Morning Dew

Morning Dew
157


__ADS_3

Yuki tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Suasana hatinya sedang tidak baik.


"Aku meminta maaf karena baru bisa mengunjungi Putri sekarang" Kata Putri Magitha dengan raut menyesal. 


Putri Magitha baru saja kembali dari perjalanan jauh, menemani Ratu untuk melakukan terapi pengobatan dari penyakit yang di derita Ratu Warda. Dia langsung kemari begitu tiba di istana dan memastikan Ratu Warda sudah bisa di tinggal menjenguk Yuki.


"Tidak apa-apa Putri, bagaimana keadaan Ratu"


"Ibu baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan" jawab Putri Magitha tenang. "Ibu menitipkan pesan untuk Putri, Dia turut berduka atas kejadian yang menimpa Putri. Sebenarnya Ibu ingin mengunjungi Putri, tapi kondisinya belum stabil"


"Sampaikan ucapan terimakasihku atas perhatian Ratu Warda. Aku juga belum bisa menjenguknya akhir-akhir ini"


"Apa Putri baik-baik saja ?" Tanya Putri Magitha terus terang sembari menatap Yuki dalam.


Setelah beberapa lama berteman dengan Putri Magitha, Yuki mendapat kesan, meskipun Putri Magitha dari luar terlihat seperti Putri yang tidak mau ambil pusing. Sebenarnya Dia memiliki pengamatan yang cukup tajam dengan sekitarnya.


"Aku..." Yuki binggung harus mengatakan apa.


"Kakak pergi beberapa hari untuk menyelidiki sesuatu. Sebelum pergi Dia memintaku dan Arana bergantian menjaga Putri sampai Kakak kembali" ujar Putri Magitha mengalihkan pembicaraan. Dia mengerti jika Yuki tidak mau membahas mengenai kematian Pelayannya.


"Ada apa ?" Tanya Yuki tidak mampu menyembunyikan kecemasaannya. Jika keadaaan tidak darurat, Pangeran Sera tidak akan pergi tiba-tiba dan tanpa perencanaan.


"Kakak mencari bukti adanya pergerakan dari Laiden yang bertujuan untuk mengacaukan pemerintahan"


Yuki merasa sedikit lega mendengarnya. Tadinya Dia berpikir Pangeran Sera mendapatkan informasi mengenai Pangeran Riana. Semenjak kepergian Rena, Yuki sangat mencemaskan Pangeran Riana. Dia khawatir Pangeran Riana kembali bertindak nekat setelah mendengar masalah penyerangan yang terjadi.


"Apa ada sesuatu yang menganggu Putri ?" Tanya Putri Magitha keheranan. Yuki menggelengkan kepala pelan, mencoba bersikap tenang agar Putri Magitha tidak merasa curiga.


"Lalu bagaimana ?. Apakah Pangeran Sera berhasil menemukan bukti ?" Tanya Yuki balik mencoba memfokuskan kembali topik bahasan pada cerita Putri Magitha.


Putri Magitha mendesah dengan raut wajah kecewa. "Laiden orang yang ambisius, tapi Dia sangat bodoh. Selama ini Dia berlindung di balik ketiak Perdana Menteri Borindo. Sedangkan orang tua itu sangat licik dan sulit di hadapi. Aku yakin, Penyerangan terhadap Putri adalah rencana Mereka" 


Sesaat setelah penyerangan terjadi. Para penjaga langsung menyisiri seluruh istana. Tapi Mereka tidak menemukan pelakunya. Orang itu seolah menghilang begitu saja bagaikan asap.

__ADS_1


"Aku sudah beberapa kali mengatakan pada Kakak, bahwa pelakunya adalah salah satu Putri yang berada di aula ketika Putri di racun. Tapi Kakak tidak mau percaya. Padahal jika Kita menyelidiki dan akhirnya mendapatkan pelakunya. Kita bisa memaksanya untuk membuka mulut sehingga dapat menyeret Perdana Menteri Borindo di dalamnya"


"Kalau begitu bagaimana jika Kita mencari tahu sendiri" usul Yuki spontan. Perasaan ingin menemukan keadilan untuk Rena terus memenuhi pikirannya. 


"Tidak..Kakak tidak akan menyukainya" tolak Putri Magitha lagi dengan wajah pucat pasi. Dia tampak ketakutan memikirkan kemarahan Pangeran Sera jika Mereka menjalankan usul dari Yuki. Meskipun sebenarnya Putri Magitha juga ingin melakukannya.


"Kenapa ?" Tanya Yuki kecewa.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada Putri di bawah pengawasan Kami, Kakak pasti akan sangat marah. Sekarang ini Kakak meminta Kami secara tegas untuk tidak membiarkan Putri seorang diri selama Kakak tidak ada di istana"


Yuki mulai mengerti alasan Putri Magitha masih ada di kamarnya selarut ini. 


"Aku janji Kita hanya akan menyelidiki saja. Tidak lebih" ujar Yuki kembali. Berusaha membujuk Putri Magitha.


 


"Tidak" tolak Putri Magitha lebih keras. Wajahnya tampak gusar dan tertekan. Yuki harus mencari ide lain agar Putri Magitha mau bekerja sama. Hanya Dia harapan Yuki.


"Sebenarnya, Aku juga percaya bahwa pelakunya adalah salah satu dari Putri yang berada di aula" ujar Yuki tertahan.


Yuki langsung mengambil kesempatan untuk kembali membujuk Putri Magitha. 


"Ya, tentu saja" Yuki menganggukan kepala. Memasang wajah serius. "Aku terus memikirkan perkataan Putri Magitha dan yakin Putri benar. Kita ini wanita. Dan hanya wanita saja yang tahu dengan jelas pikiran wanita lainnya"


Putri Magitha mengangguk membenarkan. Umpan sudah di makan. Tinggal Yuki harus bisa mengambil cara untuk dapat menarik pancingnya.


"Kakak tidak mempercayaiku. Dia menganggap Aku hanya mengada-ada dan melarangku untuk membahasnya, terutama di depan Putri"


"Sekarang, hanya Kita yang bisa menemukan pelakunya tanpa di curigai" 


"Bagaimana bisa ?" Tanya Putri Magitha kembali ragu.


"Jika Pangeran ataupun para Prajurit yang bertanya, Para Putri akan bungkam meskipun Mereka sebenarnya melihat atau mengetahui sesuatu yang aneh. Tapi jika Kita berbaur dengan Mereka, Aku yakin suatu saat akan ada yang memberi informasi baik di sengaja maupun tidak pada Kita"

__ADS_1


"Aku rasa apa yang Putri katakan itu ada benarnya" ujar Putri Magitha setelah terdiam cukup lama.


"Kita hanya berbaur dan mendengarkan serta mengamati Mereka saja. Tidak akan mencurigakan dan berbahaya" bujuk Yuki lagi berusaha mempengaruhi Putri Magitha.


"Tapi Mereka tidak menyukai Putri, Jika Putri berkumpul bersama Mereka, Putri harus siap mendengarkan ejekan Mereka. Apa Putri bisa menghadapinya ?" Tanya Putri Magitha ragu.


"Demi membantu Pangeran Sera. Aku siap melakukannya" jawab Yuki dengan keyakinan penuh.


"Baiklah, Kita akan melakukannya diam-diam dan jangan sampai Kakak mengetahui masalah ini atau Dia akan marah padaku" pinta Putri Magitha menyerah.


"Aku janji Dia tidak akan mengetahui masalah ini" 


"Sekarang hal yang pertama kali harus Kita lakukan adalah Kita sembuhkan dulu Putri, karena Kakak tidak akan mengizinkan Putri berpegian jika Putri masih sakit." Kata Putri Magitha sambil membenahi selimut Yuki. Yuki menganggukan kepala senang. Meskipun rencana ini baru rencana, dan Dia tidak tahu apakah akan berhasil. Yuki merasa senang karena Putri Magitha mau membantunya menyelidiki masalah ini.


Yuki berharap dapat menemukan pelakunya untuk Rena.


 


 


"Salam Putri Magitha" seorang Putri datang menghampiri Yuki dan Putri Magitha yang duduk bersantai di pinggir pantai. Beberapa kelompok kecil Putri, duduk menyebar di sepanjang pantai. Yuki harus menahan perasaan saat melihat tatapan sinis yang di tujukan untuknya dari para Putri. 


"Putri Nagin" Putri Magitha membalas salam Putri Nagin. 


Putri Nagin tidak memberikan salam pada Yuki meskipun Yuki duduk di sebelah Putri Magitha. Jelas Dia mengacuhkan keberadaan Yuki dan tidak mau memandang Yuki sama sekali.


Mereka duduk di sebuah tikar yang di hamparkan ke atas pasir. Dua orang prajurit memasangkan payung besar di dekat Mereka untuk melindungi dari sengatan matahari. 


"Sudah lama tidak melihat Putri Magitha di sini" ujar Putri Nagin masih mengacuhkan Yuki.


"Aku sedikit sibuk belakangan ini. Tapi hari ini, Aku cukup senang bisa bersantai dan mengajak Putri Yuki untuk datang dan menikmati keindahan pantai bersama" jawab Putri Magitha datar. Yuki terpesona dengan pengendalian emosi Putri Magitha. Dia harus banyak belajar kepada Putri Magitha. "Apakah Putri Nagin bersedia untuk bergabung bersama Kami" tawar Putri Magitha langsung.


Mereka sudah lebih dari seminggu berusaha berbaur dengan para Putri. Tapi sampai sekarang, Mereka masih belum mendapatkan hasil yang baik.

__ADS_1


Yuki terus menyemangati dirinya untuk tidak menyerah, apalagi Putri Magitha yang membantunya pun masih gigih menjalankan misinya.


__ADS_2