Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Lahirnya putri kecil


__ADS_3

Mereka berdua yang telah lelah beraksi kini tengah duduk dikursi tunggu.


Ken melirik Lee yang masih menyisakan ringisan disudut bibir, terkadang mendesis demi menikmati daerah sensitif yang terkena tendangan super.


Setelah melirik sebentar, kedua bola mata Ken beralih bergerak kesana kemari. Merasa bersalah dengan kejadian barusan.


Meski Lee berkata,


"Aku tidak pa-pa tuan,"


"Tikus hitam ku cuma cederai sedikit, nanti juga pulih lagi,"


"Ini tidak sebanding dengan waktu khitanan yang harus melalui proses pengguntingan."


"Anda tidak perlu merasa bersalah,"


Begitu jawaban Lee saat Ken merasa bersalah dan mengucapkan maaf.


'Sungguh hatimu mulia sekali Lee. Kau tidak pernah marah atau meninggalkanku, selalu setia dibelakang ku. Apa karna sesuatu kau menjadi yang paling setia mendampingiku?' batin Ken dengan pandangan menerawang.


Waktu yang terus bergulir, kurang lebih dua jam operasi Kei berjalan lancar. Dan pintu ruangan itu terbuka.


Ken segera menghampiri dokter Stevi, begitu yang tertera di tag name. Dokter Stevi menggantikan dokter Sofia yang sedang cuti.


"Bagaimana keadaan istri dan anakku?" tanya Ken khawatir.


"Mereka baik-baik saja 'kan? tidak terjadi sesuatu yang serius? awas saja kalau Dokter memberi kabar buruk. Pasti tau apa konsekuensi nya!!!"


Dokter Stevi yang berdiri didepan pintu hanya menelan ludah pahit. Begini kah sikap asli tuan Ken? batinnya.


Menahan sakit dan dengan gerakan pelan Lee mendekati tuan Ken. "Tuan, biasakan untuk bersikap tenang. Biarkan Dokter menjelaskan dulu." ucap Lee.


Ken mendengus sebal tidak menanggapi.


"Istri anda mengalami pendarahan hebat tuan. Kondisinya sedang kriti..."

__ADS_1


"Apa...!" Ken terkejut dan melotot tajam.


Dokter Stevi sampai mundur kebelakang, berkali-kali menelan ludah secara bersamaan. Ujung mata melirik kearah sekretaris Lee meminta bantuan.


Kini sekretaris Lee lebih mendekat dan menggantikan tuan Ken untuk bertanya.


"Jadi kondisi nona Kei masih kritis?"


Dokter Stevi mengangguk, namun melirik kearah tuan Ken. Raja bisnis itu tengah terpejam dan memegangi kepala. "Lee, istriku kritis." ucapnya lirih bergetar. Tidak lagi bernada marah dan meninggi, kini suaranya terdengar lirih dan pilu.


Lee menepuk lengan tuan Ken untuk menenangkan.


"Tapi ada kabar baik juga, tuan."


"Putri anda lahir dengan selamat, lengkap, tanpa kurang apapun. Dan, sangat cantik seperti ibunya." dokter Stevi memberanikan untuk tersenyum karna keterangannya barusan harusnya mampu meringankan kesedihan tuan Ken.


Dan benar saja, kini mata Ken terlihat berbinar. "Pu putri?" gumamnya. Mata itu menatap kearah dokter Stevi untuk mencari kebenaran.


Dokter Stevi mengangguk-angguk kepala.


Lee mengangguk dan ikut tersenyum, "Selamat tuan muda, sekarang sudah lengkap memiliki tuan muda kecil dan juga tuan putri kecil. Kebahagiaan anda telah sempurna," Lee memberi ucapan selamat.


"Makasih Lee," ucap Ken.


'Kalau lagi seneng mau aja ngucapin makasih, giliran marah-marah semua jadi sasaran. Sampai aset berharga ku menjadi taruhan. Tapi tak apa lah, melihat tuan muda bahagia, aku juga turut bahagia.' batin Lee kesal bersamaan itu berubah mengu lum senyum.


"Kapan aku bisa melihatnya?" tanya Ken pada dokter Stevi.


"Sebentar lagi, perawat sedang membersihkan tuan putri kecil. Setelah selesai, perawat akan memberitahu Anda."


"Untuk Nona Kei, kami pindahkan keruang intensif sampai menunggu nona Kei sadar. Kita berdo'a semoga semuanya baik-baik dan nona segera siuman."


"Aku tidak mau tau! berikan perawatan terbaik dan agar Kei segera sadar."


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."

__ADS_1


Meski Ken tidak menjawab, dokter Stevi menunduk hormat sebelum berlalu kembali masuk kedalam.


Lagi-lagi masih harus menunggu. Tapi tak lama terdengar high heels menggema di lorong panjang.


Bisa ditebak bahwa pemilik high heels itu adalah mami Lyra. Berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Ken.


"Ken, bagaimana?" mami Lyra menuntut jawaban atas keadaan Kei. Setelah menutup telpon dari Lee, mami Lyra yang sedang mengadakan pertemuan penting bersama ibu-ibu paruh baya segera memutuskan untuk pergi kerumah sakit.


"Kondisi Kei kritis." terdengar hembusan nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Tapi putriku lahir dengan selamat," ucap Ken lagi.


Mami Lyra menutup mulut, sedetik kemudian airmatanya lolos mendengar kabar sedih dan bahagia secara bersamaan.


Pintu ruangan terbuka dan perawat mendorong brankar keluar. Di atas brankar itu Kei berbaring lemah dan terlihat pucat. Kedua bola mata yang terpejam.


Ketika perawat melewati mereka. Ken melangkahkan kaki untuk mengikuti dan menggenggam tangan Kei. Dari bibirnya terdengar memanggil istrinya yang masih belum sadar.


Ruang rawat VVIP memang tidak jauh dari ruang operasi, hanya terhalang beberapa ruangan lain. Kini Kei sudah berpindah keruang rawat intensif.


Hanya Ken yang berada diruang Kei, mami Lyra dan Lee masih menunggu baby girl yang tengah diurus perawat.


"Honey, terjadi lagi. Kau harus bertaruh nyawa demi anak kita. Entah berapa kali kau menghuni ruang mengerikan ini. Tapi selalu berhasil melalui kesakitan yang kau rasa. Semoga kali ini kau juga akan berhasil terbangun dengan kondisi baik."


"Kau tau, ternyata dugaan kita benar. Anak kita berjenis kelamin perempuan. Seperti keinginan kita, semua do'a kita terkabul."


"Cepatlah bangun, Sweety. Aku dan anak-anak menunggu mu sadar. Kita akan melalui hari-hari bahagia dengan sempurna."


"Terima kasih banyak untuk perjuanganmu. Kau istri terhebat yang memiliki hati seperti malaikat. Keberuntungan terindah bisa memilikimu. I love you forever," diakhiri dengan kecupan kening lama dan sangat dalam. Mendeskripsikan perasaan cinta yang sangat besar dan dalam untuk Kei. Istri tercintanya. Ibu dari anak-anaknya.


Begitu panjang kalimat yang diungkapkan Ken didepan Kei. Meski tubuh Kei hanya diam membisu, tapi Ken yakin bahwa istrinya bisa mendengarnya.


Tautan jemari mereka semakin erat, dengan ciuman ciuman yang diberikan Ken pada telapak tangan pucat itu.


Hati yang diselimuti dengan perasaan harap harap cemas demi menunggu Kei sadar dan mengunggu keadaannya yang membaik.

__ADS_1


Keadaan ini seperti Dejavu yang beberapa kali terjadi. Dimana Kei terbaring lemah dengan selang yang menempel dibeberapa anggota tubuh. Lagi-lagi merasakan kesakitan demi melahirkan keturunannya.


__ADS_2