
"Saat ini Dia sedang sibuk mengurus pasukannya Sayang, dan kebetulan Kami di tugaskan di tempat yang berbeda. Tapi, jika nanti Kami telah menyelesaikan tugas Kami. Aku berjanji, akan membawanya untuk bertemu denganmu" ujar Yuki mengambilkan lauk dan sayur untuk Ferlay.
"Benarkah Ma, Mama janji akan mengajaknya bertemu denganku ?"
"Mama janji"
Pangeran Riana berwajah masam saat harus mendengar Yuki dan Ferlay terus membahas Pangeran Riana didepannya. Rahangnya terkatup rapat. Suasana menjadi tidak nyaman.
Yuki terus berdoa dalam hati. Berharap Ferlay sudah tidak lagi menanyakan pertanyaan yang riskan seperti itu.
"Ma..Mama...suamimu..."
George berdehem di sebelah Ferlay dan Yuki. Memutuskan obrolan. Dia berdiri dengan tenang sambil membawa nampan di tangannya.
"Nona Yuki, Aku menemukan ini untuk Tuan Muda ketika berbelanja di pasar kemarin sore. Aku berharap Tuan Muda Ferlay akan menyukainya"
George meletakan piring kecil berisi permen warna-warni kesukaan Ferlay di meja. Ferlay langsung menyambutnya dengan antusias. Melupakan pertanyaannya mengenai Pangeran Sera.
"Kau yang terbaik George, terimakasih" ucap Ferlay senang. Gaya bicaranya sangat mirip dengan Yuki.
Yuki memandang George penuh rasa terimakasih. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika George tidak datang membantunya untuk mengalihkan perhatian Ferlay.
George kepala pelayan terlatih yang dapat di andalkan. Dia sudah melayani Lekky lebih dari lima belas tahun lamanya.
Ferlay menatap butiran permen di depannya dengan perasaan senang. Dari tatapannya, Yuki tahu semua permen itu akan menjadi menu pembuka, hidangan utama sekaligus makanan penutup untuk Ferlay.
"Kau baru boleh memakan semuanya sampai Kau menghabiskan makananmu" Kata Yuki tegas membuyarkan kesenangan Ferlay.
"Tapi Mama..."
"Tidak ada negosiasi" potong Yuki menghentikan perdebatan. Yuki membantu Ferlay untuk menikmati sarapannya. Nenek Marple memilih makan bersama George di dapur belakang. Sementara yang lain sudah mengambil makanannya masing-masing.
"Ma...mama..."
Ferlay baru saja menghabiskan makanannya dan kini Dia sedang menikmati permennya. Kembali menatap Yuki dengan pandangan penasaran.
Yuki mendesah. Dia berharap Ferlay tidak lagi menanyakan sesuatu yang sulit untuknya.
"Ya sayang"
__ADS_1
"Nenek Marple bilang Mama sedang mengandung seorang bayi, apakah itu benar ?"
"Ya, Dia akan menjadi adikmu nanti. Kau bisa bermain bersamanya jika Dia sudah lahir" jawab Yuki merasa sedikit lega. Karena Ferlay tidak lagi bertanya hal buruk padanya.
"Benarkah itu Ma ?"
"Tentu saja"
"Ma, apakah punya anak itu menyenangkan ?"
"Sangat menyenangkan. Seperti Mama punya Ferlay. Setiap hari selalu menyenangkan" jawab Yuki lembut.
"Kalau begitu, Aku juga ingin mempunyai seorang anak sendiri Ma. Bagaimana caranya sampai Mama bisa hamil ?"
Bangsawan Voldermont terbatuk karena makanan yang baru di telannya tersangkut di kerongkongan. Seperti yang lain, Dia menyimak pembicaraan Yuki dengan Ferlay. Tapi pertanyaan anak itu sukar untuk di tebak dan membuat Yuki kebingungan.
Yuki langsung mengulurkan segelas air putih pada Bangsawan Voldermont. Bangsawan Voldermont menerima gelas airnya dan langsung meminum habis isinya untuk meredakan tenggorokan.
Yuki tidak tahu bagaimana Dia bisa menjawab pertanyaan Ferlay sekarang. Bangsawan Asry menahan tawa ketika melihat wajah Yuki yang kepayahan.
Putri Ransah mengatakan seorang bayi berasal dari bangau yang terbang ke langit untuk mengambil bayi yang akan diturunkan ke bumi, dan di berikan pada manusia-manusia yang di rasa pantas untuk merawatnya.
"Sayangnya, Kau belum bisa untuk membuat bayi sendiri" kata Yuki akhirnya setelah cukup lama menimbang.
"Kenapa ?" Tanya Ferlay langsung merasa kecewa.
"Karena, Adik bayi hanya bisa di buat oleh dua orang manusia yang sudah menikah. Seperti Ayah dan Ibumu. Juga Kakek dan Nenek. Setelah menikah, Mereka akan tidur bersama dalam satu ruangan. Kemudian barulah adik bayi baru bisa muncul ke dalam perut seorang perempuan"
Yuki merasa jengah saat harus menjelaskan di depan Pangeran Riana dan Para Bangsawan. Wajahnya memerah menahan malu.
"Jadi Kita harus menikah dulu baru bisa tidur bersama ya Ma"
"Benar" kata Yuki cepat. "Kau harus menjadi dewasa dan cukup umur terlebih dahulu baru bisa menikah dan memiliki seorang bayi sendiri"
"Tapi Mama....kalau memang benar begitu. Kenapa tadi pagi Aku melihat Mama tidur satu ranjang bersama Kakak itu. Bukankah Mama bilang suami Mama sedang tidak ada di sini, dan Kita harus menikah dulu baru bisa tidur bersama. Kakak itu juga tidak malu saat tadi pagi mandi di kamar mandi Mama dan telanjang di depan Mama kan"
Yuki menjatuhkan sendok di tangannya. Mulutnya tergangga sempurna. Tidak percaya dengan pertanyaan polos yang di ucapkan Ferlay. Rasanya Dia ingin mempunyai kemampuan seperti Lekky. Pergi dan menghilang secepat kilat.
__ADS_1
Yuki melihat ke sekeliling panik. Dia memandang setiap orang dengan wajah merah padam karena malu. Sekaligus berharap salah satu dari Mereka mau membantunya mengatasi Ferlay.
Bangsawan Asry tidak mampu menahan tawanya. Dia terkikik puas di samping Bangsawan Xasfir yang tersenyum lebar pada Yuki. Sementara Bangsawan Voldermont membuang muka seolah tidak melihat Yuki.
Mereka semua tidak merespon permintaan bantuan dari Yuki. Dan justru malah menertawakan Yuki secara terang-terangan.
"Karena Kami akan menikah, jadi tidak masalah jika Kami tidur bersama. Ke depannya, Kau bisa memanggilku Ayah, Karena Aku akan menjadi suami Mamamu" jawab Pangeran Riana tenang pada Ferlay. Menatap lurus ke arah mata Ferlay. Mengabaikan protes Yuki yang tidak menyukai jawabannya.
Yuki tidak ingin berdebat dengan Pangeran Riana di depan Ferlay. Jadi Dia memutuskan untuk diam dan tidak membahasnya lebih lanjut.
Setelah sarapan, Yuki menemani Ferlay bermain di kebun belakang sembari mengecek kebun sayur miliknya. Dia membawa obat semprot serangga di tangannya. Sesekali menunduk untuk memeriksa kondisi sayuran di dalam kebunnya.
Ferlay berlari riang sambil bermain layangan. Yuki berdiri dengan tenang di tempatnya.
Ferlay tampak sangat gembira hari ini. Wajahnya dihiasi senyuman yang membuatnya sangat menggemaskan. Terus berlari sambil berteriak menghadap langit. "Ibuu...micu-micu...ibu micu,"
Meskipun hari ini cukup mendung dan awan gelap menggantung di langit. Tapi sinar matahari masih mampu memberi kehangatan yang menyenangkan di kulit Yuki.
"Apa yang Dia katakan ?" Tanya Pangeran Riana saat Dia sudah berjalan didekat Yuki.
"Siapa ?" Tanya Yuki tidak mengerti dengan siapa orang yang di maksud Pangeran Riana.
"Ferlay"
"Ohh....micu-micu ?" Kata Yuki lagi setelah memahami maksud pertanyaan Pangeran Riana. "Sebenarnya itu adalah bahasa di duniaku yang lama. Pengucapan yang benar adalah Miss You, tapi Ferlay justru senang mengucapkannya menjadi micu-micu. Dia selalu meneriakannya ketika sedang bermain layangan atau menerbangkan balon ke langit. Ferlay percaya, Ibunya tinggal di langit dan melihatnya dari atas sana"
"Apa arti kata itu ?"
"Aku merindukanmu" jawab Yuki masih memandangi Ferlay yang berlari di depannya.
Yuki meletakan semprotan hama di meja kecil yang ada di taman. Dia mengusap tangannya dengan sapu tangan dan bergerak untuk mendekati Ferlay. Tapi Pangeran Riana mencekal lengannya dari belakang dan membuat Yuki berbalik untuk menatapnya.
"Aku juga..." Kata Pangeran Riana sambil menatap Yuki dalam.
Pangeran Riana berdiri tenang. Melepaskan tangannya dari lengan Yuki yang masih diam mematung. Dan berlalu pergi.
__ADS_1