Morning Dew

Morning Dew
272


__ADS_3

Sontak semua orang memandang Yuki yang terdiam.


"Tampaknya ada orang yang tidak senang melihatmu di sini dan membocorkan keberadaanmu" kata Lekky tersenyum ramah sambil menatap Putri Marsha. Putri Marsha langsung memalingkan wajahnya dengan raut tidak senang.


Gulf kembali berbunyi lagi.


Yuki masih memandanginya dengan kebinggungan. Dia masih bimbang untuk memutuskan apakah akan mengangkat panggilan Pangeran Sera atau tidak.


"Kau tidak ingin menerimanya ?" Tanya Lekky lagi melihat Yuki yang masih diam mematung. "Kalau begitu berikan padaku" 


Lekky mengulurkan tangan hendak mengambil Gulf di tangan Yuki. Dengan cepat Yuki menjauhkan tangannya dan menepis Lekky. 


Yuki sadar Dia sudah tidak bisa melarikan diri dan bersembunyi lagi. Inilah saatnya Dia harus menghadapi Pangeran Sera dan berbicara dengannya. Jadi Yuki setelah menenangkan dirinya, perlahan Dia mengangkat tutup Gulf dan menerima panggilan Pangeran Sera.


"Yuki...apa Kau tidak ingin bertemu denganku ?" Tanya Pangeran Sera begitu panggilan tersambung.


Yuki melihat kondisi Pangeran Sera sangat aneh. Gestur tubuhnya tidak biasa, ada sesuatu yang salah. Dia menyadari kemudian jika Pangeran Sera sedang mabuk berat. 


"Pangeran di mana ?" Tanya Yuki akhirnya setelah terdiam beberapa saat. 


"Menurutmu..." Tanya Pangeran Sera balik.


 


Yuki melihat Pangeran Sera tidak berada di sekolah. Dia seorang diri. Rambut dan badannya basah kuyup karena hujan. Pangeran Sera terlihat kacau. Yuki juga tidak yakin Pangeran Sera di temani oleh para pengawal yang biasa menjaganya.


"Tetaplah di sana dan tunggu Aku. Aku akan segera ke sana" ujar Yuki sambil menutup Gulf nya. Dia kemudian berbalik menatap Lekky dengan pandangan memohon.


"Lekky.." bisik Yuki menyentuh lengan Lekky. 


Yuki tidak perlu menyuarakan keinginannya. Lekky pasti sudah bisa mengetahuinya dari pikiran Yuki. 


Yuki sangat mengkhawatirkan Pangeran Sera saat ini. Di luar hujan cukup deras. Dan Dia berada di suatu tempat di luar sendirian dan dalam keadaan mabuk berat. Yuki khawatir jika terjadi sesuatu padanya.


"Keluar gerbang samping dan berbelok ke kiri. Di sana Kau akan melihat gapura merah dengan pohon trambesi di sampingnya. Dia ada di sana" kata Lekky akhirnya dengan acuh sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Terimakasih" kata Yuki sambil mencium pipi Lekky cepat. Dia segera berlari meninggalkan meja makan. Keluar bangunan melalui pintu besar dan menerobos hujan yang turun dengan cukup deras. 


Angin kencang semakin bertiup. Yuki tetap berlari. Dia bahkan tidak berbalik meski Lekky meneriaki Yuki agar membawa payung. 


 

__ADS_1


 


 


Yuki terus berlari. Ketika Dia akhirnya sampai gerbang, Yuki segera mendorong pintunya untuk terbuka. Mengabaikan para prajurit yang berusaha mencegahnya. Dia tetap berlari dengan panik. Ke arah yang di tunjuk Lekky.


Ketika Yuki akhirnya menemukan gapura merah yang di maksud. Yuki melihat Pangeran Sera duduk bersandar di sisi Gapura dengan kepala tertunduk ke bawah. Dia tampak kepayahan dan lebih kacau daripada yang Yuki duga. Segera Yuki berlari mendekatinya dan berjongkok di depannya.


 


"Pangeran" panggil Yuki perlahan sambil menggoyangkan bahunya lembut.


Pangeran Sera membuka matanya perlahan. Yuki menangkap banyak penderitaan yang tersirat di dalam sorot mata Pangeran Sera. "Kau datang"


"Bangunlah...kenapa Pangeran berada sendirian di sini"


Yuki berusaha menarik Pangeran Sera agar bangun. Dia melingkarkan tangan Pangeran Sera ke bahunya. Yuki terhuyung saat harus menahan tubuh Pangeran Sera agar tidak jatuh. Di luar dugaan meskipun badannya terlihat langsing tapi tetap sangat berat.


"Berdirilah...Ayo Aku akan membantumu" pinta Yuki memohon.


 


Pangeran Sera tiba-tiba menepis tangan Yuki. Dia mendorong tubuhnya hingga berjalan mundur beberapa langkah ke belakang. 


"Ayo Pangeran...izinkan Aku membantumu" pinta Yuki lagi sambil mendekati Pangeran Sera. Tapi lagi-lagi Pangeran Sera menolaknya dengan keras.


"Kenapa Yuki...Kenapa Kau pergi...Kenapa Kau meninggalkanku" rancau Pangeran Sera membuat Yuki terdiam. Tidak mampu mengatakan apapun.


Pangeran Sera kembali terduduk di tanah. Yuki langsung menghampirinya dan mencoba lagi untuk membuat Pangeran Sera berdiri. Dia berusaha sangat keras menarik Pangeran Sera, mengingat bobot tubuhnya yang tidak seimbang dengan Pangeran Sera.


 


Lekky datang bersama dengan Bangsawan Voldermont. Keduanya memakai payung dan berjalan mendekati Yuki.


"Sebelum ada yang datang, ayo Kita bunuh Dia sekarang" seloroh Lekky tenang.


Yuki langsung mendelik marah pada Lekky.


"Lekky" protes Yuki masam.


"Aku hanya bercanda" kilah Lekky tenang. Tanpa di minta Lekky berjalan mendekati Yuki dan langsung menyodorkan payung pada Yuki. Kemudian Dia menarik lengan Pangeran Sera yang sudah tidak sadarkan diri akibat mabuknya ke pundak. Lekky menarik Pangeran Sera agar berdiri. Bangsawan Voldermont langsung membantunya di sisi yang lain.

__ADS_1


Yuki memayungi Mereka bertiga dari belakang saat berjalan untuk memapah Pangeran Sera masuk ke kediaman Bangsawan Voldermont. Saat Yuki melewati Pangeran Riana yang memandangnya dingin, dengan raut tidak suka. Yuki berusaha mengindahkannya dan tetap berjalan melewatinya begitu saja.


 


 


Hujan sudah turun. Meskipun tidak sepenuhnya berhenti. Hanya rintik hujan yang masih tersisa. Yuki telah selesai mengganti pakaian Pangeran Sera dan membantu membersihkan badannya dengan handuk hangat.


Sesekali Pangeran Sera menginggau memanggil nama Yuki. Setelah Yuki memastikan keadaan Pangeran Sera sudah baik. Yuki meletakan handuk di tangannya ke dalam baskom di samping tempat tidur. Dan berjalan tenang menuju balkon kamar.


Lekky sudah duduk di atas pagar sambil merokok. 


Di halaman depan, terlihat pasukan Pangeran Sera berdiri menunggu dengan sabar. Sesaat setelah Pangeran Sera di bawa ke dalam kamar, Bangsawan Voldermont menghubungi Pendeta Naru untuk mengabarkan keadaan Pangeran Sera.


Sekarang Mereka semua sudah datang dan menunggu sampai Pangeran Sera sadar untuk membawa Pangeran Sera kembali ke sekolah.


"Jadi Kau akan kembali padanya" tanya Lekky membuka obrolan. 


Yuki menatap Lekky sesaat. Mungkin keputusan yang di ambil Yuki sangatlah terburu-buru. Tapi saat melihat bagainana penderitaan Pangeran Sera, Yuki merasa tidak tega. Dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Lagipula Mereka adalah pasangan suami istri. Meskipun pernikahan Mereka awalnya karena terpaksa, tapi Mereka telah diikat dalam ikatan pernikahan yang suci dan sah. Sudah kewajiban Yuki untuk berbakti kepada Pangeran Sera sebagai seorang istri. Memberi sedikit kebahagiaan di sisa umur Yuki sebelum Dia mati nanti. Setidaknya Yuki bisa membalas budi atas kebaikan Pangeran Sera selama ini.


"Mungkin inilah yang terbaik" kata Yuki akhirnya setelah berpikir cukup lama.


"Apa kau yakin ?" 


"Ya.." jawab Yuki pelan.


Lekky menghisap rokoknya perlahan. Dia tidak perlu bertanya apa-apa lagi. Semua sudah diketahuinya dari pikiran Yuki. Bagaikan buku yang terbuka, Dia bisa membacanya dengan mudah.


"Pangeran Sera memiliki banyak penderitaan yang harus di tanggungnya. Dia tidak bisa melangkah maju seperti yang di lakukan Pangeran Riana. Dan semua ini salahku"


"Kau tidak bisa menyalahkan dirimu untuk hal yang di pilih orang lain pada hidupnya" tegur Lekky tenang.


"Aku tahu tapi, bersama Pangeran Sera akan jauh lebih mudah. Aku lelah dengan drama kehidupan istana. Aku juga bukan tidak tahu Marsha beberapa kali mencoba membunuhku tapi Kau  selalu menghentikannya tepat waktu"


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2