
Malam ini penampilan Naya sangat memukau bagi Akio. Begitu cantik dan terlihat elegan. Dress silver bertabur mutiara di bagian bahu menjadikan penampilan Naya begitu sempurna.
Meski di bagian perut sedikit membuncit, namun tak mengurangi keindahan bentuk tubuh sang istri, dan Justru terlihat indah baginya.
"Malam ini kamu terlihat sangat cantik."
Naya hanya menanggapi dengan senyum simpul. "Memang kenapa pakek acara makan malam di luar?" tanyanya.
"Nggak pa-pa, nanti kamu akan tahu setelah waktunya tiba."
Akio fokus menyetir, meski begitu sesekali pandangannya beralih ke samping, rasanya ingin terus menerus menatapi wajah Naya. Tak ingin melewatkannya barang sedetikpun.
Saat ini perasaanya membuncah, seolah sedang merasakan kasmaran untuk pertama kalinya. Selama ini, dia tak pernah melirik perempuan manapun selain Zee. Itu pun berbeda dengan yang di rasakanya sekarang.
"Akio, a-aku ingin minta maaf." Beberapa detik dikuasai keheningan, Naya mengawali pembicaraan.
"Minta maaf untuk apa?" Akio menanggapi dengan santai.
"Untuk apapun kesalahanku. Dan ... aku juga ingin ucapkan terima kasih untuk kebaikanmu beserta keluargamu."
"Nay, kamu bicara apa? Kita suami istri, tidak perlu ada kata maaf dan terima kasih."
"Aku hanya ingin mengatakannya saja," ucap Naya mengalihkan pembicaraan, agar pembahasan mereka tidak lagi panjang.
"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi? Kita akan makan malam jam 10 nanti."
"Kenapa nunggu jam 10?"
"Karena aku boking cafe nya memang jam 10."
"Kita mau makan malam atau sewa cafe untuk bermalam? Ada-ada saja," ujar Naya sambil menggeleng pelan.
Karena tak ada tujuan pasti, Akio membelokan mobilnya menuju sebuah taman. Dia ingin menikmati waktu di tempat umum sebelum nanti tiba waktunya memberi surprise ulang tahun Naya. Bila sekarang langsung menuju ke cafe, waktunya masih terlalu lama.
"Ke taman?" ucap Naya begitu mengetahui mobil yang di tumpangi berbelok ke parkiran taman.
"Kita nikmati suasana malam di tempat terbuka."
"Tapi, bagaimana kalau ada yang mengenali kita?"
"Nay, nggak ada yang perlu ditutupi lagi. Biarkan semua orang tahu."
"Akio ...," panggilan itu menguap di udara, karena Akio telah memotong perkataannya.
__ADS_1
"Nay, please. Keadaan akan tetap baik-baik saja."
'Kamu bilang keadaan akan tetap baik-baik saja, tapi kamu nggak tahu apa yang terjadi.'
Akhirnya Naya hanya bisa menuruti keinginan Akio, mengikuti setiap langkah kemana pria itu pergi. Menikmati kebersamaan yang mungkin akan segera berganti.
Telapak tangan itu menghangat, saat melirik ke bawah, kini jemari mereka saling bertautan. Hangat dan damai menjalari perasaan jiwa. Andai semua itu adalah miliknya, dia takkan henti mengucap syukur.
Namun, sebuah mimpi akan segera berakhir. Dia akan kembali pada kenyataan hampa dan kekosongan, harinya akan berganti dengan perjuangan.
Sebuah perjuangan sulit untuk mengubur perasaan, untuk mengikhlaskan apa yang sudah terlewati. Dan untuk mengembalikan semuanya seperti sebelum dia datang.
Naya meminta duduk di kursi yang tersedia di taman, kakinya terasa lelah setelah mereka berjalan berkeliling taman yang ramai dengan pengunjung lain. Beruntung, dari sekian banyak orang tak ada yang mengenali mereka.
Naya meringis sambil mengelus bagian perut.
"Apa dia bergerak terus?"
Naya mengangguk. "Dia mulai aktif gerak terus."
"Mungkin dia tahu kalau miminya udah nggak sedih lagi."
'Kamu salah! Justru malam ini adalah puncak kesedihanku.'
"Kita saja belum tahu dia laki-laki atau perempuan, bagaimana mau menyiapkan nama?"
"Pilihannya ada dua, ya, tinggal cari nama yang cewek atau cowok."
"Belum sih, aku belum kepikiran sama sekali. Kehamilanmu masih 6 bulan, ku pikir masih ada waktu 3 bulan lebih untuk menyiapkan nama. Yang terpenting, gunakan marga keluargaku. Garis keturunan yang selalu menggunakan nama Kenichi," cerita Akio.
"Kenichi? Lucu, sih," sahut Naya. "Perempuan juga di harus ada nama Kenichi?" tanyanya.
Akio mengangguk. "Mau tahu kepanjangan nama Kyu?"
"Siapa?"
"Kyunara Almera Kenichi."
"Bagus sih, tapi lucu. Kalau kamu, Akio Ryuga Kenichi, kan? Dia nanti kalau lahir laki-laki, kita beri nama Yuza Kenichi, saja" celetuk Naya.
"Hem ... singkat, padat dan terlalu jelas," kata Akio. Membuat keduanya saling tertawa.
"Lalu siapa? Coba kamu yang cari nama."
__ADS_1
"Siapa ya?" Akio terlihat berpikir. "Graha Thuga Kenichi."
"Haha ...." Naya justru terbahak. "Dapet ide dari mana itu? Namanya aneh tau."
"Aneh bagaimana? Nama itu paling keren."
Mereka masih berlanjut berembuk nama untuk calon anak mereka, sampai Naya mengeluh mengantuk dan meminta untuk pulang saja. Namun rencana yang di siapkan tidak boleh batal, Akio tetap akan mengajak Naya ke cafe. Semua surprise sudah di siapkan, bahkan semakin dekat waktunya, jantungnya pun semakin berdebar.
Jalan yang dilalui tampak tak asing. Jalanan yang sangat di hapal Naya karena jalanan itu menuju arah rumahnya. Namun, begitu dekat pada gang rumah, Akio malah terus melajukan mobilnya.
Jalan itu sekarang menuju cafe milik Akio, dimana dulu Naya pernah bekerja di sana sebagai pegawai pencuci piring.
Dan benar Akio membelokan mobil itu kesana.
"Kamu boking cafe itu?" tanya Naya dengan raut cemas. Anggukan dari Akio membuat Naya menghela napas berat.
"Kita pulang aja. Jangan makan di sini. Batalin aja boking tempatnya. Makan malam di rumah juga nggak apa."
"Memang kenapa?" Akio jelas tahu apa yang dipikirkan Naya.
"Cafe itu ... em, aku dulu pernah kerja di cafe itu. Beberapa orang pasti mengenaliku. Udah, Kita cari tempat lain saja," bujuk Naya.
"Tapi aku udah siapin semuanya di sini. Nggak masalah kalau ada yang mengenalimu." Berbeda dengan Naya, Akio terlihat santai.
'Aku memang sengaja mengajakmu ke sini, aku akan mengenalkanmu sebagai istri ku. Ke depannya, kamu bisa mengunjungi cafe sesuka hatimu.' Akio tersenyum sendiri. Pikirannya berbanding terbalik dengan yang dipikirkan Naya.
"Aku pernah bekerja di sini sebagai pencuci piring. Kamu bakal malu."
"Itu dulu. Sekarang kamu istriku, bukan lagi seorang pegawai."
Perdebatan kecil mereka terus berlanjut sampai akhirnya lagi-lagi Naya harus mengalah mengikuti pria itu.
Sudah beberapa bulan berlalu, dia berdoa, semoga para pegawai sudah berganti orang. Hingga tak ada yang mengenalinya, termasuk si pemilik cafe.
Begitu sampai di depan cafe, beberapa pegawai terlihat berjajar, seolah sudah siap menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Tuan Muda dan Nona Muda."
Naya mengernyit mendengar mereka memanggil dengan sebutan tuan dan nona muda.
Begitu melihat Naya, beberapa pegawai nampak terkejut, termasuk sang manager cafe sampai terbengong. Meski Naya berpenampilan beda, dengan perubahan yang begitu signifikan di bagian perut, tak membuat mereka pangling terhadap Naya.
Rumor bahwa Akio akan datang bersama istrinya sudah diketahui semua pegawai. Dan ternyata istri Akio adalah Naya. Perempuan yang dulu hanya bekerja sebagai pencuci piring.
__ADS_1