Morning Dew

Morning Dew
21


__ADS_3

Rasanya sungguh membosankan. Yuki memegang Gulf di tangan. Dia gatal sekali ingin menghubungi Bangsawan Dalto dan memintanya menemaninya. Tapi Bangsawan Dalto tidak mungkin di terima di sini, Pemilik pesta sangat antipati dengannya. Dulu kedua orang tuanya menjadi salah satu korban kebakaran di kuil. Dia sangat membenci Bangsawan Dalto.


Yuki tidak ingin menimbulkan keributan atau bersikap tidak sopan. Dia mengurungkan niatnya. Hanya mengetuk-ngetuk Gulf di tangan dengan perasaan bosan.


"Bosan" Yuki mengeluh pada dirinya sendiri. 


"Jika Kau bosan, bagaimana kalau Kita pergi dan bersenang-senang"


Yuki berbalik dengan ekpresi terkejut. Bangsawan Voldermon tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. Sejak kapan Dia di belakang Yuki. Yuki sama sekali tidak mendengar suara langkah orang mendekat.


"Kenapa kau ada di sini!" Ujar Yuki garang. Dia menatap Bangsawan Voldermon dengan tatapan seolah ingin mencabik-cabiknya sampai tidak bersisa.


Bangsawan Voldermon menghela nafas melihat reaksi Yuki. "Ayolah, Kau masih marah soal ciuman itu ?"


"Menjauh dariku" tegas Yuki dengan suara mengancam. Dia bangkit berdiri dan langsung berjalan pergi. Tapi Bangsawan Voldermon dengan tenang mengikuti Yuki di belakang.


"Kami tadi datang ke rumahmu, tapi pelayanmu mengatakan Kau berada di sini"


"Seingatku, tidak ada aturan yang mengharuskanku melapor padamu" 


"Aku tidak yakin untuk selanjutnya Kau akan bisa sebebas ini" Bangsawan Voldermon terkekeh puas. "Awalnya Kami ingin menjemputmu di rumah untuk mengajakmu bersenang-senang, Riana sudah menemukan calon ratunya, Dia akan mentraktir kita makan"


"Terimakasih undangannya, Tapi maaf Aku tidak bisa datang, jadi jangan terlalu repot mencariku"


"Justru pesta itu tidak akan lengkap tanpa kehadiran dirimu"


"Kenapa Kau terus mengikuti ku" Yuki semakin kesal karena Bangsawan Voldermon terus mengikutinya sembari mengoceh hal-hal yang tidak berguna. Dia cukup pintar menjawab semua argument Yuki, tapi tidak mengerti arti kata "pergi Kau dari hadapanku" yang seolah diteriakkan Yuki padanya.


"Sudah kukatakan, Aku ingin minta maaf padamu"


"Tidak perlu, Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Anggap saja Aku sedang sial dicium oleh seekor anjing"


"Anjing...Kau menyebutku Anjing"

__ADS_1


"Hanya persamaan,Jangan terlalu di ambil hati" jawab Yuki acuh membalas protes Bangsawan Voldermon. Langkah kakinya berhenti, di depannya Pangeran Riana sedang duduk di taman bersama teman-temannya. Jelas, Mereka sedang menunggu seseorang.


Yuki berbalik menatap Bangsawan Voldermon dengan wajah muram. Ingin rasanya Dia mencekik leher Bangsawan Voldermon dengan kedua tangannya. 


Sadar dirinya di jebak, Yuki berkata geram pada Bangsawan Voldermon yang kini sudah berdiri di dekatnya. "Kau menjebakku" tuduh Yuki kesal.


"Hey sudahlah, kenapa Kau ini...Bukankah Kau sendiri yang bilang sudah memaafkanku...jangan jadi pendendam hanya karena sebuah ciuman, atau Kau memang tertarik padaku tapi malu mengakuinya ?" 


Bangsawan Asry bisa melihat akan ada pertengkaran di depannya, Dia melangkah maju untuk melerai sebelum semua terlambat. "Putri Yuki sudahlah, lebih baik tidak terlalu membawa di hati ucapan bangsawan Voldermon"


"Begini saja, Bagaimana kalau kita berteman ?" Mereka tidak memperdulikan ucapan Bangsawan Asry. Bangsawan Voldermon mengulurkan tangan menawarkan damai kepada Yuki. "Kau tidak perlu malu mengakui bahwa Kau tertarik padaku, Kita bisa berteman mulai sekarang" ucapnya penuh percaya diri.


Yuki hanya diam. Tidak membalas sambutan tangan Bangsawan Voldermon. Dia hanya menatap tangan yang terulur di depannya.


"Bagaimana, Kau setuju ?" Tanya Bangsawan Voldermon lagi. Yuki mengerjap, tersadar dari lamunannya. Dia menatap Bangsawan Voldermon sesaat sebelum tersenyum hangat.


Bangsawan Voldermon tersenyum membalas senyuman Yuki. Dia cukup yakin bisa mengatasi kucing liar di depannya ini. 


"AAAAaaa" Bangsawan Voldermon berteriak kesakitan saat Yuki menancapkan giginya ke lengannya. 


Bangsawan Asry di dekatnya bertindak cepat. Dia menarik Yuki menjauhi Bangsawan Voldermon. 


Bangsawan Voldermon mengibaskan lengannya. Ada cetakan gigi Yuki terpapang jelas di sana. Yuki menatap Bangsawan Voldermon dengan senyum puas.


"Aku sudah memperingatkanmu supaya Kau tidak mengangguku, tapi Kau malah terus mengatakan hal konyol di depanku. Aku tertarik padamu ?" Yuki mengusap bibirnya keras seolah telah memakan sesuatu yang membuatnya merasa jijik. "Bahkan jika Kau cium Aku dari ujung kaki sampai ujung rambut sekalipun, Aku tidak akan pernah tertarik padamu, tidak akan !!"


"Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Dewa memilih gadis sepertimu untuk..."


Pangeran Riana berdiri. Dia mengebrak meja cukup keras membuat suasana hening seketika.


"Apa kalian sudah selesai ?" Tanya Pangeran Riana dingin. Yuki mengkeret ketakutan. Dia nyaris ingin berlari pergi jika Bangsawan Asry tidak memeluknya dari belakang, mencegah Yuki menyerang Bangsawan Voldermon ketika pertingkaian antar keduanya terjadi.


"Apa Kau sudah cukup tenang untuk kulepaskan ?" Tanya Bangsawan Asry di telinga Yuki. Yuki menganggukan kepala. Bangsawan Asry mengendorkan pegangannya tapi tidak benar-benar melepaskan Yuki.

__ADS_1


Di saat suasana tegang seperti itu, tiba-tiba terdengar suara tawa dari Bangsawan Xasfir. Ekpresi geli terlihat di wajahnya. Dia menunjuk ke arah Yuki namun matanya menatap Bangsawan Voldermon. "Tidak akan jatuh cinta meski Kau menciumnya dari ujung kaki sampai ujung rambut, wah..baru kali ini ada seorang gadis yang tidak jatuh ke dalam perangkapmu Vold" 


"Bangsawan Xasfir" Protes Yuki dengan wajah merah menahan malu. Dia belum pandai mengontrol emosi sebelumnya. Sering terbawa suasana dan bertindak tanpa di pikirkan terlebih dahulu. Betapa malunya Dia ketika menyadari apa yang telah dilakukannya. Yuki merasa sangat konyol.


"Vold, Dia sudah menegaskan tidak tertarik padamu dua kali..dua kali..." Bangsawan Xasfir menunjuk dua jarinya ke depan wajah Bangsawan Voldermon. 


"Kau bisa berkata seperti itu karena bukan Kau yang dicabik olehnya" gerutu Bangsawan Voldermon masih memegangi lengannya.


"Aku tidak akan mengigit mu jika bukan karena mulut jelekmu" gerutu Yuki membalas Bangsawan Voldermon.


"Jangan bertengkar lagi" guman Bangsawan Asry mengingatkan.


Yuki hendak mengatakan sesuatu ketika seseorang dari kegelapan muncul memanggil namanya.


"Yuki.."


Bangsawan Dalto terlihat kebingungan saat melihat Yuki bersama dengan Pangeran Riana dan teman-temannya. Dia baru dari kediaman Perdana Menteri Olwrendho ketika Rena, pelayannya mengatakan Pangeran Riana baru datang mencari Putri Yuki.


Bangsawan Dalto bergegas menyusul Yuki, Dia khawatir akan ada masalah, Tapi saat melihat pemandangan di depannya Dia malah  merasa binggung.


Sejak kapan Yuki akrab dengan Mereka ?.


Yuki melepaskan pegangan tangan Bangsawan Asry. Dia nyaris melompat kesenangan saat melihat Bangsawan Dalto. Bergegas Dia menghampiri Bangsawan Dalto yang terbengong di tempatnya.


"Kau datang" sambut Yuki senang. Bangsawan Dalto tidak seharusnya berada di sini. Yuki tidak dapat membayangkan apa yang akan di lakukan pemilik rumah jika mengetahui Bangsawan Dalto menyusup ke kediamaannya.


Bangsawan Dalto menundukkan kepala memberi hormat kepada Pangeran Riana.


"Kenapa Kau kemari ?" Tanya Yuki senang bercampur cemas.


"Aku membawakan sepatu untukmu, Sei bilang Kau lupa membawanya, jadi Aku putuskan untuk mengantarkannya daripada nanti kakimu bengkak seperti gajah hanya karena memaksakan diri menggunakan sepatu yang salah"


 

__ADS_1


__ADS_2