Morning Dew

Morning Dew
300


__ADS_3

"Semua sikap menjengkelkannya, alasan Dia tidak mau menyentuh wanita manapun selama ini adalah untuk ini" tepuk Bangsawan Voldermont lembut pada perut Yuki. "Satu-satunya jalan untuk mendapat dukungan kerajaan adalah mengembalikan posisimu sebagai calon ratu dengan membuatmu hamil sebelum Riana memiliki anak dari wanita lain"


 


Bangsawan Voldermont kembali meminum teh di cangkirnya.


"Dia tahu, jika Kau mengandung anak dari perwaris tahtah selanjutnya, batu amara akan kembali bersinar dan kerajaan tidak bisa menolak untuk membantunya merebutmu kembali. Riana juga tahu resiko apa yang akan terjadi setelahnya. Jadi saat pertempuran besar dengan kerajaan Romawa, Dia fokus untuk memenangkan pertempuran agar memiliki kekuatan yang seimbang jika terjadi pertempuran antara kerajaan Garduete dengan Argueda. Bahkan Pertunangannya dengan Marsha selain untuk mengecoh Kami, juga sebagai sarana untuk memancingmu keluar dari persembunyianmu"


 


"Aku ?"


"Jika saat itu Riana belum menikah atau bertunangan dengan wanita lain, apakah Kau akan kembali ke Garduete ?"


Yuki tertegun.


Jika Dia tahu Pangeran Riana sama seperti Pangeran Sera waktu itu, Yuki akan berpikir seribu kali untuk kembali. Karena merasa Pangeran Riana sudah tidak memiliki perasaan terhadapnya, Yuki baru bisa memberanikan diri untuk kembali ke Garduete.


 


"Ini salah, Kau tahu semua ini salah" kata Yuki sedih.


 


"Riana tidak perduli apakah ini salah atau benar Yuki. Yang Dia tahu adalah Kau harus kembali bersamanya. Dia bahkan tidak perduli, apakah Kau telah bahagia dengan pernikahanmu ataukah sekarang Kau jauh lebih mencintai Sera daripada dirinya. Dia tidak perduli itu semua"


Yuki menundukkan kepala semakin sedih. Memutar sendok di dalam cangkirnya dengan pandangan tidak berdaya.


"Riana tidak pernah berubah, Dia masih mencintaimu Yuki meskipun jika kebenaran yang terjadi lima tahun lalu tidak terbongkar. Dia tidak pernah melupakanmu sepanjang hidupnya. Kau boleh percaya atau tidak, tapi Aku sangat menyakini apa yang kulihat. Setelah Kalian berpisah lima tahun lalu, Riana berubah nyaris tidak bisa kukenali. Meskipun dari luar Riana terlihat tidak berubah, tapi bagiku yang selama ini telah hidup dan tumbuh besar bersamanya, merasakan sekali perubahannya. Dia seperti hidup tapi sebenarnya tidak hidup. Jiwanya kosong. Saat Kau kembali, perlahan Aku melihatnya kembali seperti dirinya yang selama ini kukenal. Emosinya kembali lagi. Dan sialnya, Kakakmu justru memanfaatkan situasi dengan terus mencari masalah dengannya. Lekky, Dia kakakmu kan ?"


Yuki menganggukan kepala.


"Kami saudara satu ayah beda Ibu. Lekky adalah anak dari kekasih ayah sebelum Dia bertemu dengan Mama" jelas Yuki.


"Dengan kemampuan membaca pikiran yang di milikinya, Dia sering memancing emosi Riana terutama yang berkaitan denganmu. Lekky sengaja memanasi Riana dan membuatnya cemburu dengan kebersamaan Kalian"

__ADS_1


"Lekky terkadang sangat menjengkelkan. Tapi percayalah, Dia sebenarnya sangat baik"


"Baik apanya, Kau ada di sana saat Dia mencabut jantung orang dengan tangan kosong. Bagaimana bisa ada manusia yang membunuh orang dengan wajah tanpa ekpresi seperti Dia" gerutu Bangsawan Voldermont sambil bergidik. Membayangkan kembali bagaimana Lekky mengakhiri hidup Panglima Perang Jaibar dengan tangannya. Bangsawan Voldermont mengibaskan tangannya dengan kesal. Dia kemudian mencondongkan badannya kembali pada Yuki. "Kembali ke masalah tadi, Riana kembali menjadi dirinya yang dulu saat Kau kembali. Apakah Kau bisa memahami hal ini Yuki ?"


Yuki merenung. Terpekur pada pikirannya sendiri. Saat mengetahui hal ini justru membuatnya semakin berat.


 


Apa yang harus Dia lakukan ?. Yuki sama sekali tidak mengerti. Dia tidak punya arah tujuan. Hanya berjalan di jalannya. Yuki tidak punya keinginan bersama salah satu dari kedua Pangeran, mengingat sebentar lagi Dia akan mati. Dia hanya ingin bisa melahirkan anaknya dengan selamat sebelum Dia harus mengorbankan dirinya.


 


"Apa yang Kalian lakukan di sini ?" 


Kedua orang yang sedang duduk diam dengan pikiran masing-masing berbalik dan mendapati Pangeran Riana sudah berjalan dengan tenang mendekat.


 


Yuki melirik ke jendela. Air hujan menampar kaca jendela dengan keras. Sampai sekarang Lekky belum memberi kabar apapun. Sementara Yuki tidak bisa menghubunginya. Lekky telah berpesan dengan tegas agar Yuki untuk tidak menghubunginya dan meninggalkan rumah, sampai Lekky sendiri yang datang atau menghubungi Yuki.


Pangeran Riana menggeser kursi di samping Yuki dan duduk cukup dekat dengan Yuki sampai bahu Mereka nyaris bersentuhan.


"Apa Kau mau teh ?" Tawar Yuki tanpa melihat Pangeran Riana. Karena penjelasan dari Bangsawan Voldermont, membuat Yuki sungkan untuk melihat wajah Pangeran Riana secara langsung.


"Ya" 


Yuki beringsut bangun untuk mengambil cangkir kosong. Sengaja tanpa ketara menggeser posisi kursinya agak menjauhi Pangeran Riana. Dia kembali duduk dengan tenang di sebelah Pangeran Riana.


"Apa yang akan Kita lakukan besok ?" Tanya Bangsawan Voldermont pada Pangeran Riana.


"Tidak ada. Kita sementara akan menetap di sini menunggu Lekky" Pangeran Riana berbalik memandang Yuki yang masih menghindari tatapannya. "Apakah tidak ada kabar sama sekali ?" Tanya Pangeran Riana pada Yuki.


Yuki menggelengkan kepala ringan.


 

__ADS_1


"Tidak masalah. Kita bisa beristirahat lebih lama di sini. Jangan khawatir Yuki, Lekky tidak akan mati dengan mudah. Dia pasti akan datang cepat atau lambat" hibur Bangsawan Voldermont cepat. Bangsawan Voldermont menguap lebar. "Karena sudah ada Kau, Aku akan kembali ke kamar" kata Bangsawan Voldermont lagi pada Pangeran Riana.


 


Bangsawan Voldermont bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan dapur. Terdengar langkah kakinya saat Dia naik ke atas tangga dan di susul pintu yang di buka kemudian di tutup.


 


"Aku juga akan beristirahat" kata Yuki mencoba lepas dari suasana canggung yang menyelimuti keduanya.


Pembicaraan dengan Bangsawan Voldermont mempengaruhi suasana hati Yuki. Dia tidak tahu apakah merasa senang ataukah sedih saat mengetahui kebenarannya.


 


Pangeran Riana tidak menjawab. Dia hanya diam dan mengikuti Yuki dari belakang menuju kamar Yuki yang terletak di ujung lorong. Dekat dengan kamar Ferlay.


"Kembalilah ke kamarmu. Aku tidak akan pergi ke mana-mana" kata Yuki mencoba mengusir Pangeran Riana secara halus.


"Apakah ada masalah jika Aku berada di kamarmu ?" Tanya Pangeran Riana balik.


Yuki membuka mulut ingin memprotes. Namun Dia urung melakukannya. Kembali teringat dengan ucapan Bangsawan Voldermont. Jadi Yuki membiarkan Pangeran Riana masuk ke dalam kamarnya. Dengan begitu Yuki berharap, setelah Pangeran Riana memeriksa ke dalam kamarnya dan tidak menemukan apapun. Pangeran Riana segera pergi meninggalkan kamar tanpa ada keributan yang tidak perlu.


 


 


Kamar Yuki tidak seluas kamar Pangeran Riana di istana. Bahkan, tidak seluas kamarnya di kediaman Perdana Menteri Olwrendho. Ada ranjang kecil yang biasa di pakai satu orang di sisi timur. Di seberangnya terdapat rak buku dekat dengan jendela dan sofa panjang di tengah ruangan. Perapian terletak di sudut ruang. 


Ada pintu kaca yang memenuhi sepanjang tembok di bagian selatan yang terhubung langsung dengan balkon kamar. Yuki sangat menyukai pemandangan yang terlihat di siang hari. Kebun sayur miliknya terlihat jelas dari kamarnya dengan latar belakang sungai yang mengalir di bawahnya.


Foto-foto tertempel rapi di tembok dekat kepala tempat tidur. George telah menyusun rangkaian bunga lavender di dalam vas dan meletakan ke meja kecil di samping tempat tidur Yuki. Wanginya tercium menenangkan.


Suasana kamar di buat dengan melambangkan keceriaan khas Yuki. 


 

__ADS_1


__ADS_2