki. Kemudian...


Sebuah pukulan di tengkuk Yuki, langsung membuat Yuki tidak sadarkan diri.


 


 


Pangeran Sera melepaskan cekalan tangannya. Dia kemudian menarik Yuki yang terkulai lemas, ke dalam pelukannya. Pangeran Sera melepaskan pakaian Yuki yang basah. Kemudian Dia mengambil handuk dan mengelap tubuh Yuki. Setelahnya Dia mengangkat Yuki ke atas tempat tidur. Memakaikan Yuki pakaian kering dan kemudian menyelimuti Yuki.

__ADS_1


Setelah semua selesai, Pangeran Sera pergi ke luar kamar. Para pelayan terkejut ketika Pangeran Sera keluar dengan wajah tenang.


"Siapkan air, Aku akan mandi di kamar lainnya" ujar Pangeran Sera pada kepala pelayan di dekatnya.


Kepala pelayan melirik ke dalam kamar di mana Yuki tertidur pulas di atas tempat tidur. Dia sudah merawat Pangeran Sera semenjak kecil, dan tahu Pangeran Sera memiliki pengendalian diri yang baik. Tapi Dia tidak menyangka, Pangeran Sera mampu mengendalikan keinginannya kepada gadis yang bahkan sedang terpengaruh obat perangsang di depannya.


"Ibu Tania, Jangan lagi memasukan obat perangsang ke dalam kamarku apalagi jika Yuki yang meminumnya ketika Aku tidak ada" tegur Pangeran Sera lagi dengan lembut.


Kepala Pelayan yang bernama Ibu Tania membungkuk dengan hormat untuk menjawab permintaan Pangeran Sera. Pangeran Sera kemudian berlalu pergi dari kamar menuju kolam pemandian untuk mendinginkan hasratnya.


Yuki berdiri di depan cermin. Terpekur memandang bayangan dirinya. Saat Yuki bangun di pagi hari, Pangeran Sera masih tertidur di sampingnya. Yuki tadinya sangat panik ketika mengingat kejadian saat Dia di buat hilang kendali karena meminum obat perangsang.


Tapi Pangeran Sera telah memastikan kepada Yuki bahwa tidak terjadi apapun dengan Mereka. Pangeran Sera sengaja membuat Yuki pingsan sampai efek obat yang di minum Yuki hilang.


Yuki tidak tahu Dia harus mengatakan apa kepada Pangeran Sera. Hasrat di mata Pangeran Sera yang di tangkap Yuki saat Mereka bercumbu bukanlah sebuah kebohongan. Tapi Pangeran Sera memilih tetap tidak menyentuh Yuki, sampai Yuki merelakan dirinya sendiri kepada Pangeran Sera.


Bukan karena obat perangsang. Tapi atas keinginan Yuki sendiri. Pangeran Sera bersedia untuk menunggunya.


Bahkan Pangeran Sera masih bersikap baik dan lembut pada Yuki. Tidak membahas mengenai kejadian yang terjadi. Khususnya ketika Yuki tiba-tiba meminta Pangeran Sera untuk pergi meninggalkan Yuki. Ketika Yuki dalam pengaruh obat rangsang.


Pertahanan diri Pangeran Sera cukup kuat meskipun Yuki beberapa kali menggodanya ketika itu.


"Kau sangat menggoda Yuki, sebagai laki-laki bohong jika Aku tidak tergoda olehmu. Tapi bukan itu yang ku inginkan. Aku tidak mau memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan darimu ketika Kau dalam pengaruh obat. Bukankah, Aku sudah berjanji padamu sebelumnya Yuki. Aku tidak akan menyentuhmu sampai Kau sendiri yang mengizinkanku untuk melakukannya" ujar Pangeran Sera sebelum pergi meninggalkan Yuki untuk menjalankan tugasnya. 


Yuki menyadari, Pangeran Sera selalu menghargainya sebagai seorang wanita. Bukan sebagai sebuah objek ***.


Laki-laki seperti Pangeran Sera, jarang bisa di ketemukan di dunia ini.


"Putri Yuki.." seorang pelayan wanita masuk dengan hormat. Membuat Yuki yang sedang melamun tersadar. "Mohon maaf Putri, ada pesan dari Raja Jafar untuk Putri, agar Putri segera menemuinya di istana Raja".

__ADS_1


"Ada apa ?" Tanya Yuki terkejut.


Pelayan wanita tersebut menggelengkan kepala dengan raut wajah tidak mengerti.


Yuki tidak lagi bertanya. Dia memutuskan segera mengganti pakaian, dan sedikit berdadan. Kemudian pergi menuju istana Raja Jafar dengan berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.


 


Ketika Yuki tiba di halaman istana kerajaan Argueda. Dua orang Prajurit sudah menunggu. Membuat Yuki panik, Dia khawatir ada sesuatu yang buruk telah terjadi. Yuki terus berdoa semoga pikirannya tidak menjadi kenyataan.


Yuki di antar ke sebuah aula kecil. Ketika Dia masuk, Yuki sangat terkejut ketika mendapati Pangeran Riana berdiri di tengah ruangan. Sementara itu Raja Jafat duduk di kursinya di atas mimbar, di dampingi oleh Pangeran Arana yang berdiri dengan setia di sisi Raja Jafar.


Wajah Pangeran Arana tampak tegang ketika melihat Putri Yuki berjalan mendekat. Dari raut wajah Putri Yuki jelas terlihat, Dia juga tidak menduga akan kehadiran Pangeran Riana di istana. Sikap Putri Yuki seperti tidak mengharapkan adanya pertemuan yang sedang terjadi.


Berbagai pertanyaan menggelayuti Yuki.


Kenapa Pangeran Riana ada di sini ?. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Untuk apa Pangeran Riana kemari ?.


Yuki telah sampai di tengah ruangan. Sengaja mengambil jarak dengan Pangeran Riana. Kemudian dengan sopan, memberi hormat kepada Raja Jafar yang terus memerhatikan situasi terutama sejak Yuki memasuki aula.


"Putri Yuki, Pangeran Riana datang kemari khusus untuk bertemu denganmu" ujar Raja Jafar tenang, namun penuh dengan sindiran terhadap Pangeran Riana.


Yuki diam. Tidak menjawab perkataan Raja Jafar. Dia hanya kembali menundukkan kepala sopan.


Yuki bertanya dalam hati. Jika melihat situasinya, tampaknya telah terjadi perdebatan panjang antara Raja Jafar dan Pangeran Riana sebelum Yuki tiba di aula. Entah apa yang Mereka bahas. Namun suasana di dalam aula sangat tegang dan menyesakkan.


"Aku tidak akan mencampuri masalah Kalian. Sekarang Aku serahkan pada Kalian berdua untuk menyelesaikan urusan Kalian" ujar Raja Jafar kembali ketika Yuki hanya diam. Raja Jafar berdiri dari duduknya. "Arana, ikut Aku" 


"Tapi Ayah.." protes Pangeran Arana terputus ketika Raja Jafar langsung meliriknya. Pangeran Arana mengikuti Raja Jafar dari belakang menuruni tangga. Melewati Yuki dan Pangeran Riana yang masih diam mematung di tempatnya.

__ADS_1


 


__ADS_2