Morning Dew

Morning Dew
172


__ADS_3

"Ya..." Yuki merasa canggung dengan situasi yang ada. Dia merasakan kesedihan Raymond. "Maafkan Aku, tapi Aku memang harus pergi"


"Bolehkan Aku mengantarkanmu ?" 


Yuki menautkan alis. "Ini masih jam sekolah Raymond. Kau tidak bisa membolos. Ingat, siang ini Kau ada wawancara mengenai beasiswamu dengan pihak universitas" ujar Yuki mengingatkan dengan wajah serius. 


Raymond akan mengikuti wawancara terakhir yang di jadwalkan siang ini. Dia akan masuk ke salah satu Universitas bergengsi di luar negeri. Sama seperti Yuki, Raymond juga mengambil jurusan kedokteran.


Itu adalah impian Raymond semenjak kecil. Impian yang pada akhirnya menular krpada Yuki.


Sekarang, Yuki tidak mau lagi mengacaukan hidup Raymond. Dia ingin melihat Raymond menjadi sukses dan perlahan melupakan Yuki.


"Sampai gerbang sekolah, Apa Kau setuju ?" Tawar Raymond cepat dengan penuh harap.


"Ya..Baiklah" Kata Yuki akhirnya memilih untuk mengalah.


Yuki selesai membereskan barang-barang yang rencananya akan di bawa Yuki ke dunia asalnya. Memasukkan semuanya dalam tas sekolah. Kemudian Dia menutup pintu loker dan menguncinya. 


Raymond menunggu dengan tenang sampai Yuki merasa siap.


Kemudian Mereka berjalan beriringan di sepanjang lorong sekolah. Yuki terkejut ketika Raymond meraih tangan Yuki. Menggandengnya dengan erat. Tangan Raymond terasa hangat. Mengingatkan Yuki dengan kenangan saat Mereka masih bersama sebagai sepasang kekasih. Raymond selalu menggandeng tangan Yuki seperti yang di lakukannya sekarang. 


Yuki menahan mati-matian keinginannya untuk menangis. Walau bagaimanapun juga Raymond adalah pacar pertama Yuki, Orang yang pertama kali menggengam tangan Yuki, ciuman Pertama Yuki dan juga laki-laki pertama yang pernah di cintai Yuki.


Yuki sudah mengambil keputusan. Apapun yang terjadi, Dia tidak boleh goyah.


Beberapa murid berdehem menggoda saat melihat Mereka berjalan sembari bergandengan tangan. Tapi Raymond tidak perduli. Dia tetap saja mengenggam tangan Yuki dengan erat.


 


 


Raymond berdiri diam. Ketika Yuki selesai menceritakan asal usulnya dan kemana Dia pergi selama ini.


Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Bel pergantian pelajaran berdering nyaring. Suara riuh rendah dari murid di sekolah terdengar, bersatu dengan langkah kaki Mereka saat memasuki kelas masing-masing.

__ADS_1


Baik Yuki maupun Raymond tidak bergeming dari tempatnya. Mereka seolah menunggu sampai suasana cukup tenang, sebelum mengucapkan perpisahan.


"Jangan lagi mempermainkan perasaan orang, segera temukan wanita yang baik untukmu" pinta Yuki tulus, memecah kesunyian yang terjadi.


"Tidak ada yang sebaik dirimu" jawab Raymond lirih.


Yuki tertawa canggung. "Hentikan merayuku seperti sekarang, Aku sudah tidak akan lagi terpengaruh dengan gombalan berbisamu"


Sekarang halaman sekolah benar-benar sepi. Hanya tinggal Mereka berdua berdiri di dekat gerbang sekolah. Teman-teman sekelas Mereka, yang kebetulan melihat Mereka dari jendela kelas. Langsung menyoraki Mereka dengan nyaring. Membuat kehebohan yang terdengar sampai kelas lainnya.


Yuki menghela nafas sembari menatap Raymond dalam. Mengabaikan sorak-sorak yang menggoda Mereka. 


Inilah akhir pertemuan Mereka...


Rasanya sangat berat. Yuki dan Raymond sudah mengenal cukup lama. Meskipun hubungan Mereka tidak berjalan baik, tapi Raymond adalah orang yang selalu mempercayai Yuki meskipun orang lain terus mencela Yuki.


"Sekarang ya ?" Tanya Raymond lirih.


Yuki menganggukan kepala. Dia perlahan melepaskan genggaman tangan Raymond. Mengambil kalung di lehernya, Kalung dengan bandul dari pecahan koin yang merupakan peninggalan Ibunya, dan juga kalung yang merupakan tanda bukti pertunangan antara Dia dan Pangeran Sera.


Tanpa ragu, Yuki memakaikannya pada Raymond.


Yuki menggelengkan kepala pelan.


"Aku tidak bisa. Maafkan Aku Raymond"


"Selamat tinggal Raymond, terimakasih sudah ada di dalam hidupku selama ini"


Yuki berjinjit mendekatkan wajahnya, dan secara alami Raymond membungkukan badannya ke arah Yuki. Yuki mencium pipi Raymond sebagai salam perpisahan.


"Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu" bisik Raymond sedih.


Aku juga...


Namun Yuki memilih tidak mengungkapkan perasaanya secara langsung. Dia tidak ingin memberi harapan pada Raymond sekecil apapun. Yuki tahu, harapan itu akan lebih melukai Raymond nanti.


Teman-teman sekelas Mereka semakin bersorak nyaring menyaksikan kemesraan antara Yuki dan Raymond. Menimbulkan keriuhan tersendiri. Mereka tidak menyadari seperti apa yang di rasakan Yuki dan Raymond. Mereka berpikir kemesraan itu adalah kebahagiaan, bukan perpisahan.

__ADS_1


Yuki mendongak, memandang satu per satu wajah teman-temannya. Ini terakhir kalinya Yuki bisa melihat Mereka.


Daripada Mereka, tampaknya Yuki yang lebih dulu di wisuda dan meninggalkan bangku sekolah lebih cepat.


"Aku pergi" pamit Yuki.


Perlahan Yuki melangkahkan kaki. Meninggalkan Raymond yang tidak bergeming di tempatnya. Yuki menundukkan kepala, terus menguatkan hati untuk melangkah maju. 


Apa yang ada di belakangnya, akan menjadi masa lalunya di kemudian hari.


Bulir air mata membasahi Pipi. Yuki tidak tahan lagi dan berbalik kebelakang. Raymond masih berada di tempatnya. Terus memandang Yuki. Dengan latar belakang sekolah tempat Yuki menimba ilmu selama ini 


Daun berguguran di antara Mereka. Seperti sebuah kenangan.


Yuki melambaikan tangan, tersenyum riang untuk menyembunyikan kesedihannya.


Suatu hari nanti. Kelak. Jika Yuki merindukan dunia tempatnya di besarkan. Yuki pasti akan selalu mengingat Raymond. Seorang cowok yang menjadi pacar sekaligus cinta pertama Yuki.


 


Ketika tiba di rumah. Yuki terkejut saat melihat di depan pintu penghubung sudah bersandar tas ransel besar, yang biasa di pakai Phil untuk berkemah dan mendaki gunung. Tas ransel itu penuh dengan barang yang di klaim Bibi Sheira dengan label "akan di perluhkan Yuki suatu saat nanti".


"Untuk apa semua barang ini Bibi ?" Tanya Yuki nyaris tidak percaya. Dia mencoba menarik tas ransel dengan kedua tangannya. Tapi tidak berhasil. Mungkin ada lebih dari sepuluh kilo beratnya. "Bagaimana Aku bisa membawanya ?"


"Semua adalah barang yang akan Kau butuhkan suatu saat nanti di sana. Jangan banyak protes. Kau cukup menyeretnya masuk ke dalam pintu penghubung, bukan menggendongnya sepanjang waktu. Tidak akan terlalu berat" ujar Bibi Sheira puas, di tangannya terdapat catatan kecil berisi daftar barang yang telah di centang olehnya. 


Menandakan bahwa Dia adalah orang yang rapi dan terstruktur. 


Yuki menggerutu dalam hati sambil masih mencoba menyeret tas ransel, untuk mengetahui kekuatannya. Apakah Dia sanggup atau tidak Yuki untuk menyeret tas tersebut masuk ke dalam pintu penghubung.


Bisa, tapi butuh tenaga yang besar.


Yuki memutuskan diam. Tidak berdebat dengan Bibi Sheira karena Dia yakin pasti Dia tidak akan menang melawan Bibi Sheira.


Yuki berjongkok, membuka tas ransel dan memindahkan beberapa barang dari tas sekolah ke dalamnya. Menyumpalkan dengan asal ke ruangan yang tersisa. Melihat hal itu, Bibi Sheira langsung mengomel dan mengusir Yuki. Dengan segera Bibi Sheira mengambil alih tugas Yuki untuk menyusun barang yang baru di bawanya ke dalam ransel.


Yuki tidak membantah. Dia masuk ke dalam kamar. Memasukkan beberapa barang lain ke dalam tas sekolahnya. Sebelum tiba di rumah, Yuki telah menghubungi pengacaranya untuk memindahkan segala aset dan warisan Putri Ransah kepada Bibi Sheira. Yuki juga membatalkan semua kontrak kerjanya, dengan alasan sakit dan harus berobat ke luar negeri untuk waktu yang tidak di tentukan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2