
Jembatan meledak.
Jalan pasukan Iblis Balgira untuk mengejar Mereka terputus. Mereka terus berjalan dengan cepat menuruni bukit.
Pendeta Serfa dan Bangsawan Asry yang telah lebih dulu berada di tempat dengan mengendarai Coracal berdiri dengan siap. Patok-patok telah di pasang. Tali di rentangkan menuju tempat tujuan berikutnya. Kantung berisi pendeta suci dan Murid pengkhianat yang di bawa Radoft disangkutkan dengan pengait ke tali. Kemudian meluncur turun dengan cepat ke bawah sementara Radoft terbang untuk mengaburkan jejak.
Yuki memasang pengamannya. Tanpa di duga Pangeran Riana menariknya dan dengan acuh membantu Yuki. Kemudian Dia di bantu seorang jendral mengangkat Yuki dan memasang pengait di pinggang Yuki pada tali. Yuki langsung meluncur turun ke bawah.
Setelah itu di belakangnya, satu persatu mengikuti Yuki meluncur turun.
Yuki segera melepaskan diri dan Dia tergelincir jatuh ke tanah saat pengaitnya dilepas. Pantatnya langsung menghantam tanah. Yuki meringis kesakitan.
"Yuki, apa Kau tidak apa-apa ?" Tanya Pangeran Sera yang berada di belakang Yuki tepat dan langsung mendekati Yuki.
Yuki meraih uluran tangan Pangeran Sera dan sedikit meringis saat berdiri. "Aku baik-baik saja. Tadi kakiku sempat kram" kata Yuki tenang.
Yuki memalingkan wajahnya ke depan dan terdiam.
Lekky berdiri di atas sebuah batu besar yang terletak di tepi sungai. Dia tampak serius memandang sesuatu di dalam air.
Sementara itu Bangsawan Xasfir duduk bersandar di bawahnya, tampak kepayahan. Tubuhnya di penuhi oleh debu. Ada beberapa goresan luka yang terlihat di badannya. Kaki kirinya di luruskan dan di bebat seadaanya dengan kain, terlihat bercak darah di perban.
"Kenapa Kalian begitu lambat" Seru Bangsawan Xasfir saat melihat teman-temannya datang.
Pangeran Riana langsung menghampiri Bangsawan Xasfir. Berjongkok untuk memeriksa luka-luka di tubuh sahabatnya. Bangsawan Voldermont memeluk Bangsawan Xasfir sesaat. Dia tampak sangat lega ketika mengetahui semua teman-temannya selamat.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran Riana kemudian.
__ADS_1
"Kakiku tertimpa reruntuhan ketika ledakan ketiga terjadi. Beruntung, Dia datang dan menyelamatkanku sebelum semua hancur oleh bom yang telah Kita pasang" kata Bangsawan Xasfir sambil memandang Lekky dengan tatapan penuh rasa terimakasih. Lekky yang sedang di bicarakan masih sibuk memandang sungai dengan kening berkerut.
Yuki mendekati Lekky dengan wajah penasaran. Dia sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi sampai Lekky begitu serius sampai mengabaikan semua orang di sekitarnya.
Namun, Yuki baru berjarak dua langkah dari Lekky. Terdengar Lekky sedang menggerutu ke pada sesuatu yang ada di dalam sungai.
"Oh...Ayolah, kenapa Kalian begitu pendendam sebagai seorang ikan" kata Lekky sambil memukulkan tongkat kayu yang di bawanya ke batu berkali-kali dengan keras.
Muncul gelembung air di depan Lekky. Di susul kemudian kepala seorang gadis cantik dengan kulit pucat dari dalam air. Gadis itu tidak sendiri. Teman-temannya menyusul kemudian di belakangnya.
Mereka adalah putri duyung yang menghuni aliran sungai tempat Yuki dan rombongan berada. Menyadari hal itu, Yuki langsung meloncat mendekati Lekky dan memegang lengannya dengan sikap waspada. Khawatir jika Lekky dalam bahaya.
"Lekky.." bisik Yuki di belakang Lekky dengan suara cemas.
Lekky tersenyum tenang pada Yuki. "Jangan khawatir. Mereka adalah saudara Camila. Meskipun Mereka adalah Putri duyung, tapi Mereka berbeda jenis dengan Putri duyung di sungai dekat hutan terlarang. Para Putri Duyung di sini jauh lebih bermartabat dan lebih berbahaya pastinya"
"Aku adalah Jasmine. Sepupu Camila. Ferlay sering bercerita tentang dirimu Putri. Terimakasih karena selama ini Kau telah merawat dan mengasuh keponakanku di saat Ayah kandungnya memilih bersenang-senang dan tidak becus mengurus anak" ujar Jasmine memperkenalkan dirinya.
Dari gerak-gerik para putri duyung di sekitarnya. Jelas terlihat jika jasmine sangat di segani di kalangan Mereka.
Melihat Jasmine, membuat Yuki mengerti kenapa Ferlay sangat suka bermain dengan air dan mampu berenang tanpa alat bantu ke dasar danau yang dalam, dan dengan waktu yang cukup lama.
"Aku sangat menyayangi Ferlay dan sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Apa yang telah Ku lakukan padanya selama ini, adalah hal wajar yang di lakukan seorang ibu pada anaknya" jawab Yuki kemudian.
"Aku bisa melihatnya Putri, Kau akan menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anakmu nanti Putri" kata Jasmine lembut.
__ADS_1
"Lekky, apa Kau tidak berencana memberi Kami oleh-oleh ?" Tanya seorang Putri Duyung sambil menatap dengan lapar pada Semua orang yang berdiri di belakang Lekky dan Yuki.
Melihat hal itu, Lekky langsung mengetuk tongkatnya untuk meminta perhatian para Putri Duyung dengan segera. "Hentikan memandangi Mereka seperti itu. Mereka bukan makanan. Aku tidak membawa Mereka kemari untuk menjadi santapan Kalian. Dan lagi, apa Kalian masih belum puas dengan puluhan mayat yang Kami jatuhkan dari atas sana tadi ?" Tanya Lekky sambil menunjukkan lokasi kuil yang kini telah habis terbakar dengan ibu jarinya.
Putri Duyung itu menggerutu dengan kesal. "Mereka semua terbakar. Aku tidak suka makan sesuatu yang gosong"
"Kalian jangan suka memilih-milih makanan. Sayangkan, jika wajah Kalian cantik tapi perut Kalian buncit karena kebanyakan makan"
Jasmine menatap Yuki yang masih berdiri di dekat Lekky, dengan tatapan dalam. Pandangannya tiba-tiba kosong seolah sedang berada di tempat yang sangat jauh. Lekky yang mampu membaca pikiran dengan cepat menyadari apa yang terjadi. Kemudian Dia memalingkan wajah untuk menatap Yuki dan Jasmine bergantian.
Pangeran Sera yang melihat perubahan itu langsung meraih tangan Yuki dan menarik Yuki mundur ke belakang punggungnya. Dia menghalangi pandangan jasmine pada Yuki dengan sikap proktektif.
"Kau bercanda ?" Tanya Lekky tidak yakin pada Jasmine yang telah kembali dari kekosongannya.
"Penglihatanku tidak mungkin salah" kata Jasmine penuh keyakinan.
"Apa yang sedang Kalian bicarakan ?" Tanya Yuki mulai frustasi saat melihat percakapan antara Lekky dan Jasmine yang Dia tidak pahami.
Jasmine menatap Yuki ramah. Dia melambaikan tangannya yang pucat pada Yuki. Meminta Yuki mendekat. "Kemarilah, Kami akan menceritakan satu kisah untukmu" kata Jasmine pada Yuki.
Yuki menatap Lekky ragu sesaat. Tapi karena Lekky menganggukan kepala dengan tenang. Yuki akhirnya memberanikan diri berjalan dengan di dampingi Pangeran Sera yang terus berjaga dengan waspada.
"Beberapa Putri Duyung memiliki kemampuan untuk meramalkan masa depan seseorang. Jasmine adalah salah satu yang terkuat" jelas Lekky masih berdiri di tempatnya.
Yuki sudah berdiri di depan Jasmine. Jasmine mengulurkan tangannya perlahan. Dia sangat berhati-hati saat melakukannya. Aroma darah Yuki tercium sangat menggiurkan. Seperti anggur mahal yang sangat langka.
Lekky diam. Namun sebenarnya Dia mengawasi gerak-gerik Jasmine. Lekky sangat siap jika harus membunuh jasmine. Terutama jika Jasmine berencana memakan Yuki karena tertarik dengan aroma darah yang di keluarkan Yuki.
__ADS_1
Telapak tangan jasmine menyentuh perut Yuki. Kilasan berbagai peristiwa muncul di kepalanya. Jauh lebih nyata dari apa yang di lihat sebelumnya. Pandangan Jasmine kembali kosong. Dia membuka mulutnya secara tidak sadar. Menatap ke depan.