
Selama satu jam sudah cukup untuk membuat badan menjadi lebih enak, setelah bangun tidur kini bersiap-siap untuk pergi mengunjungi makam kedua orang tuanya.
"Aku sudah siap, ayo kita berangkat." tangan Kei sibuk membenarkan letak tas selempang kecil yang akan dia taruh diatas bahunya. Kini sudah berdiri didepan tuan Ken. Tuan Ken sendiri sudah bersiap dengan sempurna, memakai kemeja berwarna navy dan celana bahan berwarna hitam tampak kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Tuan Ken langsung berdiri, mereka berdua berjalan keluar kamar.
Diluar, sekretaris Lee sudah menunggu. Bersama menuju ke Lift, didalam sana Ken terus mendekap tubuh Kei dari samping seolah tidak ingin jauh dari istrinya. Ketika sudah didalam mobil, Kei sebagai petunjuk jalan kearah makam kedua orang tuanya. Sebelumnya tuan Ken sudah memberi perintah untuk menyiapkan bunga yang akan dibawanya. Mobil itu sudah sampai didepan jalanan makam, semua melangkah turun dari mobil dan berjalan menuju kemakam. Kei sudah hapal dimana letak makam kedua orang tuanya yang kebetulan memang bersebelahan.
Didepan batu nisan kedua orang tuanya, Kei mulai berjongkok dengan menaruh buket bunga diatas tanah makam. Tangannya mencabut rumput yang tumbuh. "Tidak perlu dibersihkan. Biar Lee yang mengurus." cegah tuan Ken. Kei melihat kearah tuan Ken dan menganggukkan kepala.
"Ibu, ayah... Kei datang." Kei menjeda kata yang ingin ia ucapkan. Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Rindu, sangat merindukan kedua orang tuanya yang sudah lama pergi. Wajah kedua orang tua yang masih jelas teringat dalam bayangannya, bagaimana orang tua selalu ada dikala suka dukanya, tapi semua hanya tinggal kenangan. Tidak bisa memandang ataupun merasakan kasih sayang mereka lagi. Meratapi itu, airmata Kei lolos membasahi pipi.
Tuan Ken setia mendampingi disisinya.
"Ibu, Ayah, Kei datang bersama suamiku. Tetapi bukan lagi mas Izham, melainkan tuan Ken. Jangan tanyakan lelaki itu lagi Bu, dia sudah jauh menyakitiku. Sekarang tuan Ken yang bisa memberiku kebahagiaan, dia lelaki yang sudah menjagaku dengan sangat baik. Dia juga lelaki yang mencintai aku dengan cara yang berbeda. Aku sangat bahagia Bu, bukan hanya itu saja, kini aku sedang mengandung seorang anak, do'akan Kei agar bisa berjuang untuk melahirkan dengan selamat. Semoga Ibu dan Ayah selalu mendapat tempat terbaik, Kei akan selalu mendo'akan ayah dan Ibu. Amin..." Kei menunduk dengan airmata yang masih berderai. Tuan Ken menghapus airmata dipipi Kei, dia juga merasakan kesedihan yang Kei rasakan. Didalam hati berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Kei dengan segenap jiwanya.
"Sttt..." ketika suara tangis Kei pecah, tuan Ken membimbing Kei kedalam dekapannya. Mengusap bahu yang bergetar karna tangisan.
"Ibu dan ayah mertua, meski aku belum pernah kenal dengan kalian tapi aku berjanji akan menjaga dan selalu membuat putri kalian bahagia. Semoga kalian damai dialam keabadian." ucap tuan Ken melihat kearah batu nisan yang bertuliskan nama almarhum mertuanya. Beberapa lama disana, tuan Ken tidak ingin melihat kondisi Kei semakin sedih dan mengajak istrinya untuk kembali pulang. Kei menuruti perintah tuan Ken, baginya sudah bisa berkunjung ke makam kedua orang tuanya sudah membuatnya senang. Mereka berdua berjalan menuju kemobil yang terparkir dipinggir jalan.
__ADS_1
Berjalan dipinggir jalan tidak sengaja melihat bude dan pakde, Kei segera memanggil.
"Pakde, Bude...!" setengah berteriak karna jarak mereka sedikit jauh. Dua orang laki-laki dan perempuan yang sudah paruh baya itu segera menoleh saat mendengar suara yang tidak asing memanggil mereka.
Bude Parmi, adalah kakak dari almarhum ibunya, sedangkan lelaki paruh baya yang disebut pakde tadi bernama Bejo suami dari bude Parmi. Keduanya saling pandang, mereka tidak mengenali keponakannya sendiri yang memang sudah jauh berbeda. Bude dan pakde itu selalu baik kepada Kei saat didepan saudaranya saja, namun setelah adik mereka meninggal dan Kei harus menyusul Izham ke Jakarta mereka memaksa Kei menjual rumah warisan kedua orangtuanya dengan harga murah. Saat itu Kei sedang membutuhkan uang, rela tidak rela akhirnya menyerahkan rumah peninggalan kedua orang tuanya itu dengan harga yang sangatlah murah.
Kei yang memang memiliki pribadi baik tidak memiliki dendam pada siapapun, dia tetap menganggap mereka saudara. Kei berjalan pelan menghampiri pakde dan budenya yang baru pulang dari sawah dengan melewati jalanan makam itu.
"Pakde, Bude..." Kei mencium tangan keduanya yang masih sedikit kotor bekas tanah sawah.
"Siapa ya? aku lupa, tapi wajahmu seperti tidak asing?" kata bude Parmi, memaksa otaknya untuk mengingat siapa perempuan yang sudah menjabat tangannya itu.
"Ke-Kei? heh... jangan ngasal! nggak mungkin kamu Kei, Kei itu nggak bisa jalan normal karna cacat." bude Parmi itu tidak percaya bahkan dari ucapannya seolah merendahkan Kei yang yang dulu.
Senyum cerah dibibir Kei tadi perlahan menghilang, budenya sendiri mencemo'oh dirinya dulu yang cacat.
"Apa kamu Kei anaknya Siti?" tanya pakde Bejo, mengalihkan pandangan keduanya. Kei tersenyum kepada pakde Bejo yang memang lebih baik daripada bude Parmi, istrinya itu.
__ADS_1
"Iya pakde, ini aku Kei keponakan kalian."
"Ya ampun, ini beneran kamu, Kei? Kami tidak mengenaliku Kei, kamu berbeda sekali." kata pakde Bejo terlihat senang. Sedangkan bude Parmi tadi tampak mencermati Kei dari atas sampai kebawah, merasa tidak percaya jika itu benar Kei keponakannya.
"Apa kabar, nduk?" tanya pakde Bejo. "Kei baik, pakde. Pakde sama bude sehatkan?" Kei membalikan pertanyaan pakde Bejo tadi.
"Iya, kami semua sehat."
"Honey..." tuan Ken memanggil, sedari tadi dirinya dibiarkan menganggur. Kei sendiri sampai lupa tidak memperkenalkan suaminya itu kepada pakde dan budenya.
"Iya, sayang." jawab Kei. Dua orang paruh baya itu hanya menyaksikan saja, belum paham hubungan keduanya.
"Nduk, tidak enak kalau ngobrolnya dijalan, ayo kita kerumah pakde saja." pakde Bejo mengajak Kei untuk mampir kerumahnya. "Iya pakde, Kei boleh mampir kerumah kalian? Kei juga kangen dengan rumah itu." Kei begitu antusias saat pakde Bejo mengajaknya. Dia juga ingin sekali menginjakan kaki dirumahnya yang dulu, rumah yang menyimpan banyak kenangan.
"Kei, ingat! rumah itu sudah aku beli." ucap bude Parmi ketus. "Iya bude, Kei sangat ingat. Kei hanya ingin melihat rumah itu sebentar. Aku kangen dengan rumah Ibu yang dulu."
"Ya sudah, ayo." ajak pakde Bejo lagi. Kembali melanjutkan perjalanan, mereka berdua hanya berjalan kaki karna jarak rumah dan makam tidak terlalu jauh.
__ADS_1
Setelah pakde dan bude itu menjauh, Kei berbicara dengan tuan Ken agar mau diajak melihat rumahnya yang dulu. Beruntung tuan Ken setuju dengan ajakan Kei. Tuan Ken mengajak Kei masuk kedalam mobil. Meski rumah itu tidak jauh tetap saja tuan Ken tidak akan membiarkan istrinya itu kelelahan berjalan.