Morning Dew

Morning Dew
179


__ADS_3

Yuki sudah berusaha terlihat baik-baik saja, meski giginya terasa bergemeletuk karena kedinginan. Dia tidak mau bersikap manja di kondisi yang genting seperti sekarang. Yuki tidak mau menambah masalah Pangeran Sera dengan hal-hal sepele seperti sekarang.


"Bagaimana Naru ?. Apakah Kau sudah bisa melakukannya ?. Tanya Pangeran Sera tiba-tiba memecah keheningan.


"Sampai saat ini hamba masih berusaha menembusnya Pangeran" jawab Pendeta Naru sopan. 


"Ada apa ?" Tanya Yuki memandang keduanya dengan sorot tidak mengerti. Pangeran Sera mendesah pelan. Dia menyentuh tangan Yuki, terasa sangat dingin. 


"Maafkan Aku, Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri sehingga mengacuhkanmu. Lihat dirimu, Kau pasti sangat kedinginan" kata Pangeran Sera menyesal. Dia langsung menarik selimut di dekatnya dan menyelimuti Yuki. 


"Apakah ada informasi baru ?" Tanya Yuki cemas. 


"Belum, tapi tenanglah, Aku sudah mengutus orang untuk menyelidiki Raja Trandem dan istananya" jawab Pangeran Sera tenang.


Yuki menundukkan kepala, terpengkur. Mana mungkin Mereka akan mendapatkan berita secepat ini. Sudah beberapa hari semenjak Yuki memimpikan Putri Magitha. Dia tidak tahu, selama itu apakah Putri Magitha bisa melewati harinya dengan aman. 


Memikirkannya membuat Yuki menjadi takut.


Pangeran Sera mengulurkan tangan, menyentuh pipi Yuki dengan ujung jarinya. Kemudian Dia mencubit pipi Yuki, membuat pikiran Yuki langsung teralihkan. 


Yuki menoleh ke arah Pangeran Sera sembari memegang pipinya. Dia baru sadar, Pangeran Sera sembari tadi memperhatikannya.


"Apa yang Kau pikirkan, tenanglah, semua akan baik-baik saja. Magitha Putri yang kuat" 


Meskipun Pangeran Sera sedang berbicara pada Yuki. Tapi Dia seolah sedang menghibur dirinya sendiri. Yuki merasa seperti tidak berguna sama sekali. Dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya untuk membantu Pangeran Sera.


"Mana senyummu Yuki"


"Sakiit.." Rengek Yuki ketika Pangeran Sera kembali mencubit pipi Yuki. Yuki melepaskan cubitan Pangeran Sera, bergerak sedikit menjauhi Pangeran Sera yang duduk di sebelahnya.


"Tetaplah tersenyum seperti biasa. Kau adalah penyemangatku Yuki. Jika Kau bersedih, bagaimana Aku bisa mendapatkan semangatku ?" Ujar Pangeran Sera lembut sembari menepuk punggung tangan Yuki yang terkulai di pangkuannya.

__ADS_1


Mereka berpandangan sesaat. Perlahan, bagaikan di hipnotis. Yuki memberikan senyum pada Pangeran Sera. Pangeran Sera tersenyum kecil, membalas senyum Yuki. Ada bulu halus di wajahnya, mungkin karena terlalu sibuk mengurus masalah Putri Magitha dan Ratu Warda, Pangeran Sera tidak sempat bercukur.


Bibir Pangeran Sera tipis dan kemerahan. Wajah Yuki panas ketika mengingat bibir itu beberapa kali telah menciumnya. Yuki memalingkan wajah, menatap ke luar jendela. Ada Pendeta Naru di dalam kereta yang terus memperhatikan Mereka dalam diam. Yuki tidak mau sampai di sebut Putri yang mesum karena membayangkan hal yang tidak-tidak.


Kereta kuda pada akhirnya memasuki gerbang istana. Derit pintu yang tertutup terdengar di belakang Yuki. Jantung Yuki berdebat cukup kencang ketika Kereta Kuda berhenti di plataran istana Raja Jafar.


"Bagaimana jika istana tidak mempercayaiku ?" Tanya Yuki dengan perasaan ragu kepada Pangeran Sera, ketika Pangeran Sera membantu Yuki turun dari kereta kuda.


"Jika tidak ada yang mempercayaimu. Aku yang akan membuktikan dan membuat Mereka percaya padamu. Tenanglah, bukankah ada Aku di belakangmu" 


Yuki menganggukan kepala lega. Pangeran Sera menggandeng tangan Yuki erat. Mereka berjalan beriringan memasuki istana kerajaan. 


 


Ketika Yuki dan Pangeran Sera tiba di aula istana. Yuki langsung bisa merasakan ketegangan yang terjadi di dalamnya.


Raja Jafar duduk bersandar di kursi singasana, menundukkan kepala sembari memejamkan mata. Dia memijit keningnya dalam diam.


Yuki dan Pangeran Sera berdiri di hadapan Raja Jafar, membungkukkan badan memberikan hormat.


Pangeran Arana duduk bangku yang ada di sebelah kiri Raja Jafar, satu lantai di bawah Raja. Sementara Putri Nadira yang ada di aula, berdiri dengan tenang di antara selir Raja yang ikut hadir. 


Kehadiran Putri Nadira, otomatis membuat Yuki teringat dengan Putri Alena. Yuki tidak tahu apa yang terjadi kemudian, setelah Pangeran Riana membawa Yuki kembali ke Garduete. Dia juga tidak sempat bertanya kepada Pangeran Sera mengenai Putri Alena.


Di saat seperti ini, Yuki merindukan kehadiran Rena.


"Selamat datang kembali Putri Yuki. Maafkan Aku karena belum bisa menyambutmu sebagaimana mestinya" sambut Raja Jafar ketika Yuki telah selesai memberi hormat.


"Terimakasih Yang Mulia"


Yuki nyaris tidak mampu mengatakan apapun. Dia tidak berani mengatakan lebih dari ucapan terimakasih. Raja Jafar sangat sensitif sekarang, jika Yuki salah ucap. Dia khawatir akan fatal akibatnya. Yuki jadi ragu untuk menyampaikan informasi yang akan di utarakannya, apalagi di tambah dengan pandangan permusuhan yang di siratkan Putri Nadira pada Yuki semenjak Yuki memasuki aula istana.

__ADS_1


"Ayah, Aku ke sini membawa berita penting mengenai Ibu dan Magitha" ujar Pangeran Sera langsung. Sontak seluruh yang ada di aula menatap ke arah Mereka dengan perasaan tegang. 


Raja Jafar mendongak, menatap Pangeran Sera yang berdiri di bawah mimbar. 


"Apa Kau sudah menemukan keberadaan Mereka ?" Tanya Raja Jafar kemudian.


"Kita harus menyelidiki Negeri Rasyamsah. Saat ini Ibu dan Magitha dalam cekalan Raja Trandem"


"Trandem ?" Tanya Raja Jafar terkejut. "Rasyamsah adalah sekutu Kita, dan Negara itu berada sangat jauh dari pusat Argueda. Bagaimana Mereka bisa membawa Ratu dan Magitha tanpa seorangpun mengenali" 


Raja Jafar mengerutkan kedua alisnya tidak percaya. "Bawa Prajurit yang memberikan informasi, Aku ingin berbicara langsung dengannya" perintah Raja Jafar cepat.


Pangeran Sera langsung terdiam.


"Kenapa Sera ?" Tanya Raja Jafar yang menyadari kebimbangan Pangeran Sera.


Yuki bergerak dari posisinya. Menundukkan badan dengan sikap takjim kepada Raja Jafar. "Sebelumnya Hamba memohon maaf Yang Mulia, Sayalah yang memberi informasi mengenai keberadaan Putri Magitha dan Ratu Warda kepada Pangeran Sera"


"Putri Yuki ?" Raja Jafar semakin kaget. Dia memandang Yuki dan Pangeran Sera bergantian. Menuntut penjelasan.


"Ayah, Aku mohon padamu, dengarkan Yuki dulu" bela Pangeran Sera sembari merangkulkan tangan di bahu Yuki.


Raja Jafar menghela nafas sesaat. Kemudian Dia memandang Yuki siap untuk mendengarkan. "Ceritakan Putri.."


"Sebenarnya, Hamba datang kembali ke dunia ini karena bermimpi telah bertemu dengan Putri Magitha. Dia muncul dalam mimpi dan menyampaikan pesannya..."


"Apa mimpi ?" Terdengar suara sengit dari Putri Nadira. Memotong ucapan Yuki. "Jadi Kau ingin mengatakan, Kau tahu keberadaan Mereka dari mimpimu. Memang Kau ini siapa ?. Dewa ?"


Beberapa hadirin saling berbisik, menyetujui ucapan Putri Nadira. Yuki merasakan tatapan meremehkan yang di tujukan padanya.


"Nadira jaga ucapanmu" tegur Pangeran Sera tidak suka.

__ADS_1


Putri Nadira menatap Pangeran Sera, mendongakan dagunya dengan angkuh, menunjukan sikap perlawanan. "Kakak, Aku tahu Kau sangat tergila-gila padanya sampai kehilangan akal sehatmu. Tapi meski begitu, bukan artinya Kau membiarkan Kami harus mempercayai omong kosongnya"


__ADS_2