
"Putri, ada pergerakan di dalam kamar" lapor seorang pelayan membuyarkan lamunan Yuki.
"Apa Kau yakin ?" Tanya Yuki dengan jantung berdebar kencang.
"Penjaga Pintu telah memastikan sebelum meneruskan pesan kemari" jawab Pelayan yakin.
Yuki berdiri. Menarik nafas panjang, bersiap dengan segala kemungkinan.
"Sekarang Kalian tetap di sini. Jangan menyusul sebelum Aku beri perintah" kata Yuki tegas.
Yuki segera berlari keluar. Mengabaikan para Pelayan yang mencoba memprotesnya. Dia melangkah cepat menuju kamarnya. Pintu sedikit terbuka ketika Dia berada di depan kamar.
Dengan perasaan tidak sabar, Yuki mendorong pintu kamar sehingga terbuka. Dia langsung terpekik nyaring ketika melihat sosok di dalam kamar.
Pangeran Sera berdiri di dalam kamar. Di depannya ada Putri Alena. Keduanya berdiri mematung dalam kebinggungan. Wajah Putri Alena pucat pasi. Di tangannya ada untaian mutiara milik Yuki. Sedangkan Pangeran Sera berdiri dengan pandangan tidak percaya kepada Putri Alena. Yuki menduga, Pangeran Sera masuk ke dalam kamar dan menemukan Putri Alena sedang mengambil untaian Mutiara milik Yuki.
Saat melihat Pangeran Sera, Yuki langsung menyadari satu hal. Pangeran Sera menangkap ada yang salah pada diri Yuki. Dia curiga. Jadi, Pangeran Sera sengaja merencanakan kepergiannya untuk mengelabui Yuki. Diam-diam Dia kembali ke dalam istana. Bersembunyi di kamar untuk menyelidiki.
Yuki merasa konyol jika Pangeran Sera sampai bisa di kelabuinya. Pangeran Sera sangat mengenal Yuki. Dia mampu membaca Yuki, seperti sebuah buku yang terbuka.
"Kau menjebakku" tuding Putri Alena marah ke arah Yuki. Membuyarkan kesunyian yang terjadi di antara Mereka bertiga.
Yuki menatap Pangeran Sera dan Putri Alena bergantian. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Mulutnya seolah terkunci. Dia masih tidak menyangka menemukan Pangeran Sera di dalam kamar.
"Dasar Kau wanita licik. Kau Iblis !!. Kau menjebakku di hadapan Pangeran Sera" teriak Putri Alena lagi dengan nada dipenuhi kemarahan.
"Alena" tegur Pangeran Sera tidak suka.
Putri Alena semakin tersulut emosi ketika melihat Pangeran Sera membela Yuki. Dia merasa kecewa dan marah.
"Aku tidak tahu Pangeran berada di sini" jawab Yuki membela diri.
__ADS_1
Yuki tidak tahu harus mengatakan apa lagi, Dia semakin terkejut ketika melihat Putri Alena yang biasanya lembut dan kalem, mampu berteriak begitu kencang seperti sekarang.
Tawa Para Putri di aula berhenti ketika samar Mereka mendengar keributan yang terjadi.
"Aku tidak menyangka Kau adalah pelakunya Alena. Kenapa Kau melakukan semua ini ?" Tanya Pangeran Sera, masih dengan raut wajah kecewa.
"Kenapa...tentu saja karena Aku mencintaimu Pangeran" jawab Putri Alena dengan suara bergetar menahan amarah dan kesedihan. "Setiap malam Aku selalu bermimpi..suatu hari nanti Kau akan melihat hatiku dan akhirnya membalas perasaanku. Itu adalah mimpiku. Tapi mimpiku hancur saat Dia datang, dan Pangeran melakukan sumpah ksatria. Memang apa bagusnya Dia. Aku jauh lebih baik darinya"
"Tenangkan dirimu Putri Alena" pinta Pangeran Sera sembari mencekal tangan Putri Alena yang histeris.
Dalam teriakannya, Yuki mampu merasakan setiap perasaan Putri Alena, kesedihannya, perasaan putus asa melihat laki-laki yang di cintainya, justru tidak memandangnya sama sekali dan memilih wanita lain.
Meskipun Putri Alena berbuat kejam, Yuki justru merasa kasihan padanya.
"Kakak..Putri Yuki..Apa yang terjadi ?" putri Magitha menyeruak masuk dengan nafas memburu. Dia langsung berlari ke kamar ketika mendengar teriakan saat di aula.
Jika terjadi sesuatu dengan Putri Yuki, Pangeran Sera pasti akan memarahi habis-habisan. Tapi begitu melihat Pangeran Sera di dalam kamar, Dia juga terkejut sekaligus lega.
Sebuah belati yang cukup tajam dan runcing, di todongkan ke leher Yuki.
Putri Alena melingkari badan Yuki sedemikian rupa. Membuat Yuki tidak dapat berkutik. Yuki tidak menyangka, di balik badannya yang ramping, Putri Alena memiliki tenaga yang cukup besar.
"Yuki"
"Putri Yuki"
Panggil Pangeran Sera dan Putri Magitha berbarengan.
"Jangan mendekat !!" Teriak Putri Alena dengan nada mengancam. "Atau Aku akan menusuknya hingga mati"
Pangeran Sera langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar ancaman Putri Alena. Dengan sigap Pangeran Sera memberikan perintah melalui tangannya kepada prajurit penjaga untuk mundur.
__ADS_1
"Alena lepaskan Yuki. Kita bisa membicarakan semuanya baik-baik" bujuk Pangeran Sera lembut.
"Tidak !!"
"Pikirkan keluargamu. Mereka sangat menyayangimu"
Putri Alena bergerak mundur. Yuki mengikuti langkahnya dengan berhati-hati. Pisau di lehernya menusuk sedikit kulitnya. Terasa tajam. Yuki yakin sekali gores, lehernya bisa putus tanpa Yuki sadari.
"Beri Dia jalan" perintah Pangeran Sera kepada para Prajurit Penjaga, saat Putri Alena menarik Yuki keluar kamar.
Ketika sampai di lorong istana, Para Putri yang berkumpul karena mendengar keributan terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka saat melihat Putri Alena berani menodongkan pisau ke arah Yuki.
"Alena apa yang Kau lakukan ?" Tanya Putri Nadira tidak mengerti. "Lepaskan Dia, Kau tidak perlu melakukan hal ini"
"Tidak Nadira. Sudah terlambat. Aku sudah melangkah terlalu jauh" Kata Putri Alena kelu.
"Tidak ada kata terlambat. Kau bisa menghentikannya sekarang, Aku yakin kerajaan akan memahaminya" bantah Putri Nadira cepat. Ada kekhawatiran pada Putri Nadira saat memandang Putri Alena.
Mereka adalah sahabat semenjak kecil. Tumbuh dan besar bersama. Di mana ada Putri Nadira, di sana juga ada Putri Alena. Melihat Putri Alena bertindak nekat seperti itu, membuat Putri Nadira cemas.
"Jangan membodohiku Nadira, Aku tahu apa yang ku lakukan dan resikonya" Kata Putri Alena dengan suara bergetar. "Mimpiku telah di hancurkan olehnya. Angan-anganku telah di rebutnya. Kebencianku begitu besar, hingga membunuhnya pun tidak dapat memuaskan kebencianku"
Putri Alena terus melangkah sambil memeluk Yuki kuat dengan pisau di leher Yuki. Pangeran Sera mengikuti dengan hati-hati, Putri Nadira berada di sampingnya. Berusaha membujuk Putri Alena. Raut wajah cemas terlihat di keduanya, meskipun Mereka mencemaskan dua orang yang berbeda.
"Kenapa Pangeran menatapku seperti itu ?" Bisik Putri Alena sedih. "Karena sekarang Pangeran sudah melihatnya, Aku akan mengatakan kebenarannya" ujar Putri Alena lagi.
"Ya..Aku yang menaruh racun di minumannya, dan memberikan penawar di anggur Pangeran. Setelah menyelidiki beberapa lama, Aku mengetahui Dia tidak pernah meminum anggur. Jadi Aku mengelabui pelayan yang sedang mempersiapkan makanan di aula. Dan menaburkan racun di sana" Kata Putri Alena bangga. Dia mengatakan dengan lancar sembari tertawa ganjil yang membuat orang takut. "Aku juga yang membidikan panah ke arahnya. Tapi sialnya, pelayannya melihat dan dengan bodohnya Dia mengorbankan dirinya. Aku dengar Dia akan menikah, sayang sekali. Dia menghancurkan kebahagiaannya untuk Iblis seperti ini"
Putri Alena terus berbicara sembari menarik Yuki menuju halaman. Naik ke tangga batu yang membawa Mereka ke sebuah benteng yang cukup tinggi. Di bawah, Yuki melihat hamparan rumput di atas bukit, tidak jauh dari laut yang berada di bawahnya. Tanahnya cukup keras, jika Yuki sampai jatuh ke bawah. Dia akan langsung mati.
__ADS_1