Morning Dew

Morning Dew
31


__ADS_3

"Putri Yuki" jantung Yuki nyaris berhenti ketika seorang Bangsawan berlari ke arahnya dengan penuh semangat, dari belakang. Bangsawan itu jelas tidak menyadari kehadiran Pangeran Riana, tapi akibat seruannya, Pangeran Riana sudah menyadari kehadiran Yuki.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu secara langsung, ada hal yang ingin Aku bicarakan sebelumnya dengan Putri" Bangsawan itu sudah berada di dekat Yuki. Yuki hanya diam tidak menjawab perkataan Bangsawan tersebut. "Perkenalkan namaku Peldro Alxias, Aku berasal dari negeri Javaica"


Yuki membalas salam dari Bangsawan Peldro. Sementara itu dari sudut matanya, Dia bisa melihat Pangeran Riana sedang memperhatikan Mereka dari jauh. Wajahnya sangat tidak bersahabat, membuat bulu kuduk Yuki berdiri.


"Beberapa kali Aku mengirim undangan pesta kepada Putri memalui Elber, tapi sepertinya Putri sangat sibuk sehingga tidak membalas undangan ku. Sejujurnya Aku sangat ingin berkenalan dengan Putri, apakah Putri ada waktu untuk makan malam bersama"


Yuki merasa heran, Bangsawan Peldro sama sekali tidak merasakan hawa membunuh yang terpancar dari tatapan Pangeran Riana.


Sebelum Yuki menjawab tawaran Bangsawan Peldro, Pangeran Riana sudah melangkah maju mendekati Mereka. Langkahnya cepat namun tanpa menimbulkan suara.


"Dia tidak akan pergi kemanapun, apalagi jika orang yang mengundangnya memiliki maksud lain" Kata Pangeran Riana sembari menarik Yuki ke belakang punggungnya. Bangsawan Peldro terkejut dengan kehadiran Pangeran Riana, Wajahnya memucat seperti orang yang baru saja melihat hantu.


Yuki hanya bisa merasa kasihan pada Bangsawan Peldro, Dia tidak bisa membantunya menghadapi Pangeran Riana, Karena posisinya sendiri sedang sulit.


"Kau seharusnya paham jika gadis ini sudah menjadi anggota kerajaan, tapi Kau masih nekat menggodanya. Nyalimu sungguh besar Tuan"


Bangsawan Pedro merasakan ancaman pada suara Pangeran Riana, Dia langsung meminta maaf dan mengundurkan diri dengan cepat.


Kini Mereka hanya berdua di lorong sekolah. Yuki tersentak mundur ketika kedua tangan Pangeran Riana mengurungnya ke tembok di belakang Yuki. 


"Darimana saja Kau ?" Tanya Pangeran Riana dingin. "Aku sudah memperingatkan Mu untuk tidak mengindahkan perintahku, tapi Kau malah melanggarnya, kemana saja Kau tadi ?"


Pangeran Riana menatap Yuki tajam, menuntut jawaban. Yuki memalingkan wajah, tidak berani menatap mata Pangeran Riana.


"Aku hanya bersembunyi sebentar di ruang kelas untuk menenangkan diri" jawab Yuki akhirnya.


Pangeran Riana tiba-tiba mencekal rahang Yuki sedemikian rupa, memaksanya untuk mendongak menatapnya. Yuki berusaha mati-matian melepaskan cengkraman Pangeran Riana, Namun gagal. Tenaga Pangeran Riana jauh lebih besar daripadanya, Dia sangat ketakutan sekarang. Seluruh tubuhnya gemetar.


"Apa Kau bertemu Dalto ?" Tuduh Pangeran Riana langsung. Yuki menggelengkan kepala panik.

__ADS_1


"Aku tidak bertemu dengannya" kata Yuki sungguh-sungguh. Dia merasa bersyukur, keputusannya untuk membatalkan niat bertemu dengan Bangsawan Dalto sudah benar.


Yuki tidak menyangka Pangeran Riana akan semarah ini padanya. 


"Kalian berdua menghilang dalam waktu yang bersamaan, Apa ini bisa di sebut kebetulan ?" Tuntut Pangeran Riana lagi masih tidak puas dengan jawaban yang diberikan Yuki.


"Aku tidak berbohong, Aku sama sekali tidak bersamanya"


Pangeran Riana menatap Yuki, mencari tanda-tanda kebohongan yang berusaha di sembunyikan, namun sayangnya Dia tidak menemukannya.


Dia mendorong Yuki ke tembok, aroma nafasnya terasa di pipi, membuat Yuki merasa takut.


"Kau tau Aku tidak suka di bantah, dan Kau juga pasti tahu apa resikonya jika Kau membantah perintahku"


"Aku minta maaf, tapi jangan...hmmpp" Pangeran sudah menarik tengkuk Yuki mendekat. Dia langsung ******* bibir Yuki kasar. 


Yuki tersadar, Dia berusaha mendorong Pangeran Riana, tapi bukannya lepas, justru Dia yang terdorong hingga punggungnya menabrak dinding di belakang. 


Ketakutan merayapi Yuki. "Jang...mmm" Air liur Mereka menetes di sela bibir, mengalir keluar di pipi Yuki. Satu tangannya di cekal ke belakang punggung, sementara tangan Pangeran Riana yang lain mencekal lehernya kuat.


"Berteriak Lah jika Kau mau orang-orang keluar dan melihat Kita" bisik Pangeran melepaskan ciumannya. Yuki menggigit bibirnya kuat. Menahan diri untuk berteriak meminta tolong. Dia tidak mau ada orang datang dan melihat Mereka dalam keadaan seperti ini. 


Tubuhnya seolah membantu, bahkan Yuki sendiri tidak yakin Dia mampu untuk berteriak.


Pangeran menurunkan pakaian Yuki ke bahu, menyibakkan rambut gadis itu dan lalu menghisap kuat kulit lehernya.


"Tidak.." Yuki berusaha menghindar tapi Pangeran mampu mengantisipasi pergerakannya.


Pangeran Riana sama sekali tidak peduli dengan tangisan dan permohonan Yuki untuk membiarkannya pergi. Dia terus menciumi bibir dan leher Yuki dengan beringas.


"Aku tidak tahu kalau Kau begitu tertarik padanya sampai seperti itu Riana" 

__ADS_1


Terdengar teguran di belakang Mereka.


Pangeran Riana menghentikan gerakannya. Wajah Yuki sudah basah dengan air mata, Dia menangis sesenggukan. Pangeran Riana berbalik dan mendapati Pangeran Sera sudah berdiri tak jauh dari Mereka berdua.


Pangeran Riana melepaskan Yuki, Yuki jatuh terduduk. Kakinya lemas, seluruh tubuhnya gemetaran saking takutnya.


"Jangan mencampuri urusanku Pangeran, Dia adalah kekasihku, Aku mau melakukan apapun dengannya itu adalah urusanku"  ujar Pangeran Riana dingin. Dia tidak senang kegiatannya diputus begitu saja. 


Jika tidak ingat Yuki masih berusia lima belas tahun, Mungkin Riana akan menyeretnya ke kamar peristirahatannya dan mengajaknya bercinta dengannya di sana.


Dia sudah menahannya dan sabar menunggu gadis itu bisa untuk di sentuh. Beruntung selama ini Dia memiliki pengendalian diri yang baik.


Ada sesuatu di diri gadis itu yang membuatnya merasa candu.


Suara Pangeran Riana cukup keras terdengar hingga seorang guru melongok keluar dari ruangan kelas di dekat Mereka, diikuti oleh murid-murid di dalam. Wajah-wajah penasaran terlihat mengamati Mereka dari jauh.


Yuki ingin sekali pergi dan bersembunyi. Dia merasa sangat malu hingga tidak mampu mendongakkan wajahnya.


"Gadis itu adalah urusanku" Pangeran Sera menatap lurus mata Pangeran Riana. 


"Apa maksudmu ?" Tanya Pangeran Riana tidak senang dengan pernyataan Pangeran Sera.


"Yuki, Apa Kau bersedia menjadi kekasihnya ?"


Pertanyaan Pangeran Sera mengejutkan Yuki. Dia langsung mendongak memandang Pangeran Sera, Pangeran menatapnya lurus tanpa ada rasa takut pada amarah Pangeran Riana. Pangeran Sera jauh lebih tenang daripada Pangeran Riana, meskipun keduanya sama-sama mampu mengendalikan diri untuk bersikap beradab sebagai seorang Pangeran.


"Dia milikku" tegas Pangeran Riana tidak mau kalah, suaranya sangat yakin dan tidak terbantahkan.


"Apa Aku bertanya padamu Pangeran ?" Ujar Pangeran Sera sinis. Dia kembali memandang ke arah Yuki. "Katakan Yuki, Kau ingin jadi kekasihnya atau tidak ?"


Yuki merasa binggung dengan situasi yang terjadi. Dia hanya diam dan menatap keduanya dengan pandangan penuh rasa frustasi.

__ADS_1


Pangeran Riana menyambar tangan Yuki, menariknya dengan paksa untuk berdiri. Tidak kalah cepat Pangeran Sera maju dan memegang lengan Yuki yang lain dengan kuat. Yuki tidak menyangka meski badan Pangeran Sera jauh lebih langsing daripada Pangeran Riana, tapi Dia memiliki tenaga yang mampu mengimbangi kekuatan Pangeran Riana.


 


__ADS_2