
Yuki tidak berani bergerak. Diam di pelukan Pangeran Sera. Jika Dia bergerak, Dia takut akan membangunkan Pangeran Sera. Jarak Mereka yang cukup dekat, mampu membuat Yuki bisa melihat setiap detail wajah Pangeran Sera dengan jelas.
Bulu mata panjang dan lentik. Hidung mancung sempurna. Bibir yang halus dan tipis. Yuki tidak mengerti bagaimana bisa ada orang yang sempurna seperti Pangeran Sera.
Yuki mengangkat tangan, memberanikan diri untuk menyentuh kulit wajah Pangeran Sera yang halus bak pualam.
Pangeran Sera sedikit bergerak dari tidurnya. Dia menarik Yuki mendekat dan memeluknya sedemikian rupa. Yuki langsung membantu, tidak berani lagi untuk bergerak ataupun menyentuh Pangeran Sera.
Kapal terus melaju. Kesibukan di luar kamar terdengar samar di kamar tempat Yuki berada. Para awak kapal bekerja lebih keras, agar Kapal dapat tiba lebih cepat dari waktu yang di perkirakan.
Mesin bergetar di bawah lantai kamar, terdengar suara geletak dari roda besi yang berputar di iringi rantai baja yang naik dan turun dengan gerakan beraturan. Suara langkah kaki hilir mudik, timbul tenggelam di alam bawah sadar Yuki.
Dia mulai mengantuk. Perlahan Yuki memejamkan mata dan tertidur.
"Riana...Apa Kau yakin ?" Tanya Bangsawan Xasfir dengan wajah serius.
Dia bersama dengan Bangsawan Voldermont dan Pangeran Riana berada di dalam tenda yang terbuka. Duduk mengelilingi meja bulat. Seorang prajurit baru saja keluar setelah melapor. Kapal Argueda yang membawa Yuki telah berlayar melampaui garis pantai.
Garduete tidak punya persiapan untuk mengejar Mereka. Andaikanpun bisa, membutuhkan waktu dua atau tiga hari untuk mendapatkan kapal yang bisa melawan kapal kerajaan. Meskipun terlihat seperti kapal pesiar, kapal kerajaan Argueda sebenarnya di lengkapi dengan persenjataan yang lengkap. Tidak sembarang kapal bisa melawannya.
Dalam situasi yang sekarang, Sera bahkan tidak akan berpikir panjang untuk melenyapkan kapal yang mencoba menghalangi jalannya.
"Dia memanfaatkan anak-anak untuk mengiring Yuki menuju perkemahan. Keberhasilannya membawa Yuki bukan hanya kebetulan saja. Dia sudah memikirkannya dengan matang"
"Dia tahu, Garduete tidak akan curiga dengan kehadiran anak-anak Argueda ke perkemahan dengan alasan tersesat. Juga, Dia bisa membaca Yuki akan turun langsung untuk menangani anak-anak agar memastikan Mereka aman. Sedikit bujukan, Yuki sudah masuk dalam rencananya" ujar Bangsawan Voldermont dengan sikap serius.
Sera Madza tidak sebaik parasnya. Dia seorang Pangeran terlatih. Terkenal karena kepintarannya menyusun strategi baik dalam peperangan maupun politik. Langkah-langkah politik yang di ambil seringkali membuat ketar-ketir musuh-musuhnya.
__ADS_1
Pangeran Riana mengatupkan kedua tangannya di atas meja. Dia menatap tajam lurus ke depan. Memikirkan langkah apa yang akan di ambil untuk menghadapi Sera. Sera telah memblokade perbatasan baik darat dan laut untuk mencegah Mereka masuk ke Argueda.
Yuki berdiri seorang diri, bersembunyi di atas geladak kapal yang cukup terlindungi dari sinar matahari. Di laut, sinar matahari cukup terik, membakar kulit.
Yuki mengelung rambutnya ke atas, helaian rambut yang jatuh berkibar tertiup angin. Titik keringat membasahi keningnya. Udara terasa pengap, pertanda hujan akan turun sebentar lagi. Tapi untungnya angin yang bertiup sedikit membantu mengurangi hawa panas yang menganggu.
Sari buah yang di bawa Yuki dalam gelas sudah tidak dingin seperti pertama kali Dia menerimanya dari pelayan. Yuki memandang gelas di tangannya yang isinya sudah berkurang setengah. Dia mengoyangkan gelas tersebut hingga sendok di dalamnya berbenturan dengan kaca hingga menimbulkan suara denting.
Beberapa awak kapal duduk mengobrol di geladak kapal. Ada yang berdiri bersandar di pagar menikmati keindahan laut dari atas kapal seperti Yuki. Ada pula yang membentuk kelompok melingkar, bermain kartu atau bermain musik. Sesekali terdengar gelak tawa Mereka. Entah apa yang Mereka bicarakan, tapi ekpresi Mereka mempelihatkan Mereka sangat menikmati waktu bersantai seperti sekarang.
Yuki mengusap keringat yang mengalir di dahi. Dia bergeser sedikit untuk menghindari matahari.
"Apa...Menghilang ?" Terdengar suara Pangeran Sera dari kamar tepat di bawah Yuki. Setiap hari semenjak hari pertama kapal berlayar, Pangeran Sera selalu mengadakan rapat tertutup. Sering kali Dia mengadakan secara mendadak.
"Kami mengejar rombongan Pangeran Riana sampai ke hutan Yorsalam. Tapi di tengah perjalanan, Mereka mendadak berpencar. Dan Pangeran Riana tidak ditemukan dalam kelompok manapun". Jelas seseorang.
"Perketat penjagaan di semua wilayah, jangan biarkan Dia masuk ke dalam negeri ini apapun yang terjadi" perintah Pangeran Sera tegas.
"Baik Pangeran"
Yuki merasakan kelegaan di dalam dirinya saat mengetahui Pangeran Riana baik-baik saja.
Sudah lebih dari seminggu Mereka berlayar. Yuki sudah mencoba mencari kabar dari para pelayan dan penjaga mengenai keadaan di pengungsian setelah Pangeran Sera membawanya. Tapi semua bungkam. Membuat Yuki frustasi.
Sekarang, saat Dia mengetahui Pangeran Riana selamat. Yuki bersyukur dalam hati.
Sebenarnya, Yuki tidak mempunyai niat menguping pembicaraan Pangeran Sera dan kelompoknya di dalam kamar. Tadi Yuki merasa bosan di dalam kamar dan berjalan-jalan di geladak untuk melihat pemandangan. Dia menemukan tempatnya berdiri sekarang terlindung dari sinar matahari dan jarang di lewati orang, sehingga Dia memutuskan untuk menghabiskan waktu di sini. Dia sudah berada di tempat itu bahkan sebelum rapat di mulai.
__ADS_1
Yuki tidak bisa membayangkan bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Pangeran Riana. Kerajaan akan hancur apabila Mereka kehilangan perwaris tahtah yang di tunjuk oleh Dewa. Pertempuran untuk memperebutkan tahtah akan terjadi. Banyak orang yang tidak bersalah akan menjadi korban. Yuki mengetahui semua itu dari buku sejarah yang di bacanya di ruang kerja Pangeran Riana.
"Kau ada di sini rupanya" Yuki berbalik dan menemukan Pangeran Sera berjalan mendekatinya. Ada kelegaan di wajahnya ketika melihat Yuki.
"Aku bosan di dalam kamar, jadi memutuskan untuk ke geladak untuk melihat pemandangan" jawab Yuki beralasan. Dia tidak mau Pangeran Sera mengira Yuki sengaja menguping pembicaraan dalam rapatnya.
Pangeran Sera berdiri di samping Yuki, memincingkan mata menatap lautan lepas di depannya. "Pemandangan yang sangat indah" ujar Pangeran Sera membenarkan perkataan Yuki.
"Para pelayan mengatakan Kita akan segera tiba di ibukota. Karena itu Aku datang kemari" ujar Yuki lagi mencoba menjelaskan agar Pangeran Sera tidak salah paham terhadapnya.
Pangeran Sera tersenyum lembut sembari mengelus pipi Yuki dengan pandangan mengerti. Kemudian Dia mendongak untuk menatap langit. Cahaya matahari menerpa rambutnya, menimbulkan riap-riap kilau yang memukau. Yuki terpana saat memandangnya. Pangeran Sera bagaikan lukisan yang sempurna.
Pangeran Sera tiba-tiba menunduk. Mata Mereka bertemu. Yuki langsung memalingkan wajahnya, tampak salah tingkah. Dia merasa malu karena ketahuan telah memperhatikan Pangeran Sera dengan wajah terpesona.
"Ada apa ?" Tanya Pangeran Sera pelan.
Yuki hanya menggelengkan kepala untuk menjawab.
"Kenapa wajahmu memerah seperti itu"
"Tidak..wajahku baik-baik saja" bantah Yuki cepat.
Pangeran Sera tersenyum kecil melihat Yuki yang salah tingkah, berusaha menyembunyikan semu kemerahan di pipinya. Dia terlihat menggoda.
__ADS_1