
Langkah kakiku bergema di sepanjang lorong. Di sana sini tampak para tawanan duduk, memandangiku aneh dari sel mereka. Ada yang berteriak memanggilku untuk meminta pertolongan, Ada pula yang berusaha mendapatkan perhatian dengan cara yang aneh. Penjaga memukulkan tongkatnya ke sel sehingga menimbulkan gema berdentang yang memekakan telinga.
Aku kembali berhasil kabur dari istana Pangeran Riana ketika para pelayan baru saja pergi setelah membantuku menganti perban di lukaku. Penjagaan sudah tidak seketat sebelumnya,Sehingga memudahkanku untuk menyelinap keluar istana dengan mudah tanpa sepengetahuan orang. Setibanya di ibu kota, Setelah Aku bertanya kesana dan kesini, Akhirnya Aku menemukan kendaraan untuk membawaku ke penjara kerajaan.
Bangunan ini terletak jauh dari pemukiman penduduk. Dipisahkan oleh sungai yang melingkarinya dan hutan lebat disekelilingnya. Tidak ada tempat untuk melarikan diri dari sini hidup-hidup. Hanya kekusaman yang tampak dari dinding dan lantainya, Aku tidak menemukan warna kehidupan yang nyata di tempat ini.
Beruntung, sesampainya di tujuan, Aku berhasil merayu seorang prajurit yang sedang berjaga untuk membiarkanku masuk ke dalam area terlarang di dalam penjara. Sekantung besar uang emas cukup untuk berfoya-foya beberapa tahun ke depan membuatnya langsung menyetujui keinginanku.
Dia membawaku melewati pintu penjagaan tanpa dicurigai. Kami memasuki area terdalam dari gedung. Aku menundukkan kepala, mengikuti penjaga dengan patuh.
Tempat yang ku tuju ini tidak terlalu buruk jika dibandingkan kuil tempat iblis itu bersarang, Tapi, juga tidak bisa dikatakan bagus untuk di huni manusia normal. Bau jamur dan pengap menandakan tempat ini hampir tidak pernah tersentuh matahari.
Menuruni tangga menuju penjara bawah tanah tempat para penjahat kelas berat di tempatkan. Aku menundukkan kepala, Menghindari tatapan penasaran orang-orang yang kulewati. Kurapatkan jubahku, menyembunyikan diri dengan nyaman di sana. Mencoba tidak mendengarkan seloroh tidak sopan dari para tahanan mengenai diriku. Rasa nyeri di tubuhku berdenyut-denyut setiap Aku memaksakan diri untuk melangkah dengan cepat. Seharusnya Aku memang tidak boleh beraktifitas terlalu banyak. Lukaku belum semua pulih, terutama luka bekas tusukan di perutku. Namun, Aku sudah tidak ada waktu lagi. Aku harus menemuinya sekarang atau Aku akan menyesal seumur hidup. Aku yakin Pangeran tidak akan mengizinkan Aku bertemu dengannya jika Aku meminta izin, Jadi jalan satu-satunya Aku harus melarikan diri untuk menemuinya. Banyak hal yang ingin ku katakan padanya terutama perasaanku.
Teringat kembali perkataan Bangsawan Voldermon seminggu yang lalu...
"Dalto Radit akan tetap menjalani hukuman karena kesalahannya. Maafkan Aku Yuki, Tapi Kau harus paham. Kita mempunyai aturan yang harus di berlakukan untuk keadilan para korban. Aku mengerti sekarang kenapa dia melakukan itu dari ceritamu"
Aku telah menceritakan semua pembicaraan kami dan pembicaraannya dengan iblis di kuil kepada Bangsawan Voldermon. Bagaimana Iblis itu telah menipu Bangsawan Dalto, Motivasi Bangsawan Dalto yang ingin membersihkan nama baik keluarganya tapi dimanfaatkan oleh Bibinya untuk membangkitkan iblis jelmaan kakeknya. Bagaimana sebenarnya kedua orang tuanya sebenarnya berkorban menyelamatkan negeri tapi akibat permainan Bibinya malah Mereka di gantung sebagai penjahat. Dia mendengarkan tanpa memotong omonganku sama sekali. Baru setelah Aku selesai bercerita Dia menyampaikan pendapatnya. "Tapi tetap saja itu tidak bisa merubah keadaan. Dia punya setumpuk tuntutan yang sudah terbukti kebenarannya. Pembunuhan kelas berat, Percobaan pemberontakan kepada kerajaan, percobaan pembunuhan pewaris tahtah, percobaan pembunuhan keluarga kerajaan, dan penggunaan sihir terlarang. Walaupun sekarang Dia sudah menyadari kesalahannya, Itu tidak akan dapat mengubah apa-apa"
Bangsawan Voldermon tampak menyesal tidak dapat membantu dalam hal ini. Aku juga tidak dapat beragument apa-apa, Karena apa yang Dia sampaikan adalah benar. Aku tidak bisa mengindahkan para korban yang tidak bersalah. Mereka membutuhkan keadilan. Bibi nya sudah lebih dulu melarikan diri dan sekarang belum ditemukan kembali. Aku khawatir masalah ini akan membawa masalah yang lebih pelik jika tidak segera di selesaikan. Firasatku tidak enak, Seperti akan ada bom waktu yang meledak setiap saat, Tapi tidak tahu kapan akan terjadi.
lengkingan besi dan derit pintu terdengar ketika penjaga membuka pintu baja tebal. membuyarkan lamunanku. "Waktumu hanya lima belas menit" Ujarnya menegaskan kembali perjanjian yang telah disepakati. Matanya seolah mengingatkan Ku agar tidak membuat masalah ke depannya.
Aku menganggukkan kepala mengerti. Masuk ke dalam ruangan yang pengap dengan hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui cendela kecil berjeruji besi. "Dia ada di bagian ujung" Ujar penjaga itu lagi. Tampaknya penjaga tidak mengenaliku, Untungnya saja Dia mau bekerja sama membawaku kemari. Aku berjalan maju menuju sel yang di maksud.
Dia ada di sana. Tertunduk seolah tidak ada gairah hidup. Rambutnya acak-acakan, tampak kumuh dengan Kedua tangan dan kakinya terikat rantai yang dihubungkan dengan bola baja didekatnya. Dia duduk bersandar di tembok, matanya terpejam, nafasnya bergerak teratur. Aku duduk di depan sel, penjaga itu bergerak pergi menunggu di tempat lain, mencari udara segar.
"Bangsawan Dalto..." bisikku memanggil. Bangsawan Dalto perlahan membuka matanya. Dia mendongak, menatapku tak percaya. "Bangsawan Dalto" panggilku lagi dengan lebih keras.
"Apakah ini halusinasi ?" Tanyanya binggung.
"Bangsawan Dalto..."
Bangsawan Dalto langsung bergerak menghampiriku. Dia hampir terjatuh oleh rantai besi yang membelitnya. "Yuki..." Bangsawan Dalto berada tepat di hadapanku. Dia lebih kurus daripada sebelumnya. Dengan tangan gemetar Aku menyentuhnya. Menyakinkan diriku bahwa ini nyata. Bangsawan Dalto memejamkan mata, menikmati usapanku di pipinya. Tanganku di genggam dan di ciumnya.
Saat Dia membuka mata, Air mataku sudah tidak dapat terbendung lagi.
"Aku sangat marah padamu....Kenapa...kenapa Kau melakukan ini semua....Bodoh...Kau bodoh..."
Aku tidak mampu menahan emosiku, kesedihan menguar keluar, tumpah bagaikan kran yang di buka lebar. Tangisanku meraung mengema di seluruh ruangan. Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Aku tahu seharusnya Kami membicarakan banyak hal dalam waktu yang singkat ini. Tapi Perasaanku sudah tidak terbendung lagi. Bangsawan Dalto hanya diam, memandangku dengan tatapan dalam tanpa melepaskan gengaman tangannya.
Mama...Apa yang harus kulakukan...Aku tidak bisa membantu apapun untuk pemuda ini. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan orang yang kucintai....Apa yang harus kulakukan Mama...hatiku terasa sakit...Aku...Aku mencintainya....
Bangsawan Dalto mengusap air mataku saat Aku sudah dapat menenangkan emosiku. Dia memencet hidungku mengeluarkan ingusku. "Lihat dirimu...Kau masih seperti anak kecil, Kalau begini bagaimana Kau bisa cepat menikah nanti" Selorohnya sambil tersenyum.
"Tapi Kau menyukainya kan"
"Ya..."
Kami terdiam sejenak. Penjaga di luar tampak mulai gelisah. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu, atas kematian Ayahmu dan juga para pelayanmu" Bisiknya tulus. Rasa bersalahnya ditunjukan nyata dalam matanya.
Aku menganggukan kepala mengerti. "Aku akan sangat kehilanganmu" bisikku lirih.
__ADS_1
Bangsawan Dalto tersenyum. "Jika Kau merindukan Aku, Cari saja bunga mawar dimanapun Kau berada, Aku akan berada di sana untukmu"
Aku mengusap air mataku yang nyaris tumpah kembali. Menahan mati-matian buliran air agar tidak turun. "Temukanlah laki-laki yang baik yang akan menjagamu sampai tua nanti"
"Kau bicara seperti orang tua saja" kataku sambil terisak. Bangsawan Dalto tersenyum sembari menyibakkan rambutku yang basah oleh air mata.
"Janji ya...Kau akan hidup dengan baik" bisiknya.
Aku menganggukan kepalaku keras. Aku tidak sanggup lagi untuk menjawabnya. Emosiku kembali muncul siap meledak sewaktu-waktu.
Penjaga mengetuk besi di pintu keluar. "Waktu sudah habis. Cepat keluar" Perintahnya keras. Inilah akhirnya. Kami harus berpisah disini. Aku menyadari kenyataan itu dengan kekosongan hati. Aku menatap Bangsawan Dalto lekat, mencoba merekam semua hal dari dirinya untuk ku ingat nanti ketika Aku merindukannya. Aku baru menyadari hidungnya sedikit bengkok ke kanan. Matanya teduh menenangkan dengan senyum manis yang selalu membuatku nyaman bersamanya. Aku bodoh karena baru menyadarinya sekarang, Kebersamaan Kami, entah sejak kapan sudah bukan sebagai seorang teman. Aku nyaman bersamanya karena itulah alasanku menolak Pangeran Riana. Alasan yang sama ketika Aku meminta Pangeran Sera mencari pengantiku. Tapi kebenaran ini datang terlambat, Seperti kebenaran mengenai kematian kedua orang tua Bangsawan Dalto dan tragedi yang sebenarnya terjadi saat itu. Waktu memberikan semua jawaban, tapi semua sudah sangat terlambat untuk diperbaiki.
Kami sudah tidak dapat mundur untuk memperbaiki semuanya. Apa yang terjadi telah tertulis dengan nyata bersama sebab akibatnya.
"Pergilah..." ujar Bangsawan Dalto akhirnya.
Kami berpandangan cukup lama. Mencoba menembus emosi masing-masing. Aku mendekatkan wajahku.
Ciuman kami yang pertama dan terakhir. Air mataku kembali mengalir. Terasa manis namun menyakitkan. Aku berdiri, langsung memakai tudungku. Berbalik menyembunyikan air mataku darinya.
"Yuki..." Panggilnya lagi ketika Aku sudah berada di pertengahan jalan. Aku berbalik, Ada seburat senyum yang akan kuingat seumur hidupku ketika Aku menyebut namanya suatu hari nanti, Senyum kesedihan dan keikhlasan yang ganjil. "Besok...jangan datang"
Kami kembali saling memandang dalam diam.
Aku tidak menjawab, kembali berpaling mengikuti penjaga yang mengerutu panjang mengenai waktu dan bahaya yang mengancamnya jika istana sampai mengetahui kunjungan ini. Ketika Aku melangkahkan kakiku keluar, Pintu dibelakangku tertutup rapat.
Aku berjalan, melangkahkan kaki dengan gotai.Seperti seorang prajurit yang kalah berperang. Menundukkan kepalaku dalam. Rasanya sungguh menyesakkan.
Hawa dingin menusuk kulit. Mungkin besok akan turun salju. Aku mendongak menatap langit. Dunia serasa tak adil bagiku. Sampai kapan Aku harus merasakan kehilangan seperti ini ?.
Angin bertiup cukup kencang. Aku merapatkan mantelku, mengigil dalam cuaca yang tidak bersahabat. Perutku terasa perih. Rasanya Aku ingin menghilang untuk selama-lamanya.
Aku melanjutkan perjalananku. Hanya melangkahkan kaki tanpa tujuan. Beberapa kali seseorang meneriakiku karena menabraknya ketika berjalan. Pikiranku terasa kosong. Akhirnya Aku sampai di pinggir sungai yang terletak di tengah ibu kota. Cahaya lampu dari rumah penduduk memantul dalam air nya. Aku ingat, Ini adalah tempat dimana Aku dan Bangsawan Dalto pertama kali pergi ketika Dia mengajakku berkeliling kota. Kami berlari sepanjang sungai, Bermain adu layang-layang yang berakhir kekalahanku. Di sana, Di bawah pohon trambesi didekat gapura itu, Aku dan Dia duduk bersama menikmati keindahan kota di malam hari dengan jagung bakar di tangan masing-masing. Kami tertawa, saling bercerita dan berbagi. Aku lupa sudah berapa lama itu berlalu, Rasanya baru kemarin kami duduk di tempat ini. Aku ingin memutar waktu, mengulang semuanya bersamanya. Banyak kenangan yang sudah Kami lalui bersama.
Aku terduduk di atas tanah. Nafasku terasa sesak, Air mataku kembali tumpah. Aku tidak dapat membendung kesedihan ini. Tetesan Air mataku membasahi tanah dibawahku ketika Aku menunduk. Aku merasa sangat marah, sedih dan kecewa dalam satu waktu. Namun, Aku tidak tahu bagaimana agar semua perasaan negatif yang bercongkol di hatiku ini dapat keluar, terbebaskan dari dalam diriku. Mereka semua seolah menerkamku dengan begitu kuat, Menyesakkan...Membuatku tidak dapat bernafas.
"Apa yang Kau lakukan di sini ?" Aku berbalik dan melihat Baginda Raja turun berjalan ke arahku. Di belakang Dia tampak rombongannya berhenti menunggu. Raut penasaran terlihat jelas dari wajah para prajurit dan pelayan istana yang menunggu di tempatnya. Bangsawan Voldermon berada beberapa langkah di belakang Baginda Raja menatapku kebingungan.
Baginda Raja terdiam saat melihatku. Dia tidak bertanya apapun. Sesaat Dia berjalan menghampiriku dengan berhati-hati. "Yuki...Bagaimana Kau bisa ada di sini ?" Bisik Baginda Raja lembut. Melihatku tidak bereaksi, Dia menarik tanganku berusaha membuatku berdiri. Aku menahan tarikannya. "Berdirilah, Aku akan mengantarmu pulang. Disini sangat dingin. Tubuhmu belum cukup stabil" Bujuk Baginda Raja lagi.
Aku menatapnya penuh pemohonan. Air mataku semakin deras mengalir. "Bagaimana ini yang mulia...Apa yang harus Aku lakukan ?" Tangisku sedih. Aku *** dadaku kuat. Seolah ada ledakan dasyat yang membuatnya tercabik. Aku membungkukan badanku menahan agar tetap waras. Ku tepuk Dadaku kuat berkali-kali. Berharap perasaan ini cepat menghilang. "Di sini....di sini sakit sekali, Apa yang harus ku lakukan yang mulia" Tanyaku kebingungan.
Raja hanya diam membungkuk. Kemudian memelukku kuat. Aku menangis histeris di depannya. Menumpahkan segala perasaanku yang tersendat.
Raja membiarkanku menangis sampai Aku puas. Bangsawan Voldermon datang memberikan jubah kepada Raja untuk menyelimutiku. "Kita pulang ya ?" Ajaknya lembut. Cara bicaranya seperti seorang Ayah kepada putrinya yang terluka. Raja memapahku berjalan menuju kereta kuda.
"Yuki..."
Namun sebelum sampai kereta, Kepalaku sudah berkunang-kunang. Aku ambruk tak sadarkan diri.
Lonceng besar diatas menara terus berbunyi dengan nada yang mengerikan. Ritmenya stabil tapi memberikan makna yang aneh. Semua orang dengan penuh semangat berbondong-bondong berjalan menuju ke suatu gedung. Hari ini langit seperti sedang muram. Hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Aku menatap bangunan besar tak jauh dari tempatku berada.
Bangunan setengah lingkaran terbuat dari batu berwarna kelabu, tinggi menjulang di tempatnya. Ada perasaan menolak ketika Aku melangkahkan kaki, mengikuti jalan kemana gedung itu berada. Tapi, pikiranku memaksa untuk terus berjalan.
__ADS_1
Aku tahu Aku akan lebih sakit nantinya setelah ini. Seharusnya Aku tidak perlu melihatnya agar penderitaanku tidak bertambah nantinya. Dia sudah memperingatkanku sebelumnya, seolah tahu bahwa jika Aku datang maka Aku akan terluka. Gong berdengung karena dipukul nyaring oleh seorang algojo kekar. Membuat suasana lebih sunyi. Riuh rendah berhenti seketika. Tiga orang Petinggi kerajaan muncul dari atas mimbar. Sontak para penonton langsung berkumpul mengelilingnya.
"Tihtah dari Yang Mulia Baginda Raja Bardansah, Raja Agung penguasa negeri Garduete" Seorang petinggi kerajaan yang umurnya tampak paling tua daripada yang lainnya mengangkat gulungan kertas ke atas dengan sikap takjim. Janggutnya berwarna putih ditata sedemikian rupa, Tampak jelas wibawanya dalam sikapnya, Baju kebesaran berwarna merah berkibar tertiup angin.
Rakyat menundukkan kepala hormat sembari berseru lantang secara bersamaan "Hidup Raja Bardansah, Hidup Aiswara Dewa Pelindung Negeri. Berkahilah Kami dalam mukzizatmu"
"Dalto Radit dari keluarga Bangsawan Dalto telah terbukti dalam kejahatannya melalui pemeriksaan sah yang dilakukan kerajaan, Dalam tuduhan..pertama, percobaan pembunuhan kepada Pangeran Riana, yang merupakan Pangeran penerus tahtah kerajaan Garduete. Kedua,Percobaan pembunuhan terhadap keluarga kerajaan Putri Yuki Orrie Olwrendho, sebagai Kekasih sah Pangeran Riana yang telah di Akui status kekerajaannya oleh Istana. Ketiga, Pembunuhan keluarga kerajaan yaitu Putri Norah Bardansah Putri dari Yang Mulia Bardansah dengan Putri Sisilia. Keempat, Pembunuhan Menteri Negara Perdana Menteri Olwrendho sekaligus Otak dibalik penyerangan kediaman Perdana menteri yang memakan banyak korban jiwa. Ke enam, Pembunuhan Acak yang terjadi di kalangan Bangsawan dan Masyarakat yang telah meresahkan dan memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Ke tujuh Telah Terbukti sebagai pengerakan dalam usaha pemberontakan terhadap kerajaan, ke delapan Penggunaan sihir terlarang" Ujar Petinggi tersebut dengan lantang ketika membacakan tuntutan. Semua hadirin menganggukan kepala menyetujui, Tidak ada yang membantah. "Untuk itu...Kerajaan melalui pengadilan agung memutuskan untuk menghukum gantung Dalto Radit tanpa ada pertimbangan ampunan"
Gemuruh suara terdengar, berdengung seperti kawanan lebah. Seorang ibu yang telah renta mengusap air matanya, nampak lega dengan keputusan yang diambil. Seorang wanita bersama keluarganya menangis berpelukan, Wanita lain berdiri di sisi lain tersembunyi. Mengelus perutnya yang besar dengan seorang anak kecil yang masih mengenakan pakaian berkabung. Mereka semua adalah keluarga korban yang berusaha mencari keadilan. Bangsawan Dalto telah begitu banyak membunuh untuk mencapai tujuannya, Tangannya penuh dengan darah. Aku paham kenapa kerajaan tidak bisa membebaskannya terlepas kenyataan bahwa Dia juga korban. Dia telah membuat seorang ibu kehilangan anaknya. Seorang istri menjadi janda, seorang kekasih yang akan melangsungkan pernikahan malah harus datang ke pemakaman kekasihnya. Setiap korban yang Dia bunuh mempunyai keluarga, orang-orang yang kehilangan dan berduka. Orang-orang yang tidak bersalah, bahkan mungkin sebagian besar mereka yang tidak mengenalnya namun berada di tempat yang salah ketika nafsu membunuh Bangsawan Dalto muncul.
Pintu penjara yang di jaga begitu ketat di buka dengan deritan nyaring. Bangsawan Dalto ditarik keluar dengan tangan terikat ke belakang. Caci maki terdengar di setiap sudut. Para prajurit berbaris membentuk pagar betis yang menghalangi orang-orang untuk mendekat. Seorang nenek menghambur maju, melemparkan batu tepat mengenai badan Bangsawan Dalto. Dua orang prajurit langsung menahan Nenek yang histeris.
"Pembunuhhh....kembalikan cucuku....apa salah Dia padamu.....Kau pembunuh..." Raung Nenek itu keras.
Caci maki terus terdengar. Semua kemarahan dan kesedihan terlihat nyata di tempat ini. Aku bersandar di tembok, memandangi semua yang terlihat jelas dari tempatku.
kerumuman berusaha menyerang Bangsawan Dalto. Lemparan batu beberapa kali mengenainya. Prajurit terus berusaha menghadang. Mereka agak kesulitan untuk mencapai tempat eksekusi. Serangan terus saja dilancarkan. Aku hanya diam menyaksikan semuanya dari persembunyianku.
Prajurit berhasil menarik Bangsawan Dalto membawanya menaiki tangga dimana tiang gantungan sudah dipersiapkan.
"Dalto Radit, Semua tuduhan telah dibacakan. Kau dinyatakan bersalah dan terbukti benar atas tuduhan tersebut. Apakah Kau ingin menyampaikan pembelaan ?" Tanya hakim agung dengan suara lantang.
"Tidak" Jawab Bangsawan Dalto dengan tenang. Dia seolah tidak terpengaruh dengan caci maki yang terus diteriakan padanya. Matanya menelusuri setiap orang, seperti mencari sesuatu. Aku semakin bersembunyi di bayangan tembok, khawatir Dia akan melihatku walaupun rasanya tidak mungkin.
"Baiklah...Hukuman segera di laksanakan sesuai tihtah Baginda Raja Bardansah selaku Raja Negeri Garduete"
Hakim Agung menutup suratnya. Berbalik menuruni mimbar di ikuti oleh dua orang lainnya. Aku berputar, melangkahkan Kakiku untuk meninggalkan tempat ini tepat ketika tali sudah di kalungkan ke leher Bangsawan Dalto. Aku sudah tidak sanggup melihatnya.
Bunyi derakan keras saat tuas di tarik oleh Algojo dan teriakan kepuasan para pengunjung bersatu dalam satu waktu ketika Aku baru melangkahkan Kakiku ke pintu keluar. Lonceng di menara berdentang berkali-kali. Menandakan bahwa eksekusi sudah berjalan tanpa ada kendala. Aku membeku. Tidak mampu berbuat apa...tidak tahu harus bagaimana.....
Semua sudah berakhir.....
Aku membuka mata, Salju turun di depan mataku. Hawa dingin seolah membekukan ku sampai ke dalam sum sum tulang. Salju pertama di musim ini. Dentang lonceng terdengar dari kejauhan. Semua merayakan kematian Bangsawan Dalto. Raja memerintahkan Pangeran Riana untuk tidak mengurungku lagi. Aku kembali dapat melarikan diri, cukup sulit karena penjagaanya lebih ketat daripada sebelumnya. Tapi Aku masih beruntung bisa kabur.
Aku berada di pondok mawar milik Bangsawan Dalto. Rasanya tempat ini begitu sunyi sekarang. Aku sengaja tidur untuk melihatnya melalui mimpiku. Sekarang sudah tidak ada lagi yang akan merawat mereka.
Aku bangkit dan menyadari mawar-mawar itu akan mati jika tertimbun salju. Mereka sangat berharga untuk Bangsawan Dalto. Bangsawan Dalto telah membuat tempat perlindungan di samping pondok. Dia biasa akan memindahkan mereka semua ke sana. Aku bangkit, dengan langkah gotai berjalan, menuju taman mawarnya. Tanpa banyak bicara Aku memindahkan satu per satu mawar ke dalam pondok itu. Air mataku mengalir dengan sendirinya. Kenangan kami mengalir. Aku merasa seolah Dia ada disini sekarang. Sibuk mengangkati mawar-mawarnya dengan tangan penuh tanah. Bayangannya terasa jelas seolah apa yang kulihat dalam mimpi itu bukanlah kebenaran.
Aku menjatuhkan satu pot mawar ke tanah. Dengan panik Aku menunduk untuk memungut tanah yang berhamburan dari dalam pot.
"bodoh bukan begitu caranya, kenapa Kau tidak bisa lembut sebagai wanita" Begitu biasanya Dia akan mengolokku ketika Aku tanpa sengaja merusak mawarnya.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Sebuah luka mengangga cukup besar dalam hatiku. Sakit....
Krak...
Aku mendongak ketika menyadari ada suara langkah kaki mendekat. Seseorang berjalan mendekati gubuk tempatku berada.
Pangeran Sera muncul dan langsung memelukku erat.
"Jangan begini Yuki...Aku mohon" Bisiknya di telingaku. Ada kesedihan dan rasa prihatin dalam tatapan matanya.
"Dia sudah pergi..." Isakku tertahan. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi"
__ADS_1