Morning Dew

Morning Dew
191


__ADS_3

Dewa Aiswara hanya mewajibkan Pangeran yang meneruskan tahtah, untuk membuat Calon Ratu yang di tunjuk dewa jatuh cinta padanya. Untuk menjaga kestabilan Negeri. Tapi, Dewa Aiswara tidak pernah mewajibkan Pangeran untuk mencintai Calon Ratunya.


 


Seperti Raja Bardhana yang mencintai Putri Ransah.


 


"Apa-apaan ini, Kenapa asam sekali" Kata Bangsawan Voldermont sambil mengelap mulutnya dengan kain. Memuntahkan kembali mangga yang baru di kunyahnya.


"Benarkah ?" Tanya Yuki sambil menggigit potongan mangganya.


Alisnya agak mengkerut sedikit. Tapi Mangga yang sedang di makannya sangat enak. Dia bisa menahan asam dari buah itu.


"Apa Kau tidak merasakannya ?" Tanya Bangsawan Voldermont tidak percaya.


"Ini enak"


"Kau seperti orang hamil yang sedang menyindam buah-buahan asam" ucapan Bangsawan Voldermont membuat Yuki tersedak. Dia langsung menyambar air putih di depannya sembari terbatuk. Memukul dadanya.


"Jangan mengatakan hal yang aneh selagi Aku sedang makan" protes Yuki ketika akhirnya Dia sudah bisa bernafas dengan benar.


"Aku mengatakan apa ?" Tanya Bangsawan Voldermont tidak mengerti. 


Yuki langsung berdiri dengan wajah kesal. Tapi gerakan yang tiba-tiba, membuat pandangan Yuki menjadi gelap. Dia langsung terhuyung. Nyaris jatuh ke lantai andaikan Bangsawan Voldermont tidak dengan sigap menangkap Yuki.


"Apa Kau baik-baik saja ?" Tanya Bangsawan Voldermont masih memeluk Yuki. 


Yuki mengerjap. Pandangannya berangsur-angsur kembali normal. Dia segera melepaskan diri dari pelukan Bangsawan Voldermont. 


"Ya..." Jawab Yuki kemudian. "Aku akan kembali ke dalam kamar. Kalian lanjutkan saja tanpa Aku" 


"Aku antar" Kata Pangeran Riana berdiri diikuti pandangan tidak suka dari Putri Marsha.


"Tidak perlu, Aku bisa sendiri"


Namun Pangeran Riana sudah lebih dulu bertindak cepat dan menggendong Yuki dengan lengannya.

__ADS_1


Yuki terkejut, secara refleks Dia langsung merangkulkan lengannya pada leher Pangeran Riana.


Ada sirat kesedihan di wajah Putri marsha. Membuat Yuki semakin merasa bersalah di buatnya.


"Aku tidak perlu di antar, turunkan Aku" pinta Yuki menolak kebaikan Pangeran Riana. Tapi Pangeran Riana tidak bergeming. Dia justru semakin mempererat pelukannya.


"Diam Yuki" perintah Pangeran Riana membuat Yuki terpekur.


"Kami pergi dulu" ujar Pangeran Riana sembari melangkah pergi menjauhi teman-temannya. 


Dari balik bahu Pangeran Riana, Yuki bisa menangkap kesedihan di wajah Putri Marsha. Membuat Yuki semakin merasa bersalah. Dia berpaling dan menatap Pangeran Riana. Menimbang dalam hati, apakah Pangeran Riana akan senang saat Yuki memberitahukan mengenai kehamilannya. Yuki merasa semakin berat untuk mengatakannya.


 


Kehamilan Yuki semakin menyiksanya. Yuki harus berhati-hati untuk menyembunyikan kehamilannya. Dan itu tidak mudah. Lebih sulit lagi ketika Yuki sering merasa mual jika mencium bau makanan terutama makanan laut. Para pelayan pun mulai curiga. Tapi Mereka tidak berani mengatakan apa-apa.


Yuki bersikap tidak tahu menahu dengan sekitar. Dia lebih banyak berdiam diri di dalam kamar dan tidur lebih banyak daripada biasanya. Badannya terasa lemas dan hampir semua sendinya terasa sakit.


Di lain pihak, Yuki sering melihat kedekatan di antara Pangeran Riana dan Putri Marsha yang seolah memang sengaja di tujukan untuk Yuki.


Yuki menahan perasaan. Dia memutuskan untuk tidak ambil pusing dan fokus pada rencana ke depan.


 


Yuki ingin menolak, Tapi Dia tidak bisa menemukan alasan yang tepat. Jika Yuki terus beralasan tidak enak badan, Dia khawatir Ibu Suri akan memerintahkan tabib untuk memeriksanya.


"Wajahmu sangat pucat Yuki. Apa Kau yakin, Kau baik-baik saja ?" Tanya Raja Bardhana di sela makan malam Mereka.


Yuki menganggukan kepala. Berusaha terlihat riang seperti biasa. Namun sesuatu yang tidak bisa di hindari akhirnya terjadi. Pelayan datang dengan membawa sup laut yang masih mengepul. Yuki langsung tegang. Aromanya sudah membuat Yuki mual bahkan sebelum sup itu di letakkan di atas meja.


Yuki berusaha menahan lambungnya yang bergejolak ingin memutahkan semua yang Dia makan. Tapi ketika sup itu di letakkan tepat di depan Yuki. Yuki tidak bisa lagi menahannya.


Yuki menutup mulut. Menahan makanan yang telah di makannya keluar. 


"Yuki, ada apa ?" Tanya Pangeran Riana sembari meletakan sendok untuk bisa menyentuh Yuki.


Yuki menepis tangan Pangeran Riana. Dia segera berdiri dan langsung meninggalkan meja tanpa permisi.

__ADS_1


Yuki keluar ruangan dan langsung memutahkan semua isi perutnya di taman. Pangeran Riana yang terus mengikuti Yuki langsung memijat tengkuknya. Membuat perasaan Yuki sedikit nyaman.


"Sampai di istana nanti, Aku akan meminta Serfa untuk memeriksa kondisimu" Kata Pangeran Riana tegas.


Yuki tidak sempat menjawab, Dia kembali muntah. Bangsawan Voldermont datang dengan membawa segelas air hangat. Dan langsung memberikannya pada Yuki.


Yuki menerimanya dan langsung menggunakannya untuk berkumur. Membersihkan sisa muntahan di dalam mulutnya.


Raja Bardhana datang mendekat bersama Ibu Suri.


"Ayah, Nenek...sepertinya Yuki sedang tidak enak badan. Jadi Aku akan membawanya pulang sekarang" ujar Pangeran Riana masih memijat tengkuk Yuki.


"Ya, Biarkan Putri Yuki beristirahat dan minta pelayan untuk membuatkan makanan hangat untuknya. Datangkan juga tabib istana untuk memeriksa" ujar Raja Bardhana cemas.


Semua moment itu tidak terlewatkan oleh Ibu Suri. Sebenarnya, Ibu Suri sengaja membuat acara makan malam dan mengumpulkan Mereka untuk melihat sendiri kondisi Yuki. Bisik-bisik di antara pelayan sudah terdengar sampai ke telinga Ibu Jaine, ketika Ibu Jaine berkunjung ke istana Pangeran Riana hari ini.


Putri Yuki yang selalu merasa mual ketika mencium aroma masakan dan sering meminta makan ketika larut malam. 


Untuk membuktikan kecurigaannya, Ibu Suri sengaja meminta pelayan menyediakan makanan dengan aroma menyengat yang di benci Yuki.


"Putri Yuki" panggil Ibu Suri dengan nada yang membuat Yuki takut. Yuki menundukkan kepala hormat tidak berani untuk menatap mata Ibu Suri secara langsung. Yuki sadar, Dia tidak bisa membohongi Ibu Suri mengenai kehamilannya. Jelas Ibu Suri sudah mengetahuinya.


Dia sangat takut dan cemas akan reaksi Pangeran Riana jika saat ini Ibu Suri menyuarakannya di depan Pangeran Riana. Yuki belum siap akan penolakan dari Pangeran Riana.


"Jawab pertanyaanku ini ?" Kata Ibu Suri lagi membuat Yuki semakin gemetaran. "Kau sedang hamil bukan ?"


Yuki mendongak, pada akhirnya menatap Ibu Suri dengan wajah pucat pasi. Terdengar suara gelas jatuh ke rerumputan. Gelas yang terlepas begitu saja dari tangan Bangsawan Voldermont. Sontak semua orang langsung memandang Yuki dengan ekpresi yang beragam.


"Hamil ?" Tanya Pangeran Riana terkejut.


"Kau selalu bersamanya siang dan malam tapi tidak menyadari perubahannya Riana. Seharusnya Kau lebih peka dan tidak sibuk mengurusi masalah yang tidak perlu" tegur Ibu Suri langsung kepada Pangeran Riana.


"Putri Yuki apa itu benar ?" Tanya Raja Bardhana masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Periksa saja sekarang dan Kau akan mengetahuinya. Bahkan sepertinya Putri Yuki sendiri sudah lama mengetahui kehamilannya ini. Apa Aku benar Putri Yuki ?"


Yuki menundukan kepala. Tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


 


__ADS_2