Morning Dew

Morning Dew
235


__ADS_3

Saat itu, Yuki masih kekanakan dan sangat polos. Berjalan memasuki gedung sekolah, berharap mendapatkan teman di sekolah barunya.


Dia tidak pernah menyangka, bahwa semua itu adalah awal dari segalanya.


Kisah yang membawanya sampai ke titik sekarang. 


Tahun ini, usia Yuki menginjak ke dua puluh empat tahun. Yuki merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi dalam dirinya. Dia bukan lagi gadis yang dulu. Gadis yang bodoh, yang naif dan mudah percaya pada orang.


Pengalaman telah mengajari Yuki. Dia adalah guru terbaik Yuki. 


Curly yang kembali menghilangkan sosoknya agar tidak terjadi kehebohan seperti di aula kerajaan Raja Bardhana. Dia berada tepat di bahu Yuki. Membuat Yuki merasa tenang dengan kehadiran Curly di sisinya.


Keputusan Lekky untuk meninggalkan Curly bersama Yuki adalah keputusan yang tepat.


"Aku tidak mau berpisah dengan Tuan Lekky lagi" gerutu Curly di telinga Yuki. Tampaknya Dia tidak senang dengan apa yang di pikirkan Yuki mengenainya.


 


 


Yuki merasa gemetar di seluruh tubuhnya. Saat Mereka melewati taman tengah yang menuju gedung Kuldhi. Yuki melihat Rombongan Pangeran Riana berjalan menuju ke arahnya. 


Putri Marsha berjalan di sampingnya. Keduanya tampak sangat serasi. Pangeran Riana jauh lebih tenang dan dewasa. Di tangannya, Dia memegang baling-baling bambu yang di tempeli semanggi berdaun lima. 


Ada kepercayaan yang berkembang turun-temurun di Negeri Garduete. Jika ingin menemukan seseorang yang sudah lama tidak bisa di temukan. Terbangkanlah baling-baling bambu yang di tempeli semanggi berdaun lima ke udara. Maka Dia akan menunjukan jalan untuk menemukan orang itu.


Yuki tidak mengira Pangeran Riana akan mempercayainya.


"Tunggu Aku sebentar. Setelah ini Aku akan bergabung dengan Kalian" ujar Bangsawan Xasfir pada Rombongan Pangeran Riana yang sudah berada di dekatnya.


Yuki membungkukan badan kepada Pangeran Riana dan Putri Marsha, untuk memberi penghormatan layaknya seorang pelayan yang terlatih.


"Hey bukankah itu baling-baling berdaun semanggi. Aku jadi ingat dulu Kita sering bermain di lapangan bersama mencari semanggi berdaun lima" seru Bangsawan Xasfir saat menyadari baling-baling bambu di tangan Pangeran Riana. "Memang siapa yang ingin Kau temui" ucap Bangsawan Xasfir bergurau.


"Seorang anak memberikannya padaku" jawab Pangeran Riana dengan suara beratnya yang mampu membuat Yuki goyah seketika. Yuki terus mengingatkan dirinya agar tetap tenang dan tidak mengikuti keinginannya untuk berlari pergi menghindari Pangeran Riana. 


Jika Yuki melakukannya, Mereka akan curiga dan identitas asli Yuki dapat terbongkar dengan cepat.


"Siapa Dia ?" Tanya Putri Marsha pada Bangsawan Xasfir.

__ADS_1


"Pelayan pribadi Lekky Darmount" jawab Bangsawan Xasfir cepat.


"Pelayan pribadi ?" 


Putri Marsha menatap Yuki dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. Kemudian Dia kembali berucap cukup keras "Apa semua wanita yang menemaninya selama ini tidak cukup, sampai Dia harus membawa pelayan pribadinya untuk datang kemari ?"


"Pendeta Suci juga memanggilnya untuk datang kemari" kata Bangsawan Xasfir mencoba memberi penjelasan."Baiklah Aku pergi dulu baru nanti menyusul Kalian"


 


Yuki kembali membungkukan badan memberi hormat dan langsung mengikuti Bangsawan Xasfir pergi.


Baru beberapa langkah berjalan, angin kencang bertiup dari belakang Yuki. Terdengar suara desiran halus di atas kepala. Ketika Yuki mendongak untuk melihat apa yang terjadi ?.


Baling-baling bambu yang di tempeli semanggi berdaun lima melayang di udara. 


Tampaknya baling-baling bambu itu terlepas dari tangan Pangeran Riana dan terbang tertiup angin.


Baling-baling itu terbang dan berputar mengeliling Bangsawan Xasfir dan Yuki.


Yuki berdiri menyaksikan baling-baling bambu itu terbang. Suaranya berdengung di udara.


Baling-baling bambu jatuh tepat di telapak tangan Yuki. 


Yuki tertegun sesaat sembari melihat baling-baling bambu berdaun semanggi di tangannya. Terdengar suara langkah mendekat. Ketika Yuki mendongak. Matanya langsung bertemu dengan mata Pangeran Riana. 


Yuki langsung mundur terhuyung beberapa langkah. Dia nyaris tidak mampu bernafas dengan benar. Dengan cepat Dia menundukkan kepala menghindari tatapan Pangeran Riana. Membungkuk dengan sikap hormat sambil mengulurkan baling-baling bambu milik Pangeran Riana yang ada di tangannya.


Pangeran Riana tidak mengatakan apapun. Dia mengambil baling-baling bambu dari tangan Yuki. Kemudian berbalik pergi.


Yuki menatap punggung Pangeran Riana yang menjauh. Pangeran Riana sudah jauh lebih dewasa daripada yang Yuki kira. Yuki senang mengetahui Pangeran Riana dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.


"Hey cepatlah" ujar Bangsawan Xasfir membuyarkan lamunan Yuki. Yuki segera mengikuti Bangsawan Xasfir kembali, meninggalkan taman tengah untuk menuju ke kamarnya.


 


Yuki di antar ke sebuah kamar yang di peruntukan untuk para pelayan di sekolah. Kamar kecil dengan kamar mandi di dalamnya. Ada tempat tidur kecil yang cukup untuk satu orang. Meja kecil di dekat jendela yang terbuka dan sebuah lemari kecil di kaki tempat tidur. Kamar ini sangat suram dengan dindingnya yang berwarna abu-abu gelap. 


Segera setelah Bangsawan Xasfir meninggalkannya sendiri. Dia segera membersihkan kembali kamarnya. Menata pakaiannya di lemari dan barang-barangnya di meja. Curly duduk senang di atas tempat tidur. Menunggu Yuki sambil memakan dua buah apel merah yang sebelumnya di berikan Yuki.

__ADS_1


Lekky jarang sekali mau memberikan Curly sebanyak itu. Dia sangat memperhatikan pola makan Curly.


Setelah selesai menyusun barang-barangnya. Yuki mandi dan berganti pakaian.


"Ayo Kita ke kamar Lekky" ajak Yuki sambil memakai cadar untuk menutupi wajahnya.


Curly yang telah menghabiskan dua buah apelnya langsung menghilang. Tapi Yuki tahu, Dia sudah menempel di bahu Yuki.


 


Berkat Curly, Yuki dengan mudah bisa menemukan kamar Lekky. Tapi kamar ini terkunci. Yuki tidak kehilangan akal. Dia mengambil jepit rambutnya dan mulai mengutak-atik kuncinya.


Klik 


Akhirnya setelah lima belas menit mencoba Dia berhasil membuka pintu. Ketika masuk ke dalam kamar Yuki langsung menahan nafasnya.


Kapal pecah.


Begitu Yuki menggambarkannya. Baju-baju berserakan di berbagai tempat. Entah itu kotor atau tidak. Putung rokok, sampah sisa makanan berhamburan di atas meja. 


Yuki tidak mengerti bagaimana orang bisa hidup dalam kamar sejorok ini. Dengan kasar Yuki menutup pintu di belakangnya. Dia mulai mengambil keranjang cucian dan mengumpulkan semua pakaian yang berserakan. Memasukkan sampah ke dalam kantung plastik. Mengelap semua perabotan dari debu. Menyikat kamar mandi. Merapikan ranjang tempat tidur.


Kamar milik Lekky jauh lebih luas daripada kamar yang di tempati Yuki. Ada ruang untuk menyimpan pakaian dan ruang kerja yang digabung dengan ruang tamu kecil di dalam kamar. Setelah semua selesai, Yuki langsung menarik keluar keranjang cucian dan membawanya ke sumur di belakang bangunan asrama. Mencuci semua pakaian Lekky di sana. 


Dia memilih mencuci di sana karena tempat itu lebih sunyi dan jarang di lalui orang. Sehingga Yuki tidak perlu terlalu berhati-hati dengan sekitarnya. 


Tidak mudah untuk datang dan menyandang status sebagai "Pelayan Pribadi Lekky Darmount". Mengingat banyak sekali sebenarnya orang yang berniat untuk membunuh Lekky di sini.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2