
"Apa ?"
Pangeran Riana menyimpitkan mata sesaat ketika mendengar kalimat terakhir Bangsawan Voldermont.
"Bukan Kau yang memberikannya ?. Aku dengar dari pelayan di tempat nenek. Bahwa Kau menyimpan obat pencegah kehamilan di kamarmu, seperti yang biasa Kau berikan pada para wanita di istana haremmu"
Bibir Pangeran Riana berkedut sesaat. Dia merasa kesal. Jadi selama ini Yuki menggunakan obat itu untuk mencegah kehamilan.
"Aku akan mengurusnya" Pangeran Riana meletakan gelas dan berdiri dengan wajah datar. Dia pintar menyembunyikan perasaan. Tidak ada yang bisa menebak apa yang di pikirkannya.
"Jangan terlalu keras pada Yuki. Nenek sudah menekannya, Kau ada baiknya sedikit berkompromi dengannya. Aku dengar Dia memintamu membebaskan para pelayannya. Mungkin lebih baik Kau menurutinya. Yuki hanya memiliki sedikit teman karena Kau terus mengurungnya. Membiarkan orang-orang yang sudah di kenalnya berada di dekat Yuki, akan jauh lebih baik untuk mengendalikannya"
"Kau selalu membelanya" Kata Pangeran Riana tidak suka.
"Tunggu dulu, ada satu lagi yang harus Kau tahu" Bangsawan Voldermont menahan Pangeran Riana dengan memegang pergelangan tangannya. "Sera baru saja masuk ke wilayah perbatasan dan sedang menuju kemari"
Pangeran Riana terdiam beberapa saat. Kemudian Dia tersenyum dingin. "Biarkan saja Dia kemari, Kau siapkan undangan untuk perkenalan calon ratu padanya"
"Apa Kau yakin ?" Tanya Bangsawan Voldermont meminta kepastian.
"Lakukan saja"
Hari ini cuaca begitu cerah. Langit terlihat biru terang, tanpa di selimuti mendung. Cahaya matahari menembus cendela di sebuah aula kecil yang terletak di istana Pangeran Riana.
Yuki sedang berlatih berjalan. Ada tumpukan buku tebal di atas kepalanya. Dia harus bisa melangkahkan kaki dengan sikap tegak tanpa menjatuhkan buku di kepalanya.
Semenjak menjadi seorang Putri, Yuki tidak lagi memiliki imaginasi indah seperti yang dulu Dia bayangkan ketika usai membaca novel mengenai Putri-putri kerajaan. Dulu Dia selalu berpikir, menjadi seorang Putri itu sangat menyenangkan. Gaun-gaun cantik, perhiasan yang indah dan seorang Pangeran tampan berkuda putih.
__ADS_1
Namun kenyataannya, menjadi seorang Putri tidaklah menyenangkan. Bahkan cara berjalan saja ada aturan tersendiri. Yuki sampai berpikir apakah untuk buang air pun juga harus ada aturan juga ?.
Buuukkk
Buku di kepala Yuki kembali jatuh. Sudah kesekian kali Yuki gagal. Kakinya sudah capek. Dia ingin beristirahat.
"Ulang lagi" Kata Guru pelatih dengan tegas. Yuki mengambil buku di lantai tanpa semangat dan berjalan kembali ke titik start. Dia merasa frustasi. Rasanya Dia ingin sekali memberontak dan berteriak untuk meluapkan amarahnya. Tapi itu justru akan memperburuk keadaan. Pangeran Riana dan Ibu Suri mengawasinya dengan ketat
Yuki tidak mampu berbuat apa-apa.
Tapi yang lebih mengherankan bagi Yuki adalah kenapa Mereka semua mau repot-repot mengurus tata kramanya, daripada Mengurus calon ratu Pangeran Riana.
Yuki dengar, sebentar lagi akan di adakan acara untuk memperkenalkan calon ratu ke hadapan orang banyak dan juga melakukan pengesahannya. Mereka sudah mempersiapkan perayaannya dari jauh hari. Pakaian kebesaran dan mahkota telah di buat. Gaun, sepatu dan perhiasan yang akan di pakai calon ratu di hari bersejarah telah di ukur oleh Pangeran Riana sendiri.
Jelas sekali jika calon ratu adalah wanita yang spesial bagi Pangeran Riana.
Lantas apa gunanya Aku di sini ?
Yuki tidak ingin menjadi istri kedua atau wanita simpanan. Bagi Yuki, hanya ada satu suami untuk satu istri. Dia tidak mau berbagi suami dengan yang lain.
Yuki baru saja meletakan kembali buku di kepala, ketika terdengar suara familiar yang memanggil namanya dengan penuh kegembiraan.
"Putri Yuki"
Yuki segera berbalik dan menemukan Rena masuk ke dalam ruangan dengan senyum di wajah. Yuki nyaris tidak mempercayai penglihatannya. Dia mengucek matanya, berharap Dia sedang tidak bermimpi.
Yuki melempar buku ke lantai dan langsung berlari memeluk Rena senang. "Renaa...syukurlah akhirnya Kau kembali" kata Yuki terlihat senang, nyaris melonjak gembira.
"Saya juga senang dapat kembali melihat Putri" ujar Rena tulus.
__ADS_1
Rena terlihat jauh lebih kurus daripada sebelumnya. Yuki semakin merasa bersalah di buatnya.
"Maafkan Aku, gara-gara ulahku Kalian semua jadi menerima hukuman" ujar Yuki menyesal.
Rena menggelengkan kepala. Menatap Yuki penuh rasa syukur. "Putri tidak perluh meminta maaf, Saya mengerti kenapa Putri melakukannya. Yang terpenting sekarang Putri sudah kembali dan Pangeran mengizinkan hamba dan teman-teman untuk kembali melayani Putri"
"Apa ?"
Yuki kembali bertanya dalam hati, Pangeran Riana meminta syarat pembebasan untuk Mereka. Sampai sekarang Yuki tidak mengubah jawabannya. Tapi kenapa justru sekarang Pangeran Riana yang merubah pendiriannya dan mengizinkan kembali semua pengawal dan pelayan untuk bertugas menemani Yuki kembali ?.
Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Pangeran Riana.
"Putri Yuki, kelas belum selesai. Silahkan kembali ke posisi anda dan memulai kembalu sesi latihan" tegur Ibu Warsyi dengan sikap angkuh.
Ibu warsy bagaikan anjing penjaga yang bertugas mengawasi Yuki setiap harinya. Dia sangat sombong dan sok berkuasa. Ibu Warsy selalu bersikap seolah Yuki adalah tawanannya, Berdasarkan mandat dari Ibu Suri. Sering menindas pelayan muda lainnya dengan memakai nama Ibu Suri untuk memuluskan tujuannya.
Dia bahkan berani mengancam Yuki secara halus jika Yuki tidak menuruti perintahnya. Yuki sangat kesal dan jengkel dengan sifatnya yang menjilat. Dia selalu berpura-pura baik di depan Ibu Suri sambil menjelek-jelekkan Yuki, seolah tidak ada satupun kebaikan dalam diri Yuki.
"Maafkan Saya pelayan Warsy, Pangeran Riana memerintahkan hamba kemari selain untuk melayani Putri Yuki kembali juga untuk memberikan surat ini pada anda" Rena mengeluarkan sebuah gulungan kertas dan langsung memberikannya pada Ibu Warsy. Ibu Warsy menerimanya dan kemudian membuka gulungan itu. Yuki melihat ada stempel Pangeran Riana di sana, tercetak dengan jelas di akhir surat.
Wajah Ibu Warsy menjadi suram saat membaca isi surat di tangannya.
"Seperti apa yang di sampaikan Pangeran Riana di surat itu, Mulai sekarang segala urusan pelayanan Putri Yuki kembali ke Saya. Dan Anda di kembalikan lagi ke istana Ibu Suri. Tanpa mengurangi rasa hormat, Saya harap anda mengerti" kata Rena masih dengan sopan.
Ibu Warsy memandang kesal kepada Rena dan Yuki bergantian. Sementara pelayan muda yg berada di ruangan tampak menyembunyikan rasa senang Mereka.
"Aku akan berbicara dengan Ibu Suri mengenai hal ini" kata Ibu Warsy lantang. Dia kembali menggunakan nama Ibu Suri untuk mengancam Rena. Yuki tidak habis pikir, Ibu Suri adalah orang yang cerdas. Tapi kenapa Dia memperkerjakan orang seperti Ibu Warsy di istana Pangeran Riana untuk mengawasi Yuki.
"Silahkan jika Anda ingin melakukannya. Saya tidak berani melarang. Saya hanya bertindak atas perintah langsung dari Pangeran Riana. Sebagai seorang pelayan, Saya tidak memiliki keberanian untuk menentang Beliau" kata Rena tenang.
__ADS_1
Yuki sangat senang mendengar kabar ini. Tapi Dia lebih senang lagi saat melihat reaksi Ibu Warsy. Dia kagum pada Rena yang berani melawan Ibu Warsy.