
"Sayang..." Kei memanggil suaminya dengan nada manja. "Hem..." Ken hanya berdehem. "Kamu merasa bosan, tidak?" memeluk tubuh tuan Ken. "Bosan? dari tadi kau terus berbicara tentang bosan! apa maksudmu?" suara Ken sedikit meninggi.
"Tidak, jangan marah dulu! maksut aku, kamu bosan tidak setiap hari begini terus? aku ingin jalan-jalan." mengatakan keinginan dengan penuh kehati-hatian. Ken menghela nafas, "Aku kira sesuatu yang serius. Baiklah, kau ingin pergi kemana?" Ken mengusap rambut panjang Kei dengan sayang.
"Aku ingin pergi ke Taman." menjawab dengan kegembiraan, sepertinya tuan Ken sedang berbaik hati. "Hanya pergi ke Taman?" Ken bertanya. Kei menganggukkan kepala.
"Oke honey, kita akan pergi sesuai keinginan mu." Ken tersenyum. "Sungguh?" Kei seperti tidak percaya tuan Ken bisa dengan mudah dibujuk. "Sungguh." Ken memberi jawaban sama seperti Kei tadi. "Terima kasih, sayang. Muach..." Kei mengecup pipi tuan Ken sebagai tanda terima kasih sudah mau mengabulkan keinginannya. Seperti sebelumnya, semenjak melakukan progam hamil hidupnya seperti dibalik jeruji besi. Tuan Ken tidak memberikan kebebasan sama sekali, sekian lama terkurung akhirnya tuan Ken mau diajak pergi walau sekedar berjalan-jalan. Setidaknya bisa menghirup udara diluar rumah.
Kei sibuk merias diri, Ken yang lebih dulu bersiap menunggu disofa. "Kau tidak perlu berhias terlalu cantik." mengamati istrinya dari pantulan cermin. 'Mulai-mulai jiwa posesif yang mulai kambuh!' Kei membatin kesal.
"Aku tidak berdandan berlebihan, ini biasa saja." menjawab dengan nada biasa, padahal didalam hati sudah menahan kesal.
Ken melihat jam dipergelangan tangannya, "Jika terlalu lama, kita tidak jadi pergi."
'Ya Tuhan, aku mohon... rubahlah sikap suamiku, aku sangat lelah menghadapi sikapnya yang over dalam segalanya.' Kei benar-benar harus extra sabar menghadapi tuan Ken. Beruntung rasa cintanya masih besar, jika tidak sudah dari dulu meninggalkan tuan Ken. Belum sepenuhnya Kei menerima kasih sayang dan perhatian yang berlebihan, dia yang dulu bebas dan sekarang harus terkurung dalam sangkar emas membuatnya harus beradaptasi.
"Aku sudah selesai, ayo kita berangkat sekarang." Kei meninggalkan meja rias dan menghampiri tuan Ken. "Bibirmu terlalu sexy, ganti warna lipstikmu." Ken melayangkan protes hasil riasan istrinya dan menyuruhnya untuk mengganti warna lipstik. 'Ya ampun, ujian apa lagi ini! dasar tuan arogan! tuan over! aaa'....' Kei hanya menjerit dalam hati, berjalan lagi menuju meja rias dan menghapus lipstik mengganti dengan liptint mencari warna senatural mungkin.
"Sip baby, begini lebih oke." Ken tersenyum meneliti wajah istrinya. Mereka berdua menuruni anak tangga dan berjalan keluar.
__ADS_1
Salah satu pengawal membukakan pintu untuk majikannya dan akan mengantar kemanapun tuannya pergi. Ken menelpon Lee untuk mengantarkannya pergi tetapi Lee meminta izin untuk libur karna ada sesuatu yang mendesak yang tidak bisa ditinggalkan, untuk itu Ken menyuruh pengawal untuk menggantikan.
Kei melihat kearah luar jendela, ingin menikmati pemandangan kota saat malam hari terasa indah dengan banyak-nya lampu yang berbaris.
"Sayang, aku ingin makan di Restauran itu!" Kei menunjuk kearah bangunan restauran yang begitu klasik dan terlihat indah. "Kau bilang ingin pergi ke Taman?"
"Perutku lapar, aku ingin makan disana." memperlihatkan raut wajah memelas agar tuan Ken luluh. "Kau tidak ingat dengan menu makananmu?" Ken menanyakan sesuatu yang membuat Kei bertambah malas. "Ya sudah, terserah." tidak berhasil membuat tuan Ken luluh, dan batas kesabarannya mulai menipis akhirnya Kei berani memberontak dengan menunjukan kekesalannya. Tidak perduli tuan arogan itu akan marah.
"Putar arah dan hentikan mobilnya didepan Restauran yang istriku inginkan." Ken memberi perintah kepada pengawal yang mengemudikan mobilnya. "Baik, tuan." mobil kembali berputar arah. 'Yes berhasil, apa aku harus menggunakan jurus pemberontakan seperti ini ya, agar tuan Ken tidak lagi semaunya sendiri.' senyum terbit dibibir Kei.
Ken menggenggam tangan Kei dan masuk kedalam Restauran, kehadiran tuan Ken dan Kei mengundang pengunjung untuk memperhatikan orang yang baru datang itu. Tuan Ken menempatkan 4pengawal yang berjaga disampingnya, menjaga keamanan dia dan istrinya. Sebenarnya Kei merasa risih tetapi apa boleh buat, jika banyak melayangkan protes maka kebebasannya malam ini akan batal.
Sudah duduk dikursi biasa, Ken mendesah berat berganti dia yang terlihat risih. Tidak biasa makan bersama orang-orang lain, apalagi banyak pasang mata yang memperhatikan kearah mereka.
Tidak jauh dari meja yang dipesan tuan Ken, ada dua pasangan yang mencoba menutupi diri dengan buku menu, tidak bisa berkutik jika ingin pergi tetap saja tuan Ken akan tau.
Kei merasa bebas bisa memandang orang-orang yang ada di Restauran itu.
Tetapi pandangannya terus menatap kearah salah satu meja yang tidak jauh dari mejanya, seperti tidak asing dengan orang itu.
__ADS_1
"Kau kenapa?" Ken bertanya, sedari tadi Kei tidak mengalihkan pandangannya. "Sayang, lihatlah orang yang ada dimeja itu sepertinya tidak asing?" Kei menunjuk dengan jari telunjuknya. Ken memperhatikan, dia pun merasa sama dengan Kei.
"Dekati orang yang ada dimeja itu dan buka buku menu yang menutupi mereka!" Ken memberi perintah kepada pengawalnya. "Baik tuan." pengawal langsung melaksanakan perintah. Ketika sudah dekat dengan orang yang dimaksud pengawal itu membuka buku menu yang menutupi wajah seseorang.
"Sial!" Lee mengumpat. Sedangkan Dewi menunduk, "Bagaimana ini tuan sekretaris?" Dewi bertanya kepada Lee. "Tidak apa-apa, kita lanjutkan saja makannya."
"Maaf tuan Lee, saya hanya menjalankan perintah dari tuan Ken." pengawal itu meminta maaf dan menunduk sebentar. Lee tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.
"Mbak Dewi..." Kei sedikit berteriak memanggil Dewi, yang dipanggil tersenyum malu malu karna sudah terciduk.
"Aku akan kesana sebentar, kau tunggu disini." Lee berdiri dan menghampiri meja tuan Ken.
"Selamat malam tuan muda." membungkukkan badan sebentar.
"Ini yang kau maksut urusan mendesak, Lee?" bertanya dengan nada santai tetapi terdengar dingin.
"Maafkan saya, tuan muda." Lee tetap menunduk tidak berani menatap tuan Ken. 'Mati kau Lee, aku sudah tertangkap basah! ada begitu banyak Restauran kenapa tuan Ken harus memilih Restauran yang sama! huh, sial.' lagi-lagi Lee mengumpat kesal, acara makan malamnya sudah pasti gagal.
"Duduklah, kau seperti tersangka yang terciduk." ucap tuan Ken. Kei menahan suara tawanya, melihat wajah sekretaris Lee yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Ajak juga wanitamu kemari." kembali tuan Ken memberi perintah. "Baik tuan muda." Lee berjalan kembali menghampiri Dewi dan mengajaknya untuk bergabung dengan meja tuan Ken. "Tuan sekretaris, aku takut. Apa tuan Ken marah, kenapa raut wajahnya seperti itu?" Dewi melirik kearah tuan Ken yang sama sekali tidak menunjukan keramahan. Tetapi Kei terus melambaikan tangan kearahnya. Lee meyakinkan Dewi agar tidak takut, dia siap untuk melindungi jika tuan Ken marah.