Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Si Koi


__ADS_3

Ken mengetuk kaca mobil dengan tangannya yang lemah, memberi kode pada Lee bahwa ia masih sadar.


"Tuan Muda, buka kuncinya." Lee berteriak.


Ken segera membuka kunci mobil, dengan cepat Lee membuka pintu dan meraih tubuh Ken untuk mengeluarkannya dari dalam mobil.


Mobil itu masih menimbulkan asap bahkan percikkan api itu mulai membesar.


Lee memapah tubuh Ken dan membawanya menjauhi mobil yang telah terbakar.


Namun belum begitu jauh, mobil yang setengah terbakar itu meledak dengan dahsyatnya. Lee memasang badan agar tuan Ken tidak terkena serpihan puing-puing mobil yang hancur.


Lee menyandarkan tubuh Ken dibawah pohon besar dengan sangat pelan dan hati-hati.


"Lee, kau ada disini." ditengah kesadarannya yang mulai melemah Ken memanggil Lee dan berkata dengan lirih, sangat lirih hingga seperti bisikan.


"Iya Tuan Muda, saya disini." jawab Lee. Pakaian keduanya sudah tidak berbentuk karna tetesan darah yang semakin merembes dan mengotori pakaian mereka.


"Tuan, bertahanlah. Sebentar lagi bala bantuan pasti akan datang. Anda harus kuat." napas Lee menderu sangat cepat, antara lelah dan khawatir yang dirasakan.


Darah mengalir disela leher tuan Ken, Lee semakin khawatir melihat kondisi tuan mudanya.


Kini berinisiatif membuka jas dan kemeja yang dipakai, setelah itu merobek sebagian kemeja untuk dibalutkan dikepala tuan Ken agar darah yang keluar bisa terhenti dan tuan Ken tidak kehabisan darah.


Meski tubuh Lee juga terluka akibat berguling dari atas dan terkena pohon-pohon besar hingga dahinya ikut terluka karna terbentur pohon besar dan mengeluarkan darah tapi semua lukanya tidak sebanding dengan luka Ken yang lebih parah.


Bahkan kesadaran Ken sudah sangat melemah, membuat Lee sangat takut.


"Koi kecil, bertahanlah. Kau pasti akan selamat. Jika terjadi sesuatu padamu, Koi kecil. Maka Tupai akan menyesalinya seumur hidup." Lee berbisik lirih, menyadarkan tubuhnya untuk memeluk Ken dari samping. Dua sudut matanya telah meneteskan airmata.

__ADS_1


Ketika Ken mengalami kecelakaan dengan Olive Lee tidak menyaksikan langsung tentang kejadian itu. Tapi kali ini dengan mata kepalanya sendiri melihat orang yang selalu dijaga dengan segenap jiwa terluka parah. Banyak darah yang mengalir dibagian tubuh Ken, Hati Lee sangat takut, takut jika Ken tidak bisa bertahan dan akan meninggalkan semuanya.


Tidak, dia tidak akan siap kehilangan orang yang disayangi.


Dari dulu sudah menjaga Ken meski Ken tidak menyadari, siap memasang badan apapun bahayanya.


Sekelebat bayangan tawa itu bermunculan, hati Lee semakin sedih. Jika Ken pergi, maka kedua kalinya dia berpisah dengan Ken. Untuk itu Lee belum siap.


Dalam hati terus berdo'a semoga semuanya baik-baik saja. Tidak akan terjadi hal buruk yang tidak diinginkan.


Ken pasti selamat, si Koi kecil itu pasti akan baik-baik saja.


Dari atas terdengar kegaduhan, ternyata bantuan sudah datang. Lee merasa lega melihat beberapa orang telah menuruni lereng tanah itu.


Dua petugas sudah sampai lebih dulu dan segera menghampiri Lee dan Ken.


Lee menyuruh petugas menyelamatkan Ken lebih dulu, karna keadaan Ken benar-benar sangat mengkhawatirkan.


Lee dibantu dengan petugas yang memapah tubuhnya tetap berjalan beriringan dengan tandu yang membawa tubuh Ken.


Lee terus memandangi wajah Ken yang biasa tegas itu kini telah memucat. Tak henti bibirnya bergerak untuk mendo'akan keselamatan Ken.


Tim bantuan yang lain masih berusaha memadamkan api yang timbul dari kebakaran mobil tadi, tapi api itu merambat dan membakar pohon-pohon yang telah mati. Hingga api masih terus menyala dan melebar disekelilingnya.


Mobil pemadam kebakaran masih belum datang, mereka yang menyaksikan sangat khawatir jika api semakin membesar.


Tim petugas telah berhasil membawa Ken keatas. Tubuh Lee ambruk diatas jalan aspal karna kelelahan dan sisa tenaga yang dimiliki serasa sudah sangat menipis. Napasnya kian memendek dan semakin lemah.


Tapi perhatiannya tetap tertuju pada Ken, "Tolong selamatkan dia." ucap Lee dengan lirih.

__ADS_1


"Kami akan mengupayakan keselamatan Tuan ini, dan juga anda." jawab salah satu petugas.


Mobil ambulance datang dengan sirine yang tak henti berbunyi sebagai tanda bahwa mobil itu tengah membawa pasien gawat darurat. Maka mobil yang lain diharapkan menyingkir dan tidak menghalangi jalan mereka.


Tubuh Ken lebih dulu dipindahkan kedalam mobil ambulance, Lee ikut menyusul setelah Ken berhasil berpindah. Lee tetap menemani disamping Ken. Pandangan manik mata yang tak pernah lepas memandangi wajah Ken.


Lee mengecek denyut nadi, perasaanya sedikit lega karna denyut nadi Ken masih ada meskipun lemah.


"Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit. Kamu akan segera mendapat pertolongan." ucap Lee lirih.


Hari sudah semakin sore, mobil ambulance itu telah sampai didepan halaman rumah sakit. Petugas dengan sigap menurunkan Ken dan beralih memindahkannya diatas brankar. Para perawat sudah sigap menyambut pasien gawat darurat korban kecelakaan.


Lee masih mengikuti brankar yang membawa Ken untuk dipindahkan keruang unit gawat darurat.


Tidak perduli dengan keadaannya sendiri yang tidak memakai baju. Kemeja yang dipakai sudah dirobek untuk menutup luka di kepala Ken. Sedangkan jasnya sudah tidak berbentuk dan kotor terkena darah, Lee meninggalkan jasnya begitu saja. Hanya memakai celana panjang bahkan tidak memakai alas kaki.


Tubuhnya yang kekar dibiarkan dan banyak bagian yang telah membiru dibiarkan begitu saja, lagi-lagi hanya tuan Ken yang penting.


Langkah Lee harus terhenti didepan pintu saat perawat melarangnya ikut masuk kedalam. Ada dua perawat lagi yang menginterupsikan agar Lee juga dirawat. Luka di dahi Lee sedikit mengeluarkan darah dan butuh penanganan.


Lee mengangguk pasrah, meski hatinya menginginkan menunggu si Koi sadar tapi keadaan tubuhnya sudah semakin lemah. Lebih baik dia menuruti saran perawat agar tubuhnya segera ditangani dan lekas membaik. Setelah itu baru menemani Ken.


Meski kondisi tubuhnya melemah, tapi kesadarannya masih tetap penuh. Ingin menghubungi Dewi tapi ponselnya tertinggal dimobil.


"Sus, tolong beritahu keadaan pasien yang tadi pada anggota keluarganya." pinta Lee.


Perawat yang membantu membersihkan darah didahi Lee mengangguk. "Apa Tuan ingat nomor telepon rumah atau nomor telpon keluarga yang bisa dihubungi?" tanya perawat itu.


Nomor rumah tuan Ken ia tidak begitu mengingatnya, saat ini hanya nomor Dewi yang diingat. Akhirnya Lee menyebutkan nomor Dewi dan perawat itu segera menghubungi nomor itu.

__ADS_1


Sebelum itu Lee berpesan agar Dewi juga menghubungi nomor Kei dan memberitahukan keadaan Ken agar semuanya segera datang dan memindahkan Ken kerumah sakit milik yayasan perusahaan Taisei Comporation yang lebih besar dan memadai karna saat ini mereka dibawa kerumah sakit terdekat dari lokasi kejadian dan rumah sakit itu tidak terlalu besar.


__ADS_2