
Yuki mundur selangkah karena Putri Marsha mendorongnya dengan kasar. Bangsawan Asry sampai harus menahan Putri Marsha agar tidak mendekati Yuki.
Yuki tidak menampik bahwa Dia adalah penyebab Bangsawan Voldermont di serang. Tapi bukankah Putri Marsha dalang di balik kejadian ini.
Putri Marsha justru bersikap sangat keras. Seolah Dia sangat perduli dengan keselamatan Bangsawan Voldermont.
Karena tidak mendapatkan respon yang di harapkan dari Yuki, Putri Marsha langsung beralih pada Pangeran Riana yang masih duduk dengan tenang di tempatnya.
"Riana, lebih baik Kau usir Dia dari sini. Jika Perlu Kau kembalikan saja Dia pada suaminya. Kita tidak butuh lagi menambah masalah dengan menampungnya. Urusan rumah tangga Dia lebih baik Kita tidak usah ikut campur"
"Penjaga..." Panggil Pangeran Riana cepat. Putri Marsha tersenyum puas. Dia merasa berkuasa ketika Pangeran Riana menuruti keinginannya. Tapi kata yang keluar dari Pangeran Riana selanjutnya membuat wajah Putri Marsha berubah menjadi masam. "Bawa Putri Marsha kembali ke istana Harem"
"Riana..apa maksudmu ?" Protes Putri Marsha kesal.
"Kau terus berteriak sana sini sembari tadi. Membuat kepala orang pusing. Apa Kau tidak tahu situasinya sekarang ?. Voldermont sedang terluka, alih-alih menenangkan suasana Kau justru malah membuat keributan yang tidak perlu. Lebih baik Kau segera kembali ke istana dan mengurusi tugasmu sendiri"
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Kita.."
"Apa yang Kalian tunggu. Cepat bawa Dia pergi sekarang" perintah Pangeran Riana dingin mengabaikan protes Putri Marsha.
Dua orang prajurit datang dan langsung menjalankan perintah. Putri Marsha berpaling menatap Yuki penuh kebencian dan meninggalkan ruangan. Yuki diam-diam bernafas lega.
"Pangeran..Tuan sudah sadar" lapor pelayan yang membantu merawat Bangsawan Voldermont. Semua orang bergegas masuk kembali ke dalam kamar.
"Bagaimana keadaanmu ?" Tanya Pangeran Riana ketika sudah di dekat Bangsawan Voldermont. Bangsawan Voldermont sudah diobati dan di beri pakaian ganti. Semua lukanya telah di bersihkan dan di balut. Penampilannya jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Tidak begitu buruk" jawab Bangsawan Voldermont sambil bersandar di tumpukan bantal yang ada di belakangnya.
"Aku akan menambah penjagaan untuk sementara waktu"
"Apakah ada sesuatu ?" Tanya Bangsawan Voldermont langsung.
"Ada pembunuh bayaran yang mencoba menyusup ke kediamanmu. Tapi Lekky telah menghabisi Mereka semua"
"Bajingan itu ternyata berguna juga" guman Bangsawan Voldermont sambil meringis memegang tangan kirinya yang di bebat. Dia kemudian melirik ke arah Yuki yang berdiri di dekat pintu keluar. "Kucing kecil, kemarilah. Bantu Aku mengoleskan salep ke lukaku"
__ADS_1
Yuki bergerak maju dengan cepat. Perasaan bersalah terus mengelayutinya. Sekarang, Dia tidak bisa meninggalkan Bangsawan Voldermont begitu saja. Putri Marsha mencoba membunuh Bangsawan Voldermont karena Bangsawan Voldermont mengetahui kebenaran yang terjadi lima tahun lalu. Jadi Yuki harus sekuat tenaga menjaga Bangsawan Voldermont dan tidak membiarkannya celaka lagi.
"Anak pintar, duduklah di situ" pinta Bangsawan Voldermont senang. Yuki menurut dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Mengambil salep yang di letakan di atas meja. "Dengar ya Yuki. Karena Aku terluka, Kau harus menjadi pelayanku sampai Aku sembuh" dendangnya lagi dengan perasaan senang.
Seminggu berlalu...
Bangsawan Voldermont sudah berangsur-angsur pulih. Lukanya sudah mengering hanya saja lengan kirinya masih harus di bebat.
Pagi hari, setelah selesai membantu mengoleskan obat dan menganti perban. Yuki menuntun Bangsawan Voldermont untuk duduk di balkon kamar menikmati suasana pagi yang menyenangkan. Matahari bersinar hangat. Para pelayan telah mempersiapkan sarapan di atas meja bundar.
"Kau terluka di tangan kirimu. Tapi kenapa Aku justru merasa Kau sedang terluka di tangan kananmu" sindir Yuki ketika Dia mulai menyuapi Bangsawan Voldermont.
"Jangan mengomel. Kapan lagi Aku bisa bebas bermanja-manja denganmu" seloroh Bangsawan Voldermont membuka mulutnya dan menerima nasi yang di suapkan Yuki untuknya.
Yuki kembali menyendokkan nasi ketika Pangeran Riana datang bersama Bangsawan Xasfir. Semenjak kejadian itu Pangeran Riana beberapa kali mengunjunginya. Yuki merasa lega karena Putri Marsha tidak pernah ikut datang. Dalam hati Yuki bertanya apa Pangeran Riana melarang Putri Marsha datang ke kediaman Bangsawan Voldermont ?.
"Aku ingin bicara serius denganmu" Kata Pangeran Riana kepada Bangsawan Voldermont sambil duduk di seberang Yuki. Yuki meletakan sendoknya dan beringsut akan pergi. Tapi Bangsawan Voldermont menahan tangannya.
"Mau kemana Kau...duduk saja" pinta Bangsawan Voldermont memprotes.
Yuki terpaksa mengalah dan kembali duduk. Dia tidak mau berdebat panjang dengan Bangsawan Voldermont di depan Pangeran Riana dan Bangsawan Xasfir.
"Ada apa ?" Tanya Bangsawan Voldermont pada Pangeran Riana.
"Motif penyerangan terhadapmu di duga karena rahasia yang Kau sembunyikan dari Kami. Apa yang sedang Kau coba simpan Vold ?"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu" kata Bangsawan Voldermont berkilah. Dia mengambil gelas di depannya dan meminum isinya.
"Kita sudah cukup lama bersama untuk saling mengenal Vold. Aku tahu Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku"
__ADS_1
"Kalau begitu, Kau juga tahu Aku tidak akan pernah membicarakannya denganmu"
"Kau adalah saudaraku Vold. Jika terjadi sesuatu denganmu..."
"Tenang saja, Aku akan pastikan itu tidak akan lagi terjadi" potong Bangsawan Voldermont cepat. Jelas Dia tidak ingin lagi membahas topik penyerangannya. Bangsawan Voldermont bukan orang yang bodoh. Dia tahu pasti siapa dalang di balik penyerangan terhadapnya meskipun Yuki tidak menceritakan apapun padanya.
Bangsawan Voldermont kemudian menyenggol lengan Yuki dengan sikunya. Membuat Yuki tersentak kaget. "Kucing kecil, jika Kau berniat menembus kesalahanmu dengan baik, lanjutkan untuk menyuapiku"
Yuki kembali mengambil sendok dengan patuh dan menyuapi Bangsawan Voldermont. Pangeran Riana hanya diam memandangi Mereka berdua. Tidak ada ekpresi apapun di wajahnya.
Yuki memakai gaun berwarna merah maroon yang sangat cantik, yang di ambilnya dari lemari kamarnya di kediaman keluarga Olwrendho.
Dia mendapat panggilan dari Varmount dua jam yang lalu. Dan sekarang, Dia sudah bersiap di depan cermin. Membungkukkan badan memakai sepatu hak tinggi yang memiliki warna senada dengan gaun yang di kenakannya.
Curly mengantar Yuki menuju sebuah bar. Hari sudah larut malam ketika Yuki tiba di sana. Tapi suasana di dalam bar masih begitu meriah. Yuki melihat Bangsawan Voldermont bersama seorang wanita. Begitu sembuh, Dia kembali pada kebiasaan lamanya. Yuki tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu.
Di sebelah Bangsawan Voldermont ada Pangeran Riana dan Putri Marsha. Putri Marsha langsung menatap Yuki tidak suka.
Bangsawan Voldermont menyadari kehadiran Yuki.
"Yuki, jika Aku tahu Kau akan datang kemari. Aku akan mengajakmu tadi" sapa Bangsawan Voldermont sambil mendekati Yuki.
"Apa Kau melihat Lekky ?"
"Lekky ?. Ya..Dia ada di sana" tunjuk Bangsawan Voldermont pada sebuah pintu yang tertutup di sudut ruangan.
Yuki segera berjalan menuju pintu yang di maksud.
"Tapi Yuki...Dia...."
Yuki sudah keburu membuka pintu dengan lebar ketika Bangsawan Voldermont meneriakinya untuk mencegah Yuki. Di dalam ruangan, Yuki melihat Lekky bersama seorang Putri. Mereka berdua saling berpelukan dan berciuman dengan liar.
__ADS_1