Morning Dew

Morning Dew
119


__ADS_3

"Kalau begitu, Aku tidak perlu belajar lagi hari ini. Ayo Rena bantu Aku belajar menjahit di kamar" Yuki mendorong bahu Rena cepat. Tidak ingin menyia-nyiakan kebebasan yang telah di dapat. Meninggalkan aula menuju kamar pribadi Pangeran Riana.


"Aku salut padamu. Kau berani melawan Ibu Warsy" bisik Yuki ketika Mereka sudah jauh dari Aula. Dia mengandeng lengan Rena. Keduanya berjalan bersama menyusuri lorong istana. Di belakang para pelayan mengikuti dengan sikap takjim.


"Saya hanya bicara kebenaran" jawab Rena merendah.


Yuki menatap Rena dan melihat ada yang aneh padanya. Biasanya orang akan senang ketika keluar penjara. Tapi Rena tampak berbeda. Dia memang bahagia tapi Yuki merasakan sesuatu yang lain di matanya. Dalam waktu sekejap Rena tampak jauh lebih dewasa dan lebih tenang daripada sebelumnya.


Matanya memancarkan gairah hidup yang cukup besar.


"Apa yang Kau sembunyikan dariku ?" Tanya Yuki tiba-tiba, membuat Rena terkejut. Seketika wajahnya memerah malu. Dia tersipu.


"Sepertinya ada hubungannya dengan seorang Pria ?" Tebak Yuki lagi. 


Reaksi Rena membuat Yuki yakin, Dua tidak mungkin salah. Rena seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.


"Siapa Dia ?" Tanya Yuki lagi penasaran.


"Kami bertemu di penjara" Aku Rena dengan wajah malu-malu. "Dia bekerja sebagai penjaga di sana, Pemuda yang baik. Saat Aku keluar dari penjara, Dia melamarku. Jika Putri mengizinkan Aku berencana untuk menikah dengannya"


"Oming kosong apa itu" sunggut Yuki sembari mengkerucutkan bibirnya. "Kenapa Kau harus meminta izinku untuk menikah. Melihatmu bahagia, Aku tentu ikut bahagia. Aku sangat senang mendengar kabar baik ini, selamat Rena" 


Yuki mengatakan dengan tulus. 


"Terimakasih Putri, Tapi...jika Aku menikah nanti, Aku tidak bisa lagi melayani Putri" kata Rena cemas.


"Apa yang Kau cemaskan. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelayan. Kau adalah temanku. Jika Kau menemukan kebahagiaanmu, Kau berhak mendapatkannya. Kapan rencananya Kalian menikah ?. Izinkan Aku untuk membantu Kalian" pinta Yuki antusias.


"Kami baru membicarakannya setelah meminta izin Putri"

__ADS_1


"Cepatlah menentukan hari. Aku tidak sabar melihatmu dengan pakaian pengantin. Kau pasti sangat cantik"


"Terimakasih Putri. Mungkin Kami akan merencanakan setelah ulang tahun Pangeran"


"Ulang tahun Pangeran ?" Tanya Yuki terkejut.


Rena menatap Yuki keheranan. "Apa Putri belum mengetahuinya ?"


Yuki menggelengkan kepala. "Tidak ada yang mengatakan soal itu padaku sebelumnya. Aky baru mendengar darimu"


"Mungkin karena hal inilah, Kerajaan memutuskan untuk membawa kembali Putri, dan membebaskan Kami untuk kembali mendampingi Putri agar tidak melakukan kesalahan.  Aku dengar, pengangkatan Calon Ratu juga di lakukan setelah ulang tahub Pangeran. Pasti untuk menghindari masalah yang tidak perlu" kata Rena seolah berbicara pada dirinya sendiri. 


"Bisakah Kau menceritakan padaku, ada apa dengan ulang tahun Pangeran ?"  Tanya Yuki tidak mengerti 


Seminggu lagi adalah hari lahir Pangeran Riana. Akan tetapi Pangeran Riana tidak pernah mau merayakan hari lahirnya itu, karena bertepatan dengan hari kematian ibunya. Ratu Elmira.


Setelah Pangeran Riana cukup mengerti, Dia menolak untuk mengadakan pesta ulang tahun di hari kematian Ratu Elmira. Kerajaan tidak pernah lagi merayakan ulang tahun Pangeran Riana. Terakhir Mereka merayakan ulang tahun Pangeran Riana ketika Pangeran berusia lima tahun.


Sudah dua puluh satu tahun lamanya semenjak Pangeran Riana menolak untuk mengadakan perayaan ulang tahun. Mood Pangeran Riana juga tidak begitu baik jika mendekati hari kelahirannya. Sepertinya Pangeran Riana masih menyalahkan dirinya atas kematian Ratu Elmira.


Mendengar hal itu Yuki menjadi berpikir. Dia sudah begitu banyak hutang budi dengan Pangeran Riana. Mungkin sekarang saatnya membalas jasa Pangeran Riana pada keluarganya.


Yuki terus memikirkan apa yang sebaiknya di berikan untuk Pangeran Riana di hari ulang tahunnya. Rena dan para pelayan sudah menasehatinya agar Yuki mengurungkan niatnya. Mereka beranggapan apa yang di lakukan Yuki hanya akan membuat marah Pangeran Riana. Tapi Yuki tetap bersikeras untuk memberikan hadiah pada Pangeran Riana.


Untuk membalas kebaikannya. Tidak lebih.


Melihat tekad Yuki, Rena akhirnya menyerah, Dia mengusulkan agar Yuki membuat Gererou.


"Gererou ?" Tanya Yuki kepada Rena. Saat itu Mereka sedang duduk di dalam kamar. Rena membantu Yuki untuk menata rambutnya, dan memasangkan perhiasan di kepalanya.

__ADS_1


"Benar Putri. Gererou adalah jimat yang di berikan seorang wanita kepada Pria yang di sayanginya. Baik itu saudara, orang tua, sahabat atau kekasih, dengan harapan dapat memberikan keselamatan kepada pemiliknya. Aku rasa itu adalah hadiah yang cocok. Pangeran Riana tidak pernah menerima Gererou sebelumnya. Aku rasa Putri bisa memberikannya"


"Bukankah Dia mempunyai wanita di istana harem miliknya. Apa tidak ada yang memberikan padanya ?"


"Semua wanita itu adalah hadiah yang di berikan untuk Pangeran Riana. Tapi Pangeran selalu bersikap dingin kepada Mereka. Sebagian besar dari Mereka justru di sibukkan dengan persaingan kekuasaan di istana wanita. Jika ada yang membuatnya pun bukan karena tulus, melainkan karena ada udang di balik batu"


"Baiklah, Aku akan memberikan Gererou saja. Di mana Kita bisa membelinya ?" Ujar Yuki akhirnya menerima usul dari Rena.


"Gererou tidak bisa di beli, tidak bisa di buatkan apalagi di wakilkan. Dia harus di buat sendiri oleh Putri. Karena setiap jalinan simpul yang ada pada Gererou dipercaya sebagai doa dari pembuatnya" 


"Apa Kau bisa mengajariku membuatnya ?"


"Tentu saja Putri. Kita bisa membuatnya bersama"


"Untuk calon suamimu ?" Goda Yuki sembari mencubit lengan Rena. Rena tersipu malu. Wajahnya memerah. "Kau harus memperkenalkan Dia padaku" Kata Yuki bersungguh-sungguh.


"Pasti Putri" janji Rena kemudian.


Yuki belajar membuat Gererou. Hiasan yang di pakai di ikat pinggang, terbuat dari serat rotan dan manik dari kayu cendana, yang di untai membentuk pola-pola rumit. Yuki harus ektra sabar dalam mengerjakannya. Membuat Gererou tidak semudah yang Dia bayangkan. Dia beberapa kali terpaksa membongkar untaiannya karena pola yang di inginkan tidak terbentuk dengan sempurna. 


"Apa yang Kau lakukan akhir-akhir ini" tanya Pangeran Riana yang curiga melihat Yuki beberapa kali menguap di pagi hari, ketika Dia akhirnya pulang ke istana setelah beberapa hari meninjau pelatihan militer di pinggir ibukota. Mereka baru bisa bertemu setelah pertengkaran Mereka yang terakhir.


Pangeran Riana tidak mendapat laporan yang mencurigakan dari orang yang di percaya untuk mengawasi Yuki ketika Dia tidak ada di tempat. Beberapa hari terakhir Yuki lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Jarang bepergian. Tetapi sering sekali bergadang hingga larut malam.


"Memangnya apa yang bisa kulakukan di dalam kamar ketika Kau mengurungku di sana selain membaca buku dan pekerjaan membosankan lainnya" ujar Yuki kembali menguap. Dia sangat mengantuk karena semalam bergadang untuk menyelesaikan Gererounya agar tepat waktu. Tapi tentu saja Dia tidak bisa mengatakan kepada Pangeran Riana. Jadi Yuki terpaksa harus berbohong.


Pangeran Riana tidak banyak bertanya lagi. Dia kembali membaca dokument kerajaan, sementara Yuki melanjutkan membaca buku dengan mata yang nyaris terpejam.


 

__ADS_1


__ADS_2