Morning Dew

Morning Dew
229


__ADS_3

Yuki masih menangis di pelukan Bangsawan Voldermont.


"Kau menikah dengannya untuk menyelamatkan nyawa Riana, apa Aku benar ?" Bisik Bangsawan Voldermont di telinga Yuki.


Yuki menganggukan kepala. Tidak mampu menjawab dengan suara.


"Dia yang melukai Riana dan mengancam mu kan ?"


Yuki kembali menganggukan kepala.


Bangsawan Voldermont tidak mampu berkata apa-apa lagi. Terjawab sudah kenapa Sera masih belum menerima tawaran kerjasama dari Romawa.


Dia menunggu sampai tangisan Yuki reda dan Yuki mampu menenangkan diri.


Yuki melepaskan pelukannya. Dia mengusap wajahnya yang sembab. Berusaha menghapus air matanya. "Sekarang, Aku mohon padamu. Jangan katakan ini pada siapapun terutama Pangeran Riana. Biarkan ini menjadi rahasia di antara Kita" pinta Yuki lirih. "Apa Kau bisa melakukannya ?. Untukku ?"


"Garduete berutang sangat banyak denganmu" ujar Bangsawan Voldermont menjawab permohonan Yuki.


"Garduete adalah negaraku. Sudah sepantasnya Aku membela negaraku bukan ?" 


"Dan Riana adalah cintamu ?"


"Ya...Dia cintaku"


"Kau juga tahu Aku mencintaimu kan ?"


Yuki diam.


Selama ini Dia sudah tahu jika Bangsawan Voldermont memiliki perasaan lain padanya. Dia bisa merasakannya. Namun, Yuki memilih berpura-pura tidak tahu. Bangsawan Voldermont sendiri bersikap dewasa. Dia datang kepada Yuki dengan menawarkan sebuah persahabatan.


"Aku tahu. Maafkan Aku untuk itu" Kata Yuki menyesal.


"Aku akan tetap datang jika Kau membutuhkan bantuanku. Dan akan tetap datang menjenguk mu setiap ada kesempatan"


"Aku akan menunggu itu"


Bangsawan Voldermont kembali memeluk Yuki. Pelukannya terasa hangat. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing.


 


Yuki mengantarkan Bangsawan Voldermont sampai meninggalkan istana. Memastikan Dia aman.


Saat Yuki kembali ke dalam kamar. Pangeran Sera berdiri di balkon kamar. Menatap kepergian Bangsawan Voldermont yang terlihat dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Ketika Yuki mendekat pada Pangeran Sera. Pangeran Sera berpaling dan tersenyum. Dengan lembut mengusap air mata di pipi Yuki.


Mendekatkan wajahnya untuk mengecup pipi Yuki mesra. Kemudian Dia mengangkat Yuki ke dalam gendongannya.


Yuki membiarkan Pangeran Sera, saat Pangeran Sera.membawa Yuki ke atas ranjang. Walau bagaimanapun juga, Sekarang Pangeran Sera adalah suaminya yang sah.


 


 


Keesokan harinya, Yuki akan berangkat berbulan madu dengan Pangeran Sera, ke suatu tempat yang di rahasiakan untuk menjaga keamanan.


Putri Magitha dan Pangeran Arana akan ikut dalam perjalanan Mereka.


Mereka akan melakukan perjalanan dengan menggunakan jalur laut, menaiki kapal kerajaan Argueda.


Saat Yuki baru turun dari kereta kuda di pelabuhan. Yuki melihat Pangeran Sera berdiri mematung.


Tangannya meremas tangan Yuki yang berada dalam genggamannya. Membuat Yuki menyadari ada sesuatu yang salah.


Ketika mendongak, mengikuti arah pandang Pangeran Sera. Yuki menemukan Pangeran Riana sudah berdiri tak jauh dari Mereka. Di dampingi Bangsawan Xasfir dan juga Bangsawan Voldermont.


Pangeran Sera melepaskan genggaman tangannya dan dengan acuh berjalan melewati Pangeran Riana. Yuki merasakan ada peringatan tersendiri dari Pangeran Sera melalui sikapnya, yang membuat Yuki sangat berhati-hati.


"Kau benar, wanita sepertimu tidak pantas untuk menjadi ratuku" ujar Pangeran Riana dengan wajah dingin ketika Yuki sudah berdiri di dekatnya.


Yuki menyungingkan senyum tipis ketika mendengar perkataan Pangeran Riana.


"Bagus jika akhirnya Kau sadar. Segera temukan wanita yang pantas untukmu. Aku menantikan undangan pernikahan Kalian" Yuki berjalan melewati Pangeran Riana. "Semoga bahagia"


Yuki berjalan tanpa menoleh. Menaiki tangga kapal menuju Pangeran Sera yang telah menunggunya di atas anak tangga teratas.


Tampak jelas, Dia memperhatikan situasi sembari tadi.


 Suara peluit kapal berbunyi nyaring. Menandakan kapal akan segera berangkat. Terdengar suara rantai bergemerincing nyaring, saat jangkar mulai di naikkan ke atas kapal.


Kesibukan mulai terasa di sekitar Yuki. Tali-tali di lepaskan.


Suara mesin bergemeletak di bawah lantai. Perlahan, kapal mulai bergerak meninggalkan daratan. Menuju ke tengah lautan yang luas.


Yuki berdiri di atas buritan kapal. Menyaksikan deburan ombak yang memecah. 


Perlahan daratan di depannya mulai mengecil dan kemudian menghilang. Hanya ada lautan di sekitarnya.

__ADS_1


 


 


Acara bulan madu antara Yuki dan Pangeran Sera berjalan sesuai rencana. Putri Magitha yang ikut dalam perjalanan Mereka, justru adalah orang yang paling menikmatinya di banding yang lain.


Setelah penculikan yang membuatnya berada dalam tawanan Raja Trandem, jiwa Putri Magitha cukup tergoncang. Namun liburan kali ini membuatnya jauh lebih tenang dan rileks di banding sebelumnya.


Mereka tiba di sebuah pulau kecil yang cukup indah. Di wilayah negara Qaiyan. Negara yang merupakan sekutu dari Argueda. Pantainya di hiasi pasir putih bagaikan salju, dengan laut berwarna hijau jambrut dan langit biru yang cukup kontras. 


Hawa di sini cukup hangat. Pohon kelapa melambai-lambai di sepanjang pantai.


Yuki duduk selonjoran di atas kain yang di bentangkan di pasir. Sudah beberapa hari Mereka tinggal di pulau ini dan mengunjungi semua tempat indah yang ada di dalamnya. Dua hari lagi Mereka akan kembali melakukan perjalanan pulang ke Argueda dan memulai lagi rutinitas kerajaan yang Mereka tinggalkan. 


Pangeran Arana datang dan duduk dengan tenang di samping Yuki. Kulitnya terbakar sinar matahari karena terlalu sering berenang di pantai. Sementara itu Putri Magitha sibuk memilih perhiasan terbuat dari kerang, yang dijual pedagang lokal tidak jauh dari tempat Yuki berada. Dia di temani Pangeran Sera.


"Apa Putri baik-baik saja ?" Tanya Pangeran Arana tiba-tiba.


Yuki yang sedang melamun sembari memandang pantai memalingkan wajahnya ke arah Pangeran Arana. Menatapnya tidak mengerti.


"Maafkan Aku jika Aku salah. Akhir-akhir ini Aku merasa Putri sangat berbeda. Tepatnya setelah Putri kembali ke Argueda bersama Kakak" ujar Pangeran Arana merasa bersalah. "Putri tersenyum tapi justru Aku merasakan Putri sedang menangis di dalamnya. Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati Putri ?"


"Tidak ada. Kenapa ?" Tanya Yuki berbohong. 


"Baguslah jika memang tidak ada. Tapi jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Dan Putri enggan berbicara dengan Kakak. Putri bisa datang dan meminta bantuanku. Jika bisa, Aku akan membantu Putri. Jangan sungkan-sungkan untuk mengatakannya padaku. Aku sudah menganggap Putri seperti saudaraku sendiri" ujar Pangeran Arana tulus.


"Terimakasih" jawab Yuki terharu dengan ketulusan hati Pangeran Arana.


Putri Magitha telah selesai memilih. Dia berlari mendekati Yuki dan Pangeran Arana. Meninggalkan Pangeran Sera yang sedang membayar barang yang telah di ambil oleh Putri Magitha di pedagang lokal.


Dia menunjukan perhiasan yang telah di pilihnya ke depan Yuki. "Coba lihat, cantik bukan ?" Kata Putri Magitha riang.


Yuki mengambil satu hiasan gelang terbuat dari kerang dan mengamati dengan seksama. "Cantik" kata Yuki terkagum.


"Jika Putri menyukainya, Putri boleh memilikinya"


"Terimakasih"


 


Terdengar keributan di kejauhan. Spontan Mereka yang ada di sekitar menoleh.


Yuki menemukan Lekky sedang berjalan tenang di sepanjang garis pantai. Dia tampak acuh dengan pandangan orang-orang yang menatapnya. Di sebelahnya, berjalan dengan tenang mahluk berbulu hijau lumut setinggi pinggang orang dewasa, yang berjalan dengan setia mengikuti langkah Lekky. 

__ADS_1


 


__ADS_2