
Perasaan depresi dan hinaan yang terus di tujukan padanya, memicunya melakukan tindakan yang nekat.
Sebuah kalimat yang pernah di dengarnya terus tergiang di telinga Yuki. Yuki tidak menyangka akan memikirkannya di akhir ajalnya.
Orang jahat terlahir dari orang baik yang sering tersakiti.
Mungkin itu adalah kalimat yang pantas untuk menggambarkan Bangsawan Dalto sekarang.
Pandangan Yuki mulai mengabur. Tubuhnya sudah lemas tidak bertenaga. Detik-detik kematiannya akhirnya tiba.
Yuki menghela nafas. Bersiap menjemput kematiannya.
Ayah, Mama...maafkan Aku pergi dengan cara ini..
"Hentikan..cukup..Dia akan mati" teriak Bangsawan Dalto kencang.
Bangsawan Dalto tidak pernah berniat membunuh Yuki. Dia tidak akan membiarkan Balgira mengingkari janjinya.
"Kau bilang hanya menginginkan sedikit darahnya, tapi apa yang terjadi sekarang ?. Kau akan membunuhnya"
"Jangan halangi Aku" geram Balgira marah. "Darah ciel memang akan memberiku kekuatan dasyat. Tapi meminum darahnya sampai merenggut kehidupannya akan membuatku abadi dan tak terkalahkan"
"Kau menipuku...hentikan sekarang !!" Tegas Bangsawan Dalto penuh kemarahan.
"Diam Kau !!, Sedikit lagi Kita akan berhasil. Kau jangan mengacau seperti Ayahmu. Karena termakan rayuan wanita, Dia mengkhianatiku dan melawanku. Demi kemanusiaan...bahh...apa yang Dia dapatkan demi membela Mereka ?. Jika Dia mau mendengarkanku waktu itu, Dia tidak akan mati terhina di persidangan" guman Balgira kesal. "Untung saja Aku masih memiliki seorang Putri yang setia. Jika bukan karenanya, Aku tidak akan selamat dalam kebakaran kuil itu. Jika bukan keturunan laki-laki dari keluargaku yang bisa membangkitkan Aku kembali. Putriku sudah pasti membunuhmu waktu itu. Dia juga tidak perlu bersusah payah hidup di negara lain"
"Kau memanfaatkanku ?" Kata Bangsawan Dalto memandang bengis pada Balgira.
"Kau pikir, Kau menemukan petunjuk mengenai kuil ini adalah kebetulan. Putriku lah yang merencanakannya. Bukan kebetulan semata seperti yang Kau kira" Balgira tertawa meledek. "Sekarang jadilah keluarga Radit yang baik seperti bibimu. Jadilah pengikutku selanjutnya untuk menguasai dunia"
Balgira menatap Bangsawan Dalto kemudian kembali berbicara lantang dengan nada memperingatkan. "Selalu ada yang harus di korbankan jika Kau ingin mendapatkan sesuatu. Termasuk gadis itu"
Bangsawan Dalto berbalik, berjalan dengan dingin menuju Yuki. Ada suatu keputusan yang baru saja di buatnya.
Yuki sudah tidak bergerak. Tapi Dia masih bernafas. Matanya terpejam. Rambut menutupi wajahnya yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Kau salah" bisik Bangsawan Dalto. Tanpa di duga Dia mencabut pedang di pinggangnya dengan cepat. Kemudian memutuskan sulur yang menghisap Yuki dengan sekali tebas.
Tubuh Yuki tersentak ke belakang ketika sulur yang menancap di tubuhnya lemas dan berjatuhan di sekitarnya. Darah mengalir keluar dari lubang di tubuhnya. Tempat di mana sulur-sulur dari Iblis Balgira menancap sebelumnya.
"Apa yang Kau lakukan" raung Balgira marah.
"Aku tidak akan mengorbankannya untuk tujuanku" jawab Bangsawan Dalto tegas.
Mendapatkan jawaban seperti itu membuat Balgira semakin marah. Dia melayangkan sulur miliknya, menghantam tubuh Bangsawan Dalto dengan keras sehingga melayang menabrak cawan batu tempat Yuki di kurung.
Saking kerasnya benturan, cawan batu itu sampai terguling ke bawah. Kerangkeng besi di atasnya terlempar jauh ke dasar tangga. Yuki sendiri mengelinding sampai ke pertengahan tangga.
Yuki tidak bergerak. Kesadarannya hilang timbul. Tubuhnya sangat lemas.
Bangsawan Dalto bangkit, darah segar mengalir di mulutnya.
"Kau sama tidak bergunanya seperti Ayahmu" tuding Balgira keras.
Sekali lagi sebuah sulur di hantamkan ke arah Bangsawan Dalto. Namun Dia mampu melawan kali ini. Meskipun tetap saja tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan Iblis Balgira. Duel berlangsung tidak seimbang.
"Sampah keluarga seperti kalian memang pantas untuk di bunuh" Seru Balgira ketika pada akhirnya Dia berhasil menangkap Bangsawan Dalto dengan melilitkan sulur ke tubuhnya.
Bangsawan Dalto tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia tampak puas yang tidak dapat di utarakan.
Balgira menatap Bangsawan Dalto dengan pandangan tidak mengerti.
"Yuki.." panggil Bangsawan Dalto dengan suara jelas. Yuki masih diam. Dia dapat mendengarkan tapi sama sekali tidak dapat merespon ucapan Bangsawan Dalto. "Maafkan Aku karena sudah membuatmu harus mengalami hal seperti ini. Tapi setidaknya, sekarang Aku sudah menyadari kesalahanku dan mencoba memperbaikinya"
"Perpisahan yang menarik" dengus Balgira merasa muak. Dia tidak percaya, ada laki-laki yang tergila-gila pada seorang wanita sampai tidak bisa berpikir logis dalam keluarganya. "Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Setelah membunuhnya Aku akan membunuhmu. Sangat menyenangkan melihatmu menderita ketika gadis yang Kau cintai mati perlahan di depanmu"
"Kau akan menyesal jika membunuhnya sekarang" ujar Bangsawan Dalto tenang.
"Ha ha ha..Kau mengancamku ?"
Bangsawan Dalto tersenyum tenang sembari memandang langit. "Aku hanya mengingatkanmu. Bukan biru telah lewat. Kematiannya justru akan merugikanmu sekarang"
__ADS_1
"Apa...sialan Kau"
Iblis Balgira melempar Bangsawan Dalto ke lantai. Dia mendongak dan mendapati bulan biru telah bergeser dari atas kepala. Ritual telah lewat. Dia harus memastikan Yuki selamat setidaknya sampai sepuluh tahun mendatang untuk menanti kedatangan bulan putih, untuk menyelesaikan ritualnya.
Raungan kemarahan menggelegar kencang. Bangsawan Dalto menatap Balgira puas. "Kau tidak bisa membunuhnya sampai bilan putih tiba, atau Kau punya cadangan Ciel lain yang bisa menutup ritualmu di bulan putih ?"
Iblis Balgira hendak menyerang Bangsawan Dalto kembali ketika terdengar geraman rendah di atas langit.
Suara itu tidak menyerupai geraman rebdah dari Balgira, melainkan suara geraman lain yang penuh amarah dari luar sana.
Terdengar suara derak bebatuan dari atap kuil di susul batu-batu berjatuhan ke bawah.
Bangsawan Dalto melompat untuk melindungi Yuki dari hujan batu. "Yuki..." Bebatuan jatuh tanpa ampun. Suara keletak keras terdengar di lantai.
Atap di jebol dari luar.
Sepasang sayap merentang membentuk bayangan besar. Masuk ke dalam kuil dengan cepat dari lubang atap.
Raldoft turun dan langsung menyambar Balgira dengan kuku kakinya yang setajam pedang. Kemudian Dia mendarat dengan sempurna ke atas lantai.
Pangeran Riana duduk di atas punggung Raldoft. Sementara itu terdengar suara keributan dari luar pintu. Pintu di dibobrak paksa. Para Prajurit istana menyeruak masuk. Pendeta Serfa dan Pendeta Agung Hiro langsung merampal mantra untuk melawan Balgira.
Pangeran Riana turun membantu dan langsung menyerang.
"Yuki..bangun Yuki...Yuki...Aku mohon..buka matamu..Yuki !!" Pinta Bangsawan Dalto sembari menepuk pipi Yuki dengan wajah cemas. Mencoba mengembalikan kesadaran Yuki sebelum terlambat.
Perlahan Yuki membuka mata. Dia tersenyum menatap Bangsawan Dalto.
Sahabatnya telah kembali.
"Syu..syukur..lah..." Kata Yuki dengan nafas terenggah-enggah. Dia membutuhkan tenaga hanya untuk mengucapkan satu kalimat pendek. "Ka...Kau...suu....sudah...kem...ba..li.."
Yuki tidak kuat lagi. Dia lemas. Kesadarannya menghilang.
Bangsawan Dalto mengoncangkan tubuh Yuki panik. Mencoba membangunkan kembali Yuki. Darah membasahi bajunya. Dia sangat takut Yuki akan mati.
__ADS_1
"Bangun..Yuki...bangunlah..."