Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Terlunta di negara orang


__ADS_3

"Io, ada apa!? Kenapa kamu berbicara kasar kepada Oma!? Itu sangat tidak sopan! Mom tidak pernah mengajarimu seperti itu!" bentak Kei sangat marah mengetahui Akio berbicara menggunakan nada tinggi dengan omanya.


Semarah apapun, harusnya masih ingat dengan sopan santun. Begitu pikir Kei, dia belum mengetahui kesalahan yang dilakukan oma Lyra sendiri.


"Mom bisa bertanya sendiri kepada Oma, kenapa Io bersikap tidak sopan." Akio bahkan enggan melihat ke arah oma Lyra.


"Kamu sadar yang kamu bicarakan, itu tidak sopan!"


"Maafin Io, kalau tidak sopan. Tapi Io sangat kecewa dengan Oma." Akio berlalu begitu saja. Dia melewati mommy Kei dan keluar dari kamar oma Lyra.


"Mi, maafin Io. Biasanya semarah apapun dia, Io tidak pernah bersikap kurang ajar seperti tadi. Mungkin karena kepergian Naya, membuat Io berubah labil. Nanti biar Kei nasehati. Sekali lagi maafin Io ya, Mi." Kei benar-benar tidak enak hati, apalagi oma Lyra sampai terisak.


"Mami pantas diperlakukan seperti tadi. Kesalahan Mami terlalu besar dan tidak pantas untuk dimaafkan. Wajar cucuku marah dan benci denganku."


"Maksud Mami?"


"Kei, mungkin gara-gara Mami, Naya memutuskan pergi."


"Apa?!"


*


Akio mengendarai mobil tanpa ada tujuan pasti. Beberapa kali dia membasuh wajah dengan gerakan kasar.


"Kenapa harus oma yang menjadi penyebab Naya pergi. Kenapa oma tega membuat Naya tertekan. Harusnya aku bertindak tegas dari awal. Dan Naya tidak akan pergi."


"Maafkan aku, Nay. Aku tidak tahu seberat apa kamu bertahan di sisiku. Aku telat mengetahui tekanan yang selama ini kamu alami. Tapi kenapa kamu memilih pergi? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku? Apa hanya satu malam cintamu bisa terhapuskan begitu saja? Aku mencintaimu, aku bisa tinggalkan apa yang ku miliki, asal terus bersamamu."


"Tuhan, beri aku petunjuk di mana Naya berada. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Ku mohon ... pertemukan aku dengan Naya." Akio berdoa dengan sungguh-sungguh.


Dadanya begitu sesak membayangkan bagaimana kekecewaan Naya terhadap oma Lyra. Dia pun menilai oma sangat keterlaluan, sampai membuat ibu Naya meninggal. Beruntung Naya masih bertahan, meski pada akhirnya memilih pergi.


Kesedihan membuat Akio kurang fokus mengendarai mobil. Terbukti beberapa kali terdengar sahut-sahutan klakson karena ban mobilnya kekuar dari jalur.

__ADS_1


Din ... din ... !!!


Brak ....


*


Sirine ambulance terdengar di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Mobil sport putih berlist hitam mengalami kecelakaan tunggal di jalan Marga Sapta km 16.


Kondisi korban sepertinya tidak terlalu parah, namun masih tidak sadarkan diri.


Ken yang mendapat kabar pertama kali sempat syok mendengar putranya mengalami kecelakaan. Padahal baru saja oma Lyra di periksa dokter karena beberapa saat lalu sempat pingsan. Belum beres dengan satu masalah, sudah menyusul masalah baru.


Ken menyuruh Kyu untuk menjaga oma Lyra, dan memberi pesan agar dia tidak memberitahu tentang Akio. Di takutkan semua bertambah rumit.


Dia bersama Kei langsung ke rumah sakit.


"Honey, aku minta jangan tegang. Jangan sampai kamu juga pingsan dan jatuh sakit, aku pasti bingung untuk merawat kalian! Kalau di tanya, aku orang paling pusing di antara kalian. Tapi aku berusaha menjaga diri dan menjaga kewarasan agar tetap stabil. Ku harap kau juga bisa menahan diri." Ken berpesan pada Kei yang saat ini tengah menangis dalam pelukannya.


"Kenapa jadi serumit ini, antara mami dan Io. Bagaimana kita harus mengambil sikap?" keluh Kei.


Sampai di rumah sakit, perawat sudah siap sedia untuk mengantar Ken dan Kei ke ruangan rawat Akio.


"Semoga Io tidak kenapa-napa. Aku sangat takut," ucap Kei, jari jemari saling bertautan. Gelisah bercampur cemas.


Seorang dokter keluar dari ruang rawat Akio. Ken dan Kei segera menodong pertanyaan.


"Tuan Muda mengalami luka sobek di atas dahi sebelah kiri. Tapi luka itu sudah kami tangani. Selain itu, ada memar di bagian sebelah kanan."


"Selain itu?" tanya Ken seolah belum puas mendengar keterangan dari dokter.


"Em, pergelangan kakinya membengkak, mungkin karena terkirir."


"Dokter tahu apa yang harus ditindak lanjuti. Periksa keseluruhan, kalau bisa, ujung kuku, ujung rambut, semua harus di periksa. Jangan sampai terlewat!"

__ADS_1


Sekian purnama telah dilalui, ternyata sikap Ken benar-benar tidak berubah. Over protektif terhadap keluarganya masih ada. Apalagi dalam keadaan panik. Semua akan lebih menyulitkan.


"Baik, Tuan."


Ken dan Kei masuk ke dalam. Ternyata Akio sudah sadar. Ken mendekat dan bertanya aneh.


"Io, kau masih ingat dengan daddy? Dan dia, apa kau juga masih ingat dengan mommy mu?"


Pertanyaan Ken membuat Kei terbengong. Akio juga melihati daddy nya dengan aneh.


Ken tidak merasa aneh, menurutnya pertanyaan itu benar. Dia pikir luka di kepala biasanya rentan mengalami amnesia. Hal itu membuatnya khawatir.


Teringat sewaktu dulu dia pernah kecelakaan dan terkena benturan, dia pun mengalami amnesia sampai lupa dengan anak istri. Dia takut Akio mengalami hal yang sama.


"Io ingat dengan kalian. Io tidak amnesia, Dad. Bahkan kalau bisa, Io malah ingin hilang ingatan supaya lupa dengan semuanya," ungkap Akio dengan suara lirih.


"Jangan bilang seperti itu, Io. Ucapan itu seperti doa. Kamu tega lihat Mom sedih kalau sampai kamu sungguhan mengalami amnesia," kata Kei.


"Lebih baik Io amnesia, dengan begitu bisa melupakan Naya. Juga melupakan kesalahan oma."


"Sstt, jangan berpikir berat dulu. Lukamu serius, fokus dulu untuk kesembuhanmu," ucap Naya mengelus lengan tangan Akio.


"Benar kata mommy mu, fokus dengan kesembuhanmu. Dad akan tetap mengerahkan semampu Dad untuk mencari keberadaan istrimu," sela Ken menimpali.


*


Hingga langit kehilangan bias jingga, Naya masih terus berkeliling mencari tempat aman untuk berteduh.


Beberapa kali dia di usir pihak keamanan karena dia berteduh di tempat yang tidak boleh disinggahi.


Setelah berjalan kesana kemari, perutnya kembali merasa lapar. Dia harus mencari makanan untuk dia dan bayi yang ada dalam perutnya.


Faskieh yang baru selesai menghabiskan makan malamnya tiba-tiba teringat sesuatu. Bukankah perempuan bernama Naya baru tiba tadi pagi, apa dia sudah punya tempat tinggal? Ah, kenapa dia tadi lupa menanyakan itu. Setidaknya dia bisa membantu mencarikan tempat tidur untuk beberapa hari.

__ADS_1


Dia melihat jam di dinding, sudah pukul delapan malam. Hari sudah gelap, apa dia harus mencari Naya di sekitar lokasi tadi.


Dia bukan siapa-siapa, dia juga tidak wajib untuk ikut campur. Tapi ... lagi-lagi rasa empaty yang tinggi, membuatnya tak tega untuk membiarkan orang yang berasal dari tanah air yang sama dengannya itu terlunta di negara orang.


__ADS_2